Anya, binor bacolan dari jaman SMA

Selamat Tahun Baru di Cerita Baru, semoga berkenan

Berikut adalah kisah imajinasi TS dengan binor teman jaman SMA, usianya tak muda lagi, sudah kepala empat dan berbuntut dua, tapi soal body ga kalah sama yang 20 tahunan, maklum biaya perawatan tinggi alias berduit.

“Wihh udah berapa lama ya kita ga ketemu?”, kata Anya yang menghampiri mejaku sambil menjulurkan tangan dan mengajak berpelukan, aku jadi kikuk karena tidak biasa berpelukan dengan teman lawan jenis, kecuali yang menjadi TO-ku.

Namanya Anya, usianya memang tak muda lagi, tapi raut wajah cantik dan body-nya pasti membuat setiap lelaki akan tertarik untuk memandangnya. Tinggi Anya sekitar 160an cm, walau sudah punya buntut namun tubuhnya langsing karena rajin nge-gym, rambutnya kadang sebahu atau lebih panjang sedikit dengan ukuran payudara yang terbilang tocil buat sebagian orang tapi buatku cukup sedang, bokongnya juga pas untuk ukuran tubuhnya, mulustrasi body dan face kurang lebih seperti artis dibawah ini:

Waktu SMA boleh dibilang dia adalah salah satu primadona, walau banyak yang minder karena Bapaknya adalah seorang pejabat yang punya nama di salah satu kota di Jawa Timur. Sebagai anak tunggal, Anya sangat supel ke siapapun, dia merasa kesepian saat pulang sekolah dan memilih berkumpul bersama teman-temannya baik laki-laki maupun perempuan. Sudah cukup lama aku tak menjumpainya, dan memang aku dipandang hanya sebagai teman laki-laki yang cukup dekat saja, dia cukup nyaman bercerita mengenai kisah percintaannya dulu dan problem yang terjadi di kehidupannya, mungkin karena aku terkenal sok bijak dan pandai berkata-kata, hingga suatu saat kita lulus SMA, kuliah berbeda kota, aku yang langsung bekerja dan sempat tugas keluar negeri.

Pernikahan Anya dengan suaminya saat ini pun aku tak bisa menghadirinya karena masih bertugas di luar negeri, dan kebetulan sekembalinya ke Indo harus kerja pindah-pindah kota sampai akhirnya menikah dan menetap saat ini. Anya, walau tak pernah kuungkapkan, namun selalu ada rasa suka dan saah satu wanita yang menjadi bahan masturbasiku.

“Ehh hi apa kabar?”, kataku agak kikuk menyambut cipika cipiki dan pelukan singkat pertemanan. Aku sempat terpana, dia mengenakan baju terusan selutut berlengan pendek yang membuatnya penampilannya tak beda jauh seperti saat masa SMA.

Suatu kebetulan yang tak terduga, beberapa waktu lalu, lewat salah satu socmed kita bertukar nomor telpon dan kebetulan Anya sedang ke Jakarta untuk suatu acara. Kami bercengkrama seperti biasa, dia juga memujiku yang berpenampilan tidak seperti ‘Bapak-Bapak’ pada umumnya, alias tampak masih muda, jujur saja agak salting jadinya tapi aku tetap cool menanyakan hidup yang kita jalani setelah sekian lama berpisah.

Setelah pertemuan itu, kami berhubungan secukupnya via WA, ternyata dia cukup sering ke Jakarta dan memang penikmat event-event yang sering diadakan di Jakarta. Suaminya sendiri adalah profesional yang benar-benar pekerja keras dan punya jabatan cukup di kantornya, tak seperti dugaanku yang kupikir dari kalangan pengusaha, karena Anya sendiri memiliki beberapa usaha kuliner untuk memenuhi gaya hidupnya, dan tentunya sokongan dari harta old money orang tuanya.

“Bro, gue mau ke Jakarta lg nih next week, ketemuanlah…”, isi pesan dari Anya saat aku sedang sibuk menggenjot Tania, bawahanku.

“Sorry ga liat hp, ya bolehlah, kebetulan pas di Jkt juga”, jawabku setelah beberapa lama karena sedang sibuk bercinta. Selain istriku, jujur saja aku tak pernah berhubungan dengan binor atau MILF, aku lebih memilih yang lebih muda dan bisa mendominasi, namun Anya membuatku penasaran dan pasti tak mudah karena dia sudah hampir memiliki segalanya, pikirku.

Dengan alasan bertemu teman lama, dan memang kebetulan kadang tidak hanya dengan Anya saja aku bertemu, kadang ada teman lama kami atau teman Anya juga, aku ijin ke istriku untuk menghabiskan waktu di Jumat malam atau malam minggu untuk sekedar meet up sambil minum-minum.

“Duh gue kebanyakan nih minum kayaknya, bisa anterin gue?”, kata Anya pada suatu malam setelah kita habis kumpul bersama beberapa teman lama dan tinggal kita berdua. Sebagai teman yang baik, tentu saja aku antarkan dia ke hotel dan tidak berpikiran apapun.

“Anterin ke kamar bentar, gue lupa mau ngasih sesuatu buat anak loe”, kata Anya sesaat kita tiba di hotel, sekali lagi dengan polosnya aku hanya mengiyakan saja tanpa ada pikiran apapun.

Dalam lift, Anya bercerita bahwa kadang dia merasa jenuh dengan suaminya, apalagi kehidupan rutinitas suaminya di kantor membuatnya sulit menghabiskan waktu bersama seperti awal-awal menikah, awalnya mereka memulai usaha bersama namun akhirnya suaminya punya pendirian untuk bekerja karena tidak enak terus-terusan disubsidi orang tua Anya setelah beberapa usaha di awal pernikahan tidak berjalan seperti rencana. Aku melihat Anya dan baru tersadar, betapa cantiknya wanita ini, dengan dress hitam tanpa lengan menampakan lengannya yang putih mulus dan make up yang tidak terlalu berlebihan.

“Hmm mesti cari variasi supaya ga jenuh, elo loh cakep gitu…hahaha”, kataku menimpali dan tak sengaja memujinya.

“Ahhh loe bisa aja, kayaknya baru sekali gue denger elo bilang gue cakep…naksir yaaa hahaha”, katanya setengah tipsy sambil menunjukku yang tampak malu-malu.

Di depan Anya aku seperti bocah yang kalah hawa, mungkin karena saat SMA memang aku datang dari keluarga yang biasa-biasa saja dan merasa Anya ada di level yang berbeda denganku, walau sekarang situasinya sebenarnya berbeda. “Yaaa siapa yg ga naksir sama loe, ah udahlah mau sampe tuh”, kataku menunjuk nomor lift yang sampai di lantai dimana Anya tempati.

Anya agak kesulitan mencari kartu kamarnya karena agak pusing, aku hanya geleng-geleng melihat kelakuannya yang seperti anak gadis pulang dari klub malam. Setelah mendapatkan kartu kamarnya, dia mengajakku masuk sebentar walau awalnya aku bilang mau menunggu di depan pintu saja. Saat itu aku mulai berpikiran kotor, mungkin ini waktunya aku bisa meniduri wanita yang menjadi salah satu bahan masturbasiku dari masa SMA, tapi kutepiskan pikiran itu mengingat Anya yang sudah berkeluarga dan memiliki status sosial yang cukup baik.

“Gue disini aja, takut bablas hahaha”, kataku berdiri tak jauh dari pintu saat di dalam kamarnya.

“Hah? Bablas gimana?”, tiba-tiba dia menghampiriku kembali yang tadinya berjalan menuju dalam kamar untuk mengambil sesuatu.

“Ehhhmm maksudnya…uhmm..Anya”, kataku gugup dengan degup jantung tak beraturan, dia berdiri di hadapanku dan memegang bahuku, wajahnya mendekat dan aku seperti mematung.

“Elo beneran pernah naksir gue? Ayo jujurr…”, katanya agak berbisik dengan wajah yang semakin mendekat, ada aroma alkohol yang kurasakan.

“Uhmm iyaa, tapii cumaa…”, kataku dengan kalut dan bingung mau bilang apa.

“Hayoo cuma apaa…jujur aja, kan udah lewat masa-masa itu…duh sampe deg-degan gini hehe”, katanya sambil memegang dadaku yang bergemuruh.

“Jujur aja..gue sering coli bayangin elo dulu…sorrry yaa”, jawabku yang tak bisa mengontrol lagi pikiran sehatku.

“Ahh Darrenn, loe kok polos banget sihhh…hehe”, tiba-tiba dia mencium bibirku, kusambut ciumannya dengan mengulum pelan bibirnya sambil kudekap pinggangnya dengan kedua tanganku. Kita saling berpagutan bibir dengan mesra, bibir yang selalu kubayangkan untuk kunikmati lebih dari 20 tahun lalu, bibirnya begitu lembut dan Anya begitu lihai memainkan bibir dan lidahnya.

“Waittt…elo ga mabok kan? Sorryy bukannya gue gamau”, kataku yang selintas tersadar dan menatap wajahnya.

“Hmm enggak kok, sorry ya gue jd malu…let’s forget it”, Anya melepaskan pelukannya dan berjalan menjauh dariku, dia duduk di ranjang sambil termangu menundukkan wajahnya.

Aku tak mau membuatnya seperti itu, kuhampiri dan berdiri di hadapannya, “Sorry Anya, it’s okay, salah gue juga kali…kebawa suasana hehe”, kataku menenangkannya, takut dia merasa rendah karena begitu agresif tadi.

Dia mengangkat wajahnya dan melihatku, “Gue juga sempet suka sama elo dulu, tapi loe cuek banget sihh”, dadaku seperti berhenti berdetak sesaat, kutatap wajahnya dan kali ini justru aku yang melumat bibirnya, aku menunduk karena posisi Anya masih terduduk di ranjang, Anya spontan berdiri, membalas lumatan pada bibirnya sambil mendekapku kencang. Tinggiku yang sekitar 172cm memang tetap membuatku harus sedikit menunduk untuk mencium bibirnya, namun dengan posisi berdiri aku dapat menikmati hangat tubuhnya dan tak sengaja penisku mengeras menempel di perutnya.

“Hmmm ada yang gerak-gerak…”, katanya sesaat setelah kita berhenti bercumbu, dia menatap wajahku sambil tersenyum dan menggerayangi penisku yang masih tertutupi celana jeans yang kukenakan.

“Anya…”, ucapku pelan sambil menahan desahan, tangannya mengusap-ngusap penisku dari luar, dia terus tersenyum menatapku seperti penasaran dengan raut mukaku saat diperlakukan begitu.

“Mmm penasaran…”, katanya pelan setengah berbisik.

“Ahhh…penasaran apa?”, kataku dengan nafas terengah-engah.

“Penasaran ngeliat loe coli bayangin gue…emang bisa ya gitu?”, katanya menggodaku sambil tersenyum.

“Iyaahh bisa, cuma bayangin elo aja…sambil coliii ahhh”, kataku diakhiri desahan saat dia meremas penisku.

“Mau liat…”, katanya lagi.

“Liat apa?…”, tanyaku yang semakin sulit mengatur nafas.

“Ngeliat elo coli…tp ga usah ngebayangin gue…kan bisa liat langsung..mmm msh bisa?”, katanya dengan wajah cantiknya yang tak jauh berubah dengan masa SMA dulu.

“Elo…ssserius?…”, kataku terbata-bata tak membayangkan akan mengalami momen ini.

“Iyaa, tapi gue cuma duduk aja ya, uhmm mau liat…”, katanya yang melepaskan tangannya dari remasan di penisku dari luar celana jeansku, dia duduk menyilangkan kaki, menurunkan satu tali dress-nya sedikit, tidak sampai terbuka namun cukup menampakkan sedikit belahan payudaranya.

Mulustrasi dress model gini yang biasa dipake:

“Hmm malu gue…”, kataku ragu-ragu untuk mengikuti permintaannya.

“Sini gue bantu lepasin…”, dia menarikku, membantu membuka tali ikat pinggang, resleting dan menurunkan celana jeansku hingga ke lutut. Sambil menatap wajahku dan tersenyum menggoda, dia menurunkan celana dalam yang kukenakan, dan matanya tertuju pada penisku yang sudah terbebas. “Hmm panjang juga…ayo gue mau liat pleasee…”, katanya yang ingin melihatku masturbasi di hadapannya.

Kugenggam penisku dan mengocokinya pelan, kulihat Anya mulai dari ujung kaki dan kepalanya, belahan dadanya lumayan membantu untuk membuat nafsu birahiku semakin bertambah. “Shhh ahhh buka lg donk dikit…penasaran tetek loe…shhh”, kataku sambil mendesah membayangkan payudara Anya yang tak seberapa besar namun pasti putih mulus.

“Bayangin aja ya…katanya suka banyangin…”, dia malah menggodaku dan tetap duduk di tepi ranjang bersilang kaki, aku seperti terhipnotis dalam kontrolnya.

“Arhhh Anya, sexy banget loe…please kasih liat teteknya…”, kataku sambil mengerang dan memohon, kocokanku semakin cepat dan mendekati ejakulasi.

“Bentar, tutup matanya…gue ganti baju sebentar…”, katanya sambil menaikkan kembali tali baju sebelah kanannya dan berdiri, matanya dengan nakal melirik penisku.

Aku hanya pasrah saja mengikuti permintaannya, tak menunggu terlalu lama, kudengar suara Anya berkata, “Hmm buka matanya…tp jgn mendekat ya…disitu aja”, pintanya kepadaku untuk tetap berdiri di dekat ujung ranjang.

Kubuka mataku dan tak percaya apa yang kulihat, dia bersandar di dekat kepala ranjang dengan lingerie hitam dan membuka pahanya lebar-lebar. Kemaluannya dicukur bersih tanpa bulu dan tanpa coklat kemerahan dengan bagian tengah yang agak pink, kontras dengan kulit pahanya.

Mulustrasi posisi Anya:

“Wow…amazing, loe bener2 sexy bangett”, kataku yang kembali mengocoki penisku yang sempat agak layu karena menunggu Anya ganti baju.

“Ehmm biar ga bayangin terus, ayo coli sampe keluar…gue mau liattt”, katanya sambil menatapku, tepatnya menatap penisku, dia meraba kemaluannya sendiri dan ikut melakukan self-masturbasi, bibirnya digigit sendiri pelan-pelan sambil menahan desahan.

“Shhh ahhh Anya, gue mau keluarrr”, aku tak tahan lagi menahan ejakulasiku.

“Iyahhh keluarinn…tutupin pake tangan spy ga kemana-mana”, pintanya sambil mengelus klitorisnya sendiri.

“Arghhhh Anyaaaa…shhh ahhhh”, aku mengerang, tangan kananku menggenggam kuat batang penisku sendiri, sementara tangan kiriku menahan laju semprotan sperma agar tidak berceceran kemana-mana.

“Uhmm banyaknyaa…enakkk?”, katanya menggodaku, dia masih memainkan klitorisnya sendiri sambil melihat tanganku yang blepotan sperma dan wajahku yang kuyu terlihat lemas setelah ejakulasi.

“Enak, tapi sayang ga dibantuin, jadinya masih penasaran…”, kataku yang menyambar tissue dan mengelap tanganku yang blepotan sperma, sebagian menetes ke lantai, untungnya bukan karpet, jadi mudah kuseka saja.

“Mau dibantuin?”, kataku yang melihat Anya masih membuka pahanya memainkan kemaluannya sendiri.

“Hmmm tapi oral aja ya…jgn yg lain-lain dulu”, katanya menyetujui tawaranku, aku seperti bermimpi, dalam hitungan detik aku bisa merasakan aroma kemaluan Anya, salah satu gadis idola waktu SMA yang menjadi bahan masturbasiku dulu dan bahkan belakangan ini.

“Iyaa, lagian udh disuruh keluar duluan, msh lemes…”, kataku yang mendekat kepadanya, aku telungkup dengan kepalaku tepat di antara kedua pahanya. Kuusap pahanya yang masih kencang untuk ukuran wanita kepala 4, mulus dan hangat, kulihat wajahnya sekilas yang sepertinya menantikan momen dimana kemaluannya dinikmati lelaki yang bukan suaminya.

“Sshhh ahhhh…”, dia mendesah saat lidahku menyapu kemaluannya dari bawah hingga klitorisnya. Kuhisap bibir vaginanya sambil kugelitik dengan lidahku, aroma kemaluan dan desahannya membuatku tambah bernafsu, ujung lidahku kususupi masuk ke liang vaginanya walau hanya bagian depan, terasa gurih cairan dari vaginanya.

“Arhhhh Darren…loe jago bangett…ssshh ahhh iya itu enak banget…shitttt…enakkk”, kata Anya yang mengumpat keenakan sambil kedua tangannya mencengkram sprei.

Sapuan lidahku agak naik menyentuh klitorisnya, dia semakin bergerak tak karuan, mungkin geli keenakan, kuemut dengan lembut klitoris pink-nya dan sesekali kusapu dengan daguku yang dipenuhi janggut yang baru saja tumbuh untuk menambahkan sensasi.

“Damnnn…Darreennn, duhh jangan berhentiii donkkk”, katanya saat aku berhenti sejenak, aku bertanya kepadanya, “Boleh masukin jari gue?”, “Iyahhh bolehhh, satu atau dua aja, please lanjutin isep itil gue kayak tadiii”, katanya memerintahku tak sabar.

Mulustrasi:

Kulesakkan dua jari tangan kananku ke dalam liang vaginanya, begitu hangat dan tak kusangka masih terasa sempit untuk wanita yang sudah melahirkan 2 buntut, mungkin dia rutin senam kegel juga, dalam hatiku berkata, beruntung sekali suaminya saat ini.

“Ssshhh ahhh gue sampeee nih, arggg isepin yg kenceng…iyahh kayak gituuu, argghhhhhh”, Anya mengejang saat klitorisnya kuhisap berbarengan dengan kocokan dua jariku ke dalam liang vaginanya, dia melenguh panjang dan kurasakan dinding vaginanya berdenyut disertai cairan orgasmenya.

“Shitttt…thanks, loe udah bikin gue orgasme ginii”, katanya dengan suara lemas, kukeluarkan jariku dari liang vaginanya dan kutatap wajahnya.

“Hmmm kan sama suami loe juga biasa dibikin gini…”, kataku sinis sambil tersenyum.

“Nope, loe gatau apa-apa…jarang gue bisa orgasme sampe lemes gini…”, katanya lagi yang cukup mengagetkanku, “But please keep buat kita berdua aja yaa”, lanjutnya lagi.

“Ya iyalah masak gue ngomong sana sini soal kayak gini…”, kataku sambil mengusap pahanya.

Berikutnya kita berciuman bibir dengan mesra, dan tentunya tak kulewatkan kesempatan untuk meremas payudaranya yang masih cukup kencang, memang tak sebesar payudara Tania, tapi cukup menggemaskan.

“Thank you ya, sorry kalo gue….”, kata Anya saat hendak mengantarku keluar pintu kamar.

“Sshhh…ga usah sorry-sorryan segala…thank you juga udah bikin gue ga terlalu terlalu penasaran…hmm msh agak sih hehehe”, kataku sambil memberi isyarat ke bibirnya dengan telunjukku untuk tak melanjutkan perkataannya.

“Next ya…gue tadi belum siap buat itu”, katanya dengan lembut sambil mengecup jari telunjukku.

Hatiku berbunga-bunga dan tak sabar menunggu ‘Next’ yang dikatakan Anya, aku tahu akan sulit dipastikan kapannya, tapi setidaknya masih ada harapan.