Hak Asasi Money 21+ [On Going]

Sinopsis​
Hanya catatan kecil seorang pemuda absurd phobia kucing bernama Bara Geni. Kerap mendapat kesempatan dalam kesempitan. Sesempit jepitan lubang surgawi para wanita di sekitarnya.

DISCLAIMER​
Cerita ini didedikasikan untuk teman-teman seperjuangan penulis selama menempuh jenjang perkuliahan kurang lebih enam tahun. Memang sedikit molor, namun penulis berhasil menyandang gelar sarjana dengan penuh rasa bangga. Cerita ini berisikan informasi fiksi 75% dan non-fiksi 25%. Dari latar, alur, sampai penokohan karakter 100% murni fantasi dari penulis. Cerita ini berfokus pada satu tokoh utama dan lebih banyak menyajikan drama kehidupan (70%) daripada drama ranjang (30%). Namun, penulis akan memaksimalkan setiap tokoh pendamping yang sewaktu-waktu diperlukan untuk mengisi pos-pos penting yang masuk ke dalam kerangka plot yang telah disusun dari awal sampai akhir. Jika ada kesamaan tokoh, latar, dan lain sebagainya, bukan semata-mata unsur kesengajaan penulis. Ini cerita pertama penulis yang nantinya akan dibukakan (sudah ada penerbit yang menampung). Terakhir, penulis mengucapkan terima kasih kepada kekasih, sahabat, serta tukang cimol yang menjadi saksi hidup perjuangan penulis di berbagai medan. Lalu, permintaan maaf sebesar-besarnya apabila cerita ini nantinya menyinggung pihak tertentu. Namun, perlu digarisbawahi jika tiada maksud penulis untuk melakukan itu. Sebab, ada pepatah yang mengatakan, “baperan mending mati, anjing!”. Sekian. Selamat mengikuti panggung drama yang berlatar belakang di Kampus Buyung Upik, Kota Anggur. Salam cinta dan perdamaian untuk kita semua! Happy fucking reading, motherfucker!

Rantai Hitam​
Perkenalkan, sang tokoh utama super gesrek bin absurd, Bara Geni, 19 tahun. Pemuda polos dari Kota Apel yang suka nyemil keju. Setelah resmi menjadi seorang mahasiswa di Universitas Buyung Upik, Kota Anggur, cemilannya bertambah: cimol. Sukar dipercaya jika ia masuk ke dalam kelompok Rantai Hitam lewat jalur orang dalam. Tak dapat diterima akal sehat jikalau ada orang di luar sana yang mati-matian mencari perhatian Rantai Hitam hanya untuk ingin diakui dan dijadikan bagian dari mereka. Jangan salahkan Bara. Sebab, empat dari lima syarat tak tertulis telah dipenuhi oleh Bara. Secara tidak langsung, pastinya. Selanjutnya, sang ketua sirkus, Loki G. Pradana, 28 tahun. Panggilannya Loki. Orang terdekat mengenal lelaki psikopat ini karena julukan Grim Reaper yang tersemat pada dirinya. Julukan bukan sembarang julukan. Julukan yang sesuai akan profesinya sebagai pembunuh bayaran kelompok underground di bawah panji Alegria. Codename-nya Grim. Sejatinya, ia bukanlah pendiri Rantai Hitam. Ia hanya meneruskan tongkat estafet dari senior terdahulu di Kampus Buyung Upik. Tugas berat di pundaknya lebih dari menjaga asa api kehidupan anggotanya sekaligus garda terdepan melawan kebathilan. Sesekali ia dipaksa mengawasi pergerakan senyap musuh di dalam dan di luar area kekuasaan. Kali ini ada Gabriel Putra Pamungkas, 28 tahun. Lelaki pemalas ini satu angkatan dengan Loki. Ia bertugas sebagai sayap kanan Rantai Hitam. Bisa dibilang, urusan dalam kampus dan segala macam tetek bengeknya menjadi tanggung jawab Putra. Di samping itu, ia merangkap jabatan sebagai seorang Koorlap alias Koordinator Lapangan kampus. Selama rutin membayar her-registrasi setiap semesternya, statusnya sebagai mahasiswa masih aktif. Di sisi lain, jabatan serta nama besar di punggungnya menjadikan ia dikenal banyak orang. Bukan karena julukan si Mager dari Rantai Hitam, tapi statusnya sebagai owner industri Botol Kecap alias studio film porno. Dengan kata lain, peredaran video-video porno berkualitas dapat ditonton dalam satu wadah atau situs bernama TTM. Jangan pernah bertanya kepanjangan dari web TTM, atau Putra akan berhenti memproduksi tontonan berkualitas generasi muda ini dan bersiap meremukkan leher kalian! Ada yang kenal Albertus Rio Darmawan, Lelaki yang wajahnya sudah ada tanda-tanda penjahat sejak ia dilahirkan 28 tahun yang lalu? Ya, sama seperti Loki dan Putra, Rio juga lelaki yang memiliki pekerjaan rawan kelewat berbahaya. Di umurnya yang hampir mendekati kepala tiga, ia bertindak sebagai sayap kiri Rantai Hitam. Bila Putra bertugas di area dalam kampus, maka sudah menjadi tugas Rio meng-handle luar kampus supaya terhindar dari ancaman berbagai pihak yang sewaktu-waktu datang. Kendati ia seorang kartel narkoba yang menjalankan operasi bisnis di Rumah Sehat Anti Sambat, ia tetap berani tampil di depan publik tanpa rasa takut. Selain di back-up teman-teman sesama penjahat, Rio cukup diunggulkan karena berada di wilayah yang dijuluki surganya kaum bernyali tinggi, wilayah kebal hukum, Kota Anggur. Berikutnya ada Ilham Pangestu, 25 tahun. Panggilannya Ipang. Ia tiga tahun lebih muda dari tiga seniornya. Si pelawak ini menjabat sebagai juru bicara Rantai Hitam. Pencapaian luar biasa yang ia raih sampai direkrut oleh seniornya adalah: kepintaran Ipang dalam mensiasati hari Senin yang suram. Sudah barang tentu semua orang mengangkat topi untuk pemuda yang berada di usia seperempat abad ini. Usia emas di mana ia berada pada puncak kejayaan dalam berkarir sesuai program studi yang ia ambil: dunia otomotif. Jangan meremehkan, Ipang ini sudah memiliki bengkelnya sendiri yang ada di dalam kota. Jangan salah sangka pula. Memang benar Ipang menjalankan bisnis otomotif. Namun, itu hanya tampilan depan saja. Jika ditelusuri masuk ke dalam, akan ditemukan sebuah pabrik ilegal yang memproduksi berbagai macam senjata. Entah itu senjata api, atau senjata tajam. Uniknya, semua karyawan yang bekerja di bawah kepimpinan Ipang diberi julukan ’empu’. Sambutan berikutnya untuk sang bandar minuman, Leonel Alexander Wanawer, 25 tahun. Panggil saja Leo. Bertindak sebagai penasihat Rantai Hitam. Biar karakternya yang keras dan emosian, ia tetaplah orang yang perlu di respect soal strategi dan pengambilan langkah. Pekerjaannya tidak berat. Hanya seorang pemilik Suweger House yang menjual berbagai minuman beralkohol. Dari yang termurah sampai termahal. Dari yang harga dompet mahasiswa sampai brankas sultan. Tak heran jikalau ia dijuluki Heartbreaker. Selain merusak kesehatan diri sendiri, ia senang merusak kesehatan teman-temannya dengan mencekoki alkohol setiap malam. Alvin Bayu Lesmana, 24 tahun. Lelaki yang akrab dipanggil Bayu ini seorang fuckboy kelas kakap. Berangkat dari anak crazy rich Kota Melon, ia membuka bisnis club malam sejak pertama kali menginjakkan kaki di Kota Anggur.

Namanya baru dikenal saat ia resmi bergabung ke dalam Rantai Hitam dengan jabatan intel sekaligus detektif karena kemampuannya dalam bersosialisasi kepada stranger di atas rata-rata anggota inti Rantai Hitam. Alih-alih menjalankan tugasnya sesuai kapasitas, Bayu justru cosplay jadi tim pencari bakat. Merekrut orang-orang bertampang bajingan untuk dijadikan kacung Rantai Hitam. Dasar bocah sinting! Pilar penting lainnya dari Rantai Hitam adalah Erwin Dio Leonardo, 24 tahun. Tanpa si ahli IT nomor satu di Pulau Naga ini, Rantai Hitam hanya sekelas pemuda karang taruna Desa Manukan. Sangat amat rentan dihancurkan dari segala sisi. Andai saja terjadi pertempuran tanpa adanya komunikasi terstruktur yang dikomandoi oleh Erwin, mustahil Rantai Hitam sukses dalam berbagai misi. Lebih dari itu, keahlian utama Erwin adalah desain grafis. Pun dirinya yang mempelopori pembuatan situs penerimaan pelamar pekerjaan, yang nantinya akan di filter dalam segi riwayat kesehatan, latar belakang, hingga personal sang pelamar. Jika sudah memenuhi persyaratan, selanjutnya akan ditetapkan sesuai integritas dan kredibilitas setiap pelamar ke dalam perusahaan berbeda yang di kelola Rantai Hitam itu sendiri. Rantai Hitam kurang berwarna jika tidak ada si ahli gizi di dalamnya. Bintang Adriel, 23 tahun. Bintang hadir mengisi slot sebagai koki pribadi Rantai Hitam. Keahliannya dalam menghidangkan masakan Perancis dan Jepang, dikombinasikan masakan ala Negara Berflower, sudah pasti lidah siapa pun akan menerima. Pemilik tunggal Luyongan Resto & cafe ini rela menugaskan kepala koki pengganti dirinya demi menerima mandat memasak untuk kelompok gila ini. Suatu kehormatan tersendiri untuk Bintang, tentu saja. Namun, ada satu pertanyaan besar untuk Bintang: apakah hidup Bintang lurus-lurus saja, hanya sekadar memasak dan memasak? Oh, tidak juga. Sudah menjadi rahasia umum jikalau Bintang adalah pelanggan tetap black market dalam rangka membeli bahan-bahan langka daging hewan yang terancam punah. Legenda mengatakan, Bintang pernah memasak daging banteng merah untuk keluarga presiden. Dibilang pelengkap juga bukan. Profesi seorang gigolo menjadikan Sagara Ing Jayantaka, 22 tahun, mata-mata untuk mengawasi pergerakan mencurigakan wanita-wanita kurang belaian, yang lima tahun belakangan sedikit meresahkan. Sebab, masalah besar Rantai Hitam terletak pada tidak adanya pendekar selangkangan pemikat wanita untuk dijadikan senjata dalam tanda kutip. Hingga di kemudian hari, Saga yang awalnya hendak dihabisi karena tak sengaja mengencani ibu dari seorang anggota Rantai Hitam, berakhir harus mengabdikan diri sampai mati untuk menjadi bagian dari kelompok berandalan kota ini. Informasi tambahan, Saga sudah mengencani lebih dari tiga puluh wanita tuna susila. Delapan belas di antaranya mengandung anakan cebongnya. Gacor! Berto Wiranata, 22 tahun. Satu-satunya anggota Rantai Hitam yang sudah bergabung sejak ia duduk di bangku SMK. Berto penganut budaya barat: seks bebas. Ia gemar memasukkan burung ke dalam sangkar setiap wanita dalam radarnya. Sebaliknya, jika ada seorang wanita yang dekat dengan Berto tapi ingin bermain kelamin bersama lelaki lain, Berto tentu mengizinkan. Satu yang perlu dicatat: asal tanpa paksaan dan mengedepankan rasa. Sedikit membingungkan, tapi itulah Berto, sang petarung jalanan andalan Rantai Hitam. Arena Street Fighter yang tersebar di empat penjuru mata angin Kota Anggur, menjadikan setiap petarungnya sebagai penjaga perbatasan dengan empat kota di masing-masing sektor di bawah bendera kebesaran Rantai Hitam. Luar biasa! Terakhir ada princess-nya Rantai Hitam. Jangan berkedip. Ini dia, Electra Sugureta, 20 tahun. Bahasa gaulnya incess. Satu-satunya wanita yang termasuk ke dalam anggota inti. Si ahli beladiri Jujitsu ini tak lain dan tak bukan adalah keponakan pemilik kontrakan. Sikap Elle yang tsundere garis keras bak seorang ibu yang tengah mengasuh sebelas anak-anaknya, menjadikan ia disegani dan selalu didengar. Menjadi rem dan gas dalam satu waktu yang bersamaan. Sebenarnya, seorang wanita suka main rahasia. Tapi, untuk kali ini saja, ada satu rahasia yang bocor. Yaitu … Elle masih perawan.
***

 

Seandainya kucing yang duduk santai di pojok ruangan bisa bicara, niscaya ia akan bersaksi di depan para hakim jikalau terdakwa yang duduk tegang di hadapan para penegak keadilan tidak bersalah. Pasalnya, pemuda dengan kantung mata panda tebal bukanlah seorang pembunuh. Ia korban fitnah seseorang. Hingga kemudian, ia di vonis hukuman mati yang telah ditetapkan oleh JPU alias Jaksa Penuntut Umum. Hal-hal yang memberatkan pemuda malang itu bermula ketika mencoba memberi pertolongan pertama pada seorang wanita muda yang mengalami kecelakaan di pinggir jalan. Naas, si pemuda berada di TKP sepi. Tanpa pikir panjang ia membantu si korban. Ia tak tahu jikalau si korban adalah wanita malam idola para garangan di Rumah Bordil Darmo. Akibatnya, si pemuda terjerat pasal 333 KUHP tentang Penyekapan dan Penculikan. Singkat cerita, si pemuda harus mendekam di jeruji besi selama 20 hari. Penderitaan tiada akhir. Sudah jatuh tertimpa tangga dan plafon rumah. Ia mengalami ospek beruntun dari rekan sesama tahanan. Terhitung hari ini, sudah ditemukan lebih dari sepuluh bekas luka lebar di tubuhnya. Menyedihkan. “Sidang lanjutan perkara pidana Pengadilan Negeri Kota Anggur yang memeriksa dan mengadili perkara pidana Nomor Reg : 666Pid.B/2023/FH.Unetra, atas nama terdakwa Bara Geni, dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.” Gema suara sang Hakim Ketua berbicara sambil menatap tajam ke arah terdakwa, diiringi mengetuk palu tiga kali. Keringat dingin pemuda bernama Bara langsung mengucur deras. Ia diam memperhatikan. Cemas. Banyak hal yang menjadi beban pikiran. Namun, hanya satu prioritas yang membuatnya risau: kucing. Hewan sialan berwarna oranye itu sama sekali tak beranjak dari tempatnya. Memandang Bara, seolah Bara termasuk ke dalam jajaran manusia sampah di muka bumi. “Sesuai berita acara sidang yang lalu, maka sidang hari ini adalah pembacaan putusan Majelis Hakim.” Sang Hakim Ketua kembali berucap. “Saudara Bara, diberitahukan bahwa acara persidangan pada hari ini adalah pembacaan putusan pengadilan. Apakah Saudara Bara sudah siap mendengar putusan sidang hari ini?” Sebelum menjawab, Bara menghela nafas ringan. Sorot matanya layu. Selayu bunga mawar di Gurun Sahara. “Ya, Pak Hakim.” Ketua Majelis membacakan putusan sebagaimana terlampir. Adalah, Bara Geni telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana melakukan penyekapan dan penculikan terhadap seorang wanita serta bersama-sama menempatkan wanita tersebu dalam penculikan. Menjatuhkan pidana terhadap diri Terdakwa, Bara Geni, yang diatur dalam pasal 333 KUHP. (1) Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum merampas kemerdekaan seseorang, atau meneruskan perampasan kemerdekaan yang demikian, diancam dengan pidana penjara paling lama delapan tahun. (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan luka-luka berat maka yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. (3) Jika mengakibatkan mati diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. (4) Pidana yang ditentukan dalam pasal ini diterapkan juga bagi orang yang dengan sengaja dan melawan hukum memberi tempat untuk perampasan kemerdekaan. Oleh karenanya, Terdakwa, Bara Geni, dijatuhkan hukuman 20 tahun penjara atas tindak pidana Penyekapan dan Penculikan dengan tiga pasal berlapis, serta denda sebesar 5 miliar. Catatan mengatakan apabila denda tersebut tidak dibayar, diganti dengan pidana kurungan selama 3 tahun. Selesai membaca putusan, Majelis Hakim mengetuk palu satu kali. “Baik. Demikian putusan Majelis Hakim. Diberitahukan bahwa apabila keberatan dengan keputusan ini, dapat mengajukan upaya banding selambat-lambatnya 14 hari sejak putusan ini dibacakan.” Sang Hakim Ketua berkata lugas. “Kepada Terdakwa, apakah saudara mengerti dengan putusan ini?” Lemas, letih, lesu. Bara sama sekali tak ada perlawanan di hadapan hakim. Ia mengangguk kecil, dibarengi hela nafas pendek. “Saya mengerti, Pak Hakim.” “Saudara penasihat hukum siap dibantu ya apabila terdakwa akan mengajukan banding.” “Baik, Pak Hakim.” Sang pengacara menjawab singkat. Melirik sebentar ke arah Bara, kemudian menatap lurus ke depan. “Baiklah. Dengan demikian pemeriksaan perkara pidana oeradilan semu FH Unetra dengan Nomor Reg : 666Pid.B/2023 atas nama Bara Geni dinyatakan selesai.” Ketuk palu tiga kali tanda berakhirnya sidang hari ini menjadi seruan perang. Hal selanjutnya yang menggemparkan adalah bunyi letusan senjata api di udara. Memekakkan telinga. Semua orang yang hadir di dalam ruangan tegang. Panik. Ribut. Hanya Bara yang justru tersenyum lebar. Air mukanya yang sumringah tanda ia lega. Drama sesungguhnya telah tersaji. Sembilan orang berwajah sangar masuk ke dalam ruangan. Tak ada yang mengundang mereka kecuali atas nama persaudaraan. Ciri khas kaos hitam bergambar tengkorak dibelit rantai, rambut gondrong, menenteng rokok di tangan kiri dan tangan kanan membawa pistol, menjadi momok ketakutan semua orang yang menjadi saksi hidup ganasnya kelompok berlabel hantu pecinta dangdut. Mereka, Rantai Hitam. “Yo, lelaki bajingan.” Seorang pemuda berwajah kalem tapi menghanyutkan menyapa Bara. Sambil memainkan kedua alis mata naik turun, ia memberi senyum cerah ke arah Bara. Entah mengejek atau senang bertemu juniornya yang super menyebalkan itu.

“Mas Loki.” Bara mengangguk. Ia berdiri. Tapi, baru saja hendak melangkah menghampiri seniornya di kampus dan kostan, dua petugas polisi lebih dulu menahan lengan Bara. Sikap kasar menyuruh Bara untuk duduk kembali menjadi sorotan Rantai Hitam. Detik itu juga, seseorang dari mereka melesatkan masing-masing satu peluru tepat di kening sang petugas. Gugurnya mereka menjadi pemantik api yang sebentar lagi membakar rasa haus darah. Kubu putih melawan kubu hitam. Bara yang baru kali ini melihat bagaimana inti Rantai Hitam menghabisi musuhnya, sedikit terguncang. Tapi ia mencoba berani. Mengingat mereka adalah teman-teman baiknya. Baik dalam tanda kutip, pastinya. Sekarang, tanpa semua orang sadari, Rantai Hitam sudah membentuk setengah lingkaran, di mana Bara berada tengah. Dilindungi Seperti biasa, wajah sangar nan beringas mereka dibumbui bau-bauan rokok dan alkohol. Dua hal yang sedari dulu tak terpisahkan. “Aku nggak mau banyak ngomong, Pak Hakim. Sampaikan ke atasanmu. Anak ini …” Loki memiting leher Bara, “dia anggotaku. Aku mau bawa pulang anak ini. Kasihan, pacarnya nyariin. Boleh, kan?” “Anda jangan kurang ajar! Ini-” “Boleh, kan?” penekanan suara dari Loki, sudah jelas harus dituruti. Membantah sama dengan mempercepat masuk surga. Loki berdeham, ia menyasar satu persatu hakim di balik meja hijau. Tatapan terakhir jatuh kepada sang Hakim Ketua. “Apa perlu aku memperkenalkan diri sambil mengiris puting susu istri mudamu? Siapa ya namanya?” “Lisa, Mas.” Seorang teman sesama Rantai Hitam berbisik di telinga Loki. “Oh, ya. Lisa. Menurutku, istrimu lebih cocok jadi cucumu, Pak Hakim. Sumpah. Lebih cocok lagi kalau sama aku. Hahaha.” Loki tertawa renyah. Ia menatap teman-temannya. “Ha?” Mau tak mau teman-temannya terpaksa tertawa karena mata Loki terasa mengancam bila tak disambut. “Sebenarnya, kedatanganku dan teman-teman ke sini karena dua hal.” “Makasih, lho, Mas Loki. Sampeyan kalau sayang sama aku ngomong aja. Aku rela menduakan bocilku Aura demi dirimu.” Sahutan ngawur dari Bara sukses mengundang jitakan. Hanya Loki yang melancarkan colokan dua jari di hidung Bara yang seperti gua. Kemudian, Loki manggut-manggut. Wajahnya begitu bergairah bak jawara di medan pertempuran. Menatap penuh api permusuhan kepada sang Hakim Ketua. “Termasuk anak ini, aku ingin mendeklarisakan sesuatu. Kami, Rantai Hitam, mulai saat ini resmi menggantikan peran polisi dalam melindungi masyarakat Pulau Naga. Percaya atau tidak, masyarakat kita menilai jika keberadaan polisi sama sekali nggak ada gunanya. Bahkan mereka berharap mending bubarin aja polisi terus ganti jadi komunitas pecinta cupang.” Kembali tertawa, kali ini ucapan Loki sungguh terdengar tajam dan menggelikan. Bahkan satu dari lima hakim di hadapan Rantai Hitam sampai menunduk menahan tawa. “Apalagi ini maksudnya?” geram desisan sang Hakim Ketua. Tapi ia sadar jikalau posisinya saat ini serba salah. Menegakkan keadilan, atau keselamatan keluarganya. Dua hal yang sukar ia putuskan seorang diri. Melihat raut ragu sang Hakim Ketua, salah satu anggota Rantai Hitam segera sadar. Si pemuda mata sipit tanggap dan ikut bersuara, “Kayaknya Pak Hakim lagi dilema tuh, Mas. Gimana kalau kita kasih hiburan dulu?” sambil tersenyum misterius. “Wah! Ide bagus, cok. Hiburan apa ya kira-kira yang cocok untuk bapak-bapak bau tanah di depan kita ini?” Loki menyahut. Ikut mendramatisir. Sambil menunjuk Bara, si pemuda mata sipit berkata, “Coba kita kasih kesempatan bajingan lendir ini dulu, Mas.” “Kenapa aku?” Bara tolah-toleh, bego. Wajah super duper menyebalkan diperlihatkan. “Jangan banyak bicara ko. Ayo, ngomong. Daripada sa kutuk jadi sendok nyam-nyam. Mau ko, cukimai?!” sambar pemuda lain berambut gimbal sambil melotot. Bara cemberut. Rasa-rasanya ia ingin jadi Superman saja saat ini. “Iya, iya. Gitu aja emosi kamu, Bang.” Masih manyun, Bara berpikir sejenak, sebelum melanjutkan, “Ehem. Ehem. Berhubung sekarang lagi marak kasus HAM yang nggak sesuai tempatnya, dan aku juga jadi korban fitnah maka dari itu aku mau para hakim di sini diadili sesuai hukum yang berlaku di Rantai Hitam.” “Dan itu?” “Hak Asasi Money.” Seketika wajah Bara berubah sadis. Aura aneh yang terpancar dari tubuh kurusnya akibat kurang gizi di dalam jeruji, membuat semua orang bergidik. Hanya Loki dan si pemuda mata sipit yang paling santai. “Pakai uang untuk menebus nyawa. Satu nyawa seharga satu miliar. Sesuai SOP, ya, kan?” “Jangan ngelunjak! Kurang itu.” Si pemuda rambut gimbal tersenyum lebar. Kulit hitam, berikut badan gempal penuh otot membuat intimidasi kian kuat. “Minimal sepuluh miliar, lah. Mereka dibayar buat bebasin tahanan di Purgathory aja menerima tanpa banyak bacot, masa sekelas kita cuma minta satu miliar? Receh, setan!” “Kurang nominalnya, kah, Bang?” “Bukan. Tapi kurang menantang.” Loki yang menyahut. Ia maju dua langkah ke depan. Menodongkan pistol di depan sang Hakim Ketua. Sedetik, menembakkan peluru tepat di dada kiri sang target. Erang serta teriakan melengking kesakitan sang Hakim Ketua kontan memenuhi seluruh ruangan. “Dalam satu kali dua empat jam, aku ingin semua tersangka tindak pidana korupsi di hukum mati di Purgathory. Di depan publik. Jangan lupa disiarkan di televisi. Jika menolak …” Loki menoleh ke belakang, memandang jenaka Bara yang sedang sibuk sendiri menarik borgol di tangan. Tersenyum tipis penuh misteri, Loki berkata lantang, “Semua wanita di circle kalian akan menjadi santapan predator yang baru saja kalian jatuhi vonis! Ingat itu!”
BAJINGAN!​

1
PERTEMUAN​
Tengah hari yang cukup terik. Ditemani motor Scrambler Byson warna hitam metalik, Bara tiba di Kota Anggur. Tujuan utamanya yaitu kuliah di salah satu kampus ternama. Setelah Bara diterima jalur SNBP -Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi- ia langsung berangkat H plus 3 selepas membereskan berkas-berkas untuk keperluan di kampus lewat online. Sebelum Bara mencari kost, terlebih dahulu ia mampir ke sebuah minimarket membeli dua botol Lemon Water dan satu pack keju. Tak ketinggalan dua bungkus rokok Surya untuk stok. Pembayaran selesai. Kembalian 25.500. Uang receh disumbangkan ke pengemis yang standby di emperan minimarket, berharap orang baik memberinya uang satu juta. Siapa tahu. Berjalan santai, Bara istirahat pada salah satu dari dua kursi yang disediakan. Meletakkan tas ransel di bawah meja, berikut barang belanjaan yang baru saja dibeli serta sling bag di atas meja bundar aluminium. Selain mengistirahatkan badan serta memulihkan tenaga dalam rangka perjalanan jauh yang ditempuh dari Kota Apel ke Kota Anggur, Bara memutuskan untuk menikmati atmosfir kota ini sejenak, yang kata orang, kotanya anak-anak bernyali. Satu botol Lemon Water sisa seperempat. Keju telah tandas tiga lembar. Kini, berganti bibir Bara yang dimanjakan rokok sejuta umat, Gudang Garam Surya. Hingga tak lama, ada sebuah motor Scoopy warna putih mix merah muda tiba di halaman parkir minimarket. Helm Cargloss senada yang tersemat di kepala si pengendara itu perlahan dilepaskan. Muncullah sosok bak bidadari berparas menawan, make up tipis, serta berambut hitam lurus panjang, praktis menjadi sorot utama Bara. Begitu pula para garangan yang lalu lalang. Terkesima. Terlebih pakaian casual dibalut cardigan putih yang menonjolkan setiap lekuk tubuh bongsor montok nan bahenolnya, jelas saja tak ada satu mata pun yang melewatkan kesempatan memandang ciptaan terbaik Sang Esa. Saat si gadis berjalan elegan menuju minimarket, matanya yang bermanik coklat tak sengaja bertemu dengan sorot tajam bermanik abu-abu yang tengah duduk memandanginya. Sama-sama saling terpana. Mematung. Untuk beberapa detik, keduanya seperti tersedot ke dalam medan magnet paling kuat di bumi. Dan di detik berikutnya, Bara-lah yang pertama memalingkan muka. Menyembunyikan ketertarikan demi harga diri seorang lelaki yang berprinsip ‘cowok mahal bukanlah cowok mata keranjang’. Tapi tetap saja, ekor matanya mengawasi gerak-gerik si gadis. Kejadian kecil itu bagai angin berlalu untuk Bara. Namun, tidak dengan apa yang sebenarnya terjadi di dalam hati si gadis. Saat di dalam minimarket dan tengah antri untuk mengisi saldo DANA, melalui sudut mata, ia curi-curi pandang melirik Bara yang duduk tenang menghadap lurus ke jalanan sambil merokok. Wajah gadis itu kian bersemu. Telinganya seketika panas. Dadanya terpacu kencang, berdebar-debar. Tangannya gemetar. Ia paling tidak bisa kalau berhadapan dengan cogan. Dengan seratus persen keberanian, gadis itu memutuskan untuk bermanuver; membeli Nutriboost rasa strawberry dan satu pack Pocky dengan rasa senada. Setelah menenangkan debaran hatinya, gadis itu mendorong pintu kaca. Senatural mungkin membuat mimik wajah cuek. Ia duduk di kursi seberang meja tempat Bara meletakkan tas selempang dan barang belanjaan. Bara berhenti merokok. Menoleh sebentar, lalu membuang muka lagi. Lanjut merokok lagi. Gadis bule berwajah blasteran UK itu sudah hafal macam-maccam sifat pria. Memang sih, yang seperti lelaki di sebelahnya ini jarang ditemui. Akan tetapi, bukan berarti gadis bule itu tak memiliki pengalaman menundukkan pria cuek. Bedanya, sosok pemuda jangkung kurus, yang dari pergelangan tangan tertutup jaket jeans abu-abu terdapat tato yang mengular, sangat amat dingin. Dingin sekali. Tatapannya tajam, buas, dan tak tersentuh. Belum lagi aura aneh yang terpancar. Kulitnya cukup putih untuk ukuran pribumi. Wajahnya seperti seorang bangsawan. Tapi sayang, di mata gadis itu, kesan badboy campuran darkness pada diri pemuda itu, terasa mengerikan. “Panas banget, ya, Mas?” si gadis yang pertama menegur. “Namanya juga musim kemarau, Mbak.” Bara menjawab seramah mungkin. “Parah sih, dari kemarin nggak turun hujan. Padahal udah waktunya transisi, lho.” “Sebenarnya aku pawang hujan. Tapi sayang, yang bisa aku turunkan cuma petirnya aja.” Si gadis terkekeh. “Emang Masnya Zeus, apa?” “Ngeslot, dong?” si pemuda ikut tertawa. “Jangan panggil ‘mas’, Mbak. Aku Bara.” Sambil memindahkan rokok ke tangan kiri, si pemuda mengulurkan tangan kanan ke arah si gadis. Si gadis menjabat tangan Bara. Tangan putih super halus bertemu dengan tangan besar, kasar, dan berurat hijau. “Aku Electra. Panggil aja Elle. Nggak usah ‘mbak’ segala. Hehehe.” Elle, gadis bule itu menyadari sesuatu. Ia melihat telunjuk dan jempol Bara yang besar dan panjang. Seketika otaknya travelling ke antah berantah. Membayangkan sesuatu yang seharusnya tak ia bayangkan. Apalagi pria yang baru ia kenal ini masih belum di konfirmasi karakternya. Dari wajah tampannya, tersimpan aura misterius yang tertutupi kesan ramah. “Ngomong-ngomong, kamu bukan orang sini, ya?” Elle bertanya. Mencoba mengulik informasi. “Kok tau? Jangan-jangan kamu intel?” dengan nada bercanda, Bara balas bertanya. “Iya. Aku intel. Tugasku ngawasi bandar judi.” “Mana ada intel ngomong-ngomong? Emang situ sales?” Elle merengut. “Ih! Aku mah cuma bercanda. Serius amat kamu.” “Iya, ya. Nggak mungkin kan Intel cantik. Biasanya berkedok jadi ODGJ. Kalau nggak ya … tukang tahu tek keliling.” “Pinginnya sih tukang bakso. Boleh nggak?” Elle mengalihkan pembicaraan. Ia tak mau terlihat malu-malu dipuji oleh Bara. “Bebas aja. Yang penting nggak makan ternak warga.” Keduanya tertawa cekikikan. Mengundang decak iri orang yang malang melintang curi-curi pandang ke arah tempat keduanya bercengkerama. Hingga di beberapa detik berlalu, baik Bara mau pun Elle terdiam. Sibuk akan pikiran masing-masing. Bara yang tengah memikirkan cara untuk kabur dari sini, sedang Elle yang mencoba menyusun kata untuk mencoba akrab dengan Bara. “Ehm … jadi kamu ke sini mau ngapain? Ah, maksudku kerja, gitu?” Elle bertanya, diakhiri mengoreksi pertanyaan. Bara menghisap rokok terlebih dahulu. Hembusan asap ke samping, dilanjutkan membuang puntung rokok ke jalan. “Bisa jadi. Tapi tujuanku ya kuliah. Cuma aku mau nyari kostan dulu.” Wajah Elle berubah senang. “Kebetulan kostanku ada satu kamar kosong.” “Kostan cewek, kali.” “Bukan. Kostan umum. Ada cowoknya. Rata-rata mahasiswa semua.” “Emangnya di mana?” “Itu, di belakang Kampus UB.” Bara menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. “Boleh deh kalau nggak ngerepotin. Sekalian dianter ke sana. Lihat-lihat dulu tapi, ya.” “Siap!” Elle mengangguk sambil menyungging senyum semanis madu. “Btw, bagi rokoknya, dong.” Meski terkejut karena baru pertama kali melihat wanita merokok di depannya, Bara tetap mengiyakan. “Monggo.” (Silahkan.) Setelah dipersilahkan, Elle membakar rokok, ia bercerita kalau Kampus UB alias nama lain dari Universitas Buyung Upik adalah kampus negeri tempat ia kuliah. Sungguh kebetulan yang mengerikan jika Bara nantinya akan menimba ilmu di Kampus UB selama empat tahun. Ditambah besar kemungkinan mereka akun satu kostan. Nikmat mana yang Bara dustakan jika hari pertamanya tiba di Kota Anggur sesempurna ini? “Berangkat sekarang?” Elle bertanya. “Gas.” Sebelum beranjak, tetiba ada satu orang datang mengendarai motor Vario biru cerah. Ia menghentikan motor depan di dekat motor Elle. Orang itu turun tanpa melepaskan helm dan masker yang ia kenakan. Kemudian, menghampiri Elle. “El, ada urgent di kampus. Kamu dicari anak-anak.” Orang itu, tidak, wanita itu menegur Elle sambil menatap Bara. “Dia … temenmu, El?” “Oh, ya. Kenalin, ini Bara. Rencananya dia mau ngekost di tempatku.” Elle menjawab sambil menepuk ringan pundak Bara. Bukannya menjawab, si wanita yang mengenakan almamater hijau justru terbelalak. Meski Bara tidak bisa melihat ekspresi wajahnya, ia bisa menebak jika si wanita terkejut dari respon matanya yang membola. “Aku Bara, Mbak.” “Da-Dayu.” Dayu mengangguk kaku. Lalu, menatap Elle. Mengisyaratkan untuk segera beranjak dari sana. Sebab, ada alasan baru mengapa ia harus cepat-cepat keluar dari situasi yang tidak baik untuk kesehatan jantungnya. “Ayo, El. Cabut.” “Sek talah, Day.” (Tunggu sebentar, Day.) Elle berdiri. Bara ikut berdiri. Kemudian, Elle mengeluarkan ponsel dari dalam tote bag yang dibungkus case merah muda. “Minta WA-mu dulu, Bar.” “Oke.” Bara merogoh saku dalam jaket. Ponsel polos tanpa case menyala. Barcode WhatsApp ia sodorkan kepada Elle. Sejurus, Elle memindahi barcode tersebut, lalu chat ‘p’ ke nomor Bara. Keduanya saling menyimpan kontak masing-masing. Setelahnya, Elle memasukkan kembali ponsel ke dalam tote bag putihnya yang bergambar Pikachu. “Maaf banget, ya, Bar. Harusnya aku anter kamu ke sana. Kamu sendiri bisa, kan?” “Bisa, kok. Santai aja. Sorry juga kalau ganggu.” “Iya. Kalau gitu kamu langsung aja ke kostan. Bilang sama Mas Loki kalau kamu anak baru yang mau ngekost di sana. Bilang juga kamu temennya Elle, gitu.” Bara manggut-manggut. “Nama kostannya, apa?” “Rantai Hitam.”

2
TIBA​
Rantai Hitam sudah terkenal sedari lama. Khususnya masyarakat Kota Anggur. Mereka sudah tak asing dengan nama tersebut. Hanya saja, anggota inti Rantai Hitam jarang sekali tampil di permukaan. Lebih banyak para kacung yang ditugasi me-handle berbagai tugas. Tapi jangan salah, sekali para inti tampil, apalagi ketuanya, dapat dipastikan akan terjadi hal yang luar biasa. Entah kabar baik yang diterima, atau kabar buruk yang mengundang marabahaya. Jika dianalogikan, Rantai Hitam itu seperti iblis berhati malaikat. Siapa saja boleh datang. Siapa saja boleh minta tolong. Namun, yang perlu digaris bawahi adalah: resiko ditanggung sendiri. Hingga di kemudian hari, muncul sebuah pepatah, “lebih baik gaji kecil tapi halal, daripada mencari masalah dengan Rantai Hitam”. Pepatah itu benar adanya. Bukan hisapan jempol belaka apabila ada yang berani mengusik mereka, sudah jelas esok harinya akan ditemukan mayat di pinggir jalan. Mati konyol tanpa tahu siapa pembunuhnya. Kendati demikian, hal itu tak berlaku bagi pemuda phobia kucing, Bara. Lelaki gesrek takut lapar ketimbang hidup tanpa pacar. Sampai tibalah Bara di jalan utama bagian selatan, kompleks besar area belakang Kampus UB. Ada sebuah pemandangan yang jauh dari kata biasa. Sampah masyarakat yang dijuluki preman atau pun mahasiswa sulit dibedakan. Mereka berbaur. Membentuk kelompok-kelompok kecil di sudut-sudut jalan. Selain memutar minuman beralkohol, ada pula beberapa orang yang tengah melakukan transaksi … entah apa itu. Tak sedikit ada yang bermain judi menggunakan media kartu Remi dan Domino. Anehnya lagi, para mahasiswa yang lalu lalang seakan menganggap hal itu biasa. Khususnya para mahasiswi. Seolah mereka tengah melenggang di taman surga. Santai sekali. Tak ada yang mengusik, menggoda, ataupun melakukan pelecehan. Sungguh lingkungan aneh untuk orang-orang suram di Kota Anggur. Suara knalpot motor brong Bara membuat atensi jatuh kepadanya. Semua mata memandangnya tajam, siap menerkam. Segala macam aktifitas terhenti beberapa saat. Hingga seorang berbadan tinggi besar, berikut rambut gondrong sepunggung yang dibiarkan terurai, menghadangnya dari seberang jalan. “Wajahmu kelihatan asing. Kamu bukan orang sini, ya?” sapaan tak ramah si gondrong membuat wajah Bara berubah masam. Belum bicara apa-apa, Bara sudah mendapat kesan dimusuhi. Melihat Bara yang tak kunjung buka suara, si gondrong kembali berkata, “Kamu bisu? Jawab, cok, jancok!” “Wo, wo, wo! Santai, Om. Aku mau kuliah di situ.” Bara angkat tangan, seraya menunjuk Kampus UB yang super megah. Si gondrong memicingkan mata. “Kamu salah jalan. Sana balik. Lewat gate depan, bukan gate sini.” “Kata temenku, aku harus lewat jalan ini, Om. Aku mau nyari kostan sekalian.” “Kost?” “Iya. Apa ya nama kostannya tadi?” Bara mengetuk-ngetuk jidatnya. Berpikir. Mengingat-ingat. Setelah ketemu, Bara menjentikkan jari. “Ah! Rantai Hitam! Di mana ya itu, Om?” “Kamu … siapa temen yang kamu maksud? Kamu ada kenalan orang Rantai Hatam?” si gondrong sontak ngeri sendiri saat ia menyebut nama itu. Tak apalah. Andai ada masalah, ia akan melimpahkan kepada pemuda kurang ajar di hadapannya. “Anggap aja begitu.” Si gondrong menghela nafas berat. “Ikut aku.” Respon Bara di luar dugaan. Ia berdecak keras sambil membuka masker. “Bangsat. Aku nggak suka di perintah orang lain. Apalagi orang itu bukan wanita. Gendeng!” “Oh? Kamu nantang aku ceritanya?” “Apa boleh buat.” Bara turun dari atas motor. Meletakkan barang bawaan di atas jok, kemudian berdiri tegap. Badan jangkung kurus namun berotot itu terlihat menjanjikan. Namun, pantang bagi warga Kota Anggur menilai dari tampilan. Meski hati kecil memberi tanda bahaya, harga dirilah paling utama. “Aku katakan sekarang sebelum terlambat …” Bara menjeda, “jangan buat aku marah. Aku paling anti sama orang sok jagoan.” Imbuhnya, seraya memberi ultimatum. Merasa direndahkan, si gondrong kehabisan kesabaran. Ia lebih dahulu menghantam wajah Bara. Kena. Akan tetapi, justru tangan si gondrong yang merasa sakit, dan … terluka. “Kamu …?!” Wajah Bara yang lempeng, hanya memberi tanggapan santai. Lalu, ia bertanya, “Apa aku terlihat bercanda di matamu?” Tanpa kata, si gondrong membisu. Hanya gestur badannya yang perlahan menyingkir dari jalan. Menepi. Menghampiri teman-temannya sambil memandang Bara dengan ekspresi tak terbaca. Kejutan di siang hari untuk warga belakang Kampus UB cukup mendebarkan. Pasalnya, salah satu pentolan Kampus UB dibuat mundur teratur setelah merasakan sendiri bagaimana perbedaan level kekuatan mereka beda satu semesta. Bukan lebay. Rasa nyeri akibat pukulan yang ia lesatkan sendiri berimbas pada getaran badan. Tegang. Ketakutan. Di sisi lain, tatapan Bara terasa menusuk sampai ke dalam jiwa. Seolah mencabik-cabik hingga ke dasar sanubari. Tatapan seorang predator yang sama seperti ….
***​
Tibalah Bara di depan mulut gang. Di papan gapura tertulis Gatama alias Gang Tanpa Nama. Ini adalah gang terakhir yang ia kunjungi dari enam gang pertama. Sebelum masuk, Bara memarkirkan motor di depan warung kopi. Ia melenggang santai ke dalam warung yang di isi oleh tongkrongan para mahasiswa. Tanpa banyak drama, Bara menghampiri ibu pemilik warung untuk titip motor. Bara mau masuk ke dalam gang. Si ibu warung bertanya, “Untuk apa Masnya masuk ke sana?” “Saya mau nyari kostan, Bu.” “Memang di dalam ada kostan, tapi-” “Nah. Sesuai dugaan. Kalau begitu, saya duluan, Bu.” “Bentar, Mas! Ja-” Belum selesai si ibu menuntaskan kalimatnya, Bara sudah melengos pergi meninggalkan area warung. Menyisakan kebengongan para mahasiswa akan tindak tanduk Bara. Mereka hanya berdoa semoga Bara kembali ke sini dalam keadaan sehat tanpa cacat. Sambil menyelempankan tas ransel dan sling bag pada masing-masing tangan, Bara menyusuri jalanan gang, yang dari lebarnya hanya muat dilalui dua motor. Semakin dalam, semakin Bara merasa ketidaknyamanan. Sorot mata orang-orang yang Bara temui sama sekali tidak ramah. Di sisi lain, sepanjang kaki Bara melangkah, ia dapat mencium beberapa aroma yang tak asing lagi di hidungnya. Perpaduan antara aroma alkohol, kelamin, bubuk mesiu, asap rokok, ah … asap ganja, mungkin. Untun sisanya, Bara tidak tahu. Hingga tibalah Bara di bangunan paling pojok. Bangunan berbentuk kubus warna hitam. Ada tiang setinggi empat meter berhiaskan bendera logo tengkorak, berikut rantai hitam yang mengelilingi tengkorak. Dari celah-celah pagar berkarat, Bara dapat melihat dan mendengar hal yang mencengangkan. Siang-siang bolong begini, ada sepasang sejoli yang tengah bersenggama di kursi goyang teras bangunan tersebut. Begitu bergairah penuh gelora. Sungguh darah muda. Bara sampai tercengang. Bingung harus berkata apa. Sejurus, Bara memilih balik badan. Duduk bersila di depan pagar menghadap jalan. Ia membakar merokok. Menunggu persenggamaan itu selesai. Rencananya, setelah dua sejoli itu menuntaskan birahi mereka, Bara akan bertanya kepada mereka, apa benar di sini masih ada kamar kosong untuk di kontrakkan. Seketika nama Bara menjadi buah bibir saat ia datang di depan kostan Rantai Hitam oleh warga sekitar. Orang-orang menyayangkan niat mahasiswa baru seperti Bara ini, yang sudah benar mencari kostan untuk tempat berteduh. Akan tetapi pemilihan tempatnya sangat tidak disarankan untuk manusia bernyali ayam. Saat datang pun semua orang di jalan mengingatkan jika Bara tidak disarankan masuk ke sana, lebih baik ke kostan lain. Apalah daya. Selain Bara malas menanggapi, pantang baginya menolak tawaran dari wanita bule nan cantik yang sebelumnya ia jumpai. Paling tidak jika kurang cocok, Bara bisa menjadikan kostan lain sebagai opsi. Arsitektur bangunan kubus yang menjadi markasnya bajingan terbaik di Kota Anggur ini sendiri ada tiga lantai. Di desain langsung oleh sang pemilik lulusan Teknik Sipil yang berkolaborasi dengan lulusan Teknik Arsitek. Lantai satu dan dua dijadikan kostan. Sekitar dua belas dari tiga belas kamar sudah ditempati. Tersisa satu kamar kosong yang sudah dua tahun dibiarkan kosong. Atau mungkin tak ada kandidat pantas yang berhak menempati kamar tersebut. Kemudian, ada lantai tiga berupa rooftop yang biasa dipergunakan pesta. Macam-macam, lebih banyak digunakan pesta alkohol, narkoba, dan seks. Begitulah Rantai Hitam. Dan sekarang, si anak baru dihadapkan oleh si pemuda rambut model Paquito yang baru saja selesai bersenggama. Bertelanjang dada dan hanya menggenakan boxer. Sungguh pemandangan yang menjijikkan. “Aku dengar, ada bocah kurang ajar yang mau ngekost di sini. Kamu orangnya?” sambil membuka pagar, si pemuda bertanya. “Kamu kok tau, Mas?” Si pemuda geleng kepala menahan emosi. “Nggak sopan kamu itu. Jawab dulu, baru bertanya. Sekolah gak, sih?” “Ya kamu jawab juga pertanyaanku, lah. Gimana kamu itu, Mas? Gini nih kalau pelajaran Bahasa Indonesia malah ke kantin.” “Asu. Ngeselin lho kamu ini.” Si pemuda memaki sambil tertawa. Tak ada aura intimidasi atau apalah itu. Namun, tatapannya sungguh berbeda dengan preman-preman yang Bara temui di sepanjang jalan. Seakan-akan level pemuda ini di atas orang lain. “Ayo wes masuk dulu. Kayaknya kamu perlu dikasih hadiah.” “Aku nggak mau hadiah, Mas. Aku mau ngekost. Kamu ini geblek, ya?” mendengus kesal, Bara mencicit. “Cok. Kakean cangkem. Ndang melbu. Timbangane tak cokot kentolmu kapok kon!” (Cok. Banyak bicara. Buruan masuk. Daripada aku gigit betismu mampus kamu!) Bara melotot. “Mas, kon lanang, lho, Mas! Ojok, Mas!” (Mas, kamu laki-laki, lho, Mas! Jangan, Mas!) “Lebaymu, ho.” Mengekor di belakang si pemuda rambut Paquito, Bara semakin santer mencium aroma menggairahkan bercampur memabukkan. Inikah yang dinamakan surga? Saat pintu dibuka, ada sekitar delapan lelaki dan dua wanita di sana. Satu wanita Bara tahu. Ia lawan main si pemuda rambut Paquito. Sedang wanita satunya terasa asing. Maksudnya, bentuk wajah, mata, serta hidungnya seperti wanita keturunan India. Dugaan Bara semakin menguat saat lampu ruangan bagian tengah bangunan tersebut dinyalakan. Kulitnya coklat eksotis. Kira-kira kalau lagi berkeringat di atas ranjang, bagaimana ya ekspresinya? Bara geleng kepala. Mencoba menghilangkan gambaran mesum di otaknya. Ia kembali mengamati satu persatu lelaki di sana. Mereka bertelanjang dada. Berbagai model tato menghiasi badan mereka. Ada yang full di dua tangan. Ada yang bertuliskan huruf latin melintang di dada. Ada pula yang di leher berbentuk rantai. “Sopo arek iku, Ber?” (Siapa anak itu, Ber?) tanya seorang pemuda bertato rantai. Ia memegang sloki berisikan minuman di tangan kanan. Masih tertahan, karena terkejut akan kehadiran orang asing. “Mboh. Aku nemu ndek ngarep kostan, Mas.” (Tidak tahu. Aku dapat di depan kostan, Mas.) “Ko anak baru. Muka ko macam gosi sa perhatikan. Bolehkah sa pukul muka ko sekali saja?” (Kamu anak baru. Mukamu seperti penis saya perhatikan. Bolehkah saya pukul mukamu sekali saja?) timpal seorang pemuda kulit hitam sembari menatap Bara bengis. “Gas wes. Raine yo ketok mekitik iku, Pace. Cocok iki digawe pelampiasan kalah tarung mambengi.” (Gas sudah. Wajahnya ya kelihatan songong itu, Kakak. Cocok ini dibuat pelampiasan kalah tarung semalam.) Seorang pemuda lainnya yang bertato kalimat latin di dadanya berdiri. Tatapan sangar dilepaskan. Selain memprovokasi, ia memang berniat untuk bertarung. “Mas. Aku ke sini nyari kostan, bukan nyari musuh. Apalagi bikin gara-gara.” Bara memberi pembelaan diri, masih tak habis pikir jika dirinya salah masuk kandang. “Hoi, biji ketumbar. Kreak kali kutengok muka kau.

Udah siap kali rupanya kau setor nyawa di mari. Hah?!” dari logatnya yang kebatak-batakan, pemuda berwajah keras dan bertato singa di dadanya ngegas membahana. “Kalem we atuh, kehed! Sia can pernah di hajar ku aing, arek di hajar ku aing nepi modar, anying?!” (Santai ajalah, sialan! Kamu belum pernah dihajar sampai mampus, ya, anjing?!) si pemuda yang lain dengan logat sunda kentalnya memaki Bara tanpa tedeng aling-aling. “Arek nggatheli ngene iki paling enak lek dibumbui terus digoreng, cok.” (Anak menjengkelkan yang seperti ini nih paling enak kalau dibumbui terus digoreng, cok.) Pemuda yang memiliki vibes koki ikut berkomentar. “SETUJU!!!” seru semua orang, kompak. Kecuali satu orang yang masih duduk sambil menikmati suguhan drama depan mata. “Kon kabeh isok meneng, ta? Gak sopan onok tamu malah dijak duel.” (Kalian semua bisa diam, kah? Tidak sopan ada tamu justru diajak duel.) Pemuda yang ini jelas berbeda dari yang lain. Bara merasa melihat cerminan diri sendiri. Begitu tenang, kuat, dan berkharisma. Bedanya, wajah pemuda ini terlihat lebih matang dan dewasa dibanding Bara. Sepi. Senyap. Tak ada sahutan. Bahkan si pemuda tato latin di dada langsung duduk kembali. Semuanya sibuk melakukan entah apa saja sambil tetap memandang Bara. Meski tak segalak di awal, tetap saja tatapan mereka seperti mafia sungguhan. “Kamu duduklah dulu.” Si pemuda kalem mempersilahkan. “Iya, Mas.” Bara mengambil duduk di single sofa. Kemudian, ia meletakkan dua bungkus rokok, yang salah satunya sudah tandas lima batang. “Rokok, Mas.” “Sangar rokok’e Surya. Incip sithok, yo?” (Sangar rokoknya Surya. Incip satu, ya?) si pemuda terduga pemimpin dari kostan ini mengambil sebatang rokok, lantas menyulutnya. Sektika asap membumbung tinggi memenuhi seisi ruangan seiring dua kali hisapan dalam. Setelah beberapa saat, pemuda itu meletakkan rokok di atas asbak gepeng dari aluminium, sebelum berkata, “Salam kenal, aku Loki. Mungkin terdengar menggelikan, tapi aku pemimpin dari bajingan-bajingan di sini.” “Iya, Mas Loki. Aku Bara.” Bara mengangguk kepada si pemimpin bernama Loki, dilanjutkan anggukan kepada penghuni lainnya. “Oh, jadi kamu Bara, calon maba Kampus UB yang direkomendasikan Elle buat ngekost di sini?” “Benar, Mas Loki. Kira-kira sebulan di sini berapa, ya? Terus biaya tambahan kayak WiFi dan lain-lain.” “Itu dibahas nanti. Sekarang, ada yang lebih penting yang perlu kita diskusikan.” Bara mengangguk. “Siap, Mas.” “Jadi, sebelumnya aku sudah dikabari sama Elle kalau akan ada yang menempati satu kamar yang masih kosong. Ternyata kamu orangnya.” Loki manggut-manggut, “aku sih setuju aja. Soalnya yang ngomong itu Elle sendiri. Keponakan yang punya kontrakan ini. Mau gimana lagi?” “Mas-” seorang pemuda bertato rantai di leher berniat protes. Detik itu pula tatapan death glare dari Loki sukses membungkam mulut pemuda itu. “Bara. Aku mau tanya dulu sama kamu. Apa yang kamu tau tentang tempat ini?” “Kost-kostan.” Semua orang dibuat melongo. Tak terkecuali Loki yang bola matanya hampir meloncat dari rongganya. Saking polosnya jawaban Bara, membuat Loki harus memutar otak untuk memberi penjelasan yang mudah dipahami oleh otak ayam Bara. “Kamu ini lugu banget, Bar.” Loki berkata sarkas. “Ya udahlah. Coba kamu memperkenalkan diri dulu. Ah, maksudku, jelasin secara singkat personal kamu.” “Bentar dulu, Mas. Ini aku mau ngekost kok pake acara wawancara segala? Emangnya di sini ada lowongan kerja juga?” “Tentu saja ada. Banyak malah. Justru aku yang diberi tanggung jawab mengelola kostan ini, memfilter siapa yang boleh tinggal atau tidak. Kami mencari orang berkompeten yang profesional di bidangnya untuk nantinya siap menghadapi kerasnya dunia kerja. Apalagi orang itu calon mahasiswa baru seperti kamu. Kebetulan. Maka dari itu, sudah menjadi tugas kami sebagai senior untuk membimbing para junior demi masa depan yang lebih baik. Benar begitu, bukan?” “Kalau itu aku setuju, Mas.” Bara mengambil rokok. Membakarnya tanpa sungkan di hadapan semua orang. Mengundang umpatan dan makian para penghuni lainnya dalam hati. Setelah menghisapnya panjang, Bara mulai bercerita. “Secara singkat, dari bayi sampai SMA, aku tinggal di Kota Apel, Mas. Tujuan awalku ke kota ini sebenarnya nyari kerja buat dapat penghasilan tambahan. Awalnya, ya, kan. Tapi, orang tuaku menyuruhku untuk kuliah demi kebaikanku sendiri. Di sisi lain, sampeyan tau sendiri Kota Apel nggak terlalu bagus soal pendidikan. Jadilah aku mendaftar di Kampus UB lewat jalur SNBP dan aku diterima. Sumpah, aku agak ngeri juga pas tau diterima di Kampus UB. Masalahnya gini, Mas. Di kotaku, aku sedikit banyak tau dari teman-teman kalau kota ini nggak ramah sama pendatang dari Kota Apel. Mungkin beda kali ya seandainya aku perempuan dan kuliah di sini. Itu aja, sih, Mas.” “Hebat juga kamu diterima jalur SNBP, bocah. Padahal standar Kampus UB cukup tinggi. Belum lagi biaya masuk dan per semesternya cukup menguras dompet. Aku jadi nggak yakin orang desa kayak kamu sanggup kuliah di sini sampai selesai.” Sindiran keras keluar dari bibir wanita teman main si pemuda rambut Paquito. Dari nada sinisnya, tersirat ketidaksukaan akan kehadiran Bara di sini. Entah apa sebabnya. Bara sedikit tersinggung dicela orang desa. Akan tetapi, ia menutupi emosinya dengan menghisap rokok sambil menatap datar wanita itu.
BRAK!!!​

“Yang nyuruh kamu ngomong siapa, Sarah Nuha Angelica?” desis tertahan Loki seraya memukul meja dengan kepalan tangan bagian bawah. Menggetarkan meja oval kayu jati, yang di atasnya berserakan botol alkohol, berikut menerbangkan abu rokok. Kembali hening. Kali ini ketakutan hebat menerpa diri si wanita lokal, Sarah. Dari raut wajahnya laksana ibu tiri, seketika berubah menjadi ikan teri di hadapan hiu purba. Aura yang luar biasa kuat terpancar mistis. Detik itu juga, tanpa kata-kata, si pemuda berambut Paquito lekas membawa Sarah memasuki salah satu dari tujuh kamar di lantai satu. Situasi tegang seperti ini sudah jelas butuh pencair suasana. Dan itu menjadi tugas si pemuda bermuka joker. “Ngawur sampeyan, Mas Ki. Sarah sampe nangis, lho. Untung aja masih bisa nafas cewek itu.” Tawanya sumbang, pemuda yang juga berambut gondrong sebahu ini menepuk-nepuk kepala teman sebelahnya saat tertawa. Dasar lelaki aneh. “Wes, menengo, Pang. Suaramu koyok nyambek kecepet lawang, cok.” (Sudah, diamlah, Pang. Suaramu seperti kadal kejepit pintu, cok.) Masih dengan nada galak, Loki merespon ucapan rekannya. Sedetik, Loki fokus pada Bara lagi, sebelum berkata, “Ya, ya. Aku ngerti, Bar. Perseteruan Kota Apel sama Kota Anggur emang udah dari jaman seniorku. Tapi satu yang harus kamu tau, tidak ada asap kalau tidak ada api.” Lelah. Bara memutar bola mata malas. Menguap. “Intinya gimana, Mas? Aku boleh ngekost di sini enggak?” Loki menatap Bara tajam. Masih terfokus kepada pemuda pemberani di hadapanya. Sedangkan teman-temannya yang lain diam memperhatikan. Loki, lelaki yang hampir kepala tiga tapi belum jua menikah. Alasannya sederhana: standar pasangannya terlalu tinggi. Sesungguhnya, dbilang tinggi juga tidak. Loki hanya menginginkan wanita kuat dan tangguh di segala lini. Hanya itu. Meski begitu, sampai sekarang Loki belum menjumpai sosok wanita idamannya. Miris. “Boleh. Gratis malah.” Bara yang sedang menghisap rokok, kontan terbatuk karena asap rokok dan ludahnya sendiri. Ia menyeka liur yang keluar dari sudut bibir. Menatap Loki curiga. “Pasti ada tapinya, ya, kan?” “Tentu saja.” Loki hampir tertawa. Namun, ia tahan. Ia tak ingin wibawanya anjlok hanya karena pemuda jangkung ini. “Kita main TTS.” “Hah?” Bara garuk kepala. “Tuku Tempek Sewu, Mas?” (Beli Vagina Seribu, Mas?) imbuhnya, ngawur. Giliran Loki yang tersedak. “TTS. Teka-Teki Sulit, telo.” Ucapan Loki disambut gelengan kepala teman-teman yang lain. Hanya saja mereka tak ada yang berani protes akan syarat yang diajukan sang ketua. Sudah jelas. Pemimpin harus didengar, bukan dibantah. Apalagi disanggah. “Kamu cukup jawab tiga TTS dengan benar, maka kamu resmi nempatin satu kamar kosong di atas. Gimana, berani?” “Nggak mundur.” Bara melakukan peregangan tangan yang tidak perlu. Ia merileksasikan lehernya ke kanan dan ke kiri. “Pertanyaan pertama. Hewan berkaki empat biasanya?” Bara refleks menjawab, “Berjalan.” “Benar!” seru Loki, sambil tepuk tangan. “Bangsat!” “Pantek!” “Celeng!” “Mokondo!” “Cukimai!” “Koclok!” Umpatan serta makian bernada frustasi dari para penghuni diarahkan kepada Loki dan Bara. Pertanyaan dan jawaban yang tak masuk akal. Di luar nalar. “Salahkah jawabanku? Emangnya hewan berkaki empat kalau punya kaki jelas bisa jalan, kan? Kalau nggak ada, namanya buntung, dong.” “Bajingan! Ini kostan lama-lama aku bakar, thel. Gelap banget, asu.” “Hoi, anak baru. Kau nih apalah, cok? Apa pula jawaban kau tuh? Mana bisa begitu? Pantek kau!” cecar si pemuda batak. Mengomel tidak terima karena jawaban Bara benar. Dengan wajah seratus persen songong, Bara nyengir. “Bisalah, Bang. Apa pula yang nggak bisa sama aku ini? Jangankan aku, orang stroke juga bisa jawab. Hahahaha.” “Bangsat.” Si pemuda batak geleng kepala. Andai tidak ada Loki, sudah ia hantam sedari tadi wajah kampret menyebalkan Bara. “Oke, lanjut, ya.” “Terserah sampeyan aja, Mas. Aku pasrah,” ujar seorang pemuda bermuka joker. “Ojok ngunu talah, Pang. Gak enak aku lek wes ngene.” (Jangan gitu, dong, Pang. Tidak enak aku kalau sudah begini.) Loki drama. “Wes ndang sampeyan lanjutno, Mas. Timbangane timbangan tak timbang. Wes emosi level limo iki aku lek gak dicekeli.” (Sudah buruan kamu lanjutkam, Mas. Daripada timbangan aku timbang. Sudah emosi level lima ini aku kalau tidak dipegangi.) “Cekolono Ipang, Pace. Wedine nguntal gapuro lek wes nggeremeng.” (Pegangi Ipang, Pace. Takutnya makan gapura kalau sudah merajuk.) Hahahahaha! Bara cengo melihat interaksi kelompok mengerikan yang tidak semenyeramkan penampilan urakan mereka. Entah mengapa, Bara merasa akan menemukan hal baik di tempat yang tidak baik ini. Feeling kuat seorang pecinta keju tak bisa diremehkan. Tetiba Loki menepuk pundak Bara. “Halo, Bara. Kamu masih di sini?” “Eh? Iya. Gimana, Mas?” Bara tercenung. Meski ditepuk, ia merasakan hawa tak biasa yang menguar dari Loki. Padahal, kalau Bara perhatikan secara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, Loki-lah satu-satunya orang yang tidak kelihatan hawa jahatnya. “Kita lanjutkan ke pertanyaan kedua. Siap?” “Siap.” “Oke. Sebelumnya aku mau tanya. Kamu tadi masuk ke gang ini lihat banyak hal, kan?” Bara mengangguk. Biar cepat. “Pertanyaannya, yang biasa dipasang di depan gang?” “Hah?” Bara berpikir keras. Memegang batang hidung sambil memejamkan mata. Semua penghuni ikut berpikir. Stress dengan pertanyaan multi tafsir dari Loki. Lama-lama rambut mereka jadi ubanan hanya karena ulah si pemimpin sengkleknya itu. Sedetik kemudian, Bara membuka mata. Tersenyum seraya manggut-manggut. “Yang biasa dipasang di depan gang … menung! MENUNGGANG!” “BETULLL!!!” “HOREEEE!!!” Sahutan Loki serta seru kegembiraan Bara langsung disambut lontaran kata-kata mutiara dari berbagai daerah. Seolah mereka memaki kebodohan mereka sendiri. Sia-sia rasanya mereka bertahun-tahun kuliah mengejar sarjana kalau ujung-ujungnya dibuat tak berdaya dengan pertanyaan absurd dari Loki. Sungguh membagongkan. “Lho, lho, lho. Kok pada diam?” Loki heran dengan sikap teman-temannya yang tiba-tiba termenung. Apalagi melihat wanita keturunan India yang hanya bisa tersenyum jengkel kepada Loki. “Nggak ada protes, nih?” imbuhnya, seraya menghisap rokok. “Nggak!” “Baguslah. Tumben kalian nurut sama aku?” “Sa tra bisa berkata-kata. Pokoknya jancuk tenan sampeyan, Mas,” (Saya tidak bisa berkata-kata. Pokoknya jancuk sekali kamu, Mas,) ujar si pemuda rambut gimbal. Lemas. “Pace ikutan aja. Yang lain juga boleh. Tapi jawabnya dalam hati. Jangan mau kalah sama anak baru ini.” “Daripada torang jadi gila jawab pertanyaan sampeyan, lebih baik sa putar saja minuman sudah. Cukimai.” (Daripada kita orang jadi gila jawab pertanyaanmu, lebih baik saya putar saja minuman, lah. Cukimai.) Gerutu si pemuda rambut gimbal sembari menuang alkohol langsung dari botol ke dalam sloki. Kemudian, sloki tersebut diserahkan kepada Loki. “Nih, giliran sampeyan, Mas. Semoga otak sampeyan sedikit encer macam pejunya si Ipang.” “Nggatheli Pace ini. Masa aku dibawa-bawa, cok?” Ipang mengomel. Loki tertawa renyah sambil mengambil sloki. “Aku angkat dulu, ya, rek.” “Werrrrr!” Sekali teguk, setengah gelas sloki berisikan cairan kejujuran langsung tandas. Masuk merasuk ke dalam tenggorokan. Membawa serta rasa panas, pahit, tapi nikmat. “Hahhhh! Seger!” Loki meletakkan gelas di atas meja. Membakar rokok kretek Dji Sam Soe Refil,yang lebih dulu membuka kertas kuning yang membelit batangan tembakau tersebut. “Lanjut, ya.” Tak ada jawaban. Semua penghuni memilih menyimak. Kalau si pemuda rambut gimbal sibuk dengan menuang minuman dan diserahkan kepada penghuni lain. Helaan nafas kecil dari Bara tertangkap pendengaran Loki. Kontan saja Loki melirik Bara. “Kamu minum, Bar?” “Ya minum, Mas. Kalau enggak, mati aku.” “Cok. Alkohol maksudku, telo.” “Oh. Hehehe.” Bara cengengesan. Bingung harus menjawab apa. Pasalnya, ia kurang suka minuman murah. Bukannya tidak menghargai, proses naiknya sedikit menyiksa. Tanpa Bara bertanya pun, ia sudah tahu kalau minuman alkohol tanpa hiasan label produk ternama itu adalah Arak Bali. Arak Bali versi lama karena dari tutup botolnya warna hijau. Kalau yang baru tutup botolnya warna hitam. “Pace, kasih anak baru ini minuman. Kelihatannya haus dia.” Tanpa meminta pendapat Bara, Loki langsung menyimpulkan. Dasar egois. Mau tak mau, Bara menerima dengan dongkol, saat di mana si pemuda rambut gimbal menuang minuman satu sloki penuh dan diserahkan kepada Bara. “Makasih atas jamuannya. Aku angkat, ya, Mas-Mas.” “Werrrrr!” Glek! Panas. Terbakar. Sengak. Mulut Bara sedikit mati rasa. Arak Bali di kota ini, atau yang akrab disingkat Arbal, sungguh berbeda seperti Arbal kebanyakan. Entah mengapa rasanya lebih nendang di kepala. Padahal, baru satu sloki. Wajar saja, tanpa campuran, alias murni. Seketika itu pula, wajah Bara memerah seperti kepiting rebus. Mengundang tawa tertahan dari para penghuni. Hanya Loki yang masih santai-santai saja. “Pertanyaan terakhir. Siap, Bar?” “Hm. Siap, Mas.” Pandangan sedikit kabur, suara Bara juga sedikit serak saat menyahut. “Tahan, Bar. Masa baru satu sloki udah naik?” sarkas Loki. Untuk mengimbangi rasa panas yang menyerang tenggorakan, Bara mengambil rokok. Menyulut. Kemudian, menghisapnya dalam seraya merenggangkan punggung, sebelum ia berkata, “Aman aja.” “Pertanyaan terakhir. Yang lain juga boleh ikutan.” “Siap.” “Mirip dan sulit dibedakan adalah ciri anak?” Loki cengar-cengir tidak jelas. “Aku kasih kata bantu. Huruf depan K. Ayo, jawab, gendeng!” “Kembar!” “Komeng!” “Setan!” “Kontol!” “Kedondong!” “Kucing!” Ada yang tidak menjawab. Sengaja diam. Entah kelewat kesal, atau puyeng sendiri. “Jawaban yang benar adalah …” Loki memandang satu persatu penghuni. Lalu, matanya berakhir menatap Bara sambil menunjuk dengan jari. “Mirip dan sulit dibedakan adalah ciri anak … KUCING! BARA BENAR!”
JANCOK JARAN SAK DOKARE!​

3
Salam Olahraga​
Redanya tawa para penghuni kost menjadi pertanda jika sudah waktunya mereka serius. Loki selaku pemimpin Rantai Hitam mengulurkan tangan kepada Bara. “Sekali lagi. Kali ini aku akan memperkenalkan diri secara benar. Namaku Loki G. Pradana. Kalau kamu pernah mendengar mahasiswa abadi, aku salah satunya. Termasuk para penghuni di sini. Mungkin kalau dihitung, aku sudah sembilan tahun. Lumayan gak, sih?” sambil tersenyum ramah, Loki tertawa ringan. Bara balas tersenyum tipis. “Lumayan banget, Mas. Hehehe. Oh iya, aku Bara, Mas. Bara Geni.” Dahi Loki seketika bertaut. Nama yang cukup familiar di telinga. Kilatan masa lalu menggelitik relung jiwa. Mengantarkan pada ingatan terdalam yang sudah lama terkubur jauh di dalam tanah. Tragedi yang memberi bekas luka tusukan di dada kiri, namun tersamarkan oleh tato kepala singa berukuran besar. “Sangar namamu. Kayak nama bangsawan.” Loki mencoba santai. Melirik ke arah teman-temannya yang memasang wajah heran. “Kenalan dulu sama senior-senior di sini, Bar.” “Iya, Mas.” Loki memberi anggukan kepada pemuda bertato kalimat latin di dada, seraya mengulurkan tangan mengajak berjabat tangan. Tetapi, si pemuda justru menampik tangan Bara kasar. “Bara, Mas.” “Udah tau. Aku Rio.” Pemuda dingin bernama Rio menjawab ketus. “Nggak usah sok akrab kamu. Loki emang baik, tapi aku nggak!” imbuhnya, ngegas. Bara tertawa hambar. Di mata Bara, Rio tipikal lelaki yang butuh pendekatan lebih dari sekadar duduk bersama memutar minuman. Ia galak. Dilihat dari wajahnya yang kurang bersahabat akan kehadiran eksistensi asing sudah dapat ditebak. “Hahaha. Kalau belum kenal, emang gitu itu Mas Rio, Bar. Sabarin ae, lah.” Tertawa tanpa rasa takut, si pemuda berwajah joker dan bertato rantai di leher berkata santai. Paling santai. “Aku Ilham Pangestu. Panggilanku di sini Ipang. Kalau kamu manggil aku jangan lupa ditambahi ‘mas’, ya. Aku enam tahun lebih tua dari kamu, lho.” Bara melirik ke arah Rio yang tengah berdecih kepada Ipang, lalu menatap lurus ke arah Ipang yang sedang mengambil jatah minuman. Ia mengangguk sebelum menyahut, “Siap, Mas Ipang. Salam kenal, ya, Mas.” Minuman di sloki diteguk terlebih dahulu, kemudian diserahkan kepada Leo, sebelum Ipang berkata, “Yang bawa botol sama sloki itu Leo. Dia satu angkatan sama aku. Panggil aja ‘pace’, atau ‘bang’ juga boleh, lah. Dia nggak suka dipanggil ‘mas’. Kalau kamu keceplosan, bisa keluar kodamnya nanti. Hahaha.” “Bang Leo.” Bara memberi anggukan kepada Leo. Leo mengangkat gelas sloki kosong kepada Bara sebagai salam. Ia tersenyum, wajahnya sudah tak seseram di awal. “Yang itu Bayu. Dia dari Kota Melon.” Tunjuk Ipang ke arah pemuda berwajah brengsek. “Kumaha damang, Bang?” (Bagaimana kabar, Bang?) Bara bertanya sopan. “Edan. Bisa wae sia bahasa Sunda euy. Pangestu abdi mah. Samulihna kumaha?” (Gila. Bisa juga kamu bahasa Sunda. Baik. Kamu bagaimana?) Bayu merespon positif. Hanya saja rangkaian kata membentuk kalimat yang ia pakai terkesan kasar. “Dikit-dikit, Bang. Aku punya temen orang Sunda di kotaku.” “Oh. Keren. Aku kira kamu introvert kagak punya temen. Ternyata di luar dugaan. Hehehe.” Bara garuk kepala. “Cuk. Ya punyalah, Bang.” Meski dimaki, Bayu justru tertawa. Ia tahulah ini masih dalam konteks bercanda. Baper karena dimaki anggota sendiri bukan ciri khas Rantai Hitam. Beda kalau dimaki musuh. Sudah dipastikan langsung mendapat bogeman tanpa tedeng aling-aling. “Aku Erwin. Salam kenal.” Si mata empat bertato ular dari lengan atas sampai pergelangan tangan memperkenalkan diri. Tangannya terulur mengajak fistbump. Bara menyambutnya sambil mengangguk. Kedua sudut bibirnya melengkung membentuk senyum ramah. “Kalau kau punya bokep yang bagus, bagi-bagi sama aku, ya?” sambung Erwin, jenaka. “Lagi kosong, Bang, hehehe.” Erwin berdecak. “Pantek, lah. Sok polos kali kau, nih.” “Hehehe.” Bara hanya cengengesan. Sejurus, ia beralih menatap pemuda vibes koki sambil mengulurkan kepalan tangan ke arahnya. “Mas.” “Bintang.” Tidak ada tambahan kata. Hanya menyebutkan nama, Bintang balas fistbump. “Bisa masak?” “Asu Bintang ini. Belum apa-apa udah disuruh masak ini anak baru. Nemen, cok.” Ipang nimbrung. “Hm.” “Lumayan, Mas.” “Ojok ngomong mek isok masak mie karo ndog. Tak pancal kon!” (Jangan ngomong kalau cuma bisa masak mie sama telur. Aku tendang kamu!) Bintang nyolot, melotot. Bara terhenyak. Logat Bintang terdengar lucu saat ia mengatakannya sambil melotot. Kesan seram seakan lenyap. Menyisakan gaya bicaranya yang mengundang kekesalan. “Nasi goreng, Mas.” “Nasi udah matang kamu goreng? Gak kreatif pol.” “Ya gimana, Mas. Hehehe.” Bara bingung juga harus menjawab apa. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Beberapa saat terjadi jeda. Hening. Itu karena ada yang terlewat belum Bara ajak kenalan. Yaitu si wanita berdarah India. Keduanya saling memandang. Hanya dengan tatapan mata, Bara bisa sedikit membaca sorot kesedihan di sana. Layu dan penuh intrik masalah. “Aku Bara, Mbak.” Bara mengulurkan tangan. Lidahnya kaku. Sedikit grogi. Si wanita berdarah India balas mengulurkan tangan. Tersenyum tipis. “Indira. Panggil sesukamu.” “Sayang boleh?” Bara refleks menggombal. “Buajingan!” “Kirik!” “Pedet!” “Taek, taek!” “Modar wae sia, anying!” “Pantek!” “Puki!” “Garangan gendeng!” Berbagai macam makian ditujukan kepada Bara. Respon Bara? Hanya tersenyum canggung. Mana tangannya masih menggenggam tangan lembut Dira. Seolah ada magnet yang begitu kuat di antara mereka berdua. Debaran dada kian tak menentu. Baik Bara maupun Dira sama-sama terpaku. Di mata Bara, Dira adalah wanita yang cocok dijadikan ibu dari anak-anaknya. Wanita itu setinggi telinga Bara. Cukup tinggi bila disandingkan wanita lokal. Parasnya menawan khas orang India. Turun sedikit ada dua tonjolan besar dibalik midi dress warna hitam yang ia kenakan. Cukup ketat memang. Sampai-sampai pinggang aduhai yang diimbangi pantat semok menjadi nilai Dira mendekati kata sempurna. Sebaliknya. Dari awal kedatangan Bara sampai berjabat tangan dengan pemuda jangkung itu, Dira merasakan gelora panas di hati. Bukan emosi. Bukan pula ingin menghantam panci. Ia belum melepaskan pandangan barang sedetik pun dari si jangkung sampai akhirnya sedekat ini dengannya. Tatapan Bara terlalu mematikan untuk kesehatan jantung Dira. “Awas jatuh cinta, Mbak Dir. Sini, gantian. Aku juga mau kenalan sama garangan ini.” Pemuda gondrong berwajah blasteran Eropa memotong. Memecah ketegangan. Ia berdiri. Menarik pundak Bara, yang kontan membuat tangan Bara terlepas dari tangan Dira. “Aku Saga, bro.” Kecewa jelas kentara. Bara masih ingin berlama-lama memegang tangan Dira. Seakan tak rela terlepas begitu saja. Kemudian, Bara mengulurkan tangan, namun tangannya langsung dijabat dan ditarik oleh Saga. Saga, pemuda berwajah fuckboy ini mendekatkan wajah di dekat telinga Bara, lalu berucap pelan, “Habis gini ikut aku. Tak ajak nyari cewek. Daripada kamu sama Mbak Dira, bisa-bisa dimutilasi kamu sama Mas Loki.” “Waduh! Gak bahaya, ta, Mas?” (Waduh! Tidak bahaya, kah, Mas?) Bara melawak. Mencoba rileks lagi. “Matane suwek. Yo bahaya lek cewek’e bojone uwong, Bar.” (Matanya sobek. Ya bahaya kalau ceweknya istri orang, Bar.) “Jangan, Mas. Aku masih ting-ting.” “Aku yo sek ting-ting. Silitku tapi.” (Aku ya masih ting-ting. Pantatku tapi.) “Cok. Jijik!” “Asu. Aku dipisui.” (Anjing. Aku dimaki.) Saga menampol kepala Bara, pelan. Ia memiting lehernya, lalu menghadap ke arah anggota Rantai Hitam yang lain. “Ayo, guys. Kita party. Menyambut anggota baru kita.” Senyum sumringah Saga sambil mengepalkan tangan ke atas. “Tapi sebelum itu ….” Saga melirik ke arah Loki. Loki mengangguk mengerti. Ia mengkode Bara untuk mendatanginya. Bara mengikuti saja tanpa berprasangka buruk. Ia bertatapan sejenak dengan Dira, lalu meluruskan pandang. Dan sedetik …
BAMMM!!!​
“SALAM OLAHRAGA!” pukulan kuat dilesatkan oleh Loki sambil berseru. Menghantam tepat mengenai ulu hati Bara. Wush! Kedua mata Bara melotot. Seiring tubuhnya melayang. Terlontar ke belakang. Menghantam dinding kostan. Bedebum keras. Lalu, tertelungkup di lantai ubin. Darah mengucur di pelipis Bara karena bertabrakan dengan benda keras. Pun mulutnya menyemburkan darah merah segar. Menetes di lantai. “Mati?” Ipang bertanya. Memastikan. “Hidup.” Loki menjawab datar. Tangan bekas memukul tubuh Bara terasa nyeri. Ia angkat sebatas dada. Ada bekas merah di sana. Loki seperti menghantam sebuah baja. “Anak ini … kuat.” Niat hati Saga ingin menghampiri hendak mengecek keadaan Bara. Karena Saga tahu jika Loki, si pemilik pukulan terkuat di kostan ini, tidak menahan diri. Sudah menjadi tradisi Rantai Hitam untuk memberi sambutan hangat anggota baru. Namun, siapa yang menyangka jika Bara bangkit. Ia batuk darah. Mencoba berdiri sendiri bertumpukan tangan kanan yang terkepal di lantai. Satu detik. Dua detik. Badan kurus, tinggi, nan berotot itu berdiri tegap. Tersenyum lebar. Menampakkan rentetan giginya yang berwarna merah. Merah darah. “Ini menyenangkan! Aku suka kostan ini! Fiks, aku tinggal di sini!” Bara berkata keras. Sambil terbatuk-batuk. Semua penghuni kompak berdiri. Berjejer di sebelah Loki. Mereka semua memberi tepuk tangan. Standing applause. “Welcome, Bara.” “Thank you.” Bara menyeringai, lalu roboh.
***​
Ipang dibantu Saga menggotong tubuh lemas tak sadarkan diri Bara menuju lantai dua. Membawanya ke kamar paling pojok yang hari ini sudah resmi sold out. Kepingan puzzle terakhir Rantai Hitam sudah di isi. Dan itu diberikan kepada anak baru. Sebuah sejarah baru telah tercatat. Meski belum mengenal seluk beluk siapa Bara sebenarnya, Rantai Hitam menghormati keputusan sepihak Loki yang mengizinkan Bara tinggal dan bergabung menjadi bagian kelompok suram ini. Terlepas apa alasan yang dipakai Elle sampai seyakin ini merekomendasikan Bara yang baru dikenalnya, Rantai Hitam memiliki firasat jika kelompok ini akan meraih kejayaan dan berada di puncak. Semua orang yakin. Semua orang menaruh harapan besar untuk si anak baru. Sekembalinya Ipang dan Saga dari lantai dua, si pemuda rambut Paquito keluar dari kamar. Seorang diri. Bertelanjang dada dan hanya menggenakan boxer tanpa celana dalam. Membagongkan sekali. “Berto.” Loki memanggil si pemuda berambut model Paquito. Menunjuk sofa dengan dagu agar Berto duduk. Berto mengangguk. Air mukanya masam. Terlebih teman-temannya memandang sinis. Untung saja Berto penghuni terlama di sini. Jadi masih ada beberapa orang yang menaruh respect kepadanya. Pasalnya, pacarnya si Berto, Sarah, hampir saja membuat bahaya penghuni kostan. Sudah menjadi adab Rantai Hitam jika sang pemimpin sedang berbicara, tak boleh ada yang memotong. Terkecuali ia dipersilahkan untuk berbicara. “Pacarmu mana?” Loki bertanya. “Tidur, Mas.” Berto mengambil sebatang rokok di atas meja. Membakarnya. “Sudah kamu kasih pelajaran?” “Sudah, Mas.” “Bagus.” Loki menepuk pundak Berto satu kali. Lalu, meremas pundak pemuda itu kuat. “Kalau sampai aku yang ngasih pelajaran, kamu sendiri yang gali kuburan.” Berto melirik tajam ke arah Loki. “Maksud sampeyan dua lubang kuburan, kan, Mas?” sembari menampik kasar tangan Loki di pundaknya. “Sampeyan sentuh Sarah. Kita duel.” “Seberharga itu lonte, sampai kamu berani mempertaruhkan nyawa nantang bosmu?” Rio bertanya dengan desisan menahan emosi. “Nggak cuma Mas Loki. Kalau ada yang berani macam-macam sama Sarah, siapapun orangnya, akan menjadi musuhku.” “Nyalimu besar. Itulah yang menjadi Rantai Hitam disegani semua orang. Tapi!” Rio menuding Berto dengan rokok yang terselip di antara jemari tangan, lalu melanjutkan, “bukan berarti kamu bebas berkata kurang ajar kepada pemimpinmu. Ketahui posisimu, bocah!” “Jangan mentang-mentang punya kuasa bisa mengancamku. Ingat, Rantai Hitam cuma sekumpulan mas-mas tukang ngewe biasa tanpa orang yang sampeyan panggil bocah ini.” “Berto!” bentak Rio. Loki mengacungkan telunjuk ke arah Rio. Menyuruhnya tenang. Setelahnya, Loki menatap Berto tanpa ekspresi, sebelum berkata, “Kamu tahu, beberapa orang berakhir buruk hanya karena ucapan. Benda tertajam di dunia bukan pedang. Namun, lidah.” “Aku ngomong gini karena sampeyan yang mulai. Jangan sok merasa benar. Tolong.” Berto berdiri. Masuk kembali ke dalam kamar. Meninggalkan para penghuni yang menahan emosi. Loki geleng kepala. Menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Ia membakar rokok. Menghisapnya dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. Menikmati kepulan asap rokok yang ditinggalkan Bara. Bara. Ya. Mengingat nama Bara, Loki jadi terpikirkan sesuatu. Ia menatap Dira. “Dir, berapa sisa waktumu?” Dira mendesah kecil. “Tiga jam sebelum Aura diangkut, dan hilang.” “Ada yang mau ngambil misi ini?” Loki bertanya kepada para inti. “Sejujurnya, Mas Loki. Aku siap-siap aja. Cuman, ada tapinya.” Bintang menjawab. Sebelah alis Loki terangkat naik. “Dan itu?” “Suaminya Mbak Dira, Mas Ibnu ini, dia kan teman sampeyan. Kita semua di sini sudah menganggapnya seperti kakak. Sama seperti sampeyan. Jelas di sini aku secara pribadi belum siap.” “Kami juga.” Kecuali Rio, semua penghuni menyahut kompak. “Begitu, ya?” Jeda lagi. Hanya aktifitas putaran minuman dari Leo yang aktif. Denting sloki di atas meja diletakkan di depan Loki. Sekarang gilirannya. Loki mengambilnya. Memutarnya menggunakan jemari tangan. Ia sedang berpikir. “Mas Loki.” Dira memecahkan kesunyian. Setelah terjadi jeda panjang kecanggungan. Loki meminum jatahnya. Tandas. Lalu, mengulurkan sloki kepada Leo. Leo mengambil kembali, lalu menuangkan air terakhir untuk Rio. “Kenapa, Dir? Sebenarnya sih aku mau nyuruh Bara, soalnya kan dia anak baru. Jadi nggak ada hubungannya sama Ibnu. Jelas dia bakal lepas tanpa beban. Sekalian ngetes kepantasan dia bergabung Rantai Hitam.” “Ja-jangan, Mas!” Dira tiba-tiba panik sendiri. Ia tak mau pemuda jangkung itu berada dalam bahaya. Apalagi Dira sedikit banyak masih penasaran akan sosok Bara. Dan ada setitik rasa mendesak di dada. Kemudian, Dira kembali berkata, “Aku tahu permintaanku ini mustahil untuk Mas dan yang lain. Mas Ibnu jelas berharga bagi kalian. Aku nggak mau salah satu dari kalian hidup dalam penyesalan. Tapi jangan anak baru itu.” Loki manggut-manggut. “Paham. Tapi di sini anakmu dalam bahaya. Ibnu dan kelompoknya sudah melampaui batas. Aku paham kalau kami bukan kelompok suci. Kami di dunia bawah ini bermain di Rumah Bordil, narkoba, senjata, dan banyak lagi. Tapi kalau menculik anak dan menjualnya, kami sama sekali nggak pernah terpikir sejauh itu demi uang. Dan sekarang, Ibnu tega menumbalkan anakmu sendiri demi permintaan klien dia. Bedebah!” jelasnya, panjang kali lebar. Loki menghembuskan nafas kuat, lantas menajamkan mata lurus ke arah Dira. “Aku yang akan berangkat.” “Biar aku aja.” Rio meminum jatahnya. Baru sampai tenggorokan, ia langsung tersedak dan terbatuk. Suara itu … si bajingan,
BARA GENI!​

4
Hai, Princess​
Duduk anteng di antara Ipang dan Saga, Bara menjadi pusat perhatian. Wajahnya datar. Seolah berada di tengah sekumpulan para pelawak. “Jadi gimana? Ada masalah apa, Mas-Mas?” Bara membuka suara. Ia mengambil rokok. Baru saja membakarnya, punggungnya langsung ditepuk keras oleh Ipang. Membuat rokoknya terlempar dan korek yang menyala hampir membakar bulu matanya. “Cok. Nggageti ae sampeyan, Mas. Selamet gak kesumet motoku.” (Cok. Mengejutkan aja kamu, Mas. Selamat tidak kebakar mataku.) “Asu, deh. Woi! Kamu sadar nggak sih ngomong apa barusan? Datang-datang bilang, ‘biar aku aja’, tapi nggak tahu apa masalahnya. Dasar caper.” Ipang nyerocos. Ludahnya sampai muncrat mengenai pipi Bara. Saking semangatnya. Bajingan! Ludah Ipang, Bara seka. Menoletkannya ke pipi Saga. Praktis membuat Saga mencak-mencak. Menempeleng kepala Bara. Bisa-bisanya si anak baru bercanda dengan santainya di situasi yang sedang tegang ini. “Pang, jelasin situasinya ke anak baru ini.” Loki memerintah. Ipang menolak? Oh, tentu saja tidak, dong. Ia masih sayang nyawa. Mana belum nikah. Diiringi suara sumbang cosplay tour guide, Ipang menjelaskan dari awal. Jadi, si wanita India bernama lengkap Indira Gandhi Divariyadi ini adalah adik tingkat Loki dan Rio. Beda satu tahun. Seperti kebanyakan warga Kota Anggur, jika laporan mereka tentang permasalahan yang dialami tidak ditangani secara serius oleh pasukan Kue Lumpur -polisi- maka mereka lari ke Rantai Hitam. Mengajukan permohonan bantuan dengan imbalan seikhlasnya. Dan permohonan itu bisa dikirim melalui web khusus yang dibuat dan di kelola ole Erwin selaku ahli IT Rantai Hitam. Termasuk Dira. Ia mengajukan misi kepada Rantai Hitam secara langsung untuk menyelamatkan anaknya yang bernama Aura. Gadis kecil yang masih berumur 2 tahun itu hendak dijual oleh ayahnya sendiri, yang tak lain juga suami Dira, Ibnu. Yang dicari? Jelas uang. Tak ada manusia yang benci uang. Terlebih nominal yang ditawarkan tidak main-main. 10 miliar. 5 miliar dalam cash, dan sisanya berupa cek. Masalahnya di sini adalah: Ibnu mengajakun penawaran kepada Dira, jika istrinya itu mau menebus 500 juta saja kepadanya, maka Ibnu akan melepaskan Aura. Sedangkan batas penebusan sisa 3 jam. “Gampang itu. Serahkan padaku.” Bara manggut-manggut dengan wajah songong. Membuat semua orang melongo akan responnya yang terbilang sinting. Bagaimana bisa si anak baru ini tanpa beban mengatakan hal itu? Apa ia tidak memikirkan segala resiko? Apa si anak baru memiliki rencana? “Jangan bilang gampang-gampang kau, pantek. Ini masalah nyawa manusia! Jangan sembarangan kau! Mau kuretakkan ginjal kau yang lunak itu, kah?!” Erwin ngegas. “Kalem, Bang. Aku serius kali ini, Bang.” Bara ketularan logat Erwin. “Aku sudah punya rencana, kok.” “Coba jelaskan rencanamu, Bar.” “Pertama, aku ambil uang di bank. Sesuai nominal, 500 juta. Terus aku kasih ke orang bernama Dudu. Aku ambil kembali anaknya Mbak Dira. Simpel.” “Simpel pentilmu!” “Ibnu, cok! Bukan Dudu!” “Pantek!” “Cukimai ko!” “Kehed!” “Matane njeplak!” “Asu, asu!” “No komen aku, bro. Hahahaha.” Yang ini Saga. Sudah lelah ia menghadapi kebodohan Bara yang tiada habisnya. Cara berpikir yang luar biasa minta ditampol. “Udahlah. Percaya sama aku. Katanya Mas Loki mau ngetes aku?” wajah Bara serius mengatakan itu. Ia sambung dengan pertanyaan, “Jadi, di mana lokasi pertemuannya?”
***​
Bara mengendarai motor Scrambler Byson miliknya. Di belakang membonceng Dira. Di tengah-tengah mereka ada tas koper besar berisikan uang 500 juta cash. Sebelum berangkat, Bara dibekali earpod portabel oleh Erwin untuk komunikasi sekaligus sebagai GPS untuk memantau dan mengarahkan Bara menuju lokasi pertemuan. “Ini tugas pertamamu sebagai anggota Rantai Hitam. Aku mengharapkan hasil positif. Pesanku satu, kalau kamu membahayakan nyawa Dira atau anaknya, aku akan membunuhmu.” Pesan Loki bertajuk ancaman masih terngiang-ngiang di kepala kosong Bara. Kalau sudah diancam begitu, jelas Bara akan memberikan yang terbaik demi memperpanjang masa hidup. Bara hanya berharap jika negosiasi nanti berakhir damai dan sebisa mungkin menghindari pertikaian. Karena jujur, Bara paling malas jika terlibat baku hantam. Selain buang-buang tenaga, ia bosan menang. “Ehm. Mbak Dira.” Bara membuka suara. Menatap Dira dari spion kiri. “Apa?” Dira balas menatap ke arah Bara melalui spion. “Mbak kok sudah nikah, sih?” “Maksudmu?” “Maksudku, Mbak kecepetan nikahnya. Mending sama aku. Aku pasti gak bakal nyakitin Mbak Dira atau anak kita.” “Dasar gombal!” Dari earpod di telinga kanan Bara, terdengar makian Erwin bersama penghuni lain di seberang sana. Benar-benar Bara ini. Suka sekali mengundang emosi orang. Hening lagi. Bara menaikkan gigi ke empat. Melaju lebih kencang untuk mempersingkat waktu. Praktis, Dira berpegangan di pundak Bara kalau tidak mau terjengkang ke belakang. “Mbak!” sambil melawan terpaan angin, Bara memanggil agak keras. “Apa, sih?! Udah fokus nyetir aja! Ngobrolnya nanti!” “Mbak suka coklat nggak?!” “Nggak!” “Soto ayam suka?!” “NGGAK!” “KALAU AKU?!” Dira tak menyahut. Ia melotot lewat spion. Mendapati Bara yang terkekeh. Candaannya itu berhasil membuat hati resah gundah gulana Dira menjadi rileks. Sedikit. Selain daripada itu, saat Dira kembali melihat wajah Bara melalui spion, ia baru sadar kalau pemuda sableng ini … “Ganteng.” “Makasih, lho. Walaupun pelan, tapi aku denger suara hatimu yang nggak sengaja keluar, lho, Mbak Dira! Btw, Mbak juga cantik!” “Dasar cowok gila!” Cubitan kuat Dira daratkan di pinggang Bara. Si empunya pinggang sampai meronta minta ampun dan tertawa sengklak. Dasar Bara ini. Apa ia tidak tahu kalau wanita itu suka melting kalau dipuji oleh lelaki. Tak peduli wanita itu istri orang, tetap saja hal itu menjadi kebanggaan tersendiri seorang wanita. Dan Bara tidak sadar jika ucapannya menorehkan rona merah di pipi coklat eksotis Dira. Brum! Brum! Brum!

Ceklek! Tiga kali tarikan gas, diikuti standar samping diturunkan, Bara tiba di lokasi. Dira turun. Bara ikut turun, sembari menenteng tas koper berisikan uang cash dari rekeningnya sendiri. Demi si manis Dira, Bara rela. Apalagi kalau sudah menyangkut anak kecil. Bara jelas siap melakukan segala cara. Tepatnya di sektor utara. Pelabuhan lama yang sudah lama terbengkalai. Hanya dipenuhi oleh bangkai kontainer usang. Kalau jeli, masih ada beberapa kontainer yang layak pakai. Dijadikan rumah gelandangan misalnya. Di hadapan Bara, sudah berdiri tiga orang. Bara tebak yang tengah bernama Ibnu. Sebab, lelaki bejat itu badannya gempal sendiri. Belum lagi tato borgol di leher kanan-kiri mengisyaratkan jika ia seorang bos wilayah ini. “Oh? Jadi kamu dapat uangnya, ya?” Ibnu langsung bersuara saat Bara dan Dira berdiri 5 meter di depannya. Angin laut menerbangkan rambut gondrongnya yang terurai. Mempertontonkan bekas luka di dahinya. Panjang sekali. Kesan sangar jelas ada pada diri Ibnu. “Ya! Mana Aura, bangsat?” Dira membalas galak. “Wow, wow. Habis ngangkang sama bocah ini dan dapet duit, kok bawaannya marah-marah, sih, cantik? Apa dia cuma numpang ngecrot tanpa bikin kamu muncrat? Hahahaha.” Asu. Kalau aku hantam mulutnya pakai galon, halal tidak, ya? Bara membatin, dongkol. Bisa-bisanya ia dihina oleh orang yang baru dikenalnya. Kurang ajar. Belum tahu saja si Ibnu kalau Bara ahlinya ahli memuaskan wanita. Itu pun tanpa mengeluarkan keringat sama sekali. “Banyak omong! Di mana anakku, bangsat?!” Dira naik pitam. Maju selangkah seraya menarik koper dari tangan Bara. Bara memberikannya tanpa drama. Ia memilih diam mengamati terlebih dahulu sampai ia benar-benar dibutuhkan. Kemudian, Dira melempar koper ke arah Ibnu, dan langsung ditangkap oleh salah seorang anak buah Ibnu. “Itu 500 juta. Cash. Sekarang kasih Aura ke aku. Sekalian surat cerai kita!” Ibnu terkekeh. “Santai dulu, Sayangku. Kita hitung dulu uangnya. Takutnya kurang lagi.” Anak buah Ibnu mengambil money machine untuk mempercepat proses penghitungan uang. Hanya menunggu kurang dari 5 menit, proses hitungan selesai. “Pas 500 juta. Dan ya … selamat, kamu kena prank! Huahahahaha!” Ibnu terbahak-bahak. Perut buncitnya sampai bergetar saking kerasnya tawa dari mulut jahanamnya. “Aura tetap aku jual. Kita juga nggak akan cerai sebelum aku berhasil menjualmu. Hahahahaha.” “LAKI-LAKI BAJINGAN!” Dira bersiap menerjang maju. Namun, pergelangan tangannya ditangkap seseorang. Bara. Pemuda itu menggeleng. Isyarat untuk Dira tenang. Sejurus, Bara menyuruh Dira mundur. Lantas, melepaskan jaket levis. Meletakkannya di stang motor. Ia merapatkan kesepuluh jarinya ke bawah, lalu ke depan. Gemeretak bunyi peregangan persendian cukup nyaring terdengar. Seketika, hawa di sekitar berbuah dingin. Langit yang semula cerah jadi berawan. Hitam. Kelam. Satu, dua, tiga, tetesan gerimis air hujan menghantam tanah. Menciptakan atmosfer mencekam. Ibnu dan kedua anak buahnya siaga. Insting kelelakian berubah status dari santai ke siaga. Awas, lengah sedikit, mereka bisa tewas. “Perkenalkan, namaku Bara. Aku adalah dewa pencabut nyawamu, kamu, dan kamu.” Tanpa memberikan kesempatan Ibnu dan anak buahnya membalas omongan, Bara melesat maju. Tahu-tahu sudah berada di depan -sebut saja AB1 alias anak buah 1-. Menatap sinis ke arah tompel di dahinya. “Mukamu jelek. Kamu lebih cocok ngemis di lampu merah.” Dan … BUGH!!! Hinaan Bara berikan. Berikut hook kuat ia lepaskan menghantam rahang kanannya. Terpental. Guling-guling di tanah. Detik itu juga, AB1 kehilangan kesadaran. “Negoisasi pakai mulut kalau sama kutu lemah seperti kalian itu emang dari awal harusnya pakai kepalan tangan.” Bara kembali bersuara. Kali ini berubah berat dengan sendirinya. Seiring nafasnya yang mulai memburu. Adrenalin terpacu. Gairahnya untuk berlagak keren di depan Dira menjadi alasan utama. Ah, maksud Bara bukan itu. Tapi … ah, sudahlah! Lupakan saja, bajingan! “Kamu …?!” Mata Ibnu membola sempurna. Mulutnya menganga. Bukan tanpa sebab. Melainkan anak buah lainnya, si AB2, sudah terkena serangan lanjutan yang dilancarkan oleh Bara menggunakan tendangan kaki memutar. Bedebum keras menabrak lempengan besi dekat salah satu kontainer mangkrak. “Aku masih membuka negoisasi. Sampeyan aku kasih kesempatan kedua.” Bara melirik tajam. Satu sudut bibirnya melengkung ke atas. Menyeringai miring. “Bawa anaknya Mbak Dira ke sini. Kamu bawa uangmu. Kita berpisah. Urusan selesai. Sesimpel itu.” Beberapa saat Ibnu mematung di tempat. Jentikan jari Bara bernada mengejutkan membuat kesadarannya pulih. Ia menoleh kaku memandang Bara. Raut wajah pemuda itu bukanlah jagoan kaleng-kaleng bermodalkan beladiri. Dibutuhkan pengalaman jalanan untuk menempa karakter yang ada di diri pemuda itu. Ya. Ibnu merasa familiar. Sosok yang pernah memberinya bekas luka di dahi. “Kamu siapanya Loki?” Bara tidak suka cara Ibnu bertanya. Seolah ia ingin mengulur waktu menunggu entah apa itu. “Sek talah. Kupingmu kopoken, ta, Lik? Gowoen anake Mbak Dira merene, ndeng, gendeng! Krungu ta gak seh kon iku?” (Sebentar dulu. Telingamu tuli, kah, Paman? Bawakan anaknya Mbak Dira ke sini, la, gila! Dengar tidak sih kamu itu?) Bara membentak. Kesabarannya sudah habis. Kalau sampai Ibnu mengalihkan obrolan lagi, ia sungguh akan memisahkan kepala lelaki itu dari lehernya. Serius. “Anu … anak itu … anak itu ….” Ibnu seketika gagap. Gagal berpikir jernih. Otaknya dikuasai ketakutan. Entahlah. Ibnu hanya takut mati. Tapi ia berpikir bagaimana cara keluar dari sini tanpa kehilangan nyawa. Berikut mengakali Bara, membawa kabur uang beserta Aura. Dengan begitu, ia akan membawa pulang uang berlimpah untuk ia foya-foya. Bara mengikis jarak. Mendekati Ibnu sambil menatap tepat di kedua bola mata hitam lelaki itu, sebelum berkata, “Una, anu, una, anu! Cok. Ayo. Sat-set gitu, lho. Keburu deras ini hujannya.” “Sa-saya mohon ampun, Mas. Udah, Mas. Itu Aura-nya di dalam kontainer warna merah.” Ibnu menunjuk sebuah kontainer yang tertutup. Sembari mundur selangkah demi selangkah, Ibnu menyiapkan sebuah pistol yang tersemat di balik pinggang. “Aku ambil Aura-nya sendiri. Tapi ingat, kamu jangan macam-macam, Lik. Atau aku remukkan kepalamu.” Bara memberi ultimatum, sebelum ia mendatangi Dira terlebih dahulu. Wanita itu tengah menyaksikan interaksi antara si suami dan si anak baru Rantai Hitam. Sampai tidak sadar jika Bara sudah ada di dekatnya. “Mbak Dira. Mbak tenang, ya. Itu Aura ada di situ. Aku mau ke sana ngambil Aura. Mbak awasin suami Mbak itu. Kalau dia melakukan gerakan mencurigakan, langsung teriak panggil aku ‘sayang’, ya.” “Ya ampun, Bara. Sempet-sempetnya kamu … hmmm!” Dira geleng kepala. Antara tegang campur pingin menampar Bara. “Hehehe.” Bara mengedipkan sebelah mata. Lalu, balik badan. Bersiap menjemput anak Dira, Aura. Tas, tas, tas! Hujan mulai deras. Bara mempercepat langkahnya menuju kontainer merah yang dimaksud Ibu. Sambil tetap mengawasi Ibnu saat berlarian kecil, Bara sampai di dua daun pintu raksasa. Membuka gembok yang sengaja tak dikunci. Di dalam, ada seorang gadis mungil rersuduk di atas kursi besi. Mulutnya di lakban. Kedua tangan dan kakinya terikat di batangan besi kursi. Dari cahaya luar, samar Bara dapati mata gadis mungil itu sembab. Sepertinya ia menangis dalam waktu lama. Bara segera mendatanginya sembari membuka lakban yang menutupi mulut gadis itu. “Hai, Princess. Nama Kakak, Bara. Kakak datang buat jemput kamu. Tuh, di luar mama kamu nungguin kamu.” Sapaan ramahnya membuat si gadis mungil menghentikan tangis. Ia sedikit tersenyum, lalu mengangguk kecil. “Kakak lepasin dulu talinya, ya? Habis gitu kita keluar dari sini, oke?” Kembali si gadis mungil mengangguk sebagai jawaban. Ia terus menatap Bara. Memperhatikan pemuda itu dengan sorot polosnya. Setelah terbebas, Bara memeluk gadis itu, lalu memindahkannya ke samping kiri badannya. Memegangi tubuh mungil menggunakan tangan kiri. Sedang tangan kanan mengambil sebuah tongkat besi kecil. Ia selipkan terlebih dahulu di belakang punggung sebelum keluar dari dalam kontainer. “Nama adik siapa?” “Aula.” (Aura.) Suara si gadis mungil bernama Aura begitu serak, namun imut. “Aula tempat main futsal?” Aura memiringkan kepala. Tidak paham. “Hm?” “Aura. Boleh nggak Kakak pacaran sama mama kamu?” “Hm? Pacal itu apa?” (Hm? Pacar itu apa?) “Pacar itu gini.” Bara melakukan gestur jempol kejepit. Masa menunjukkan hal tak senonoh kepada anak kecil, sih? Dasar sableng! “Boyeh!” (Boleh!) Aura mengangguk mantap sambil tersenyum. Menampilkan dua gigi kelinci. Sesaat kemudian, keluarnya Bara dari dalam kontainer membawa serta Aura dalam gendongannya sambil ngobrol layaknya bapak dan anak, menjadi awal dari sebuah teriakan peringatan, “BARA! AURA! AWAS!”
DORRRR!!!​

5
Dimulai!​
Gelap gempita langit sore menjelang senja membawa serta kabut tipis. Mengaburkan pandangan. Tapi tidak soal warna merah yang mengalir deras di pundak bagian kanan belakang Bara. Mengorbankan diri melindungi si mungil Aura dengan posisi membelakangi letusan pistol yang terarah kepadanya. Menggigil kedinginan. Baik Bara mau pun Aura. Posisi mereka di tempat terbuka kurang mendukung. Kapan pun si penembak mau, ia bisa melepaskan tembakan ke mana pistol itu mengarah. Salah mengambil keputusan, tamatlah riwayat Bara. Namun, bukan Bara namanya kalau gagal dalam sebuah pekerjaan. Sejatinya, pemuda itu benci kalah. Seri pun hina. Sebesar itu harga dirinya agar tidak direndahkan orang lain. Sekuat itu dirinya bertahan sambil bermanuver melewati segala macam rintangan. Sekarang, apa yang harus Bara lakukan? Memutar otak. Berpikir cepat. Mata Bara bergerak ke kanan-kiri. Mengamati setiap objek untuk ia jadikan tempat berlindung. Ketemu! Sebuah tumpukan tong besar di arah jam sebelas. Harusnya sempat jika Bara kabur ke sana. Tapi masalahnya, Bara membawa nyawa yang harus ia bawa pulang dalam keadaan hidup. Jika tidak … tahu sendiri, lah. Kaki Bara sedikit goyang. Efek timah panas di pundak kanannya mulai terasa. Aroma darah bercampur air hujan memacu kinerja jantungnya yang tiga kali lebih cepat. Mencoba mengatur nafas sejenak. Memejamkan mata. Tarik nafas panjang. Tahan beberapa detik. Hembuskan secara perlahan. Kemudian, Bara menegakkan badan. Sebelah tangannya terangkat ke atas, dan secepat kilat menyambar batangan besi pada belakang punggungnya. Bergerak mmutar 180 derajat dalam posisi setengah jongkok sambil melakukan dua hal sekaligus: menggendong Aura agak tidak terlepas dan melemparkan batangan besi ke arah Ibnu. Wush! Cepat sekali. Batangan besi itu meluncur terbawa angin. Kecepatannya berkurang saat mendarat pelan di kaki Ibnu. Tawa keras mengejek lelaki bercodet itu memekakkan telinga. Mencoba beradu dengan suara petir di langit kelabu. Lengah! Ibnu kurang waspada. Aura menghilang dari pandangan. Hanya ada Bara yang berjalan cepat sambil mengepkan kedua tangan. Sekali lagi, Ibnu merasa terancam. Ia membidikkan pistol ke arah Bara. Namun, masih tak menghentikan langkah pemuda itu yang semakin lama mengikis jarak di antara mereka. “JANGAN BERGERAK, KEPARAT! AKU TEMBAK KAMU! AKU TEMBAK! DIAM! BERHENTI! DIAM DI TEMPAT!” Ibnu panik sendiri. Tangan kanannya yang memegang pistol perak berkaliber 50 gemetar hebat. Ia tutupi memakai tangan kiri untuk membantu menenangkan tangan kanannya yang menolak menarik pelatuk. Seakan si tangan kanan memahami betul, jika peluru dilepaskan, niscaya si tangan kanan akan mengalami nasib buruk.
DOR!!!​
Benar saja. Sekali lagi timah panas dilontarkan. Kali ini menggunakan jari tangan kiri yang terasa lebih tenang dibanding jemari tangan kanan. Alangkah senangnya Ibnu saat mendapati ia berhasil menembus lengan kiri Bara. Berdarah memang. Namun sayang, langkah Bara semakin cepat. Dekat. “Coba tembak … lagi.” Matilah aku! Bara membuang nafas kasar. Seiring kepalan tangannya yang sebesar wajah Ibnu tertarik ke belakang. Seolah tengah mengumpulkan cakra alam untuk memperkuat pukulan. Wush!

BUGH! Cukup satu kali pukulan sudah membuat Ibnu pindah alam. Bukan salah Bara sepenuhnya. Siapa suruh duel pakai senjata? Mana Bara mendapati dua luka baru. Mau tak mau karena kesal bercampur kedinginan akibat hujan campur badai, Bara melesatkan tinju dengan kekuatan penuh. Membuat kepala Ibnu terputar 180 derajat. Seketika itu, leher Ibnu patah. Mengerang kecil, lalu mati tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal. Mati di bawah guyuran air hujan. Di bawah langit pelabuhan lama, distrik utara, Kota Anggur. Di sini, tempat di mana Dira menjadi saksi hidup kekuatan manusia biasa yang melebihi binatang buas. Seorang anak baru yang misterius.
***​
Emperan toko roti dijadikan tempat Bara berteduh bersama Dira dan Aura. Sebenarnya, mereka sudah berniat melanjutkan perjalanan untuk pulang ke kostan. Namun, curah hujan kian meninggi. Terpaksa Bara melipir. Kalau tetap nekat meneruskan, bisa-bisa membahayakan dua penumpangnya. Kalau laki-laki sih Bara tidak peduli. Berhubung yang tengah ia lindungi dan perjuangan para wanita, terpaksa ia menurunkan ego. Pakaian mereka basah kuyup. Hanya jaket levis bagian dalam milik Bara yang kering. Itu pun difungsikan untuk membungkus Aura, si mungil yang menjadi prioritas tertinggi. “Bara.” Bibir pucat Dira memanggil. Ada gemetar akibat dingin pada suaranya. Bara yang tengah memeluk dan membungkus tubuh Aura di dadanya, sontak menoleh ke kanan. Mendapati wajah Dira yang begitu dekat dengannya. Badan Dira pun kian merapat. Tidak perlu kamus tebal untuk memahami keadaan. Seakan sudah pantas menyandang predikat satu dari sekian juta lelaki peka di dunia, tangan Bara terulur panjang. Merangkul pundak jauh Dira untuk ia bawa mendekat. “Permisi, ya, Mbak.” Cup! Bara daratkan sebuah ciuman. Tanpa menunggu respon Dira, ia lumat bibir tebal bagian bawah wanita beranak satu itu. Sesaat, sambaran petir di langit membentuk kilat di langit hitam seolah merestui kedua insan untuk berbagi kehangatan di tengah dingin hujan. Sama-sama terpejam. Menikmati dalam diam. Hanya gerakan bibir yang saling berbicara. Menghisap. Melumat. Lebih hebatnya lagi, kedua bibir mereka sama-sama terbuka. Mempersilahkan lidah masing-masing untuk saling bertaut. Menjajah wilayah baru mengundang penasaran menggebu. Hembus nafas panas mulai menghangatkan mereka. Tangan saling bertemu dan bertautan. Badan semakin menempel. Mengabaikan sosok mungil yang mengintip aktifitas saling memberi kehangatan dua orang dewasa. Andai si mungil Aura paham situasi, niscaya ia akan meneriaki, “Main nyosor aja lu, kabel colokan! Halalin emak gue dulu, woi! Dasar kampang!” Cup! Dira yang pertama menyudahi. Saliva panjang terurai membasahi dagu. Wajahnya semerah tomat. Setiap titik sensitif di tubuhnya mulai menghangat. Tak terkecuali bagian vagina yang mulai basah. Pun Bara. Ia hanya diam membisu setelah melakukan perbuatan yang seharusnya tidak boleh. Bagaimanapun, Dira bukan wanita murahan. Plak! Tidak heran. Sebuah tamparan kuat mendarat mulus di pipi Bara dilepaskan oleh Dira. Refleks saja. Kemudian, Dira mendorong Bara. Menjauh. Menjaga jarak. Berikut memberi lirikan maut super mematikan. Bara hanya mampu terpekur. Memegangi pipinya yang panas. Matanya seketika melirik ke arah si bocil mungil. Aura. Gadis itu terbangun. Namun, tidak berbicara. Hanya memandang Bara dan Dira bergantian. Sedetik, Dira sadar telah melakukan hal itu secara naluriah seoran wanita. Ia buru-buru mengubah ekspresi. Mencoba menarik tangan Bara untuk ia pegang. Detik itu juga Bara menepis. Eksperisi Bara seperti yang tidak Dira harapkan. Bukan marah. Bukan kecewa. Bara justru menatapnya datar. “Bara. Mbak nggak bermaksud-” “Aku bukan cowok sangean. Tadi cuma refleks, soalnya dingin.” “Mmm … Mbak juga refleks nampar kamu.” “Nggak masalah. Justru kalau Mbak nggak nampar aku, takutnya kebablasan. Bisa-bisa Mbak tak bungkus.” Plak! Kali ini tamparan kesal yang dilayangkan Dira untuk Bara. Hanya butuh satu menit untuk membuat suasana hati Dira terombang-ambing. Tetapi, Dira cukup yakin jika Bara ini tipikal lelaki yang jahil dan iseng. Tak ada keseriusan di wajahnya. Seolah Bara sedang berusaha menutupi dan mengalihkan sesuatu untuk menyulitkan seseorang menebak si hatinya. “Selain ganteng, kamu juga brengsek. Bisa mati muda aku kalau jodohku itu kamu.” Tawa Bara pecah. Kalimat sarkas yang diucapkan Dira tidak sesuai dengan intonasi yang wanita itu bawakan. Dari nadanya, Dira seolah mengharapkan sesuatu, yang entah apa itu. “Beberapa orang mengatakan hal yang sama.” Wajah Bara berubah sendu, “dan berakhir sebelum sempat memulai.” Sebelum Dira bertanya lebih jauh, dua buah mobil Van hitam datang menghampiri tempat mereka berteduh. Menerobos banjir semata kaki hingga menimbulkan gelombang mengenai teras ruko. “Asu!” Bara memaki. Untung saja ia spontan bergerak melindungi Dira agar tidak terkena cipratan air. Satu mobil Van bergerak lurus. Sedangkan yang satu berhenti tepat di depan motor Bara parkir. Seseorang yang duduk di kursi penumpang sebelah supir membuka pintu. Seorang pemuda menggenakan jaket parasut bertuliskan ‘Rantai Hitam Army’ dan bertopi hitam. Wajahnya cukup tampan untuk ukuran laki-laki lokal. “Mas Bara. Mbak Dira.” Bara siaga. Menatap awas ke sekitar. Rasa nyeri di dua bagian tubuh yang terkena peluru saat Bara setengah berdiri langsung berkontraksi. Menimbulkan denyut sakit luar biasa. “Santai, Mas. Santai. Aku ke sini disuruh Mas Loki njemput sampeyan sama Mbak Dira.” Pemuda bertopi hitam itu mendekat. Membantu Bara untuk berdiri. “Ayo, aku bantu masuk ke mobil.” “Nggak usah.” Bara menepis tangan si pemuda bertopi hitam. Ia berjalan sambil menggenggam tangan Dira menuju pintu Van yang seketika terbuka. “Meng, urus motornya.” Si pemuda bertopi hitam menginterupsi salah seorang rekannya. Kemudian, pemuda yang menggenakan outfit sama keluar. Mengkondisikan motor Bara untuk ia bawa. Sebelum itu, ia meminta kunci motor Bara dan langsung menaiki motor, lalu me-starter-nya. “Mau di bawa ke mana motorku?” “Ke kostan sampeyan lah, Mas.” Pemuda yang ada di atas motor menjawab. “Beset titik, tak gibeng kon.” (Lecet sedikit, aku pukul kamu.) Bara mengancam. “Kalem, Mas. Aku joki, kok. Paling ya bannya lepas satu.” “Asu kon.” (Anjing kamu.)
***​
Di dalam mobil Van. Tepatnya di bagian tengah tanpa kursi, Bara sedang ditangani oleh dua orang tenaga medis untuk melakukan operasi darurat, cepat, dan akurat. Proses pengambilan peluru di dua tempat berbeda memakan waktu 30 menit. Kemudian, bara ditidurkan di atas brankar. Satu menit berlalu, obat bius mulai bekerja. Bara mulai terpejam. Terlelap. Tak jauh berbeda dengan Dira dan Aura. Mereka tengah diberi perawatan untuk mengurangi rasa sakit akibat kedinginan. Untuk sentuhan terakhir, keduanya diberi pakaian kering, diselimuti menggunakan emergency blanket, dan minum teh hangat. “Aman, Mbak Dira?” si pemuda bertopi hitam yang duduk di samping driver bertanya sambil menoleh ke belakang. Dira mengelus pucuk kepala Aura yang sedang meniup-niup gelas plastik model kelinci. Menggemaskan sekali putrinya itu. Lalu, ia menjawab, “Aman. Btw, kalian anak Rantai Hitam?” “Seperti yang Mbak lihat.” “Kok nggak pernah kelihatan di kostan?” “Kami cuma bawahan, Mbak. Yang di kostan kan anggota inti. Termasuk Mas Bara.” “Oh, ya, ya.” Dira hanya manggut-manggut. “Kita mau ke mana?” “Markas kedua Rantai Hitam di perbatasan distrik utara dan timur.” “Markas kalian?” “Tepatnya markas Botol Kecap.” Mata Dira mengerjap dua kali. “Nggak lucu. Ngapain kamu bawa kita ke sana?” “Aku nggak lagi ngelucu, Mbak. Mungkin Mbak taunya markas itu dari luarnya aja. Studio film biru. Mbak belum tau tho kalau di belakangnya masih ada lagi?” “Semacam tempat singgah?” “Bisa dibilang begitu.” Jeda panjang. Semua orang sibuk dengan pikiran masing-masing. Sesekali melihat keadaan luar. Curah hujan masih deras. Pun jalanan yang dilalui banjir setinggi betis orang dewasa. “Mas Putra, kah?” Dira bergumam sendiri. Pantas saja tadi siang lelaki itu tidak ada di kostan. “Kenapa, Mbak?” “Ah. Nggak pa-pa.” Dira menghindari percakapan yang bisa merusak moodnya. Dira menyelami ingatan masa lalu. Dulu, Putra dan Ibnu -sekarang sudah jadi donat- adalah sahabat karib. Delapan tahu yang lalu, mereka membentuk Empat Sekawan bersama Loki dan Rio. Entah bagaimana ceritanya, Putra dan Ibnu menyukai orang yang sama: Dira. Alhasil, sebagai sesama bajingan dan memiliki harga diri setinggi Menara Petronas, keduanya melakukan duel satu lawan satu. Dari duel itulah tercipta sebuah tradisi yang kerap digunakan para bajingan zaman sekarang untuk menyelesaikan suatu permasalahan: Taboni alias Tarung Bondo Wani. Pertarungan sampai salah satu pihak mengibarkan bendera putih. Dan melihat Dira yang menikah dengan salah satunya, berikut menghasilkan anak perempuan yang imut dan cantik, sudah bisa ditebak siapa pemenangnya. “Mbak Dira.” Sedikit tersentak kaget, Dira menoleh ke sumber suara. Si pemuda bertopi hitam melirik ke arah Dira, lalu kembali meluruskan pandang ke arah depan. “Kenapa?” “Kita sudah sampai.” “Oh, iya.” Beberapa bawahan Rantai Hitam yang menggenakan outfit jaket bomber warna hitam bertuliskan ‘Rantai Hitam Crew’ menjambut. Dua orang menghampiri sambil membawa payung. Dira turun sambil menggendong Aura yang tertidur. Kasihan si mungil ini. Beberapa hari ini ia pasti ketakutan dan kelelahan secara mental. “Selamat datang di Istanbul, Mbak Dira.” Dira melongo. “Istanbul?” “Istana Bulak Banteng.”
***​
Di tempat kejadian perkara bekas pertempuran Bara dan Ibnu, dua orang yang memakai jas hujan model army sedang memantau Tim Bersih-Bersih. Tak banyak kekacauan yang ditimbulkan. Hanya tiga kantung mayat, satu koper berisikan uang 500 juta, dan pistol perak kaliber 50. Mengamati untuk beberapa lama. Sampai kemudian, salah seorang membuka suara, “inti Rantai Hitam sepertinya kedatangan orang hebat.” “Kamu benar. Aku jadi nggak sabar melihat kota ini membara lagi.” Rekannya menyahut jenaka. “Membara bersama Bara.” “Bisa pas gitu, ya?” “Emboh.” (Tidak tahu.) Hahahahaha! Di saat yang bersamaan, sebuah panggilan telepon masuk melalui earpod yang dikenakan si orang pertama. Ia cukup menekan, dan panggilan diterima. “Situasi.” “Positif, Bang. Ibnu dan dua anak buahnya sudah dihabisi.” “Segera bereskan dan pergi ke pemberhentian selanjutnya sesuai titik lokasi yang sudah aku kirimkan. Sekalian ambil bayaran klean.” “Siap. Makasih, Bang.” “Yo. Eh, tunggu. Sambungkan ke teman kau.” “Siap.” Si orang pertama menekan tombol bawah, lalu panggilan beralih ke rekan di sebelahnya. “Seven di sini.” “Kau nih apalah? Gak usah sok imut kau. Mau kupecahkan kepala kau?” “Aku kan emang imut, Bang.” “Imut pentil kau.” “Hehehe. Gimana-gimana, Bang?” “Awak mau kau yang ngawasi Bara secara mandiri. Sekecil apapun informasi yang kau dapatkan, kabari awak. Jangan meleng kau, ya!” “Nggapleki! Malah diuncal nang aku, cik.” (Menyebalkan! Malah dilempar ke aku, cik.) “Kau maki awak? Sudah bernyali, kah?” “Hehehe. Abang ini marah-marah mulu, ah. Iya, iya, Abang ganteng. Seven siap menjalankan tugas dengan baik.” “Ya. Ingat baik-baik. Ada pesan juga dari Mas Loki buat kamu. Kurang-kurangi colmekmu biar nggak makin kurus badanmu. Katanya.” “Colmek mah udah kebutuhan ciwik-ciwik atuh, Bang. Sama kayak Abang pun coli tiap malem sambil nonton bokep, hehehe.” “Paok kali kau, nih! Dasar perempuan jalang!” “Hahaha-” Tut! Sambungan dimatikan. Dibarengi tawa cekikikan orang kedua yang ternyata seorang wanita. Si orang pertama geleng kepala melihat sahabat gilanya ini. “Berangkat?” “Sebentar.” Senyum seringai di bibir si wanita terukir sempurna. Mata sipitnya menajam. Menegaskan jika wanita Chinese sedang menatap sebuah benda pipih yang tergelatak di dekat kontainer warna merah. Si wanita berjalan agak cepat. Ia jongkok di hadapan benda pipih yang ia temukan, lalu mengambilnya. Diangkat dan digoyang-goyangkan ke arah rekannya. “Jackpot!” Si wanita boleh senang atas temuannya. Namun, ia belum sadar jika melewatkan sesuatu yang penting. Sesuatu yang akan menjadi awal pembuka sebuah pengkhianatan. Itu adalah …
SIAPA YANG MEMBUNUH DUA ANAK BUAH IBNU?​

6
Netek​
Bara terbangun. Ia dapati dirinya di sebuah kamar asing. Saat hendak bergerak, tangannya tertahan sesuatu. Tangan kanan dijadikan bantal seseorang yang tidur memeluk setengah badan Bara. Dan tangan kiri secara tidak sadar berasa meluk sesuatu yang empuk. Saat mata Bara sepenuhnya terbuka, ia mendelik kaget mendapati anak kecil tidur ngiler di atas tubuhnya: Aura. Kalau yang kanan sudah dapat ditebak siapa pelakunya. Dira si wanita India. Mendengkur halus berselimut tipis sambil membenamkan wajah di ketiak kanan Bara. Inilah gambaran jika jodoh itu kadang tidak datang sendiri. Melainkan satu paket dengan anaknya. “Asu. Gawat ini.” Bara memutar otak. Terjebak di situasi serba sulit harus mempersiapkan banyak hal. Termasuk mental. Untuk jaga-jaga, Bara sudah menyiapkan teknik jitu untuk lolos dan secapar mungkin minggat dari sini. “Mbak, tangi, Mbak. Sampeyan antep.” (Mbak, bangun, Mbak. Kamu berat.) Bara berucap sepelan mungkin, seraya menowel-nowel pipi chubby Dira. Dira merespon. Menggeliat dulu, lalu membuka mata secara perlahan. Ia ikut terbelalak. Buru-buru bangun. Karena kurang waspada, Dira hampir terjengkang ke belakang andai Bara tidak memeganginya. Selamat. Iya, selamat. Tetapi, Dira harus menempeleng kepala Bara agar tangan pemuda itu melepaskan cengkraman di sebelah payudaranya. “Aduh! Kok dikeplak seh aku? Sek untung-untungan sampeyan tak goceki. (Aduh! Kok ditampol sih aku? Masih beruntung kamu aku pegangi.) Baru mengaduh, menggerutu. Mengelus kepalanya yang sakit. Bayaran setimpal setelah memegang aset pribadi milik istri orang. Apalagi aset berukuran besar tersebut sudah bukan lagi hal milik perorangan. “Untang-untung. Tak solder lambemu kapok kon!” (Untang-untung. Aku solder mulutmu mampus kamu!) Bara mendengus. “Lak yo bener seh, Mbak. Timbangane sampeyan tibo, eman engkok ayune sampeyan ilang.” (Lah ya benar, sih, Mbak. Daripada kamu jatuh, sayang nanti cantiknya kamu hilang.) “Isok ae kaleng rombeng iki.” (Bisa aja kaleng bekas ini.) Bibir Bara manyun tiga centi. Sedetik, perhatiannya teralihkan pada Aura yang semakin nyaman nangkring di atas tubuh Bara. Dikira Bara ini kasur, apa? “Maaf, yo. Mau Aura ngelilir nggoleki kamu. De’e ngeriwik njalok dikeloni mbek kamu. Makane aku langsung merene pas ero kamu wes dipindahno wong-wong Nakes. Eh, aku malah katut keturon.” (Maaf, ya. Tadi Aura terbangun mencari kamu. Dia ngotot minta ditemani tidur sama kamu. Makanya aku langsung ke sini pas tahu kamu sudah dipindahkan orang-orang Tenaga Kesehatan . Eh, aku malah ikut ketiduran.) Baru ini Bara mendengar Dira berbicara agak panjang. Lebih-lebih logat bicaranya yang khas sekali. Bara jadi semakin menaruh hati kepada wanita yang resmi menyandang gelar Roles, alias rondo teles alias janda muda. Memandangi tanpa berkedip, Bara semakin terpana manakala memandang pancaran inner beauty Dira ketika bangun tidur. Tanpa make up saja sudah se-gorgeous, apalagi kalau sudah bersolek. Andai Dira istrinya, takkan Bara biarkan menjadi konsumsi publik. Cukup dirinya dan Aura yang menikmati kecantikan natural si wanita India. “Papa?” Aura bersuara serak. Sebelah matanya terbuka memandangi Bara. Bara cengo. “Papa? Aku?” “Papa!” Aura tiba-tiba merambat semakin ke atas tubuh Bara. Yang tentu saja luka di area pundak kirinya tergencet. Bara meringis, tapi namanya juga Aura masih kecil, mana paham jika orang dewasa kesakitan karena tingkahnya. Tak hanya itu, Aura mengalungkan kedua tangan mungilnya di leher Bara, lalu menangis. “Huaaa! Papa! Papa! Huaaaa!” “Cup, cup. Iya. Papa di sini, Nak. Tenang, tenang. Aura mimpi buruk, ya?” Bara terlebih dahulu melirik Dira. Entah apa maksud lirikannya, Dira pun tak paham. Selanjutnya, Bara mengelusi naik turun kepala Aura. “Ini gimana, Mbak? Bantu aku, oi!” Bara berseru tertahan. Dira hanya menjawab dengan endikan bahu. Senyum mengejek sedikit keluar, yang kemudian Dira menoleh ke arah lain. Mencari suaka apa pun agar tidak melihat kebodohan Bara. Beberapa saat dielus-elus, Aura tertidur lagi. Masih menempel di tubuh Bara. Kali ini sukar dilepas. Jika ada yang berani melepaskan Aura, niscaya si mungil akan terbangun dan susah diatur. Melihat kebingungan di wajah Bara, Dira mengambil alih. Aura langsung terbangun dan bersiap mengeluarkan teknik auman singa betina kecilnya. Tapi Dira lebih cepat. Ia menarik kausnya ke atas. Bra merah marun berenda terpampang jelas, yang kemudian ia berbaring dan mengeluarkan satu payudara besar miliknya. Tanpa babibu, Aura dijejali puting coklat kehitaman. Bara membeku. Benar-benar seperti patung manusia purba yang terpajang di museum. Ini bukan kali pertama ia melihat payudara. Tetapi, ini pertama kalinya ia melihat wanita menyusui. Pandangan Bara masih tertuju pada bongkahan gunung Dira. Sampai … “Bara mau?” “Susu?” “Bukan. Mau ditampol lagi? Hadap sana, dancuk.” “Asu. Cek kerenge Mbak-Mbak. Yo, yo. Gak ndelok aku.” (Anjing. Galak kali Mbak-Mbak. Ya, ya. Tidak lihat aku.) Bara membuang muka. Saat ia hendak berbalik, tangan Dira menahan badan Bara. Kontan saja Bara kembali berkata tanpa menoleh, “Lapo maneh seh, Mbak?” (Apa lagi, sih, Mbak?) “Bo-boleh, kok.” “Hah?” “Pu-punyaku sakit. Minta tolong isepin.” Dira tiba-tiba gugup. Namun, masalah satu ini harus segera diatasi jika tak ingin tersiksa kesakitan akibat ASI di kedua payudaranya yang tertahan. “Nggak, ah. Bercandamu jelek.” “Serius, Bar. Dari kemarin udah penuh tetekku. Sakit. Aku juga lupa nggak bawa breast pump lagi.” “Kan ada Aura-” “Mau apa enggak?!” Dira ngegas. Antara kesal dan menahan malu. “I-iya.” Bara balik badan. Gemetar, tentu saja. Saat di mana mata Bara bertemu pandang dengan sorot layu Dira, Bara kembali berkata, “Aku bantu bukain, ya.” Dira menatap Bara dalam, lalu mengangguk. Memejamkan mata. Dira deg-degan. Tak jauh bedanya dengan Bara. Tangan Bara terulur maju. Sedikit kesulitan mencari pengait di punggung Bara. Dira cepat menegur, “Di depan pengaitnya, Bar.” Bara berkedip satu kali. Wajahnya pias tanpa melepas pandang dari bongkahan montok milik Dira. “Oh, o-oke.” Klik! Pengait bra merah marun cup F terlepas. Satu payudara terbebas dari penjara yang menjeratnya. Seolah payudara besar berareola hitam dan berputing coklat kehitaman itu bersorak senang bisa menghirup udara kebebasan. Payudara bengkak berwarna putih itu bergoyang-goyang. Menghipnotis mata Bara. “Besar banget, Mbak,” ucap Bara. Sejurus, Bara bergerak mendekat. Menyangga tubuh dengan siku untuk dapat menggapai tujuan. Cup! “Ahhh …” desahan pertama dari mulut Dira keluar. “Pelan-pelan. Jangan digigit.” Tak ada sahutan. Seolah ucapan Dira hanya angin. Bara mulai melaksanakan tugas. Ia jilat. Ia gigit-gigit kecil. Tapi anehnya, tak ada susu yang keluar. “Ssshhh … diisep agak kenceng, Bar. Kalau kamu gituin mana bisa keluar ASI-nya. Ih!” tegur Dira, gemas. Melepas sebentar, Bara mengangguk. Lalu, mengikuti instruksi Dira. Currrr! ASI seketika melimpah ruah. Keluar deras hingga merembes di sudut bibir Bara. Tak ingin mubazir, Bara menjilati bibirnya sendiri, lalu mulai menetek. Banyak dan segar. Ternyata begini rasa air susu langsung dari sumbernya. Memang, Bara pernah meminum air ini sewaktu kecil dulu. Akan tetapi, Bara jelas lupa bagaimana rasanya, dong. Asyik sendiri, Bara menetek sambil menjilat dan mengigit-gigit puting Dira. Semakin terbawa suasanalah bara. Tangannya nakal menangkup bawah payudara Dira. Meremasnya. Memijatnya lembut. “Awww … hmmm … Bara ….” Dira tanpa sadar menjerit kecil disambung mendesah lembut. Tangannya refleks menjambak kecil rambut Bara. Tepatnya sih mengusap-usap. Mendengar itu, Bara semakin semangat. Ia memainkan mulut, lidah, dan tangannya secara intens. Membuat Dira kian gelisah. Kedua kakinya saling menggosok satu sama lain. Rangsangan di payudaranya berefek pada vaginanya yang mulai gatal minta digaruk. Mata Dira terpejam rapat. Menikmati. Entah mengapa ia jadi senekat ini mempersilahkan lelaki yang belum ia kenal sehari. Pun statusnya bukan siapa-siapa. Dira … begitu berani. Beberapa menit berlalu … ASI pada payudara kiri Dira telah dikuras habis. Pelakunya adalah si kunyuk Bara. Ia sendawa. Membuat Dira mendelik sambil melirik Aura. Kode agar Bara jangan berisik jika tidak ingin Aura terbangun. “Udah, Mbak. Gimana, ngerasa enakan?” Bara bisik-bisik. “Makasih.” Dira menghembuskan nafas pendek. “Tolong taruh Aura di sebelahmu, dong.” “Oke.” Bara menuruti. Mengangkat tubuh si mungil secara hati-hati. Setelah ditidurkan dan diberi guling, Bara rebah kembali. Ia menoleh ke arah Dira, yang sedang memijati payudara kananya. “Sekarang apa, Mbak?” tanyanya, basa-basi. Tentu saja itu alibi Bara untuk dapat memandangi dua gunung sempurna milik si wanita India. “Nggak tau.” “Yang sebelah sakit juga?” Dira melirik. “Aura nggak habis. Ya udah nih, tanggung. Sekalian kamu habisin.” “Emang boleh?” “Banyak omong kamu, ih!” Dira mencubit pinggang Bara. “Buruan. Ngantuk aku.” “Ngantuk apa sange?” goda Bara. “Yeee! Itu mah kamu.” “Tau aja.” Bara cengengesan. Percakapan bisik-bisik ala emak-emak kampung tukang ghibah di antara mereka mengundang setan lewat. Keduanya merapat. Kian dekat. Sampai akhirnya, wajah mereka saling menatap lekat. Berkaca dari insiden penamparan di bawah emperan toko, Bara bertanya terlebih dahulu, “Mbak Dira yang cantik, bolehkah diriku mencium bibir seksimu?” Di keremangan cahaya, pipi Dira memerah. Selain itu, dapat Dira rasakan hembusan nafas hangat Bara menyapu pori-pori wajahnya. “Iya.” Cup! Tanpa menunggu peluit wasit, bibir Bara mendarat mulus di bibir sensual milik Dira. Ini kali kedua Bara mencium wanita beranak satu itu. Candu sekali. Bara betah berlama-lama. Kalau bisa sekalian pasang tenda. Bajingan. Urat malu Dira telah putus. Ia sudah tak lagi mempedulikan jika Bara berpikir dirinya murahan. Malam ini, Dira hanya ingin dimanja. Diperlakukan bagai ratu. Dan itu Dira dapatkan saat bersama Bara. Benar. Bara begitu lembut memperlakukan Dira. Meski kedua tangan Bara sudah bergerilya ke sana-ke mari, Dira tak merasakan jamahan penuh nafsu menggebu. Yang ada hanyalah Bara membelai setiap inchi tubuhnya penuh kehangatan. Penuh kasih sayang. Seolah Dira adalah kekasihnya. Oh? Apa Dira mulai menyukai pemuda sengklek satu ini? Apa benar begitu? Di tengah lamunan Dira, tanpa permisi Bara memindahkan sasaran. Titik selanjutnya yang ia tuju adalah area telinga dan leher Dira sebelah kiri. “Ahhhh! Sssshhh! Geli, Bar! Sssshhhh!” desis Dira, kegelian. Ia merinding. Seumur-umur, baru ini Dira dijilati di area telinga. Mantan suaminya mentok hanya sebatas leher, payudara, tusuk vagina, lalu tumpah. Hanya itu. Monoton dan membosankan. Cup, cup, cup! Bara mencucupi dan memberi tanda merah tipis di leher si wanita India. Dira tidak protes, karena ini sudah menjadi resiko memancing, bahkan membangunkan singa yang tertidur. Tak ada jaminan jika nantinya Dira tidak disenggamai. Begitulah tabiat lelaki. Dira sudah hafal di luar kepala.

Sedetik, Bara mulai menjajah area payudara. Dimulai dari susu Dira sebelah kiri yang Bara mainkan dengan tangan dan bibir, lalu merangsek ke samping menuju susu sebelah kanan. Hanya desahan kecil dan gumaman tidak jelas dari mulut Dira saat Bara asyik memeras sisa ASI yang disisakan oleh Aura. Begitu lahap, penuh semangat. Hanya beberapa menit saja, sampai akhirnya Bara telah melaksanakan tugas negara. Misi sukses. Dira membuka mata. Ia sudah menunggu momen ini. Ia siap mengeluarkan tampolan jika Bara minta bercinta. Aneh. Bara tidak berkata, atau melakukan apa-apa. Pemuda itu justru tersenyum tipis. Merebahkan diri. Membawa Dira ke dalam pelukannya. Mengukungnya bagai koala. “Tidurlah. Mbak pasti capek.” Bara mengecup dahi Dira. Praktis membuat dada Dira menghangat. Berdebar kencang. Sebelum Dira membalas ucapan Bara, pemuda yang baru saja mendapat asupan susu bergizi mendahului, “Jangan khawatir. Everything will be okay. Aku akan menjaga Mbak dan Aura.” “Omongan kamu ambigu,” sahut Dira, lirih. Ia menguatkan pelukan. Menenggelamkan wajah di dada bidang Bira. “Emang boleh, barunkenal tapi sudah sejauh ini?” “Yang melarang siapa? Ada pun pasti mantan suami Mbak yang lagi ngopi di dasar neraka.” Dira tergelak. “Hahahaha. Jancok kamu, Bar.” “Mbak Dira.” “Apaan?” “Ngentot, yuk?” “Huh! Katanya aku disuruh tidur?” Dira mendongak. Cemberut. Imut. Tidak anak, tidak ibu, sama-sama menggemaskan. “Oh, iya. Lupa. Ya udahlah, tidur aja kita.” Dira mengelus rahang kokoh Bara. Melancarkan serangan kejutan dengan memberi kecupan singkat di bibir pemuda itu, sebelum berucap pelan, “Maaf. Aku lagi halangan.” “Ah, i see.” Ada gurat kecewa di wajah Bara. “Kalau udah beres, baru boleh.” “Serius?” wajah Bara seketika sumringah. “Ada syaratnya.” Dira menekan pipi Bara dengan telunjuknya. “Nikahin dulu.” “Siapa berani.” “Siapa takut, geblek!” Dira mencubit-cubit pipi Bara kesal. “Menikah itu nggak semudah yang Mbak bayangkan. Buktinya ada pada diri Mbak sendiri.” “Kamu bicara seolah-olah kamu sudah pernah nikah? Atau kamu … emang udah nikah?” Dira bertanya, menohok. “Belum, lah. Cuma aku berkaca pada pengalaman di sekitarku. Ada beberapa kejadian yang aku jadikan pengalaman untuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Dimulai dari diri sendiri.” “Oalah. Kamu kok dadi bijak ngene? Gak lagi mari ngombe uyuh cecek, kan?” (Oalah. Kamu kok jadi bijak begini? Tidak lagi habis minum kencing cicak, kan?) “Lho, sembarangan sampeyan, Mbak. Iki efek mari mentil nang anumu, tau.” (Lho, sembarangan kamu, Mbak. Ini efek samping habis menetek di anumu, tau.) Bara membela diri, sambil tangannya mencuri kesempatan meremas sebelah payudara Dira. “Heh. Mesum.” Dira membawa tangan Bara untuk melingkar di perutnya. “Peluk, Bar.” “Ini udah.” “Hm.” “Suka?” “Iya.” Dira menggesek-gesek kepalanya naik turun di dada Bara. Kemudian, ia mengecup lembut dan mengelus perban yang membungkus luka Bara. “Btw, makasih sudah datang nolong Aura. Kamu tau, bagiku Aura itu nyawaku. Aku nggak bisa bayangin hidup tanpa Aura. Kamu paham kan maksudku?” Jawaban untuk kalimat panjang Dira belum ditemukan. Orang yang sedang ia ajak bicara sedang mendengkur. Bara … ketiduran. Dasar lelaki sableng! “Ya ampun. Aku berasa ngomong sama tembok.” Dira terkekeh sendiri. Ia pandangi wajah tenang Bara. Wajah seorang lelaki yang mengundang rasa penasaran untuk ingin lebih dekat mengenal. Bara … pemuda itu sukses meluluhlantakkan hati keras Dira yang terkenal susah jatuh cinta.

7
Istanbul​
Istanbul, alias Istana Bulak Banteng. Sesuai namanya, basecamp megah dengan patung banteng hitam berkalung rantai di bagian depan adalah salah satu jaringan terbesar kedua Rantai Hitam. Letaknya saling membelakangi gedung studio film porno, Botol Kecap. Segala sesuatu yang menyangkut pemeliharaan, pembersihan, dan pengawalan, dapat ditemukan di bangunan model istana raja iblis bertingkat 12 ini yang dioperasikan secara maksimal pada era manajemen sang sayap kanan Rantai Hitam, Putra. Banyak sekali kesibukan serta tanggung jawab yang Putra emban. Carut-marut dunia bobrok luar dalam, sudah jelas menganggu planning organisasi. Entah rencana yang telah disusun dengan matang jadi berantakan, atau kemungkinan terjadi peristiwa di luar dugaan … yang anehnya justru menguntungkan segala aspek pergerakan Rantai Hitam bawah tanah. Di lantai 12, tepatnya lantai tertinggi Istanbul, di sinilah Putra berbeda. Rooftop tempat bersantai melepas lelah. Putra duduk di meja kaca berbentuk lingkaran kecil ditemani dua teman sesama bajingan: Berto dan Saga. Untuk beberapa lama, hanya denting botol bir dan meja kaca yang aktif berbunyi. Tiga anak manusia berbeda watak masih setia saling mendiamkan. Sejujurnya, ada gores tinta hitam perseturan di antara ketiganya yang menjadi penyebab mereka bersitegang. Pertama, dimulai dari Berto yang masih menyimpan dendam karena Putra pernah mengganyang habis Arena Street Fighter di distrik selatan dengan alasan bosan. Tidak masuk akal! Kedua, masalah Saga yang masih menginginkan rematch duel di atas ring melawan Berto. Penyebabnya satu: rebutan Sarah. Terakhir, perihal Putra yang dibuat jengkel karena dalam dua tahun terakhir ini Saga mulai mengurangi bahkan berhenti menculik dan membawa wanita yang sebelumnya telah ia tiduri. Satu alasan yang dipakai Saga: memanfaatkan wanita untuk dijadikan ladang uang bukanlah hal yang keren. Tiga orang yang paling mencolok kalau urusan kerja sama. Menempatkan mereka di dalam tim yang sama, itu sama saja mengkuadratkan kegagalan. Gagal total! “Lapo raimu kok ditekuk lungset ngunu? Gorong nggebleh, a?” (Kenapa wajahmu kok menunduk lesu begitu? Belum bercinta, kah?) ucapan yang buruk dari seorang Berto menjadi pembuka perkelahian. Sungguh, hanya Putra seorang yang menjadi prioritas tertinggi Berto untuk dimusnahkan dari muka bumi. Bukan karena sifat pemalas bin absurdnya, tapi moodnya yang suka berubah-ubah. Seperti yang sudah diterangkan. Gabutnya Putra itu memakan korban jiwa. Kalau sampai ada kasus kematian yang telinga korbannya ditusuk besi, itu Putra pelakunya. “Legrek, blok. Kene, tak idoni manukmu cek motoku gak sepet.” (Lelah, blok. Sini, aku ludahi burungmu biar mataku tidak lengket.) Putra membalas ketus. Berto berdecak. “Nom-noman taek a sek isuk ngene wes tebal?” (Anak muda tai kah masih pagi begini sudah tepat?) “Pripun keadaane njenengan, Mas Putra? Kok kulo sawang kalihan sedotan boba sampun berubah orientasi seksual’e.” (Bagaimana keadaan kamu, Mas Putra? Kok aku perhatikan dengan sedotan boba sudah berubah orientasi seksualnya.) Saga ikut nimbrung. Putra menguap. “Sek talah. Kon kabeh gak onok gawean, a? Ngeriwuki ae.” (Sebentar dulu. Kamu semua tidak ada kerjaan, kah? Menggangu saja.) “Nek gak dikongkon Mas Loki, gak ngarah aku nyambangi kandang babi iki.” (Kalau tidak disuruh Mas Loki, tidak bakal aku menengok kandang babi ini.) “Kon kok emosi tok seh, Ber, karo aku? Ngomong’o lek cinta. Aku siap njengking gawe kon.” (Kamu kok emosi Mulu sih, Ber, sama aku? Ngomong kalau cinta. Aku siap nungging kalau itu kamu.) “Gilo, mbot!” (Jijik, mbot!) maki Berto dan Saga bersamaan. Kompak. Lalu, saling melirik tajam, kemudian Saga yang lebih dulu melempar asbak tepat di dahi Saga. Pemantik dinyalakan. Gayung bersambut. Kursi stainless steel dihantamkan ke mulut Saga. “Gelud, a, sat?!” (Berantem, kah, sat?!) “Budal tok, ho!” (Berangkat aja, ho!) “Orang-orang bodoh ini.” Putra tepuk jidat. Ia hanya bisa berdoa jika generasi sableng Rantai hitam berhenti di mereka. Tak bisa Putra bayangkan jika si anak baru yang menjadi perbincangan hangat di kalangan senior veteran ikut-ikutan sinting. Putra diam memperhatikan. Tak berniat melerai. Toh, percuma saja mendamaikan mereka. Ujung-ujungnya musuhan lagi. Membakar rokok. Putra menghembuskan asap ke atas. Memandang langit mendung. Hujan semalam suntuk masih menyisakan tetesan air, yang entah kapan akan berhenti. Sama halnya dengan hati Putra yang sedang meneteskan air mata kesedihan. Meratapi kematian tragis rivalnya, Ibnu. Sekaligus menyayangkan jika Ibnu mati di tangan orang lain, bukan Putra. Itulah sebabnya, Loki mengirim dua orang inti Rantai Hitam pagi ini untuk mengawal Putra saat berita kematian tangan kanan PBB -Pemburu Bocil-Bocil- telah tersiar di dunia bawah. Tugas Berto dan Saga cukup mudah: menjaga Putra agar tidak menghabisi Bara. Mengapa? Itu karena si anak baru mengambil alih kesempatan Putra untuk memulai ronde kedua. Namun, alih-alih melaksakan tugas, Berto dan Saga justru baku hantam berdua. Mengabaikan Putra yang sudah berjalan menjauh dari sana. Membuka pintu palka, lalu turun melalui tangga. Sebelum pintu palka ditutup, Berto sempat menoleh dan menegur, “Mau ke mana, Kakek?” “Tidur.” “Aku ke sini mau membicarakan hal penting.” Berto menghampiri Putra dengan hidung mimisan. “Soal Bara.” Putra hendak meneruskan langkah, namun terhenti saat mendengar nama Bara disebut. “Ada hubungannya sama aku?” “Ada.” Saga yang menjawab. Ia ikut berdiri di samping Berto dengan wajah penuh lebam. “Masih ingat insiden dua tahun yang lalu?” Putra menatap malas ke arah kedua rekannya. “Kita bicara di bawah.”
***​
Rokok di tangan kanan, Lemon Water di tangan kiri. Duduk bersila di balkon Istanbul sambil menatap gerimis tipis di kejauhan, Bara termangu seorang diri. Pagi ini, Bara harus menerima fakta jikalau menurut keterangan tim Nakes yang merawatnya, mereka tidak tahu menahu perihal ponsel Bara. Masalahnya, Bara seceroboh itu. Benda pipih gepeng ber-case Manchester United itu selalu Bara kantongi di celana di mana pun ia berada. Dan karena benda itu tidak ada dalam genggaman tangan, mau tak mau Bara harus merogoh kantong uang untuk beli ponsel baru. “Papa!” suara melengking dari si mungil Aura memanggil dari belakang. Gadis kecil yang outfit hari ini cosplay Nana Gajah itu sudah mandi, sudah diberi makan, dan tinggal ditaburi misis coklat di bagian wajahnya yang dibedaki tebal. Aroma-aromaan khas bayi langsung menginvasi indera penciuman Bara. Cepat ia hisap rokoknya, menghembuskannya kuat, lalu membuang ke bawah. “Wih, Aura sudah cantik,” sambut Bara. Sejurus, Bara merentangkan kedua tangan. Aura menyambut. Berhambur ke dalam pelukan Bara. Tertawa senang digendongan Bara sambil diciumi pipi gembul dan matanya. Interaksi gemas layaknya bapak dan anak itu membuat Dira yang menyusul kemudian, kontan tersenyum hangat. Tolong, ini terlalu manis. “Udah cocok jadi papa.” Dira berkata sarkas sambil membawa ponsel. Terlebih dahulu Dira putar tayangan kartun anak-anak, lalu ia sodorkan kepada Aura. “Ini, Sayang. Aura main sendiri dulu, ya. Mama mau mandi.” “Yeay! Mashaaa!” Aura meronta-ronta di pelukan Bara. Ia minta turun. Segera Bara kabulkan. Selain nenen, ternyata Aura bisa anteng kalau dipegangi ponsel. Zaman memang sudah banyak berubah. Berikut generasi mudanya. “Bar, titip Aura bentar,” ucap Dira. Kaus sejak semalam masih ia kenakan. “Mau ke mana, Mbak?” “Mandi, lah. Gerah aku.” “Coba Aura tidurin dulu, Mbak, biar aku bisa ikut mandi.” Bara menaik-turunkan kedua alis. Dibarengi senyum mesum terlukis di wajahnya. “Nggak usah ngadi-ngadi, deh.” Dira mendengus kesal. “Bentar apa lama nih mandinya?” “Masa sih kamu nggak tau cewek mandi berapa lama?” Dira mencebik. Bara tersenyum kecut. “Duh! Mana bisa aku tau kalau nggak kamu kasih tau.” “Ck. Ya lama, Bar. Aku sekalian bersihin kimpetku ini. Risih banget rasanya kalau udah mens gini.” “Demi apa?” Bara mencicit. “Demikian!” Dira nyosor duluan. Mengecup dan melumat bibir Bara ganas. “Hmm … bau rokok.” Ucapnya, setelah sesi ciuman yang berlangsung kurang dari 30 detik. Bara terengah-engah. Ia lupa mengambil nafas sebelumnya. Untung saja ia masih hidup. Kemudian, ia berkata, “Habis gini kita pulang ke rumah Mbak.” “Mampir nggak?” tanya Dira, penuh harap. “Mungkin langsung pulang.” Bara iseng menggoda. “Ooooo … gitu, ya?” Dira melotot. “Jadi kamu anggep aku kayak bareng yang ditaruh sini, ditaruh sana, sesuka hati. Gitu? Iya?” “Bukan gitu.” Bara mendekat. Memegang kedua pinggang Dira sembari menatap dalam pada kedua bola mata Dira. “Kita belum kenal satu sama lain. Aku hanya ingin kita menjaga batasan. Aku sebagai laki-laki asing. Dan Mbak sebagai wanita terhormat. Satu lagi, hubungan kita nggak lebih dari sekadar mitra di dalam sebuah misi kalau Mbak lupa.” Meski tak bisa menyembunyikan rasa senang akan ucapan jantan dari mulut Bara, Dira menutupinya senatural mungkin. “Katakan sesukamu. Tapi aku percaya kamu nggak bakal macem-macem. Makanya aku berani bilang gitu. Lagian kamu belum dapat imbalan dariku dari misi yang aku ajukan ke Rantai Hitam. Begini-begini, aku profesional.” “Setelah Mbak mengalami kejadian buruk sama mantan suami Mbak, dan Mbak masih percaya sama laki-laki, apalagi laki-laki itu masih belum jelas orangnya … Mbak lagi nggak mabuk, kan?” Dira menggeleng. Kedua tangannya lembut memegang dada Bara. Sebelah tangannya terulur mengelus perban di badan si sableng, sebelum ia berkata, “Feeling perempuan itu kuat. Aku yakin dan percaya kalau kamu bisa memegang ucapanmu yang akan menjagaku dan Aura. Kenapa? Itu karena … kamu beda.” “Sama aja tuh. Sama-sama bajingan.” “Yang bisa menilai diri kamu itu orang lain. Katakanlah aku beruntung bertemu dengan laki-laki hebat seperti kamu.” Bara tersenyum. “Aku juga beruntung kenal sama Mbak.” “Masa?” “Ya. Lebih beruntung lagi kalau aku dikasih nenen part dua, hehehe.” Dira terkekeh geli. “Makanya. Nanti mampir, ya?” Kecupan di dahi Bara berikan, lalu menjawab, “Kita lihat nanti.” Tok! Tok! Tok! “Paket!” Bara dan Dira terkejut mendengar ketukan di pintu. Mereka sama-sama melepaskan diri. Membenahi pakaian yang sedikit kusut. Dira bergegas ke kamar mandi, dan Bara berjalan menuju pintu. Memutar slot kunci, lalu membukanya. “Yo, anak baru.” Orang itu adalah Saga. Senyum jahilnya selalu melekat di ekspresi wajahnya yang super duper menyebalkan. Namun, ada yang berbeda kali ini. Ada bengkak membiru di pipi dan pelipis Saga. “Lho, Mas Saga. Kamu kok di sini? Terus itu kenapa sama wajahmu?” Bara memberondong Saga dengan pertanyaan. “Bukan urusanmu.” Saga menyerahkan paper bag besar kepada Bara. “Aku ke sini cuma nganter pakaian ganti buat kamu dan calon istrimu. Sek dulu. Mana Mbak Dira-nya?” terangnya, sambil celingak-celinguk melihat ke arah dalam kamar. Orang yang dimaksud tidak ada di sana. Hanya ada bocil kematian cosplay Nana Gajah. “Mandi,” jawab Bara, singkat. Mata Saga langsung melotot. “Asu kok ancene garangan iki.” (Anjing kok memang garangan ini.) “Kok asu seh, Mas? Wong adus temenan, kok.” (Kok anjing, sih, Mas? Orang mandi sungguhan, kok.) “Guduk ngunu, sat. Iki aku wes murupno radar deteksi. Jenenge Radar Merogoh Pentil. Wes jelas Mbak Dira mari kon uyuhi. Ngaku’o, timbang tak kelamuti kupingmu.” (Bukan begitu, sat. Ini aku sudah menghidupkan radar deteksi. Namanya Radar Merogoh Pentil. Sudah jelas Mbak Dira habis kamu kencingi.) “Cuk. Pating pecotot omongane sampeyan, mas. Gak jelas koyok rambutmu seng akeh tumone iku.” (Cuk. Belibet omongannya kamu, Mas. Tidak jelas seperti rambutmu yang banyak kutunya itu.) “Kurang ajar.” Saga geleng kepala. Gelar tukang roasting plus kegesrekan sudah jatuh di tangan Bara. Saga hanya bisa menerima nasib. Nasib buruk berjumpa dengan jelmaan bakiak Banaspati. Bara mengambil paper bag yang dibawa Saga. Menentengnya di tangan kiri, lantas mengupil memakai jari tangan kanan. Menoletkannya ke tangan Saga. “Jamput! Bedhes gunung!” (Jamput! Monyet gunung!) Saga mencak-mencak. Meludah banyak di telapak tangannya sendiri, lalu diusap-usapkan ke wajah Bara. Keduanya jual beli serangan. Sudah berasa melihat drama kakak beradik yang sama-sama usil. Rantai Hitam Crew yang lalu lalang di koridor pun dibuat ternganga melihat interaksi dua pemuda gila. Fokus mereka lebih ke arah Saga. Ya, Saga yang seorang inti Rantai Hitam itu terkenal anti laki-laki. Maksudnya begini. Saga itu jarang sekali terlihat akrab dengan teman sesama laki-laki. Lebih sering Saga terlibat bersama perempuan. Khususnya yang setengah baya. Yang muda-muda gitu alergi, katanya. Kalau sama yang tua-tua jelas lebih pengalaman dan memuaskan. Sebuah pengakuan miring yang pernah Saga bongkar saat Loki mempertanyakan Saga yang masih betah menjomblo. “Sudah, Mas. Sana pergi. Hush!” Bara menunjuk-nunjuk dagu dengan gaya mengusir. “Emang bangsat kamu, Bar.” Saga mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Sebuah ponsel ber-case Manchester United yang terbungkus plastik. “Nih hapemu.” Seraya menyodorkan benda pipih itu ke tangan Bara. “Alhamdulillah, Ya Allah! Matur thank you, Masku yang ganteng sendiri.” “Jijik.” Saga muntah. Kemudian, wajahnya berubah serius. Menepuk-nepuk pundak kiri Bara. “Aku berpesan, kamu jangan mudah percaya sama orang. Yang bisa aku katakan cuma … hat-hati dan waspada.” “Dari?” “Dari semuanya. Termasuk wanita.” Bara menatap tajam. Menyelidik. “Kamu nggak lagi ngomongin Mbak Dira, kan?” “Kalau soal Mba Dira, aku no komen. Kamu sendiri yang tau jawabannya. Selain itu, nggak ada salahnya buat mencurigai orang lain yang baru dikenal, bukan?” “Termasuk kamu?” “Itu yang aku mau dari kamu.” “Termasuk buka-buka hapeku?” “Oh. Kalau itu kamu tenang aja. Aku berani jamin dengan nyawaku kalau aku bukanlah tipe orang yang suka lancang atau mencampuri urusan orang lain.” “Baiklah. Aku percaya kamu, Mas Saga. Jadi aku nggak perlu tanya di mana atau dari siapa kamu bawa hapeku ini. Benar begitu?” Bara tersenyum kecil. Saga balas tersenyum mengejek. Tak berniat ucapan Bara. Setelah itu Saga berbalik. Berjalan menjauh dari kamar mandi sambil mengangkat dan melambaikan sebelah tangan. “Dasar orang aneh.” Pintu ditutup. Si bocil kematian malah ketiduran dengan posisi nungging. Ponsel masih menyala menayangkan iklan yang belum di skip. Terlebih dahulu Bara meletakkan paper bag dan ponselnya di atas kasur, sebelum menghampiri Aura yang sudah ngiler di dekat balkon. Menggendong dan meletakkan Aura secara hati-hati di bagian tengah kasur. Kemudian, Bara membongkar paper bag. Memisahkan mana pakaian untuknya, dan pakaian untuk Dira. Setelahnya, Bara menuju depan pintu kamar mandi. Mengetuk dan memanggil nama Dira. Klek! Pintu kamar mandi terbuka sedikit. Hanya kepala Dira yang penuh busa melonggok keluar. “Apa?” “Ini ada pakaian ganti buat Mbak.” “Dari siapa?” “Dari Mas Saga.” “Saga ke sini tadi?” “Iya, Mbak.” Mata Bara memandang ke bawah. Takut dikira jelalatan. “Buruan diambil, Mbak.” Seraya menyodorkan satu set lengkap pakaian. Berikut dalamannya. “Oh, iya.” Dira mengulurkan tangan kanan. Sayang, lantai kamar mandi agak licin. Ia hampir saja terpeleset konyol andai Bara tidak siap memeganginya. Namun sialnya, Dira spontan berpegangan dengan sesuatu untuk menahan tubuhnya. Dan yang Dira pegang adalah celana kolor Bara. Saking kuatnya, kolor Bara sampai melorot. Mempertontonkan batang penis yang sedang dalam sleep mode. Kendati demikian, batang berwarna coklat itu cukup bikin melongo meski menunjukkan wujud aslinya. Merasa aneh di situasi yang awkward ini. Selain itu, Dira cepat menunduk menatap lantai kamar mandi. Tak berani memandang Bara karena malu, bukan karena badan bugilnya yang terpampang jelas di hadapan si sableng. “Mbak nggak pa-pa?” basa-basi seperti biasa, Bara memecah keheningan. Tidak lupa Bara menarik celana kolornya ke atas. Membenarkan ke posisi semula. Bukannya menepis menyuruh Bara keluar, atau buru-buru menutup pintu yang sekarang sudah sepenuhnya terbuka, Dira justru menggeleng. Ia beranikan diri melirik Bara melalui ekor mata. Dasar buaya betina. Matanya memandang kejantanan Bara yang terbayang-bayang. Sedikit membesar karena terlihat lebih menonjol dari sebelumnya. Dira memang paling tidak bisa melewatkan pemandangan langka. “Eh, anu, ini aku tak keluar dulu.” Bara sedikit gugup. Tunggang langgang Bara meninggalkan Dira yang masih menunduk. Jantung Dira benar-benar diuji oleh seekor amoeba Belgia. Dasar kampret! Acara mandi pun kembali Dira lanjutkan. Jika sebelumnya Dira mandi tanpa perasaan apa pun, kali ini Dira diliputi segenap rasa aneh yang bersemayam di dalam jiwa. Gelitik nakal benak liarnya mengantarkan diri pada posisi duduk di atas kloset. Kedua kakinya merenggang. Saat sentuhan pertama jemarinya pada bagian klitoris, Dira bergetar. Aliran listrik statis menambah daya dobrak nafsu yang mulai terpompa naik. “Ssshhh … sssshhh … hmmm …” otak Dira hanya dipenuhi wajah Bara. Ia masturbasi membayangkan adegan erotis dalam fatamorgana semu. Membawa dirinya tenggelam dalam di lautan birahi. “Ughhhh! Hmmm! Enak, Bar! Hmm! Ssshhh! Sssshh! Iya, Bar, yang ituuu! Ahhhh! Pinter banget kamu, Bar! Ahhhh! Ahhhh! Sssshhh! Barrrr!” desah erotis Dira begitu seksi terdengar. Matanya mulai terpejam. Hidungnya kembang kempis saat jemari tangan kanannya sendiri secara teratur memainkan biji klitoris. Menggosok. Menekan-nekan. Sedangkan tangan kiri Dira fungsikan untuk meremas-remas dan memilin-milin payudaranya bergantian. Saat tangan Dira semakin cepat bermain membentuk melodi indah. Membuat hawa panas di tubuhnya berkeringat. Penuh nafsu. “Ahhhhh! Ssshhh! Ayo, Bar! Ahhhh! Iyaaa! Jilat susuku, Bar! Ahhhh! Ssshhh! Pentilku jangan digigit, ih! Bar … Bar … ohhhhh … Barrr … besar banget titidmu … ah, Barrr! Genjot terus! Lebih kenceng! Ahhhh! BARAAAAA!!!” erangan Dira terputus-putus. Diakhiri lolongan panjang memanggil nama si pemuda sableng. Bersamaan dengan itu …
Serrrrrrr!​
Badan Dira bergetar. Terkejang-kejang. Dira klimaks dalam hitungan menit. Cairan cintanya terasa hangat membasahi telapak tangan. Mata Dira masih terpejam. Menikmati sisa gelombang kenikmatan yang baru saja ia gapai. “Sialan. Bara bajingan … hhh … kamu bikin aku gila.” Dira berbisik lirih, sembari menghela nafas pendek.

8
Panas​
Di luar kamar mandi, ada Bara yang merokok di balkon. Mencoba menghilangkan pikiran mesum yang hinggap di kepala. Semakin sulit saat samar-samar Bara mendengar gema suara Dira yang mendesah. Tidak perlu dijelaskan, lelaki dewasa mana pun sudah paham apa yang sedang Dira lakukan. Hembusan nafas kasar Bara keluar. Kemudian, ia menghidupkan ponsel untuk mengalihkan perhatian. Bara tidak ingin gegabah. Terlebih, Bara mengutamakan kenyamanan Dira. Dan yang menjadi prioritas perhatian Bara adalah Aura. Bocah itu … siapa yang mengajarinya memanggil orang lain yang baru dikenal dengan panggilan ‘papa’? Apa Aura kurang kasih sayang seorang ayah, sampai-sampai alam bawah sadar bocah itu telah memberi alarm kenyamanan jika di dekat Bara hingga memanggil Bara demikian? Berbagai macam pertanyaan lainnya terus berputar di otak Bara. Namun, Bara mencoba berpikir jernih. Ia pilah satu persatu pertanyaan yang paling mudah dijawab. Syukur-syukur pertanyaan itu tidak bercabang. Jika iya, Bara akan semakin terjebak di tempat yang sama. Seiring data ponsel dihidupkan, berbagai notifikasi mulai masuk. Hanya ada dua sosial media di ponsel Bara: WhatsApp dan Instagram. Jangan salah. Bara termasuk tipe manusia simpel. Asal ponselnya bisa dibuat komunikasi dan sedikit hiburan menyimak berita bola di beranda Instagram, Bara tidak peduli kata orang yang menyebutnya kudet. Terserah. Whatever. Jancok. Satu pesan WhatsApp dari nama kontak yang Bara beri nama Abner tertera di layar notifikasi. Ada 5 pesan belum terbaca. Abner Bar, mama masuk rumah sakit
Sorry, Bar, aku cuma ngabarin aja. Kamu nggak perlu pulang. Kamu fokus aja di sana
Bar, kamu kok centang?
Bar, mama nyariin kamu. Kalau ada waktu, kabarin P Tanpa membalas pesan Abner, Bara langsung menekan tombol telepon. Memanggil, lalu berdering. Lama tak diangkat, hingga si penerima telepon di seberang sana mulai tersambung. “Halo, Ner. Gimana mama?” nafas Bara memburu. Jantungnya berdegup keras. Ia tahan sekuat tenaga agar air matanya tidak tumpah. “Halo. Kalem, Bar. Rileks. Santuy. Tarik nafas. Tahan lima menit.” “Mati aku, ndeng!” “Hahaha. Itu dia Ksatria Batang Hitam kita. Aku benar-benar kangen makiannya.” “Hm. Gimana mama, Ner?” “Alhamdulillah udah membaik, Bar. Kamu yang tenang, ya.” “Temenan, ta? Gak ngedrabus?” (Beneran, kah? Bukan omong kosong?) “Tak panah gegermu, lho.” (Aku panah punggungmu, lho.) “Cuk. Bolong lakan. Asu kon.” (Cuk. Berlubang dong nanti. Anjing kamu.) “Ngomong-ngomong, udah dapat tempat di sana?” “Udah. Aku ngekost di belakang kampus. Rantai Hitam.” “Bahahahaha. Takdir emang lucu, ya, Bar.” “Begitulah kehidupan.” “Aku jadi nggak sabar kamu bawa pulang kepala orang yang bertanggung jawab atas kematian papa.” “Jangan khawatir. Gabung di Rantai Hitam memudahkanku untuk mencari informasi siapa pelakunya. Jaringan mereka luas.” “Ya, iyalah. Siapa yang nggak kenal Rantai Hitam? Kita berdua sama-sama taulah sepak terjang kelompok sinting itu.” “Hm. Di sana aman, Ner?” “Gak aman. Mama kepikiran kamu yang jauh dari rumah, makanya sampai ngedrop gini. Teman-teman yang nggak kamu pamitin ngambek semua. Emang kamu belum baca WA mereka?” “Waduh, bajingan. Belum, Ner. Nggak sempet buka hape sama sekali aku dari kemarin. Repot banget, sih. Nanti deh aku cek.” “Ya sudah. Sehat-sehat di sana, bro. Fokus. Jangan kebanyakan main perempuan.” “Ini malah udah dapet nenen aku, Ner, hehehe.” “Oh, ancene anakan tapir!” (Oh, dasar anak tapir!) Hahahahahaha! Terjadi hening. Hanya suara angin yang menyamarkan percakapan Abner di seberang sana entah dengan siapa. “Berisik banget, Ner. Lagi di luar?” “Di rumah sakit. Abis beresin administrasi perawatan mama.” “Mama di mana sekarang? Kasih ke mama hapemu.” “Nanti aja. Mama lagi bedrest ditemenin Dysis. Adekmu yang tepos itu, lho.” “Ya adekmu juga, lah, gubluk.” “Hehehe. Ya wes ya, nanti disambung lagi. Aku mau beli makan.” “Siap, bro.” Tut! Sambungan telepon dimatikan. Bara menghela nafas panjang. Menengadah ke arah langit. Menyeka sedikit air mata yang terkumpul di sudut mata. Wajahnya sendu membayangkan mama angkatnya sakit karena memikirkan Bara. Oleh sebab itu, Bara akan membuktikan kepada keluarga angkatnya -mama, kakak, dan adik- supaya tidak khawatir kepadanya. Bara akan menjadi pribadi kuat dan dewasa. Bara sudah menyiapkan mental setebal baja guna menghadapi kerasnya Kota Anggur. Bahkan lebih keras dari Kota Apel. “Bara.” Tanpa balik badan, Bara menoleh. Mendapati sosok cantik menawan dalam balutan midi dress warna hijau toska. Belahan dadanya cukup rendah. Membusung menantang ke depan. Sudah barang tentu the power off bra dan spon pengganjal. Bara baru sadar jika Dira sudah memoles wajah cantik nan manisnya. Pantas saja lama sekali di kamar mandi. Di samping itu, yang menarik perhatian Bara adalah hidung kelewat mancung Dira sedikit membuat Bara ngeri. Takut kesedot ke dalam blackhole. Bajingan. Rambut Dira yang sengaja dibagi menjadi dua bagian: yang satu di gerai di depan pundak kanan, dan yang satu digerai di belakang pundak kiri. Semakin menambah daya tarik si wanita dewasa berdarah India. “A-aku menganggu?” kembali Dira menegur. Ia seperti seorang gadis yang malu-malu di hadapan kekasihnya. Bara tersadar. Mengerjap sebentar, lalu sepenuhnya balik badan. Memberi senyum hangat menyambut Dira. “Nggak.” Bara berjalan mendekat. Sedang Dira sendiri membeku di tempat. Matanya masih belum lepas dari hipnotis sorot mata tajam Bara. Biar memiliki tatapan bak penjahat, Dira bisa merasakan kasih sayang serta besarnya cinta pemuda itu. Saat Bara tiba di hadapan Dira, tercium semerbak wangi cologne vanilla, yang rasanya menggugah selera. “Mbak cantik banget.” Baritone berat Bara membuat Dira merinding. Seketika Dira merasakan badan Bara kian mendekat. Aroma maskulin lelaki jantan tercium jelas. Hawa panas tubuh Bara terasa membakar Dira sampai ke ubun-ubun. “Ehm. Ki-kita jadi pulang jam berapa?” Dira bertanya, guna mengurangi tegangan tinggi yang mulai menerpa. “Kenapa buru-buru, Mbak?” Bara memeluk tubuh Dira. Mendekatkan bibir di area telinga Dira agak ke bawah. “Bukannya Mbak sengaja lama-lamain buat tetap sama aku di sini?” bisiknya, seraya memberi kecupan dan jilatin kecil di belakang telinga Dira. “Ah! Bar ….” Dira mendesah. Memejamkan mata saat Bara memberi kissmark di lehernya. “Mbak udah bangunin megalodon yang lagi tidur. Tanggung jawab.” Cup! Dira menyerah saat Bara nyosor duluan. Sekuat apa pun Dira menahan, pesona Bara tak lagi bisa dilawan. Ini dia Dira yang sesungguhnya. Dira yang menawan bak bangsawan. Dira membalas serangan, tentunya. Kini, ciuman keduanya berubah menjadi lumatan. Dari yang awalnya lembut, menjadi penuh kuat. Nafas Dira kian memburu. Bara yang mulai terbakar, langsung berinisiatif menjulurkan lidah. Merangsek masuk membetot lidah Dira. Dua lidah beradu, disambung hisapan dan jilatan lidah penuh nafsu liar nan buas. “Ahhhh! Hmmm! Mmmm! Ahhhh! Ahhhhh!” tidak pula ketinggalan desahan-desahan kecil keluar dari mulut Dira saat dirinya dan Bara tengah saling lumat dan bersilat lidah. Semakin lama, semakin intens. Keduanya menunjukkan kebolehannya tanpa lagi bertanya, ‘kok bisa?’. Bara bergerak mendorong Dira ke tembok tanpa melepaskan pagutan. Saat posisi Bara menghimpit Dira, tangan kanannya bergerak menuju ke arah payudara mengkal Dira. Meremas lembut. Sedikit menguat saat Dira tak sengaja mengigit bibir Bara. Tak dibiarkan pasif, tangan kiri Bara bergerilya menuju bongkahan pantat montok si wanita berdarah India.

Membelainya. Mengelusnya. Pantat berbalut midi dress hijau toska selutut agak panjang sedikit itu terasa padat dan kenyal. Jamahan Bara berubah menjadi remasan. Bara singkap gaun bagian bawah Dira hingga mempertontonkan bongkahan pantatnya yang masih tertutupi celana dalam hitam berenda. Gemas, Bara daratkan tamparan-tamparan ringan pada satu buah pantat Dira, dan tindak tanduk Bara membuat batang kejantanannya menegang kaku. Dira pasrah. Ia menerima perlakuan Bara tanpa drama. Dira biarkan pemuda sableng itu melakukan apa pun yang ia inginkan. Untuk kali ini saja, Dira ingin memberikan yang terbaik. Banyak faktor yang mendasari Dira rela menyerahkan mahkota kehormatannya, yang notabene seorang wanita baik-baik. Namun, hanya satu yang pasti. Adalah kenyamanan. Kiranya beberapa menit telah berlalu adegan saling lumat, saling jilat, dan saling hisap antara dua insan yang sedang birahi. Sejurus, Dira mendorong Bara untuk rebah di sofa panjang yang ada di dalam kamar tersebut, lalu duduk di antara selangkangan Bara. “Hm. Pantesan kayak ada yang nyucuk-nyucuk perutku. Aku kira apa, ternyata ini tho, hihihi.” Dira membeo, seraya membelai penis Bara yang sudah dalam kondisi tegak sempurna dibalik celana kolor tanpa celana dalam. Lekas Bara ikut duduk hingga keduanya kini dalam posisi Bara memangku Dira. Saling berhadapan. Wajah sayu Dira nampak bernafsu sekali. Bara hanya tersenyum membalas tatapan mupeng si janda muda. Bara dekati wajah Dira. “Gara-gara Mbak Dira sih cantiknya kelewatan,” bisiknya, parau. “Ih! Dasar genit!” serak suara Dira agak manja. Tanpa babibu, Bara cium dan jilati leher Dira yang sudah ada bekas kissmark peninggalan Bara semalam sampai ke belakang telinganya. “Ahhhhh! Terusss! Ssshhh! Barrr! Ahhhhh! Ahhhhhh!” desah Dira, agak keras. Takut Aura terbangun karena suara mamanya dan membuat suasana jadi suram, Bara lumat lagi bibir Dira, lalu dibalasnya dengan lumatan yang lebih gila. Kedua tangan Bara aktif meremas-remas payudara Dira dari luar midi dress. Berasa kurang puas, Bara hentikan sejenak pagutan di bibir Dira, lantas mengangkat gaun hijau toska yang menjadi penghalang. Meloloskannya hingga menyisakan bra hitam berenda, dan celana dalam senada. Kini, terpampang jelas kulit coklat eksotis nan mulus yang dipadukan dalaman seksi menggoda. Bara meneguk ludah susah payah. Sosok wanita berdarah India ini sungguh mampu membuat Bara belingsatan. “Mbak Dira.” Bara memanggil. Namun, tidak ada sahutan dari bibir sensual Dira. Yang ada malah Dira mengalungkan kedua tangannya di leher Bara. “Kita nggak boleh begini, Bara.” Dira mendesah serak, “tapi aku mau. Aku sange.” “Nggak boleh begini, tapi Mbak manut aja aku telanjangin.” “Ih! Bodoh!” Bara melepaskan pengait bra yang Dira kenakan. Boing-boing! Di bawah cahaya pagi yang sedikit mengintip dari celah awan hitam, terpampang dengan jelas buah dada berukuran besar menantang super mulus, setelah semalam sempat bersilaturahmi. Areola hitam bertahtakan puting coklat agak bengkak berwarna kehitaman tegak mengacung. Mengundang untuk dimanja. “Suka nggak, Bar?” Dira bertanya, malu-malu. Mata Bara berbinar memandang takjub gunung kembar Dira yang menggoda, kemudian menyahut, “Suka banget, Mbak.” “Sekarang ini punya kamu. Ayo, Bar, nenen lagi kayak semalem. Susuku gatel.” Begitu binal ucapan Dira. Praktis membuat Bara terpecut nafsunya. Mula-mula tangan kiri Bara meremas-remas payudara kanan Dira. Ugh! Sungguh payudara besar yang padat dan empuk sekali. Aliran deras ASI gurih masuk ke dalam tenggorokan Bara saat Bara melumat puting Dira. Lahap dan penuh nafsu. Bergantian kiri dan kanan. Lidah Bara bermain nakal. Kadang menarik-narik. Menggigit. Kadang pula dihisap kuat sampai membuat si empunya susu merengek manja. “Ahhhhh! Sssshhh! Iyaaaa! Terus, Bar! Ahhhhh!” desah Sira, menikmati rangsangan yang Bara berikan. Dan hanya butuh tujuh menit untuk mengisi perut dengan asupan ASI berprotein tinggi, Bara telah meneguk habis isi di dalam kedua susu Dira. Sambil tetap menjilati dengan lidah, mulut Bara terbuka lebar. Mencoba melahap payudara Bara ke mulutnya. Hanya sebagian kecil. Hal itu Bara lakukan berulang-ulang, yang kontan mengalirkan energi mahadahsyat di vagina Dira hingga menyemburkan cairan orgasme! “Ahhhh! Barrrr! Shitttt! Ahhhh! Aku metu, Bar! Aduhhh! Gendeng kon, Bar!” (Ahhhh! Barrrr! Shitttt! Ahhhh! Aku keluar, Bar! Aduhhh! Gila kamu, Bar!) Dira kelojotan sambil memeluk Bara erat. Ya, Dira sendiri sampai terkejut dengan dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia orgasme hanya karena dirangsang area dadanya saja? Ini Dira yang memang sange tingkat tinggi atau Bara-nya saja yang kelewat jago? Entahlah. Yang jelas Dira kembali bersiap menerima serangan lanjutan saat merasakan tangan Bara bergerilya menelusuri perut, dan hingga di area kewanitaan Dira. Semakin turun, tangan Bara bergerak lebih ke bawah untuk memastikan sesuatu. Bara menyusuri paha Dira sambil mengelus-elus kulit mulus Dira. Bara angkat sedikit tubuh Dia untuk melepaskan celana dalam yang wanita itu kenakan. Setelah terlepas, Bara terhentak. Tidak ada pembalut di sana. Pantas saja Bara tidak mencium aroma menyengat saat wanita yang tengah haid orgasme. “Katanya haid?” Bara bertanya. Terdengar dari nadanya jika Bara kesal. Dira gelagapan. Sebenarnya, Dira memang haid satu minggu ini, dan baru bersih kemarin. Alasan itu Dira gunakan spontan saja saat semalam Bara ingin mengajak bercinta. “A-aku baru bersih kemarin malem, Bar.” Takut-takut Dira menjawab. “Kenapa bohong?” tak ada lagi wajah penuh nafsu di mimik Bara. Kembali datar dan lempeng. “Aku lebih suka mendengar kejujuran walaupun menyakitkan, ketimbang kebohongan manis.” “Ma-maaf.” Bara tak menjawab. Ia kehilangan mood sektika. Gairah panas menggebu lenyap entah ke mana. Tergantikan perasaan dongkol bin jengkel di dada. “Aku belum siap kalau semalem, Bar. Aku malu. Kamu harus paham perasaan perempuan.” “Iya.” Dira semakin kalut. Nafsunya sudah di ubun-ubun. Ia langsung mendekati Bara. Tanpa kata, Dira memeluk Bara. Mendekatkan bibir, lalu mencium Bara duluan. Bara? Pemuda itu masih belum ada feel. Ia pasif, diam saja. Kali ini, Dira yang mengambil alih. Ia bagai wanita jalang. Melepaskan pagutan sejenka. Dira meluruskan pandang menatap binal tepat ke arah bola mata. Kemudian, ia bergerak turun ke bawah menuju leher Bara. Menjilat dan menciuminya. Sedikit banyak Bara mulai terbakar. Terlebih dahulu memberikan ruang untuk Dira mengekspresikan perasaannya. Dilihat dari wajah Dira yang nampak bernafsu, dapat dipastikan wanita itu ingin dituntaskan saat ini juga. “Bara sayang, jangan ngambek lagi, ya. Hari ini aku punya kamu. Ayo, kamu katanya pengen ngajak aku ngentot? Nih, aku udah kamu bugilin, masa kamu anggurin, sih, Sayang?” Dira berkata serak-serak basah. Genit sekali. Mood Bara kembali naik saat Dira mengatakan itu. Masih dalam posisi Dira di atas tubuh Bara, mulutnya kembali menerkam payudara serta puting kanan Dira. Gemas. Tangannya ikut-ikutan meremas kuat-kuat buah dada Dira hingga si empunya menjerit manja. Sampai beberapa saat, Bara telah membuat puting itu kian membesar dan panjang. Maklum ibu menyusui. Warnanya pun hitam gelap, yang entah mengapa membuat Bara kian bernafsu. Hal itu ditenggarai oleh tangan Bara yang bergerak turun ke area kewanitaan Dira. Belai lembut Bara layangkan menggunakan tangan kiri, yang ternyata vagina tembem dan berwarna kehitaman milik Dira sudah basah sekali. Sejenak, Bara diam mengamati bentuk vagina Dira yang beda dari wanita pada umumnya. Serta merta Bara mainkan jemari tangan di celah vagina Dira. Vagina yang ditumbuhi bulu-bulu halus rapi, bersih, serta bebauan khas kewanitaan menguar keluar. Sudah jelas bau basreng, dong! Bara menghentikan aktivitas mulut di payudara Dira, lalu memandang Dira jahil. “Kok wes teles kebes ngene kimpetmu, Mbak? Hehehe.” (Kok sudah basah kuyup gini vaginamu, mbak? Hehehe.) “Kamu jahat,” jawab Dira, lirih. Bara terkekeh. Kemudian, Bara merebahkan Dira di atas sofa putih empuk. Bara melanjutkan tugas jarinya di vagina Dira. Pun, Bara kembali meneruskan lumatan di puting Dira. “Awww! Ahhhh! Sayanggg! Hmm! Terusss! Ahhhh! Ahhhh!” Dira mendesah-desah tertahan karena satu jari Bara mulai merobos dan mengocok vaginanya. Bara akhiri lumatan di puting Dira, lantas pindah posisi duduk hingga berada di antara selangkangan Dira. Bara dekatkan wajahnya ke Vagina Dira. Bara buka lebar-lebar liang menggoda yang telah basah itu. Seiring santer tercium pula aroma khas kewanitaan yang membuat Bara semakin berdebar. “Sayang,” panggil Dira parau, karena heran akan tindak tanduk Bara. Dan detik itu juga, Dira langsung tersentak bagai tersengat listrik bertegangan tinggi saat di mana Bara menjilat liang vagina Dira yang telah terbuka lebar. “Ughhhhhhhh!” lenguh Dira. Kepalanya mendongak ke atas. Kedua tangannya meremas dan menjambak-jambak rambut Bara. Lick! Lick! Lick! Bara mainkan lidahnya di dalam vagina Dira. Terlebih dahulu ia cari klirotisnya. Setelah ketemu, segera Bara jilat dan kulum klitoris sebesar biji kacang itu. Satu jari tengah Bara kembali mengocok vagina Dira dengan tempo pelan agar Dira bisa menikmati dan merasa nyaman. “Ahhhhh! Sayanggg! Iyaaa! Ahhhhh! Enakkk! Di situuuu! Ahhhhhh!” desah Dira, meracau tak karuan sambil meletakkan kedua kaki di pundak Bara. Tak peduli jika kakinya menekan perban di badan Bara.

Dan sedetik … “Sssshhhhh! Asuuu! Aku mau keluarrrr! Ahhhh! Sayanggg! AHHHHHHHH!!!” erang Dira, tersendat-sendat. Mendengar itu, aku mempercepat gerakan tangan dan lidahku. Hingga … Serrrrr! “UGHHHHHH! BARAAAAA!!!” Bara merasakan semburan cairan cinta dari dalam vagina Dira, berikut iringan panjang lenguhan Dira. Badan Dira menegang. Kedua kakinya turun dari pundak Bara, dan kini terbuka lebar sambil bergetar. Kepalanya mendongak ke atas. Mulutnya menganga mengiringi puncak orgasme yang mengakibatkan vaginanya banjir. Pasca orgasme reda, Dira lemah telentang dengan tetap membuka lebar kedua kaki. Bara dekati wajah Dira yang layu dan tengah mengambil nafas sebanyak mungkin. Cup! Kecupan Bara di dahi membuat Dira memandang Bara, lalu tersenyum lemas. “Gimana? Enak?” tanya Bara. Dira tersenyum dan mengangguk kecil sebagai jawaban atas pertanyaan Bara. Bara rebahan miring di samping Dira sambil tangannya meremas-remas lembut payudara. “Susu Mbak enak banget. Makan apa sih kok bisa besar kayak gini?” pujinya, berbisik di samping telinga Dira. Dira mengulum senyum. “Emang besar, ya?” “Iya, dong. Mbak nggak merasa bangga gitu punya aset mantep gini? Aku yang baru kenal Mbak beruntung banget lho bisa dapet jackpot,” ucap Bara, sambil masih meremas-remas payudara Dira. “Hehehe. Ya udah nih kalau suka. Ini buat kamu, kok.” Dira menarik kepala Bara, lalu diarahkan ke lembah payudara mengkalnya yang sedang diremas-remas oleh tangan Bara. Bara kembali melumat dan menjilati buah dada Dira dengan lembut dan penuh perasaan. Sejurus, Dira bangun dari tidurnya, lalu duduk dan langsung meremas-remas penis Bara yang masih berada di dalam kolor. “Aduh! Ini titid apa pentungan, sih? Gede banget, ih!” nafas Dira tersengal mengatakan itu. Ia belai dan naik-turunkan penis Bara tanpa melepaskan celana kolor si pemuda. “Ayo, Mbak, gantian. Isepin punyaku.” “Siap, Sayang.” Dira mencium pipi Bara. Lantas membuka celana kolor pemuda itu. Tuing! Batang besar nan panjang terpampang jelas di hadapan Dira. Kekaguman bercampur kengerian terukir jelas di ekspresi Dira. Mulutnya menganga. Matanya membola. “Duh, Gusti! Titidmu koyok jaran, cik! Ya ampun! Isok melbu tak gak iki ndek kimpetku, Sayang?” (Duh, Gusti! Penismu seperti kuda, cik! Ya ampun! Bisa masuk apa tidak ini di vaginaku, Sayang?) Dira nyerocos sendiri. Matanya tak melepaskan pandangan dari penis Bara barang sedikit pun. “Ojok lebay po’o, seh. Yo isok lah pastine. Nek gak isok berarti fiks Mbak Dira bakal tak hapus tekan wanita idamanku.” (Jangan lebay kenapa, sih. Ya bisalah pastinya. Kalau tidak bisa berarti fiks Mbak Dira bakal aku hapus dari wanita idamanku.) “Waduh. Ojok, rek. Aku mek kaget tok Iki maeng, hihihi.” (Waduh. Jangan. Aku cuma kaget aja, lho, hihihi.) Dira membeo centil. “Aku seneng seng gede ndlondeng koyok tekmu Iki, Sayang.” (Aku suka yang besar panjang seperti punyamu ini, Sayang.) “Seng biyen opo gak gede?” (Yang dulu apa tidak besar?) “Alah. Jelas sek gedean tekmu. Dowoan tekmu sisan, seh. Terus iki lho … hmmm! Kepala titidmu koyok jamur mushroom. Guemes pol!” (Alah. Jelas masih besaran punyamu. Panjangan punyamu juga, sih. Terus ini lho … hmmm! Kepala penismu seperti jamur mushroom. Gemas sekali!) “Asu, jamur mushroom jare.” (Anjing, jamur mushroom katanya.) “Hahahahaha.” Keduanya tertawa bersama. Kemudian, Dira mulai merebahkan Bara. Tangannya yang halus membelai penis Bara dengan lenbut. Tak ingin berlama-lama, Dira menjulurkan lidah, dan mulai menjilati penis Bara secara perlahan. Dari kepala penis hingga buah zakar disesapi tanpa ada yang terlewat. Dira melahap batang coklat panjang nan tebal itu ke dalam mulut. Hanya kepala dan sebagian badan penis Bara yang sanggup Dira masukkan. Masih menyisakan setengah, dan itu adalah usaha terbaik yang bisa Dira berikan. Glok! Glok! Glok! Lalu, kepalan Dira bergerak naik-turun. Membuat Bata merasakan kenikmatan luar biasa atas kuluman Dira, yang kadang menyedot-nyedot kuat. Sedang enak-enaknya Bara menikmati sepongan Dira, tiba-tiba Dira berhenti. “Ssshhh! Kenapa, Mbak? Lagi enak, nih!” Bara protes. Sedangkan Dira duduk sambil menatap Bara dengan pandangan mupeng. “Bar, lebokno ae kerismu nang kimpetku. Aku wes gak kuat. Ayo!” (Bar, masukkan saja penismu ke vaginaku. Aku sudah tidak kuat. Ayo!) Bara tersenyum dan mengangguk. “Mbak yang di atas, ya.” Karena nafsu sudah di ubun-ubun, yang ada di otak Dira hanyalah Bara seorang. Ya, hanya Bara yang ada di depan mata Dira saat ini yang harus memuaskan dan menuntaskan nafsu keduanya yang sudah terlanjur tinggi. Akhirnya, Dira naik ke atas selangkangan Bara, kemudian menggenggam kuat serta mengarahkan batang coklat besar itu hingga tepat di pintu masuk vagina Dira. Slebbbb! Kepala penis Bara masuk lebih dahulu. Memberi sapaan hangat kepada tuan rumah, yang langsung disambut siraman pelumas. Slebbbb! Dira memejamkan mata. Menurunkan pinggul secara perlahan sambil meringis menahan ngilu dan sesak di dalam vaginanya. Benda tumpul yang sekarang tengah ia tuntun untuk memasuki lubang surgawinya sendiri, kini mulai tenggelam sedikit demi sedikit. “Ughhhhhh!” lenguh mereka bersamaan, setelah pertama kalinya tidak perempat dari batang Bara yang berukuran besar itu memasuki lorong sempit senggama Dira. Masih butuh sedikit usaha lagi untuk memasukkan penis ke dalam vagina seutuhnya. Dan terakhir … BLESSSS! Bara yang sudah tidak tahan dan penasaran karena semakin lama vagina Dira semakin meremas, menghujamkan sendiri sisa penisnya yang masih belum tertelan. “Ahhhhhhh!” Dira ambruk di atas tubuh Bara. Badannya bergetar. Bergerak tak karuan hingga penis bara terlepas dari vagina Dira. Dan ternyata … Crats! Crats! Crats! Semburan air mancur bernama squirt memancar bagai air kencing. Membasahi penis sampai ke paha Bara. “Hahaha. Astaga. Belum apa-apa udah mancur aja, Mbak.” Bara meledek. “Hhhh … hhhh … mmmm … dibilangin aku sange, kok. Gampang muncrat, ih! Duh, malunya aku.” Dira menenggelamkan wajah di ceruk leher Bara. “Udah?” “Hmm … kamu yang masukkin, Sayang.” “Iya, Sayang.” Bara memegang batang kejantanannya dengan tangan kanan. Dira ikut membantu dengan sedikit mengangkat badan. Blesssss! Setelah penis Bara kembali masuk, Bara berdiam diri dulu sambil mengamati mata Dira yang terpejam, dan tengah menggigit bibir bawah, menahan desahan. Sempit nan menjempit. Berikut remasan-remasan kuat dari dinding vagina Dira membuat Bara menahan nafas. Terpejam beberapa saat menikmati sensasi lorong panjang hingga kepala penis Bara menyentuh bagian terdalam lorong sempit, serviks. Bagian antara vagina dan mulut rahim. Sungguh, Bara merasakan nikmat luar biasa. “Ayo, Mbak, goyang.” Bara menginterupsi, seraya memainkan kedua payudara dan mencubit-cubit puting Dira. Mengangguk kecil, badan Dira yang semula rebahan di atas tubuh Bara, kini mulai bangun. Namun, tetap condong ke Bara, sehingga Bara bisa melihat dengan jelas ekspresi wajah mupeng Dira yang menahan ngilu campur enak. Sedetik, Dira meletakkan kedua tangan di atas dada Bara. Ia mulai menggoyangkan pinggulnya maju mundur. Air muka Dira kian binal. Ia menikmati goyangannya sendiri di atas selangkangan Bara. Batang penis Bara membuat Dira makin menggila. Apalagi saat Bara mulai mencaplok puting kiri Dira dan kembali menetek, Dira semakin meracau dan mendesah tak karuan. Hantaman rangsangan tak terperi. Dira tak lagi terkendali. Secepat kilat Dira mengubah posisi. Dari yang awalnya condong, kini duduk tegak denfan kedua telapak tangannya di perut Bara. Plok! Plok! Plok! Kembali Dira menaik-turunkan pinggulnya sambil terus mendesah tertahan. Bara sedikit toleransi. Ia tak ingin Dira kelelahan. Permainan masih panjang. Sedetik, Bara mengangkat kedua paha Dira, lalu Bara genjot dari bawah batang penisnya menggempur vagina sempit Dira. “Sayanggg! Awww! Ahhhhhh! Gilakkk! Ahhh! Ahhhh! Enak, Sayang! Ohhhhh! Terussss! Sssshhh! Syaanggg! Sayang Baraaaa! Ohhhhhh!” begitu berisik desahan Dira. Untunglah ia refleks menutupi mulutnya dengan telapak tangan kiri kalau tak ingin membangunkan Aura dan menganggu aktifitas mereka yang sedang panas-panasnya. Posisi ini nyaman tapi kurang leluasa, akhirnya Bara bangun, dan menuntun Dira untuk nungging. Doggy style, tentu saja. Bara arahkan lagi kontolku ke memeknya dari belakang. BLESSSS!!! Batang panjang Bara kembali masuk ke liang surgawi Dira yang sudah sangat basah. Lubang hangat itu terasa lebih sempit ketika Bara tusuk dari belakang. Plok! Plok! Plok! Bara mulai menggenjot dengan tempo pelan. Kedua tsngannya memegang dan meremasi bongkahan besar pantat Dira. Seiring berjalannya waktu, pompaan Bara makin lama makin cepat. Bertenaga dan stabil. Maju-mundur. Tusukan setengah batang penis tiga kali, tusukan penuh batang penis satu kali. Praktis, ulah Bara yang demikian membuat Dira kelojotan. Pahanya mulai bergetar lagi. Sepertinya gelombang kedua akan segera datang. “Ahhhhh! Sayanggg! Ohhhhh! Sssshhh! Sssshhh! Genjottt! Genjot terus kimpetku, Sayanggg! Enak bangettt! Ohhhhh! Ohhhh! Terusss! Sayanggg!” Dira makin meracau setelah menerima sodokan kuat dari Bara. Begitu luar biasanya posisi doggy style. Bahkan kebanyakan wanita suka sekali posisi ini karena lebih mudah mencapai puncak. Tak lama, Bara merasakan remasan-remasan dinding vagina Dira. Pun tangan Dira yang mencengkeram kuat lengan Bara. Dira geleng-geleng sambil menoleh. Pinggulnya ikut maju-mundur tak stabil. “Ahhhhh! Sayanggg! Aku keluar lagiiii! Ohhhhhh!” Dira menegang, disertai getaran-getaran hebat di pinggulnya. Di saat itulah, Bara mencabut penisnya, dan … Serrrrrr! Serrrrrrr!

Crats! Crats! Crats! “Ughhhhhhhh!” lenguhan panjang Dira mengiringi semprotan orgasme bercampur squirt kali ini. Tubuh montoknya lemah, tengkurap di atas sofa putih yang basah keringat. Bara balikkan tubuh Dira hingga si wanita berdarah India itu telentang. Terlihat Dira ngos-ngosan setelah menerima orgasmenya. Wajah Dira yang biasanya terlihat dewasa, kalau sehabis mencapai puncak begini berubah jadi innocent. Bara beri jeda istirahat sambil membelai-belai vagina Dira yang basah kuyup. “Gimana? Dilanjut, Mbak?” Bara bertanya, dibarengi senyum iblis. “Ayo, masukkin, Sayang, jangan lama-lama.” Bara menekuk kedua kaki Dira, lalu Bara arahkan penisnya untuk memasuki liang senggama Dira. Terlebih dahulu Bara gesek-gesekkan di tengah-tengah vagina hingga klitorisnya agar nafsu Dira kembali menyala. “Baraaaa!” Dira merengek. Slebbb … blessss! Penis panjang berurat Bara kembali mengisi liang surgawi Dira. Sambil berciuman, Bara memompa dengan tempo sedang, karena vagina Dira sudah terlampaui becek Plok! Plok! Plok!

Crep! Crep! Crep! Bunyi khas dua insan yang tengah bersenggama santer terdengar saat Bara menggoyang penuh irama. Memaju-mundurkan pinggulnya secara cepat dan dalam porsi yang stabil. Begitu perkasa. “Ahhhh … ahhhhh … ahhhhh … Sayanggg … ahhhhh … ngilu, Sayang, ughhhh!” Dira mendesah serak. Bara percepat untuk segera menyelesaikan permainan ini. Lagipula, Bara sudah merasakan lonjakan sperma yang sedikit demi sedikit mulai terkumpul di moncong penisnya. Selain itu, Bara tak ingin berlama-lama karena tidak tega melihat Dira yang sudah lemas tapi masih tetap dengan desahan nafsunya. Semua itu demi menegaskan jika Dira ingin memberikan yang terbaik untuk Bara. Beberapa menit berlalu. Bara sudah merasakan laharnya yang hampir mencapai titik maksimal meronta-ronta ingin dikeluarkan dari dalam penisnya. “Ughhh! Mbakkk! Aku mau keluar! Ohhhh! Ohhhh!” Bara mendengus-dengus. Ia mempercepat genjotan. Sangat cepat. Hingga membuat kedua payudara Dira bergoyang-goyang tak tentu arah. “Ahhhh! Jangan dicepetin! Ahhhhh! Aku nanti keluar lagiiiii! Ahhhh! Sayangggg! Keluar, kan! Ahhhhhh! Keluarrr! Ahhhhh! Bara sayang!!” Dira balas mengerang dan mendesah-desah. Seperti sebelumnya, badan Dira kembali menegang. Matanya memutih dan mulutnya menganga. Nafasnya tertahan. Sampai … Serrrrrr! Serrrrrrr!

Crats! Crats! Crats! Air mancur deras keluar menyemprot kuat sampai ke lantai saat sedetik Bara mencabut penisnya dari dalam vagina Dira. Yang kemudian, dilanjutkan Bara yang bergerak cepat mengarahkan moncong torpedonya ke mulut Dira. Memasukkannya sendiri, dan langsung mendapat respon dari Dira. Dilahap dan dikulum kuat, dibarengi tangan Dira yang mengocok penis Bara dengan cepat. Sedetik …
Crot! Crot! Crot! Crot!​
Sperma putih kental bau pandan milik Bara muncrat memenuhi rongga mulut Dira. Dan tanpa disuruh, Dira menelan semua sperma Bara, lantas tersenyum ke arah si sableng dengan ekspresi nakal. “Manis, hihihi.”

9
Ronde Kedua​
Udara di luar semakin dingin. Alih-alih memakai baju untuk menghangatkan diri, Bara dan Dira memilih telanjang bulat tanpa sehelai benang sambil berpelukan. Mereka cudle ringan menikmati sensasi luar biasa pasca sama-sama menggapai puncak kenikmatan persenggamaan. Dira meletakkan telapak tangan di rahang Bara. Ia elus-elus lembut. Setelah itu, Dira merangkak naik untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Bara. “Kimpetku berasa sobek tau, Bar.” Dira pura-pura merajuk. “Tinggal di lem, apa susahnya?” Bara menjawab santai. Cubitan manja di pipi Bara, Dira daratkan. “Kamu kira pipa, bisa di lem segala? Huh!” “Hehehe. Mbak tambah cantik kalau udah keluar tsundere-nya.” “Hmm.” Dira kembali rebah di dada Bara. Ia tak mau Bara melihat pipinya yang semerah lobster hanya karena dipuji. Yang kemudian, Dira iseng memilin-milin puting kecil Bara. Sontak Bara menggeliat. Kegelian. “Hihihi. Kamu lucu banget, sih, Bar.” “Gak jelas. Awas, baper.” Bara mengingatkan, sambil mengelus pucuk kepala Dira. “Mana ada? Kamu tuh yang baper kali,” elak Dira. “Kalau nggak baper, mana mungkin aku masukkin burungku ke dalam sangkarmu, Sayang,” balas Bara dengan suara berat. “Ah! Diem, ah. Suaramu itu lho bikin panas dingin.” “Lagi, ya, Sayang?” Bara terus menggoda dengan memanggil Dira ‘sayang’. Semakin menegaskan jika Bara sungguh menginginkan si wanita India. “Nggak mau. Masih ngilu.” Dira cemberut. Bara diam. Kembali membalai punggung Dira. Hanya saling belai yang keduanya lakukan. Berikut hembusan nafas lelah keduanya yang aktif. Mulut mereka seakan tidak perlu digunakan jika bahasa tubuh sudah cukup menjelaskan jika mereka saling memanjakan satu sama lain. Bara yang suka meremasi pantat montok Dira, dan Dira yang ketagihan menetek di puting kecil Bara. “Bar.” Dira mendongak. Mendapati yang sedang terpejam. Elusan di pantat pun melemah. “Ih! Kok malah tidur, sih, Bar?” Bara memeluk tubuh Dira. “Berisik lho Mbak ini.” “Laper aku. Nyari makan, yuk!” “Tak tidur bentar. Ngantuk.” “Ihhhh! Nanti aja tidurnya abis makan!” Dira merengek. Meronta untuk bangun, lalu menarik Bara untuk bangun. “Dasar kebooo! Buruan!” “Haduh.” Mau tak mau Bara bangun. Mengekori Dira belakang, yang sebelumnya melihat dan memastikan Aura aman. Keduanya pun berjalan menuju kamar mandi. Ketika berjalan, gerlihat jelas di mata Bara perpaduan pinggul padat berisi beserta dua pantat lebar super montok Dira melenggak-lenggok, seolah menggoda Bara untuk meremasnya. Ngomong-ngomong soal jalan, kedua kaki Dira nampak lebar seperti pinguin saat melangkah. Bara yang gemas lekas mempercepat jalan. Menepuk dan meremas pantat Dira gemas. “Ih! Iseng banget, deh.” Dira membeo manja. Mempercepat jalan, lalu berlari sambil tertawa cekikikan. Bara tersenyum. Mengejar Dira yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi. Dengan bantuan cahaya lampu kamar mandi yang terang benderang, tubuh Dira dapat Bara telisik lebih jelas. Begitu sempurnanya ciptaan Sang Esa yang diturunkan ke muka bumi. Seolah wanita berdarah India ini terlahir dari pecahan bidadari bidadari surga. Tinggi berisi. Wajah cantik natural. Alis tebal. Mata lebar nan tajam. Bulu mata yang lentik. Bibir atas tipis, bibir bawah tebal. Kemudian, onderdil kebanggaan yang melekat di tubuhnya dari buah dada, pinggul, pantat, hingga liang vagina kelewat indah. Sungguh proporsional. Merasa ditelanjangi oleh mata cabul Bara, Dira yang berada di depan wastefel dan tengah bercemin, cepat menoleh. Senyum jenaka melengkung di bibirnya. “Gitu amat ngelihatinnya sampai melotot? Kayak nggak pernah liat cewek cantik aja.” Bara tergelak. “Apaan, sih? Aku kan lagi menikmati keindahan ciptaan Tuhan.” “Hush, jangan bawa-bawa Tuhan kalau masih ada nafsu di antara kita.” Bara mendekat. Memegang pinggang Dira, lalu membalikkan badan wanita itu. Keduanya bertatapan. “Kalau nggak ada nafsu, bukan manusia namanya.” “Apa? Kodok zuma?” “Ngawur. Kerang ajaib, tau.” “Hei, kerang ajaib. Bisa nggak manusia di depanku ini kamu jadikan koci-koci?” “Cuk. Kenapa ya cewek suka hubung-hubungin segala sesuatu ke makanan? Nggak bisa apa kalau otaknya di isi apa gitu? Yakult misalnya.” “Kalau nggak makan bisa mati, dong.” “Hm talah. Ngomong ae, tak jejeli manuk, lho.” (Hm talah. Bicara mulu, aku masuki penis, lho.) Bara menarik kedua pipi chubby Dira sampai merah. “Mau, dong!” Dira melumat bibir Bara buas. Agresif sekali. Lalu, ia cekikikan saat merasakan batang penis Bara mulai menegang. “Cieee! Ngaceng lagi dia, hihihi.” “Cuk, deh. Ayo cepet bersih-bersih, Mbak.” Bara menarik Dira yang tertawa-tawa sinting untuk menuju shower glass room. Sedikit melirik ke bawah. Keduanya pun mulai saling meraba tubuh satu satu sama lain di bawah guyuran water heater yang di setting hangat. Bara puas-puaskan mengerayangi setiap tubuh Dira berkedok menyabuni. Demikian pula dengan Dira yang bodohnya, ia baru sadar jika sosok Bara terlihat seksi di matanya. Wajah tampan beraura kuat. Tatapan tajam, buas, dan ganas. Tinggi menjulang bak tiang bendera. Pundak lebar nan kokoh. Dada bidang. Juga roti sobek berjumlah enam yang begitu menggoda. Dan yang paling utama, batang penis yang mulia layu namun terlihat besar meski dalam mode tidur, tak diragukan lagi mampu membuat menjerit-jerit keenakan. Mata Dira kembali menelusuri tubuh berotot Bara. Bodohnya, Dira baru menyadari sesuatu yang terlewat. Yaitu tato Bara. “Ya ampun! Aku baru sadar kamu punya tato sebanyak ini, Bar!” pekik Dira. Sejenak aktifitas Bara meratakan sabun cair di buah dada Dira terhenti. Ia memandang heran wanita di depannya ini. “Kok baru sekarang ngomongin tatoku? Wah, fiks kamu mabuk kecubung.” “Ih, bercanda mulu, deh. Tapi serius nih kamu udah tatoan di umurmu yang dua puluh aja belum?” “Seperti yang Mbak liat.” Bara menjawab, dan kembali melanjutkan aktivitas terlarang. “Ini tato asli, kan? Bukan temporer, kan?” “Iya.” Dira kian terpukau. Sudah jelas kehidupan keras telah banyak dilalui Bara. Bahkan Dira sangat yakin jika berbagai model tato di tubuh Bara memiliki arti mendalam. Inginnya bertanya lebih jauh perihal arti tato Bara, tapi Dira sadar jika Bara pasti tak nyaman kalau diusik masa lalunya. Seakan paham pikiran Dira hanya melalaui tatapan, Bara kembali berkata, “nanti aku ceritain kalau Mbak penasaran.” “Boleh, Bar?” “Buat wanita pertama yang menjadi teman tidurku di kota ini, boleh-boleh aja.” “Entah aku harus senang atau pingin menghajarmu sekarang.” “Justru aku yang akan menghajar Mbak.” Bara mengusap-usap vagina Dira dengan jemari tangan kanan. Yang anehnya, Dira melebarkan kedua paha. Seakan mempersilahkan pria penuh misteri di hadapannya ini untuk kembali mengeksplor dirinya. Kemudian, Bara memojokkan Dira di bawah shower. Air mengalir deras dari atas kepala mereka, sebelum Bara menambahkan, “Aku hajar pakai kontol maksudnya.” Dira mencubit puting Bara. “Ih, jorok omongannya. Nggak suka.” “Beneran nggak suka?” Bara memasukkan satu jari. Mengobel-obel vagina Dira yang mulai basah. Dikocok-kocok barang sebentar, Bara berhenti. Ia pandangi Dira yang matanya kembali sayu sambil menggigit bibir bawah. “Nungging, Sayang.” Bagai kerbau dicucuk hidungnya, Dira mengikuti perintah Bara. Ia balik badan. Punggungnya sedikit melengkung. Kepalanya menoleh ke belakang sambil memandangi wajah Bara, kemudian turun ke arah penis kekar yang entah sejak kapan sudah berubah menjadi mode tempur. Slebbbb … blessss! “Ahhhhhh!” keduanya mendesah kencang, saat di mana penis Bara kembali menerobos celah sempit milik Dira sampai mentok. Untuk kedua kalinya, Dira benar-benar takluk di bawah kendali nafsu penuh dosa. Dosa ternikmat. Plok! Plok! Plok! Bara mulai memompa. Sedang dan cepat. Kali ini bara gunakan teknik 2-1. Masalahnya mereka sedang doggy style. Hal yang paling disukai semua orang. Tak terkecuali Bara. Dengan posisi ini, Bara bisa leluasa menikmati setiap jepitan hangat nan menggigit dari vagina Dira. Pun, Bara bisa melakukan berbagai variasi rangsangan lagi untuk Dira. Plak! Plak! Plak! Dimulai dari telapak tangan kanan Bara yang menampari bokong semok Dira. Tiga kali tamparan sudah cukup meninggalkan bekas merah di sana. Dilanjutkan tangan kiri Bara menuju ke arah vagina Dira. Mencari klitoris wanira itu, lalu memilin dan menggosoknya ke kanan-kiri. Cepat. Secepat pinggul Bara menyodok vagina Dira yang semakin becek. “Ahhhhh … ahhhh … sssshhh … ohhhhh … ohhhhhh … Sayanggg … jangan cepet-cepet … ahhhh … ahhhhh … nanti aku keluar lagiiiii ….” Suara serak Dira terputus-putus. Desahannya manja terdengar. Bara mendengar, tapi tak berniat membalas ucapan Dira. Bara kian mempercepat pompaan. Hanya desah dan dengus nafas berat yang keluar dari mulut jahanam Bara. “Ugh, Mbak! Hmmm! Kimpetmu anget banget, Mbak! Kontolku berasa masuk ke kimpet perawan, nih! Ohhhhh! Ohhhhhh!” “Sayanggg … ahhhhh … ahhhhh … dalem banget masuknyaaaa … ahhhhh … sayangggg … aku nggak kuatttt … minggirrrr … udahhhh … aku muncrattt! BARAAAAA!” CRATS! CRATS! CRATS! Ada kiranya sebelas pompaan, badan Dira mulai merinding. Panas dingin. Vaginanya berkontraksi. Sebentar lagi. Ya, sebentar lagi Dira akan sampai. Saking nikmatnya genjotan batang besar Bara di vagina Dira, tangan wanita itu sampai tidak sadar mencakar-cakar tangan Bara. Wajahnya terdongak ke atas, seiring tsunami squirt super dahsyat menyemprot keluar. Penis Bara berasa diremas kuat sebuah cakram. Sedetik, Bara hentakkan kuat batangnya, lalu mencabutnya cepat. Semburan squirt Dira langsung menguar deras bagai tsunami kecil di tepi pantai. Cairan bening itu berhamburan ke mana-mana. Lantai basah kamar mandi menyamarkan air squirt Dira. Dira terkejang-kejang. Bergetar. Lenguhan Dira tertahan saat Bara kembali menjejalkan penisnya ke dalam vagina becek Dira. Nikmat. Ngilu. Lemas. Badan Dira hampir terjatuh. Namun, secepat capung Bara memegangi perutnya. Sekali lagi Bara memompa. Kali ini dua kali lebih cepat. Cairan squirt kembali keluar dari celah sempit vagina Dira, yang setiap Bara menarik panjang penis menyisakan kepalanya saja, cairan itu keluar. Bening. Bau bayclin. Dira mengalami multi-squirt. Rasa-rasanya seluruh persendian Dira kendur. Tulangnya berasa lunak. “Bara sayang … ohhhhh … kamu jahattt … aku kok diginiin … ahhhh … ahhhhhh … ini nggak boleh … ahhhhh … kamu nggak boleh ngentotin aku kayak … giniiii!” racauan Dira berubah melengking saat mendapati salah satu tangan Bara bergerak menyusuri buah dadanya. Memelintir puting dan menarik-nariknya. “Sayangggg … aku muncrat lagiiii … enakkkk … ahhhh … ahhhhh … aku lemes, Sayang, ahhhhh!” sambung desahan Dira. Pahanya terus-terusan bergetar. Berikut liang surgawi wanita berdarah India ini mengeluarkan cairan cintanya. “Hhhh … hhhhh … Mbak … ohhhhh … becek banget kimpetmu, Mbak, sssshhhhh … ahhhh ….” Bara mengerang-erang. Ia sendiri sudah sangat bernafsu dalam menggenjot dan memainkan kedua susu Dira bergantian. Menyerah. Dira hanya bisa pasrah sekarang. Desahannya pelan. Kadang diam sekadar menikmati perlakuan yang Bara berikan. Tak lagi Dira mampu berkata-kata. Persenggamaan ini tak bisa dilukiskan di kanvas putih. Sebab, warna yang ditorehkan terlampaui banyak. Tak hanya hitam dan putih, namun pelangi. Pelangi yang sesungguhnya. “Ughhh … Mbak … ssshhh … aku mau keluar, Mbak, sssshhh … ahhhh … kimpetmu enak … ohhhhh ….” “Hmm … keluarin aja, Sayang, ayo ya … ahhhhh … ngilu, Sayang, ahhhh … ahhhhh ….” Dira membalas lemah. “Dikeluarin di mana, Mbak? Ahhhh … ahhhh … Mbakkk … aduhhhh ….” “Di dalem aja … aku pengen … ahhhhhh … ngerasain pejumu … ayo, Sayang, nanti aku … ahhhhh … ahhhhh … nanti aku keluar lagi … ohhhhh … Baraaa ….” Secepat kilat, Bara merotasi tubuh Dira untuk ia gendong tanpa melepaskan ular liarnya dari dalam sangkar Dira. Memegangi kedua paha Dira agar wanita itu tidak terjatuh. Gelagapan Dira dengan apa yang Bara lakukan, ia memeluk Bara sambil kedua tangannya dikalungkan ke leher Bara. Berikut kedua kaki yang melingkar di pantat si sableng. Plok! Plok! Plok! Tanpa babibu, segera Bara memompa batang panjangnya, yang semakin mantap menusuk jauh ke dalam. Naik-turun. Bunyi peraduan antar kedua selangkangan santer terdengar merdu. Gelora nafsu tak lagi bisa terbendung. Baik Bara mau pun Dira sama-sama bergetar. “Sayang … hhhhh … ahhhh … ahhhhh … kamu ngapain? Ahhhh … aku ojok dingenekno … ahhhhh … matek aku, Sayang, ahhhh … tambah jeru kontolmu nang kimpetku … ahhhhhhh!” (Sayang … hhhhh … ahhhh … ahhhhh … kamu ngapain? Ahhhh … aku jangan diginikan … ahhhhh … mati aku, Sayang, ahhhh … tambah dalam penismu di vaginaku … ahhhhhhh!) Dira meraung-raung. Ikut berkontribusi dengan bergerak naik-turun berkolaborasi bersama sodokan maut batangan panjang yang mulai mengencang berkedut-kedut. “Mbakkk … Aku metu, Mbak, ahhhh … aku metu Nang kimpetmu, Mbakkk! Tak semprot kimpetmu ambek pejukuuu! Ahhhhh! Enakkk!” (Mbakkk … Aku keluar, Mbak, ahhhh … aku keluar di vaginamu, Mbakkk! Aku semprot vaginamu dengan spermakuuuu! Ahhhhh! Enakkk!) Bara mendesah-desah. Nafasnya kian memburu. “Ssshhh … Bara bajingannn … ahhhhh … aduhhhh … enaknyaaa … ahhhh … dasar kamu bajingan!” balas Dira dengan nafas tersengal-sengal. Lantas, Dira mencari bibir Bara. Setelah ketemu, Dira memagut dan melumatnya buas. Lidahnya liar mencari-cari lisah Bara. Tanpa mengendurkan tempo kocokan penis, Bara ikut membalas. Lebih ganas. Bahkan Bara lebih dulu menghisap lidah Dira. Dan sedetik … “AHHHHHHHHH!!!”
SERRRRRRR! SERRRRRRRR!

CROT! CROT! CROT! CROT!​
Desah panjang itu mengakhiri sesi ronde kedua. Dua cairan bertemu. Bersatu padu saat Bara menancap dan menghentak kuat penisnya di liang surgawi Dira. Begitu banyak semburan magma yang Bara keluarkan di dalam sana hingga mencapai rahim. Demikian pula multi-orgasme yang Dira dapatkan. Jantungnya berhenti berdetak untuk beberapa detik saat merasakan vaginanya tak berhenti mengeluarkan cairan cinta. Seolah menyambut ramah sperma kental nan panas yang datang untuk bersilaturahmi. Beberapa saat kemudian, keheningan tercipta. Hanya gemericik air yang berisik. Bara dan Dira masih meresapi sensasi bercinta di bawah guyuran shower hangat. Nafas mereka masih memburu. Nafsu mereka mulai reda. Tapi tidak dengan benda panjang yang rasanya masih tetap keras bagai kayu, serta vagina Dira yang menyedot-nyedot penis Bara. Lalu, setelah nafas keduanya mulai teratur … plop! Bara mencabut keris saktinya, yang kemudian ia lanjutkan untuk menurunkan tubuh Dira. Secara hati-hati, pastinya. Praktis, Dira langsung terduduk lemas. Ia pandangi ke arah kewanitaannya. Sperma Bara meleleh keluar dari celah vaginanya. Juga terlihat lubang vaginanya menganga lebar. Tak bisa Dira bayangkan jika Bara menjadi pasangannya kelak, ia harus merelakan vagina yang ia rawat dengan baik agar selalu sempit. Berhubung lawannya Bara, sudah jelas vaginanya akan melar. Bahkan jika beruntung, vagina Dira tak akan mengalami haid lagi. Yang justru benih-benih subur milik Bara bertemu selu telur menghasilkan mahakarya berupa janin. “Baraaa ….” Dira merengek. Cemberut baik anak kecil. Kedua tangannya terulur ke depan. Bara paham. Segera Bara membantu Dira untuk bangun. Bara memeluk Dira sambil menggelus-elus punggung wanita itu. “Maaf, ya.” “Nggak pa-pa, kok.” “Eh, kok nggak pa-pa? Aku minta maaf itu karena ngeluarin sperma di dalam kimpetmu yang becek itu.” “Ih, masih aja mesum.” Dira menguatkan pelukan. “Kalau jadi gimana?” “Kalau jadi ya kamu jadi bapak, dong.” “Waduh! Bahaya ini.” “Bahaya gimana? Mau enaknya, tapi nggak mau susahnya. Dasar semua cowok sama aja.” Dira ngambek. Ia berniat melepaskan pelukan, namun tertahan karena Bara mengencangkan pelukan. “Maksudku, bahaya kalau emang jadi beneran. Aku harus mengurus tiga bidadari sekaligus.” Pipi Dira merah merona. Ucapan Bara membuatnya meleyot. Bagaimana bisa si sableng ini mengatakan seolah-olah ia ingin Dira hamil dan melahirkan bayi perempuan? Bara sudah bilang sendiri kalau akan mengurus tiga bidadari. Yang dua sudah jelas Dira dan Aura. Dan yang satu adalah anak hasil kenakalan remaja di kamar mandi. “Don’t worry. Aku bakal tanggung jawab kalau memang itu terjadi.” Bara merenggangkan pelukan. Menatap dalam penuh kasih tepat di mata Dira yang tengah salah tingkah. Lantas, Bara tanpa permisi mendaratkan kecupan di dahi Dira, lalu berucap, “Indira Gandhi Divariyadi. Namamu seindah parasmu. Walaupun kamu baru saja mengalami hal buruk, aku nggak mau kamu bersedih. Karena sekarang, aku, Bara Geni, akan menjadi penjagamu. Penjaga Aura. Maka dari itu ….” Bara menjeda. Itu karena badan Dira tiba-tiba bergetar. Matanya berkaca-kaca. Ia menahan tangis. Masih diam, sekaan menanti Bara melanjutkan ucapannya. Bara tersenyum manis. Ketulusan ada di matanya. Ya, ini adalah senyum terindah seorang laki-laki yang pernah Dira lihat. Bara … pria misterius ini membuatnya gila! “Dira.” Bara menyatukan keningnya dan kening Dira. “Y-ya?” Dira gugup. Jantungnya berdebar-debar. Ia menanti dengan tefang ucapan yang akan terlontar dari mulut Bara kalau pemuda ini sudah memanggilnya nama tanpa embel-embel ‘mbak’. “Meskipun kita baru kenal, dan tentu saja belum saling memahami satu sama lain, izinkan aku berada di sampingmu dan Aura.” Dira terisak. Ia memejamkan mata sebentar, lalu memandang Bara. Tak ada raut konyol atau pun bercanda di sana. Entah apa maksud dari ucapan Bara, yang jelas Dira menangkap satu sinyal: mulai sekarang, Bara akan menjadi pelindungnya dan si tuan putri Aura. “Kamu tau jawabanku.” Dira menguatkan pelukan. Senyaman ini Dira dengan lelaki yang baru dikenalnya. Feeling Dira saat pertama kali Bara datang di Rantai Hitam tak meleset. Bara memiliki jiwa ksatria di dalam dirinya, terlepas dari wajahnya yang seperti penjahat. “Terima kasih. Kalau gitu, aku katakan satu hal dari awal untuk kamu ingat.” “Apa itu?” “Jangan melihat lelaki lain kecuali aku, kalau kamu nggak mau aku mencabut kedua bola matamu.” “Kamu cowok gila.” Dira terkekeh. Ucapan Bara sungguh the next level bucin tingkat hardcore. Juga melihat dengan mata kepala sendiri ketangguhan dan tak segan-segan dalam melukai bahkan membunuh orang lain, tak perlu lagi Dira pertanyakan kesungguhan hati si sableng. “Aku sayang kamu, Dira.” Ah, shit! Ini dia kalimat yang paling Dira benci. Bukan benci dalam arti sesungguhnya, tapi benci karena ucapan ini bisa membuatnya pingsan. Terlebih yang mengatakannya lelaki setampan dan seperkasa Bara. “Bajingan. Aku juga sayang kamu.” Bara mencubit pelan pipi Dira. “Bisa nggak kata-kata joroknya dibuang dulu? Suka banget merusak momen.” “Hihihi.” Dira cekikikan. Senang rasanya membuat kesal. “Iya, Bara sayang, Dira juga sayang Bara. Jagain Dira sama Aura. Jangan buat kita nangis, ya.” “Kalau buat menjerit, boleh?” “Tuh, kan! Ih! Bara mah yang suka ngerusak momen.” Dira membeo manja. Bara tertawa saja melihat Dira yang begitu menggemaskan kalau sudah manja. Sisi lain wanita yang sudah lama tak Bara lihat. “Ehm … Bara.” Dira memanggil, malu-malu. “Kenapa, Sayang?” “Bo-boleh nggak Dira minta digituin lagi?” Alis Bara terangkat satu. “Digituin?” “Ih! Bara sengaja mancing Dira buat ngomong yang jorok-jorok, ya?” todong Dira. “Bukan gitu. Maksud kata ‘digituin’ itu kan banyak. Kamu minta dicium bibirnya, atau diisep nenennya, atau jangan-jangan kamu minta dientotin memeknya?” goda Bara, menohok. Bibir bawah Dira maju, sambil mencicit, “Ih! Tuh, kan! Kok Bara ngomong memek, sih? Dira nggak suka pakai kata itu, ah. Terlalu vulgar, tau.” “Pussy, gimana?” Dira menimang-nimang, lalu mengangguk lucu. “Tidak buruk.” “Oke. Ronde ketiga?” Dira menaik-turunkan kedua alis sambil kedua bibirnya membentuk senyum tertahan. “Kalau kamu masih kuat, sih.” “Bersiaplah nggak bisa jalan seminggu, Sayangku!”