Jagat Arcapada: Penyihir Putih

Sinopsis​
Kedua kaki Theo terbakar dan terancam cacat. Di sisi lain, keadaan Ryan lebih darurat, yakni membutuhkan donor jantung. Sedangkan Agnia berusaha mati-matian agar bisa menyelamatkan kaki Theo, namun di saat yang bersamaan gadis itu juga mencarikan pendonor jantung untuk Ryan. Sayang seribu sayang, usaha Agnia belum menemui titik terang karena luka di kaki Theo semakin parah dari hari ke hari. Sementara Ryan tidak ada yang sudi untuk menolongnya. Garis takdir hanya Dewata yang tahu. Tanpa Agnia sangka sebelumnya, ia mendapatkan donor jantung yang merupakan tanda cinta untuknya … donor jantung dari seseorang yang sudah lama mencintainya, dan tidak mampu melihatnya larut dalam kesedihan terlalu lama. Dan seseorang itu adalah ….

Hujan sore itu tumpah di hamparan hijau Bumi Majapahit. Sunyi, mati suri. Seorang gadis dengan mata sembab mencoba melangkah ke suatu tempat di mana kesunyian ini terjerembab. Derasnya hujan pun hanya menambah kehampaan su gadis yang sedari tadi berdiri mematung memandang pohon-pohon hijau yang pemandangannya begitu suram. Gadis itu … gadis berparas menawan dalam balutan rambut berwarna merah seperti bunga mawar yang bermekaran Indah kala musim semi. Kulitnya putih bersih, matanya merah menyala laksana batu miradelima yang mengkilap di bawah terang rembulan. Gadis itu, Agnia Samara Tunggadewi, berdiri tegak di atas Menara Eyang Brawijaya. Wajah cantiknya sembab dikarenakan deras air mata yang mengaliri pipinya entah berapa lama. Pikirannya berkecamuk, dalam hati kecil gadis itu meratap pilu … mengapa hal ini terjadi dalam hidupnya? Ya, hidup memang banyak sekali rintangan, instrumen kehidupan yang setiap orang pasti pernah merasakannya. Terjatuh ke dalam jurang kehampaan … menunggu datangnya sebuah cahaya untuk menariknya keluar dari sana. Namun, rintangan seperti ini tak sanggup Agnia lewati tanpa kehadiran seorang pemuda … seorang pemuda yang sangat dicintainya … yang sudah teramat terlambat digapainya karena plin-plan dan termakan kebodohannya sendiri. Akan tetapi, bukankah sebuah kewajaran bola seorang gadis menjadi plin-plan untuk menentukan apa yang sebenarnya terbaik untuk dirinya sendiri? Dan pada akhirnya, toh Agnia telah memutuskan untuk menyatakan perasaannya. Hanya saja, ia tak menyangka hal seperti ini akan terjadi … dirinya yang ia cinta telah pergi.

 

***​
Kerajaan Majapahit Satu bulan yang lalu … Agnia berlari di koridor rumah sakit. Rumah Sakit Kerajaan Majapahit -yang baru saja selesai dibangun- telah memperlihatkan kesibukannya. Penyerangan skala besar oleh kelompok ekstrimis yang menamai kelompok mereka Ranggalawe ke Kerajaan Majapahit tiga bulan yang lalu memang telah memporak-porandakan bangunan-bangunan penting yang ada di sana. Tak pelak rumah sakit -yang biasanya merawat para penyihir yang terluka atau rakyat sipil yang membutuhkan perawatan medis- ikut hancur karena penyerangan tersebut. Tapi setidaknya, seorang pahlawan telah berhasil menghentikan pembantaian itu. Pahlawan itu adalah si Penyihir Putih, Theodore Wirabhumi. Tentunya semua orang telah mengenal siapa sosok pahlawan ini. Ya, pemuda yang dikenal dengan julukan Knight of Disaster itu telah menyelamatkan Majapahit dari ambang kehancuran. Awalnya, rakyat Majapahit membencinya selalu memandang si Penyihir Putih dengan tatapan hina, kejam, sinis, dan dingin. Tahu mengapa? Karena seekor Beast Divine Spirit yang tersegel bersemayam di dalam tubuhnya. Beast Divine Spirit atau lebih dikenal dengan Roh Binatang Suci yang 17 tahun lalu telah meluluh-lantakkan Kerajaan Majapahit dan membawa awan bencana bagi penduduknya. Semua orang baik para penyihir maupun non penyihir merinding jika disebut namanya karena saking menakutkannya Roh Binatang Suci tersebut. Walaupun begitu, tetap saja penduduk sekitar justru menyebutnya iblis. Sungguh menggelikan. Beruntung, Raja Kerajaan Majapahit yang terkenal arif bijaksana berhasil menyelamatkan kerajaan dari ambang kehancuran dengan menyegel Roh Binatang Suci tersebut ke dalam seorang bayi. Bayi mungil nan menggemaskan itu bernama Theodore Wirabhumi. Seorang jabang bayi berjenis kelamin laki-laki dengan rambut putih kecoklatan. Sang Raja ingin anak tersebut dianggap pahlawan, mengingat berkat bayi itulah beban tanggung jawab besar seekor iblis kejam dan bengis tersegel di dalam dirinya. Sudah jelas bukan jikalau orang lain takkan sudi mengemban beban besar ini. Oleh karenanya, bayi itu yang tak lain adalahnya anaknya sendiri yang ia korbankan sebagai sarana penyegelan, alias wadah. Hanya segelintir orang saja yang mengetahui kalau Theodore Wirabhumi adalah anak kandung dari Sang Raja bernama Abimanyu Bamantara bergelar Bhre Wijaya IV. Seiring berjalannya Sang Waktu, benang merah takdir kehidupan berkehendak lain. Bayi yang sudah menjelma menjadi seorang bocah yang tersegel iblis dalam perutnya itu malah dibenci oleh seluruh penduduk Kerajaan Majapahit. Mereka menganggapnya sebagai kutukan dari Dewata yang sewaktu-waktu bisa mendatangkan malapetaka. Tetapi, bukan Theodore Wirabhumi namanya jika ia menyerah. Tekadnya yang bulat untuk kelak bermumpi menjadi seorang raja membuatnya termotivasi. Pemuda itu sangat mencintai Majapahit melebihi apa pun di Jagat Arcapada ini. Ya, meskipun penduduk kerajaan ini pada awalnya tidak menaruh respect padanya. Theo, panggilan akrabnya. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya benar-benar ada dan bisa berguna. Sampai pada suatu kesempatan, Theo berhasil memperlihatkan kapasitas serta kapabiltasnya sebagai seorang penyihir yang mumpuni sakabehing laku. Dengan demikian, penduduk kerajaan telah menganggapnya sebagai seorang pahlawan, berharap suatu hari nanti sang pahlawan muda dapat menjadi raja, menaungi dan membawa kejayaan untuk kerajaan ini. Oleh sebab itu, para penduduk memberi Theo julukan Penyihir Putih, yang artinya akan membawa Kerajaan Majapahit mencapai zaman keemasan. Bukan hanya Majapahit saja, namun seluruh wilayah Kekaisaran Jawadwipa akan menjadi mercusuar Jagat Arcapada. Namun, hambatan dan rintangan tentu saja selalu menyertai. Seorang Theo sekali pun tidak mungkin bisa melewati ini seorang diri. Itulah mengapa Theo membentuk sebuah tim. Tim yang diproyeksikan untuk menghancurkan angkara murka empat pilar keseimbangan Jagat Arcapada. Tapi sayangnya, untuk kali ini Theo terbaring lemah di salah satu ruangan yang ada di rumah sakit. Sudah tiga minggu lamanya Theo berada di tempat membosankan ini. Matanya satu setengah tertutup menahan silaunya sinar matahari yang masuk melalui celah jendala ruangan di mana ia dirawat. Bau rumah sakit yang khas membuat Theo ingin cepat-cepat keluar dari sana. Sungguh, Theo ingin segera merasakan hangatnya sinar mentari, indahnya burung berkicau menyambut datangnya pagi, dan semerbak wangi bunga mawar yang tumbuh di sekitar Kompleks Trowulan. Ah, rindu sekali dirinya dengan pemandangan itu. “Seindah dirinya ….” Theo berkata lirih. Pemuda itu tersenyum tipis, dalam hatinya ia rindu sekali dengan seseorang. Karena seseorang itu sedari kemarin tak mengunjunginya. Sejenak, Theo memejamkan mata. Hingga … Cklek! “Theo!” sekelebat warna merah muncul dari balik pintu ruangan di mana Theo dirawat. Theo memalingkan wajah ke arah sumber suara. Seseorang yang Theo tunggu akhirnya menampakkan batang hidunfnya juga. “Agnia.” Balas Theo sembari tersenyum lemah. “Selamat pagi,” sapa Agnia membalas senyuman Theo. Ditutupnya pintu, melangkah santai ke arah Theo. “Selamat pagi.”

Theo hendak bangun dari tempat tidurnya. Namun sedetik, Agnia buru-buru menahannya. “Kau berbaring saja, Theo, lukamu belum sembuh benar,” tegurnya lembut. Theo hanya mengangguk. Patuh. Kembali berbaring ke tempat tidurnya. Agnia duduk di bagian celah tempat tidur yang kosong, digenggamnya tangan kanan Theo secara perlahan dengan tangan kiri. Theo menatap Agnia dengan penuh rasa cinta. “Ke mana saja kau akhir-akhir ini, Agnia? Aku jarang melihatmu,” tanyanya setengah berbisik. Air muka Agnia yang awalnya ceria, tiba-tiba berubah menjadi sendu. Theo belum pulih sepenuhnya, batinnya. Suara Theo terdengar parau di telinga Agnia. Padahal, hanya kedua kakinya saja yang luka berat, namun dampaknya sampai ke kondisinya juga. Hal inilah yang membuat Agnia semakin galau. Lagi dan lagi ia merasa tidak berguna. Sebisa mungkin Agnia menyembunyikan kesedihan penuh gelisah. Ia tak ingin Theo mengetahuinya. Karenanya, Agnia memberikan senyuman palsu ke arah Theo. “Aku ada urusan sebentar ke Kerajaan Kediri, jadi tiga hari kemarin aku tidak sempat mengunjungimu. Aku juga baru saja tiba.” Suara Agnia datar, tapi sedikit bergetar. Theo menyadari hal itu, pun senyuman palsu Agnia yang dia berikan pada dirinya. Theo mengabaikan. Mencoba berpikir positif. Ia tak ingin berburuk sangka. Barangkali Agnia kelelahan setelah perjalanan yang melelahkan dari kerajaan yang terkenal akan sihir Black Magic Art. Sejurus, Theo menghirup nafas perlahan. “Begitu rupannya. Ada urusan apa kau sampai pergi ke sana, Agnia? Jangan bilang kau ….” Agnia tercengang, dalam hatinya, haruskan aku berbohong? Tapi aku tidak mungkin memberitahukan Theo perihal kedatanganku ke Kediri. “Agnia, kau tidak apa-apa?” Theo membuyarkan pikiran Agnia yang sedang kalut. Sedetik, Agnia kembali ke alam sadarnya. Mau tak mau Agnia harus berbohong. Lagi. Ia tak ingin mengatakan kebenaran pada Theo. “Ya, aku tidak apa-apa, Theo. Hanya sedikit lelah. Aku hanya mengantar dokumen aliansi ke Kerajaan Kediri. Dan Kak Mira menyetujuinya,” jelasnya, “oh iya! Ngomong-ngomong soal Kak Mira, dia menitipkan bunga ini untukmu.” Agnia memperlihatkan bunga mawar biru dari Mira yang ia genggam di tangan kanan. Theo melihatnya sekilas, terlihat bunga itu asli, bukan bunga sihir yang identik dengan ciri khas sihir si pemberi bunga. Kendati demikian, menurut Theo bunga asli ataupun bunga sihir -yang pernah Mira berikan padanya dulu- sama-sama indah. Gusti Ayu Mirajane. Seorang wanita yang enam tahun lebih tua dari Theo, adalah salah satu mantan anggota Ranggalawe, yang tak lain musuh seluruh penyihir se-Jawadwipa. Dan karena suatu alasan, Mir berhenti dan balik memerangai Ranggalawe. “Kak Mira mengharapkan kesembuhanmu.” Agnia berkata pelan. Lantas, Agnia bangkit dari duduknya. Meletakkan bunga itu ke dalam vas bunga yang telah ada di ruang Theo dirawat. Vas bunga itu sendiri cukup besar untuk delapan kuntum bunga mawar. Theo tersenyum tipis. Delapan kuntum bunga mawar. Theo jadi teringat bahwasanya angka itu adalah angka keberuntungannya. Angka delapan adalah simbol infinity … sebuah simbol jikalau seorang penyihir akan selalu ada untuk melayani mereka yang membutuhkan hingga akhir dunia. Bentuk mawar yang melingkar ke bawah melambangkan bumi, sedangkan yang melingkar ke atas melambangkan langit. Serta merta Agnia mengatur letak bunga itu dengan rapi, lalu kembali duduk di posisi semula. Theo hanya tersenyum kecil. Sepertinya untuk tersenyum lebar saja sangat sulit ia lakukan, mengingat kondisinya yang belum pulih. Agnia meringis dalam hati. Ia ingin melihat Theo tersenyum seperti sediakala, penuh percaya diri, dan selalu memberikan vibes positif ke sekelilingnya, serta senyuman tulus yang membuat siapa saja menjadi bersemangat. Agnia benar-benar merindukan akan hal itu dari sosok yang terbaring di dekatnya. “Agnia, bagaimana keadaan Ryan? Apa ada perkembangan?” tanya Theo, mengubah topik pembicaraan. Cepat atau lambat, Agnia tahu betul Theo akan menanyakan hal ini padanya. Haruskan Agnia katakan yang sebenarnya pada Theo? Haruskan Agnia katakan pada Theo kalau Ryan tidak ada lagi memiliki harapan untuk hidup? Dan haruskah Agnia katakan jikalau sebenarnya ia pergi ke Kerajaan Kediri bukan hanya sekedar mengantar dokumen aliansi saja, melainkan mencari pendonor jantung untuk Ryanata Jayadrata Amurwabhumi yang terasa sangat sulit bagi Agnia? Pengkhianat kerajaan yang meninggalkan kerajaan dan teman-temannya hanya karena ambisi dengan latar belakang dendam semata, bekerja sama dengan Ranggalawe untuk menangkap wadah dari salah satu Beast Divine Spirit, Hydra. Juga menyerang pertemuan para raja, tak ketinggalan membuat kekacauan di kerajaan-kerajaan kecil untuk menarik perhatian jika ia ada dan siap menjadi ancaman dunia. Kesalahan-kesalahan yang membuat banyak orang mengecapnya sebagai penyihir kriminal papan atas. Kalau sudah begitu, adakah yang rela mendonorkan jantung mereka secara cuma-cuma untuk seseorang yang di tangannya berlumuran darah dan bergelimang dosa? Apa peduli dunia kalaupun seseorang itu mati? Namun, rasa cinta yang besar membuat seorang Afnia rela mencari pendonor jantung untuk cinta pertamanya. Cinta yang sampai ini tak terbalaskan. Miris memang, keturunan terakhir trah Amurwabhumi itu tidak pernah membalas cinta Agna. Ryan selalu mengatakan bahwa Agnia adalah gadis menye-menye, lemah, dan tidak berguna. Akan tetapi, di pertarungannya beberapa waktu yang lalu dengan Ryan, membuat Agnia cukup bangga, karena bisa memperlihatkan pada Sang Demon Slayer itu kalau dirinya bukanlah gadis labil yang dikenalnya. Agnia hanya ingin Ryan kembali seperti Ryan yang ia kenal dulu. Karenanya, Agnia tidak ingin menyerah begitu saja. Gadis itu berkeliling mengunjungi seseorang yang rela mendonorkan jantungnya untuk Ryan. Sayang sekali, pada akhirnya orang sekarat pun yang ditemuinya tidak ada yang mau melakukan hal itu. “Dia tidak pantas untuk hidup! Mending tuker tambah sama kambing!”

“Harusnya biarkan saja dia mati, Ning!”

“Pengkhianat tak pantas mendapatkan kehidupan! Neraka pilihan yang tepat!”

“Udah mending nyerah aja! Mending Ning open BO lebih berguna!” Begitu ucap mereka kasar, hati Agnia tercabik-cabik. Sakit hati atas perkataan orang-orang yang ditemuinya. Belum lagi dengan keadaan Theo yang seperti ini. Agnua ingin menyelamatkan kedua temannya dan tidak mau kehilangan seorang pun. Agnia akan selalu berusaha untuk mencari jalan keluar mencari cara agar dia dapat menyembuhkan luka kedua temannya. Ryan dalam keadaan kritis di mana pemuda itu membutuhkan transplantasi jantung untuk kelangsungan hidupnya. Di sisi lain, memang keadaan Theo dari hari ke hari semakin membaik, tetapi luka bakar di kakinya tak kunjung sembuh dan terancam diamputasi apabila dalam kurun waktu satu minggu tidak bisa ditemukan obat yang bisa menyembuhkannya. Black Fire Magic Art dengan mantra Annihilate yang dikeluarkan oleh Panji Amurwabhumi -sang pemimpin Ranggalawe- telah membuat kedua kaki Theo lumpuh total. Agnia berusaha semaksimal mungkin agar kedua temannya bisa kembali sehat seperti sedia kala, tidak ada cacat satu pun. Sebagai seorang penyihir medis, Agnia tahu apa yang seharusnya ia lakukan. Lalu, Agnia merenung. Sekelebat bayangan masa lalu tiba-tiba datang menghampiri. Memanggilnya untuk mengulang sekali lagi kejadian kala itu. Masih teringat di benaknya, saat di mana kedua temannya berusaha saling membunuh satu sama lain.

Flashback dalam flashback
Tiga minggu yang lalu… Theo dan Agnia didampingi oleh sang Kapten -Adam Wirayudha Amangkubhumi- akhirnya bertemu lagi dengan cucu Ken Arok, yaitu The Last Amurwabhumi, Ryanata Jayadrata Amurwabhumi. Dilihatnya oleh mereka penampilan Sang Demon Slayer itu yang sekarang masih tidak jauh beda dari penampilan pemuda itu seperti waktu dulu. Namun, pada akhirnya mereka mengerti, Ryan yang sekarang bukanlah Ryan yang dulu. Hal itu bisa dilihat dari perubahan Dwinetra Ryan yang semakin gelap penuh amarah dan kebencian. Agnia meringis dalam hati. Ryan yang ia cinta telah berubah menjadi orang tidak kukenal. Yang Agnia tidak habis pikir adalah seorang Ryan hampir membunuhnya tiga kali, tapi beruntung Theo selalu menyelamatkan dirinya tepat waktu. Kali ini … Agnia melihat dua orang temannya itu saling berhadapan satu sama lain dengan tatapan membunuh. Aura yang dipancarkan kedua sahabatnya itu seakan mengisyaratkan kalau mereka berdua tak ingin diganggu barang sedikit pun. “Apa yang kau lakukan pada Agnia, bajingan?! Bukankah dia anggota Tim ART, sama seperti kau dan aku?!” Theo menatap tajam Ryan seraya mendekat ke arah sang pemilik Dwinetra. Ryan berkacak pinggang. Sikapnya cenderung santai, terlihat dari wajahnya jikalau tak ada rasa penyesalan atas apa yang telah ia perbuat, sebelum berkata, “Menyerahlah. Aku bukan anggota Tim ART lagi! Bagiku, tim badut ini sudah lama mati! Apa kau masih tidak mengerti, bangsat?” sambil memandang sinis Theo seiring intonasinya penuh penekanan, seakan tidak peduli. Theo manggut-manggut. Urat di dahinya berdenyut, masih mencoba menahan amarah. “Begitu rupanya. Memang benar kau telah berubah. Rasanya aku tidak mengenal dirimu yang sekarang berhadapan denganku. Sepertinya memberikan pencerahan kepadamu pun akan percuma.” “Hm, dan bagiku kau tetap seperti orang kurang ajar yang selalu ikut campur urusan orang lain,” desis Ryan, setengah geram. Theo tertawa kecil. Agnia heran melihat tanggapan Theo terhadap sindiran Ryan. Di saat tegang seperti ini, Theo masih bisa tertawa, menganggap ucapan Ryan hanyalah sebuah lelucon. Nyatanya, dari apa yang Agnia lihat, tidak ada maksud Ryan untuk melawak. “Berhenti bercanda, sialan. Misimu sangat mustahil untukku. Tidak, tapi untuk kita semua!” Ryan yang kalem langsung naik darah. Ia membentak, intonasinya kian meninggi. “Jika kau berniat mengalahkan empat pilar, maka lanjutkanlah tidurmu, brengsek!” Ya, seorang Ryan sangat memahami betul keegoisan mantan rekannya. Bagaimana mungkin bocah-bocah bau kencur ini berniat melawan kumpulan manusia setengah dewa dengan kekuatan di luar nalar? Tidak mungkin bisa! Sebagai contoh kecil, pilar yang memiliki peringkat paling rendah, yaitu Sapta Naga Pancayasa, yang beranggotakan tujuh pendekar pedang di Jagat Arcapada. Sapta Naga Pancayasa atau yang lebih dikenal dengan julukan The Legions ini masing-masing anggotanya membawa pedang keramat dan memiliki Divine Ability, atau Kemampuan Dewata. Sulit dan taruhan nyawa, bahkan satu tahun lalu ketika Tim ART masih bersama, Ryan sangat memahami betul bahwasanya perbedaan kemampuan The Legions dengannya bagai langit dan bumi. Pertemuan mereka dengan salah satu pilar itu pun tak terelakkan. Menimbulkan gejolak perang yang hampir meratakan Kerajaan Kalingga. Oleh karenanya, Ryan memutuskan untuk hengkang dan bergabung dengan kekuatan yang lebih besar dibanding dengan timnya saat itu. Karena tujuan Ryan hanya satu, dan itu hanya dirinya sendiri yang tahu. Di sisi lain, Adam lebih peka. Ia menyadari bahwa Theo sedang berusaha menahan diri, kendati pancaran aura Theo semakin menguar kuat. “Untuk yang satu itu, kau tidak pernah berubah, Ryan.” Theo menimpali santai. Air mukanta begitu tenang, setenang air berlumpur yang tak bergeming sekalipun dilempari batu. Pemuda itu melanjutkan kata-katanya, “sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk kita menyelesaikan semuanya. Bukankah begitu?” Ryan masih belum mengerti maksud perkataan Theo. Gaya bicara dan kata-kata yang Theo lontarkan layaknya teka-teki yang kalau diterka mungkin tak satu iblis pun tahu apa maksudnya. Salah satu penyihir muda terkuat, berbakat, sedikit freak, dan kadang sukar dipahami. Memang itulah julukan yang disematkan pada diri seorang Theodore Wirabhumi. “Aku katakan sekali lagi … BERHENTI MENGURUSI URUSANKU, BANGSAT!!!” Ryan murka dengan suara bergetar. Darahnya mulai mendidih. Aura kegelapan sangat kentara dipancarkan olehnya. Ryan mulai kehilangan kesabaran. Ia maju satu langkah, mengambil aba-aba untuk menyerang Theo. Namun, sang joker -Panji Amurwabhumi- yang entah sejak kapan berdiri di belakang Ryan, menghentikan tindakan gegabah si pemuda berwajah kalem. “Hentikan. Kau kelelahan. Sebaiknya kita mundur dulu. Setelah mana-mu pulih, aku tidak akan mengusikmu melawan wadah Naga Besukih itu. Lagipula … dia target kita.” Walau sangat ambisius, sang Kapten Ranggalawe tidak ingin Ryan kalah dalam pertarungan kali ini. Karenanya, ia memerintahkan Ryan untuk mengurungkan niat bertarung. Bagaimanapun juga, Ryan adalah kartu AS milik Panji untuk rencananya di kemudian hari. Rencana yang lebih besar. Dan jika semuanya berjalan sesuai kehendan Panji, Ryan akan menjadi satu-satunya kunci utama dalam penaklukan Jagat Arcapada di bawah bendera Ranggalawe. “Ryan, aku akan menghentikanmu kali ini.” Tiba-tiba, entah iblis dari mana datangnya, Theo berkata tenang namun mengerikan. Suaranya begitu lembut sekaligus tegas. Ia mencoba memecahkan ketegangan yang sedari tadi membungkus daerah di mana mereka berpijak. Menara Eyang Brawijaya. Ya, ini adalah lokasi yang cukup strategis untuk baku hantam. Hanya saja, ini adalah tempat bersejarah, sebisanya jangan sampai terjadi pertarungan yang tiada guna, apalagi sampai merenggut nyawa. Seperti pepatah kuno: menang jadi arang, kalah jadi abu. Ryan mengangkat sebelah alis. “Apa maksudmu, Theo?” tanyanya dingin. Theo mengambil nafas sejenak. “Kali ini kita akan bertarung sebagai penyihir kelas S. Sebagai lawan yang seimbang, aku akan melawanmu dengan segenap kekuatanku. Aku pikir menghajarmu sekarang bukan ide yang buruk.” Agnia khawatir melihatnya, apa yang sebenarnya Theo rencanakan? Semoga saja bukan rencana gila seperti yang sudah-sudah. “Aku katakan sekali lagi.” Theo menarik nafas sejenak, lalu menghembuskannya pelan. “Kembalikan Badong Tohjaya padaku. Jangan membuatku mengatakan ini dua kali.” Ryan menggigit bagian dalam pipinya. “Mustahil. Aku tetap berkata tidak.” Theo tersenyum tipis. “Hahhh … pada akhirnya kita akan saling bunuh dan masuk ke dalam jurang kematian … lalu tidak ada lagi yang bernama Amurwabhumi ataupun Wirabhumi. Kau dan aku kali ini akan mati bersama, Ryanata Jayadrata Amurwabhumi!” Sebuah perbedaan dan sudut pandang cara berpikir. Hanya karena satu buah benda peninggalan leluhur Kerajaan Kediri yaitu Badong Tohjaya, badong emas murni yang dibuat langsung oleh seorang empu terkemuka di masa lampau, membuat dua orang remaja saling bergesekan. Jika Theodore Wirabhumi memutuskan untuk menyerahkan badong itu untuk dikelola di Museum Kerajaan Majapahit, berbanding terbalik dengan Ryanata Jayadrata Amurwabhumi yang ingin menggunakan Ability dari badong itu untuk menghidupkan kekasihnya yang telah lama meninggal. Sungguh miris. Agnia dan Adam terperanjat kaget. Keduanya memperhatikan dengan seksama raut wajah Theo yang mulai menegang, namun masih terlihat ketenangan dari wajahnya yang diselimuti oleh sebongkah emosi jiwa, yang Agnia tahu … membara dari dalam raganya. Begitulah Sang Penyihir Putih. Selalu percaya diri dan tidak pernah ragu-ragu untuk memutuskan sesuatu. Ryan memandang Theo sinis. Ia malas berkomentar. Sepertinya ia tahu perkataan Theo belum mencapai titik akhir. Maka dari itu, pemuda dingin itu membiarkan saja mantan temannya melanjutkan perkataannya. “Persiapkan nyalimu, sialan!” seru Theo berapi-api. Adam tiba-tiba mengiterupsi, tidak setuju akan pernyataan Theo. “Cukup, Theo! Ryan adalah tanggung jawabku! Kalau kau mati, siapa yang akan memimpin Majapahit? Ha? Bukankah menjadi raja adalah cita-citamu?” Adam bertanya menohok. Theo menggeleng cepet, lalu memandang Adam. “Bagaimana bisa aku menjadi seorang raja kalau sahabatku saja berada di jalan yang salah, Kapten?” seraya menatap serius sosok Adam yang tinggi menjulang. Sial, dia benar-benar serius! Adam menggerutu dalam hatinya. Di sisi lain, Agnia hanya bisa menggigit bibirnya sendiri. Diam membisu memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan untuk menghentikan kedua temannya. Karena … keduanya sangat berarti bagi dirinya. Yang satu adalah cinta pertamanya, dan yang satu lagi cinta … eh, Agnia tercengang, a-a-apa yang sedang aku pikirkan?! Agnia menatap Theo bingung. Ia mulai ragu akan perasaannya terhadap Sang Penyihir Putih. Theo adalah teman dekatnya, namun ia tidak mengerti perasaan apa yang mengisi relung hatinya saat ini. Jantung Agnia berdegup kencang laksana ombak yang berlomba-lomba menggulung tubuhnya sendiri untuk sampai ke tepi pantai. Patah hati, mungkin begitu Agnia mengartikannya. Apa Agnia mulai mencintai sosok Theodore Wirabhumi? Agnia tahu betul jika Theo memendam perasaan melebihi kata ‘teman’ terhadapnya. Sebelumnya, Yami Dirgantara -anggota baru Tim ART- telah mengatakan langsung padanya bahwa Theo sangat mencintai Agnia. Hanya saja, Agnia tidak tahu apa perasaan Theo masih sama terhadapnya seperti dulu atau tidak, karena Agnia baru menyadari … kesalahannya. Kesalahan fatal! Agnia telah memanfaatkan perasaan Theo dengan berbohong padanya. Pengakuan palsunya memang membuat Theo marah dan mungkin menganggapnya sinting. Tapi demi Dewata, bukan maksud Agnia untuk menyakiti perasaan Theo. Semua itu Agnia lakukan hanya untuk menghilangkan beban Theo, yang ia tahu karena dirinya, alasan untuk semua tindakan Theo. Yaitu … janji seumur hidup Theo pada Agnia yang membuatnya hidup dalam lingkaran kutukan tiada akhir. Niat Agnia hanya ingin mengurangi beban Theo saja, oleh karena itu, ia ingin membunuh Ryan dengan tangannya sendiri. Sesederhana itu. Tapi nyatanya, cinta pertama memang sulit untuk dilenyapkan begitu saja, bukan? Agnia tak sanggup. Sungguh tak sanggup untuk membunuh Ryan, sang pangeran hatinya, pujaannya yang selalu ada dalam setiap mimpi-mimpi malamnya. Gemerlap bintang yang bertaburan Agnia umpamakan sebagai Ryan yang tiap malam ia pandangi hanya untuk sekedar melepas kerinduan. Cintanya yang besar kepada Ryan telah membutakannya untuk melihat sebuah realita pahit. Agnia merasa bodoh dan tak punya arti. Lagi-lagi Agnia merasa tak berguna, kenapa pula ia tidak bisa tegas dalam menentukan sesuatu? Kali ini, Agnia gagal melaksanakan misinya sendiri, dan lagi-lagi Theo yang mengambil alih tampik nahkoda. Dan lebih parahnya, Theo memutuskan untuk mengorbakan dirinya sendiri, mengesampingkan cita-cita besarnya untuk menghentikan lingkaran kebencian yang merasuki benak sang sahabat. Tetesan air hangat perlahan-lahan jatuh ke pipi Agnia. Gadis itu tertunduk lesu. Menangis melihat pemandangan yang menyayat hati di depannya. Agnia tidak ingin kehilangan keduanya. Agnia tidak dapat hidup tanpa mereka yang selalu ada mengisi hari-harinya. Apa arti Theo bagiku? Begitu yang ada di benak Agnia. Pandangan Agnia beralih dari Ryan ke arah Theo yang sedang memasang kuda-kuda bersiap akan bertarung. Gagal, gagal, gagal! Theo masih menatap Ryan dengan tatapan tajam, kali ini dia tidak akan membiarkan kebencian Ryan membawa malapetaka bagi dunia sihir. Sebagai seorang sahabat, Theo merasa inilah saat yang tepat untuk menghentikan Ryan. Mati bersama bukanlah akhir yang buruk. Theo merasa ini kewajibannya, sebagai seseorang yang gagal menyelamatkan temannya, yang gagal menepati janjinya. Theo akan membalas semua itu dengan kematiannya. Lingkar rantai kegelapan yang ingin dihancurkannya dari Jagat Arcapada ini dengan harapan adanya secercah cahaya kedamaian abadi yang akan membawa dunia kembali pada awal ia dibentuk. Tentram tanpa ada tangan-tangan keji yang mengotori. Theo bisa mengerti mengapa semua itu terjadi ia berniat menghentikannya dengan melakukan satu hal, yaitu … pengorbanan! Namun, di sisi lain Ryan justru menatap Theo dengan tatapan kosong. Dalam hatinya, ia sungguh tak mengerti kenapa Theo masih peduli padanya. Mati konyol, begitu yang Ryan maksud. Rasa benci yang sudah lama terpatri di hatinya tidak ingin dibuangnya. Rasa benci, yang Ryan ingin semua orang merasakannya … merasakan kepahitan jalan hidup yang ia tempuh. Kepedihan karena kehilangan orang-orang yang paling berharga untuknya. Kepedihan karena kehilangan keluarga yang dicinta sepanjang hidupnya. Sampai kapan pun, Ryan tidak akan memaafkan orang-orang yang terlibat dalam pemusnahan trah dan hilangnya nyawa Emeralda. Adalah mengadu domba Ryan dan Kriss, kakaknya. Pihak-pihak dengan pikiran kotor penuh ambisi terselubung harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi terhadap orang-orang tersayangnya. Para petinggi Kerajaan Majapahit yang telah membuat Kriss mengemban misi berbahaya yang menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang penyihir kelas S. Seorang kakak terbaik bagi Ryan. Tersayang, yang tidak memandangnya sebelah mata. Kriss Prawira Diraja Amurwabhumi, salah satu penyihir terbaik di Jagat Arcapada yang tak tergantikan. Mati karena tergerus ke dalam jurang nestapa tiada akhir. Mati sebagai tumbal untuk menciptakan perdamaian? Jangan bercanda! Ini tidak lucu! Ryan tidak paham apa yang dipikirkan para petinggi Kerajaan Majapahit yang mengutus Kriss untuk membantai trah-nya sendiri … trah Amurwabhumi. Namun, sekarang Ryan mulai merenung, perkataan Theo meracuni pikirannya. Kakak, apakah kau tidak menyesal melakukan misi konyol seperti itu? Aku tidak mengerti, kenapa aku bisa melihat sekilas dirimu dalam diri Theo? Ujar Ryan membatin, dan mulai terpaku di tempak ia berpijak. Hati Ryan bimbang. Apakah yang aku lakukan salah? Sudah sangat lama Ryan tidak merasakan ada orang yang peduli terhadap dirinya, mengerti keadaannya, dan tahu akan penderitaannya. Meskipun Ryan dan Theo berbeda karakter, namun kepahitan yang mereka alami nyaris sama persis. Ryan melihat orang tuanya mati dengan mata kepalanya sendiri, sedangkan Theo dari awal memang telah sendiri, tanpa mengetahui siapa yang telah melahirkannya ke dunia, dan siapa yang seharusnya ia panggil dengan sebutan ‘ibu’ dan ‘ayah’. Mereka berdua sama-sama pernah merasakan pahitnya hidup tanpa mengenal arti rumah yang sesungguhnya. Neraka yang mereka sebut dengan kesendiran itu telah membawa mereka ke sebuah pembelajaran hidup. Yang satu mengarahkan mereka ke jalan kebenaran, satu sisi lainnya ke jalan kebencian. Memang pelik suratan takdir yang mereka miliki, tetapi anehnya mereka mengerti satu sama lain. Sungguh, Ryan mengakui hal itu dalam pikirannya. Tiba-tiba, suara Theo memecah kesunyian. “Agnia, maafkan aku. Aku tidak bisa menepati janjiku, aku tidak bisa membawa Ryan kembali kepadamu. Kepada kita. Oleh karena itu ….” Theo tetap memandangi Ryan, ia tahu Agnia menangis dalam diam, dan Theo tidak sanggup melihatnya. “Theo … aku ….” Agnia hendak berbicara, namun terpotong oleh gerakan kepala Theo yang menggeleng cepat. “Oleh karena itu … aku akan membayarnya dengan nyawaku!” teriak Theo lantang. DUAR! Pernyataan Theo ini bagai petir di siang bolong bagi Agnia. Tubuh Agnia bergetar hebat. Baginya ini adalah mimpi buruk yang ingin sekali ia terbangun secepatnya karena tak terbayangkan betapa memilukan penderitaan yang mencabik hati ini. Tapi sayangnya, ini semua adalah kenyataan. Kenyataan yang pahit. “Theo … aku, tidak … ja-jangan … biar aku … saja ….” Kali ini Agnia menangis deras, hatinya hancur berkeping-keping, sudah cukup temannya itu mengemban beban yang begitu berat ini, biarlah ia yang melakukannya sekarang, biarlah ia yang merasakan pedihnya. Kenapa, Theo? Kenapa kau begitu peduli padaku? Aku tidak pantas menerima semua ini, aku tidak pantas mendapatkan cintamu. Tangan Agnia hendak menggenggam sikut Theo, namun berhenti karena tiba-tiba Ryan mulai memancarkan aura kegelapan yang sangat pekat. Ryan tersenyum sinis. “Ucapan yang hebat, Theo. Kau mau mengorbankan dirimu hanya untuk gadis tolol, yang cara bertarung pun dia tak tahu, hahahahaha! Agnia, ternyata kau masih saja tidak pernah belajar dari dulu.” Ryan lalu mengaktifkan Dwinetra-nya. “Dan kalau itu yang kau mau, baiklah … aku juga akan melawanmu, Theo. Tapi aku tidak akan mati bersamamu,dan sebelum kau mati dengan para Bathara, kau akan mati di tanganku, brengsek!” Setelah mengucapkan itu, tiba-tiba Ryan melesat cepat ke arah di mana Theo berdiri. Theo dengan sigap mengambil dagger dari kantongya. Memandang mata Ryan sekilas, hawa membunuh sahabatnya itu terasa mencekam sekali. Theo pun akhirnya ikut melesat ke arah Ryan. Begitu juga dengan Adam yang tak luput dari perhatian. “Kapten, sudah kubilang serahkan padaku!” protes Theo. Namun, Adam tak peduli dan tetap mengikuti Theo dari belakang. Theo dan Adam terus maju sampai jarak dengan Ryan semakin mengecil. Theo mengambil ancang-ancang mengeluarkan sihir klon-nya. Namun di luar perkiraan, Ryan melewatinya dengan melompat di atasnya. Rupanya Ryan tidak bermaksud menyerangnya. Theo berdecak, “Sial!” sambil meringis kesal. Kemudian, melihat ke arah belakangnya, matanya melebar seketika .Theo tak berani membayangkan apa yang akan terjadi. Ia segera berbalik ke arah Ryan. “Apa jadinya, Theo, jika aku membunuh seseorang yang kau cinta sepenuh hatimu?” Ryan mengaktifkan Authority-nya di Pedang Nagapasa, lalu melesat dengan kecepatan tinggi menuju ke arah Agnia. “Agnia! Lari! Ryan, lawanmu adalah aku, sialan! Bukan Agnia! Berhenti!” teriak Theo kalap. Agnia ingin menghindar, tapi ia tidak bisa bergerak. Sekujur tubuhnya kaku tak bisa digerakkan, bisa ia rasakan dari sini hawa membunuh Ryan sangat kuat. Dengan pasrah, Agnia memejamakan mata. Sudah sangat terlambat untuk menghindari serangan mematikan dari orang yang dicintanya. CRASH!!! Agnia bergidik kaget mendengar suara itu. Tusukan Pedang Nagapasa telah memasuki tubuhnya, entah di daerah mana, yang jelas Agnia bisa merasakan bau anyir darah yang membuatnya mual. Si penyihir rambut merah membuka mata perlahan, dan sedetik matanya terbuka lebar. Terbelakak kaget. Keringat dingin mulai menetesi dahinya, cipratan darah membanjiri baju perangnya. Lagi dan lagi, tubuh Agnia bergetar hebat, tapi kali ini lebih parah dari yang sebelumnya. Agnia menyadari bahwa itu bukan darahnya. Dirinya sama sekali tidak terluka sedikit pun. Seseorang telah melindunginya, memeluknya dari arah depan, dan menyelamatkannya dari serangan Ryan. Diarahkan pandangannya ke arah bawah, di mana Pedang Nagapasa Ryan menembus paru-paru kiri seseorang yang melindunginya. “Bohong ….” Agnia menutup mulut. Ia mulai menangis tak terkontrol. Nenggelengkan kepala kuat. Tidak percaya hal seperti ini akan terjadi. “Ka-kau … tidak apa-apa, kan, Agnia?” Theo tersenyum simpul. Ia memuntahkan darah segar dari mulutnya. Lalu, terdengar teriakan Agnia menggelegar di antara rona-rona hitam kebengisan, mencuat tajam, menunjukkan betapa kejadian itu mengoyak hatinya. “Seperti biasa, kau memang bodoh, Theo!” Ryan menarik Pedang Nagapasa-nya dari tubuh Theo. Sejurus, Ryan tersenyum sinis, cukup puas dengan apa yang ia lakukan. Agnia hendak menyentuh bahu Theo. Tangannya sedikit bergetar, ia menggerutu dalam hati, kenapa aku setegang ini? Kalau tidak cepat, darah Theo akan terus mengalir! Aku harus cepat! Agnia menghapus air matanya yang berlinangan di pipinya, dia menyadari, sekarang bukan saatnya untuk menangis. POOF!!! Theo tiba-tiba menghilang ketika Agnia hendak mengeluarkan sihir penyembuhan. “E-eh?” Agnia terheran-heran dengan apa yang dai lihat. Mulutnya terbuka lebar, berekspresi layaknya orang bodoh. Klon?! Pikir Agnia dalam hati. Agnia terlampau kaget dengan moment awkward yang baru terjadi. Ia lupa kalau Theo sangat ahal dalam sihir bayangann.Entah mengapa, kali ini Agnia merasa dibodohi. Adam yang melihat hal itu hanya menghembuskan nafasnya kuat-kuat, iq juga cukup kaget melihat Theo yang tanpa pikir panjang langsung melompat ke arah Agnia. “APA?!” Ryan tercengang. Sialan! Kenapa aku sampai tertipu? Sempat-sempatnya si kurang ajar itu mengeluarkan bayangan tanpa sepengetahuanku, sial! Dia berhasil menipu Dwinetra-ku! Ryan merasa jengkel dalam hatinya. Sejenak, Ryan memperhatikan sisi depan, kanan, kiri, dan belakangnya. Sial, di mana dia? “Aku di sini, cuk!” tiba-tiba Theo muncul dari arah kanan Ryan. Dan … BLAM!!! Theo mengarakan pukulannya ke wajah Ryan, pemuda dingin itu terpental beberapa meter. “Agnia, kau tidak apa-apa?” Theo cepat-cepat lari ke arah Agnia. Diperhatikannya Agnia yang tertunduk, matanya kosong menatap sepatunya sendiri. “Ya!” sahut Agnia bengis. Theo bergidik ketakutan. Tubuhnya langsung membeku, wajahnya pucat pasi. Theo menelan ludahnya sendiri. Theo kenal betul akan hawa ini. Hawa membunuh seorang Agnia ketika sedang marah di saat Theo melakukan hal-hal konyol di depan gadis itu. Tapi, setahu Theo, dirinya tidak melakukan sesuatu yang konyol, bukan? “Ka-kau kenapa, Agnia?” tanya Theo khawatir, dia menelan ludahnya sekali lagi, lalu mundur satu langkah. Agnia memandangnya dengan tatapan death glare, lalu ia mengepalkan tangannya yang berbalut sarung tangan hitam, yang Theo tidak mengerti, seperti berapi. Mungkin karena ketakutannya, dia jadi berhalusinasi seperti itu. “Grhhhhhh … CEBOL BODOH!” Agnia mengeram marah. BLETAK! Agnia memukul kepala Theo dengan kepalannya. “Aduh! Kenapa kau memukulku, Agnia?!” Theo mengusap-usap kepalanya. Kekuatan monster Agnia, Theo tahu tidak dikeluarkan Agnia seluruhnya, tapi tetap saja bukan main … sakitnya. “Kenapa? Kenapa katamu? Jangan bermain-main dengan bayangan-mu, bodoh! Kau nyaris membuatku jantungan! Aku pikir kau … kau ….” Agnia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, tetesan air mata terlihat dari ujung matanya, tertahan di sana, namun sedetik, berderai perlahan. “Hehe, maafkan aku, Agnia. Aku hanya ingin mengelabui Ryan. Kau terkejut, ya? Jangan khawatir, kau lihat sendiri aku tidak apa-apa, kan?” Theo memberikan senyuman khasnya pada Agnia. Agnia menatap mata biru Theo lekat-lekat. Semburat cahaya terpancar dari sana. Agnia tersenyum kecil, dalam hati ia bersyukur ternyata Theo baik-baik saja. Di sisi lain, Ryan bangkit dari tempatnya tersungkur. “Ugh! Sialan kau, Theo!” umpatnya emosi. Mendengar suara umpatan Ryan, Theo mengarahkan pandangannya ke arah sahabatnya itu, dia tahu Ryan akan menyerangnya kembali. “Agnia, tetap berdiri di sampingku. Karena … aku tidak ingin kau terluka!” perintah Theo lugas. Agnia terperanjat dengan ucapan Theo itu. Jantungnya berdegup kencang. Ia sendiri tidak tahu mengapa, tanpa disadarinya, pipi putihnya bersemu merah. Theo, kau selalu memeprlakukanku layaknya seorang putri raja, tapi aku … aku selalu mengabaikanmu … dan tidak tahu malu. Sungguh menyesal aku baru menyadari betapa berartinya dirimu bagiku. Sekarang, aku akan ikut bertarung bersamamu, tekad Agnia dalam hatinya. Kemudian, Agnia mengepalkan tangannya, mengumpulkan sejumlah mana ke bagian itu. Sepertinya ini tak akan mudah. “Sekarang kau tak akan bisa lolos, Theo!” tiba-tiba Ryan melesat cepat ke arah Theo dengan menggunakan Dimensional Walker-nya. Theo memperhatikan gerakan Ryan secara teliti, dia lalu mengaktifkan Awakening Mode-nya. Ryan pun mengaktifkan kembali Authority di Pedang Nagapasa-nya. Theo menerka-nerka dari arah mana Ryan akan mengayungkan pedangnya. Kanan atau kiri? Dari gerakannya aku bisa perkirakan, dia tidak akan menebaskan pedangnya dari atas atau bawah. Theo memutar otak, memprediksi gerakan Ryan selanjutnya. Di satu sisi yang lain, Adam memutuskan untuk melihat saja jalannya pertarungan. Dirinya memilih diam, tapi sebenarnya ia sedang memperhatikan gerak-gerik Panji Amurwabhumi, jaga-jaga jikalau Panji akan menyerang di tengah-tengah pertarungan kedua anggotanya. Kembali ke duel klasik, Theo menyiapkan dagger di tangan kanan. “Agnia, berdirilah di belakangku sekarang!” perintah Theo, namun Agnia tetap berdiri di samping Theo. Theo menyadari akan hal itu. “Heh? Kenapa kau diam saja, Agnia?” pandangan Theo berlaih ke Agnia, dia hilang fokus pada gerakan Ryan. “Kau melihat ke arah mana, Theo?!” pekik Ryan, yang kemudian mengayunkan Nagapasa-nya ke arah kiri Theo. Untunglah Theo berhasil menghindar ke kanan, hanya bahu kirinya sedikit tergores akibat serangan Ryan. “Ugh! Sakit!” umpat Theo. Ia menyentuh bahu kirinya, darah segar mulai menetes dari sana sedikit demi sedikit. Theo hanya tersenyum miring. Ia tahu Naga Besukih akan menyembuhkan lukanya dengan cepat, jadi ia takkan meminta Agnia untuk segera mengobatinya. “Hm, kau selalu saja lengah, Theo.” Ryan tersenyum licik, hendak menyerang Theo lagi. “Yang lengah itu kau, babi!” seseorang menghujat Ryan. Ryan terperanjat mendengar suaranya, Ryan tahu itu bukan suara Theo, dilihatnya ke arah kanan, dan … “Rasakan ini … REGULUS!” Agnia melesat cepat ke arah Ryan dengan sejumlah mana di kepalan tangan kanannya, dia menatap Ryan dengan tajam. BAM!!! Agnia meninju dada Ryan dengan kekuatan monster-nya. Ryan terlambat menghindar. Ia terpental kurang lebih 20 meter ke belakang. “Eh? Apa yang kau lakukan, Agnia?!” teriak Theo, matanya terbalalak kaget, mulutnya terbuka lebar. Theo terpaku di tempat di mana ia berdiri, bola matanya nyaris keluar dari rongganya. “Kau? Agnia? Ke-kenapa … kau ….” Ryan tergagap bukan main. Betapa kagetnya dia dengan serangan Agnia yang tiba-tiba. Ryan tak menyangka Agnia memiliki kekuatan sinting seperti itu. Tanpa mengurangi kewasapadaanya, Ryan hendak berdiri cepat, namun terhenti karena ia merasakan dua tulang rusuk bawahnya patah. Praktis Ryan berlutut menahan sakit. “Kau pikir kau orang paling tampan di dunia, hah? Jangan bercanda, Ryan! Seenaknya saja bilang aku bodoh! Aku bukan gadis umur 17 tahun yang cengeng sepeti dulu!” Agnia menatap Ryan nanar. Nafasnya memburu karena amarah yang bergejolak di dalam jiwa. Agnia kini tidak ragu lagi. Ia ingin menunjukkan pada Ryan kalau dirinya tidak selemah yang Ryan kira. “Apa-apaan kau, Ryan? Theo itu temanmu! Kau seharusnya bersyukur memiliki teman seperti dia, dia satu-satunya orang yang mengerti keadaanmu!” teriak Agnia lagi. Ryan terdiam. Ia mencoba mengacuhkan ucapan Agnia barusan, dan entah mengapa, ucapan gadis itu membuat pikirannya kacau. Ditatapnya Agnia dengan raut wajah kesakitan. Ryan akui Agnia tak selemah dulu. Ryan begitu risih tatkala Agnia selalu mengikutinya ke mana saja ia pergi layaknya anak kucing yang kehilangan ibunya. Menangis di depannya, menggeliat manja dan seenaknya memeluk dirinya. Ryan bukannya tidak tertarik pada Agnia, tapi hal itu tidak terlalu ia pikirkan. Sebab, Ryan terlanjur merelakan dirinya terkurung di dalam kegelapan abadi. Yang bisa Ryan lakukan sekarang hanyalah melontarkan kata ‘terima kasih’ pada Agnia, yang kala itu mengungkapkan cinta padanya. Dari sisi yang berseberangan, terlihat Panji tersenyum melihat pemandangan menggelikan di depan mata. “Kekuatan gadis itu sepertinya pernah kulihat sebelumnya,” gumamnya pelan. Tapi, kata-katanya terdengar oleh Adam, sehingga membuat Sang Holy Knight was-was. “Asura, kah? Dia adalah keturunan dari Raja Wijaya itu sendiri. Ah, begitu rupanya. Hahahaha!” Panji tertawa mengejek. Adam mengernytikan dahi. Menatap tajam Dwinetra Panji yang tampak di kedua matanya. “Kenapa kau tertawa, monster?” “Eh? Hahaha, jangan marah, dong. Aku baru menyadari kalau anak-anak ini sangat mirip sekali dengan para Paladin. Yah, wajar karena mereka adalah murid-muridnya,” sahut Panji, tertawa terkekeh-kekeh. Adam semakin menyipitkan mata, tidak suka anggotanya diolok-olok. “Lalu, apa maumu?” tanyanya dingin. DUARRRR!!! Terdengar suara ledekan yang tiba-tiba mengagetkan dari area tempat ketiga remaja sedang berseteru. Agnia meninju tanah. Membuat retakan di sekitarnya, sehingga tempat itu pun menjadi luluh lantak. Agnia benar-benar mengeluarkan seluruh kekuatan kali ini. Theo saja sampai mematung dibuatnya. Ia tidak pernah melihat Agnia seperti ini sebelumnya. “Maju, Ryan!” teriak Agnia mantap. Mata Agnia melukiskan semburat keyakinan yang tak terbendung. Kali ini Agnia ingin menyadarkan Ryan dengan caranya sendiri. Diirinya yang dulu hanya bisa menangis melihat cinta pertamanya terbuai dalam lubang amarah berkepanjangan, sekarang Agnia ingin Ryan menjadi Agnia yang dia kenal, seseorang yang bucin. Ryan berkali-kali menghindar dari serangan Agnia. Anehnya, kali ini Ryan tidak berniat untuk menyerang balik. Ada perasaan ganjil yang Ryan sendiri pun tak tahu kenapa ia memilih bungkam. Pun rasa bergejolak di hatinya yang membuatnya segera mengubah pendapatnya tentang Agnia. Apakah Agnia yang sekarang telah mencuri hati Ryan yang selama ini coba ia tutupi? Ryan nyaris kehilangan tenaganya. Ia berlutut lemah. Nafasnya tersenggal-senggal. Keringat mengucur deras dari pelipis. Staminya memang sudah habis terkuras dari penyerangannya ke pertemuan para raja. Pandangannya buram, Ryan tahu sebentar lagi matanya mungkin akan buta. Tapi, tiba-tiba … “GUH!!!” Ryan memuntahkan darah segar dari mulutnya. Serangan telak Agnia tadi sepertinya mengenai organ vitalnya. “Ryan!” teriak Agnia, yang merasa sedikit bersalah telah melukai Ryan. Agnia sebenarnya tahu, mungkin Ryan akan babak belur karena serangannya, tapi entah mengapa rasa iba muncul dalam hatinya. “Agnia! Cepat sembuhkan Ryan! Kalau tidak, dia akan mati!” teriak Theo tiba-tiba. Sungguh tindakan yang aneh. Pertama Theo ingin menghabisi Ryan, namun sekarang ia justru ingin Agnia menolong Ryan. Apa yang Theo inginkan? Entahlah. Bahkan Theo sendiri tidak tahu kenapa ucapan itu tiba-tiba keluar dari mulutnya. Agnia langsung bergidik ngeri mendengar kalimat yang diucapkan Theo. Mati? Tidak! Dalam hatinya, Agnia tidak akan membiarkan Ryan gugur! “Huh, sudah saatnya kita akhiri permainan ini.” Panji tiba-tiba muncul di samping Ryan. Ryan mendongak menatap Panji. Keringat dingin mengucur dari dahi. Ia merasa khawatir akan tindak-tanduk Panji selanjutnya. Mau apa dia? Hal itu yang terpikir Ryan. Sial! Mau apa dia? Begitu pula yang ada di pikiran Adam. Pergerakan Panji yang sangat cepat membuat Adam gagal mencegah lelaki tukang manipulasi itu. “Ryan, kau sebaiknya tunggu di sini. Biar aku yang akan menangkap wadah dari Naga Besukih. Tapi sebelum itu, aku akan membereskan serangga-serangga ini dulu.” Panji langsung mengambil alih pedang buatan di era Kasultanan Surakarta tersbeut, dan dengan sihir Disapear, ia melesat cepat menuju ke arah Adam, menyerang tepat di bagian leher. Adam tidak sempat menghindar, karena Panji menyerang tepat di sarafnya. Adam tumbang seketika di tempat. Akan tetapi, Sang Holy Knight itu berusaha agar tetap terjag. Yang ia pikirkan sekarang hanyalah ketiga anak buahnya. Ia tahu betul mereka sedang berada dalam keadaan bahaya. “Kapten Adam!” Sungguh aneh bagi Adam mendengar si Pangeran Es itu memanggil namanya dengan ekspresi khawatir. Padahal, beberapa menit yang lalu Ryan menyatakan bahwa dirinya tidak lagi termasuk anggota Tim ART. Tak kuat lagi, akhirnya Adam pun tumbang tak sadarkan diri. Begitu pula dengan Theo dan Agnia yang terkejut melihat kaptennya diserang. Agnia ingin menghampirinya, namun dicegat oleh Theo. “Agnia, diam di tempat. Kalau kau salah bergerak, kau bisa terkena serangan bajingan itu. Dia hanya membuat Kapten Adam pingsan, tenang saja,” ungkap Theo sembari menggenggam erat tangan Agnia. Agnia memandang mata azure itu sekali lagi … sinarnya pekat berawan … seakan-akan menyiratkan bahwa dia takut terjadi sesuatu padanya. Agnia pun mengangguk pelan. “Satu sudah dibereskan, lainnya ….” Panji langsung melirik ke arah di mana Theo dan Agnia berdiri. Dwinetra-nya memandang tajam seakan menusuk ke dalam pikiran keduanya. Theo segera mengambil ancang-ancang, ia tetap mengaktifkan Awakening Mode-nya. “Hentikan, Panji! Kau tidak perlu ikut campur urusanku dengan Theo! Biar aku yang melawannya!” Ryan alih-alih berdiri dari tempatnya, tapi kepalanya seketika pening, pandangannya kabur. Ryan berusaha memperjelas penglihatan dengan menyipitkan kedua matanya. Namun tak disangkanya, Ryan tidak bisa mengaktifkan Dwinetra-nya karena kehabisan mana. Di saat yang bersamaan, Panji mulai menghilang. Sial! Kenapa … kenapa aku seperti ini? Kenapa aku tidak bisa membenci mereka? Batin Ryan frustasi. Yang kemudian, Ryan mulai mendalami kata-kata yang diucapkan oleh rekan satu timnya, Agnia. “Dia adalah orang yang paling mengerti keadaanmu.” Ryan tidak mengerti mengapa pikirannya jadi berubah 180 derajat begini. Telah lama ia bungkam atas rasa pedulinya terhadap orang-orang di sekitar. Hal itu semata-mata hanya untuk balas dendam kepada Kriss yang telah membantai habis trah Amurwabhumi, sekaligus kekasih tercintanya, Emeralda Gendrawani. Dan pada akhirnya, Ryan tahu kenyataan pahit dibalik tragedi pembantaian tanpa perasaan yang digalangkan oleh sang kakak. “Kau tahu, Ryan, kenapa Kriss tidak membunuhmu pada malam itu? Karena baginya, nyawamu lebih berharga daripada nyawa seluruh penduduk Kerajaan Majapahit.” Ungkapan Panji tiba-tiba terngiang-ngiang di benaknya. Dalam hati, Ryan sangat bersyukur, karena ternyata Kriss tidak pernah berubah memandang dirinya. Sungguh menyesal, Ryan tidak sempat bilang kalau ia sudah memaafkan Kriss. Sungguh menyesal, Ryan tidak sempat bilang kalau baginya Kriss adalah kakak terbaiknya sepanjang masa. Dan sungguh menyesal Ryan tidak sempat juga mengatakan bahwa bagi dirinya, nyawa Kriss juga lebih berharga dibandingkan dengan nyawa penduduk Kekaisaran Jawadwipa. Ryan menatap lurus ke depan. Mengamati sesosok rambut putih yang terlihat sibuk memandangi daerah sekitarnya. Rasa-rasanya Ryan mau pingsan, tapi ia memilih bertahan dengan tetap mempertahankan keseimbangan mana. Ryan tahu betul bahwa hanya Theo yang memahami dirinya. Lalu, pikirannya berlabuh ke waktu masa lalu. Masa-masa yang ingin Ryan kubur dalam-dalam di ingatannya, namun terpaku dalam relung kalbunya. Bayang-bayang itu seakan fana, tapi menghantuinya antara jaga dan mimpi buruk. “Kau? Ke-kenapa kau melindungiku, Ryan?”
“Hm, diam kau, bodoh! Aku tidak tahu. Badanku yang bergerak sendiri.”

“Akhirnya kau datang juga, Ryan! Kupikir kau tak punya nyali untuk ikut ujian Hastabhrata ini.”
“Dari kata-katamu tampaknya kau menang pertandingan sebelumnya, ya, Theo?”
“Hahahaha, tentu saja. Kau jangan sampai kalah, Ryan. Aku akan menjadi lawanmu jika kau menang nanti.”
“Banyak omong kau, Theo.”

“Kenapa, Theo? Kenapa kau sangat peduli padaku?”
“Karena berteman denganmu … aku menjadi tahu bagaimana rasanya memiliki saudara.”

“Kau masih saja menghabiskan waktumu dengan hal yang tak berguna, Theo. Bukankah lebih baik kau berlatih saja untuk mencapai cita-cita konyolmu sebagai raja itu?”
“Bukankah kau tahu juga, Ryan, bahwa seseorang yang melindungi temannya saja tidak becus … jelas takkan layak menjadi raja.”

“Aku akan menjadikan kebencianmu sebagai bebanku, mati bersamamu. Sehingga tidak ada lagi yang mengenal seorang Amurwabhumi dan Wirabhumi.”
“Hm, yang akan mati hanya kau seorang, Theo!” Kemudian lamunan Ryan pudar seketika. Mata onyx-nya terbuka lebar, bibirnya bergetar—ketika dilihatnya sekelebat rambut hitam berdiri di belakang Theo. Jantung Ryan mulai berdegup kencang. Berkedip dua kali, Ryan mengenal … sangat mengenal orang itu. Sosok itu adalah orang yang selalu dirindukannya selama ini. “Kakak,” lirih Ryan, matanya berair dan jatuh perlahan melewati pipinya yang kusam. Sosok itu lalu mengulurkan tangan ke arah Ryan, seolah mengundangnya untuk menjabat tangan. Dia, Kriss Prawira Diraja Amurwabhumi, mengulas senyum simpulnya kepada Ryan. Senyuman khasnya6ang semasa hidupnya hanya ditujukan untuk Ryan seorang. “Kemarilah, adik manisku.” Ryan tidak mendengar apa yang diucapkan Kriss. Namun, dari gerakan bibirnya, dia tahu apa yang Kriss ucapkan. Ryan sendiri tidak tahu apa ini hanya sebuah ilusi belaka, atau bayang-bayang mimpi. Akan tetapi, jikalau itu hanya sebuah ilusi, ia tidak akan kecewa. Ryan memejamkan mata dan berpikir sejenak. Seketika cahaya terang menghampiri. Ia arahkan pandangannya ke arah tempat Kriss berada. Tapi, sosok Kriss telah menghilang bersamaan dengan hembusan angin. Ryan langsung mengerti apa maksud Kriss. Ryan tak berpikir panajng lagi. Dengan segenap kekuatannya yang tersisa, ia melaju cepat ke arah belakang Theo. Dan benar saja, ternyata Panji muncul di sana. Tanpa ragu-ragu, si joker menghunuskan Pedang Nagapasa yang ia genggam ke titik buta Theo. Sedetik, Theo merasakan hawa jahat di punggungnya, ia menoleh ke sana. “Theo! Di belakangmu!” Agnia berteriak panik. CRASH!!! Agnia melotot lebar tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Theo tersungkur ke tanah. Bisa Agnia rasakan cipratan darah segar di sekitar wajahnya. Dan kali ini, Agnia tahu ini bukanlah darahnya. Nyaris sama dengan kamuflase yang Theo buat sebelumnya, tapi yang berbeda ini bukanlah kamuflase semata. Tak bisa Theo pikir dalam logikanya. Sosok yang tadi begitu bersemangat ingin membunuhnya, malah balik melindunginya. “Ry—Ryan? Hei!” Theo berseru parau. Bibirnya bergetar hebat, matanya menyiratkan luka yang mendalam. Perasaan ini … perasaan yang sama seperti waktu itu. Saat Ryan melindunginya dari serangan Ragna, raja Kerajaan Mataram. Dilihatnya di mana Nagapasa itu menembus tubuh Ryan. Ternyata sedikit mengenai bagian jantungnya. “Ryan! Apa-apaan kau ini?! Hei, bajingan!” Panji langsung melepas tangannya dari Pedang Nagapasa milik Ryan. Kalau ia cabut dari tubuh pemuda itu, takut akan memperparah lukanya. “Kau memang bodoh, Theo. Yang boleh membunuhmu itu hanya aku, tahu!” Ryan tersenyum bangga walau sakitnya bukan main. Ternyata … ya, akhirnya Ryan menganggap Theo sebagai saudaranya, seperti Kriss yang ia anggap sebagai kakak terbaiknya, yang mana ia lihat di diri Theo, dan Ryan tidak ingin untuk kedua kalinya melihat orang yang berhaega itu mati di depannya. Ryan pun seketika itu lunglai tak berdaya, kepalanya jatuh tepat berada di kaki Theo. Theo memandanginya ngeri.D arah mengalir begitu banyaknya dari luka Ryan. “RYAN!” “Ryan!” Agnia langsung berlari ke arah Ryan. Tangisan Agnia menyahat hati. Air matanya bagai air terjun yang tak henti-hentinya jatuh ke lembah. Begitu juga dengan Theo, ia tak henti-hentinya menghujat Ryan yang nyaris kehilangan kesadaran. “Kau yang bodoh, Theo!” “Kenapa kau melindungiku, monyet?” “Kau tak boleh mati sebelum aku sendiri yang meremukkan kepalamu, setan!” Theo menatap Panji dengan garang.bKali ini Theo marah … sangat marah! Tapi kegetirannya menutupi itu semua. Sang Penyihir Putih berusaha menahan amarahnya yang siap meledak kapan pun. Untuk kali ini, Theo tidak ingin mengandalkan Naga Besukih hanya demi sebuah kekuatan. Theo tak ingin iblis itu mengambil alih tubuhnya. Bisa gawat andai naga berwarna hitam itu mengamuk dan mengambil kesadarannya. Bukan apa-apa, Theo memang membutuhkan kekuatan dari Naga Besukih, namun konsekuensinya akan berdampak fatal jika kekuatan yang dikeluarkan di atas empat puluh persen. Benar, tubuh Theo masih belum mampu menampung kekuatan mahadahsyat milik Beast Divine Spirit terkuat. Di sisi lain, Agnia dengan cekatan segera melepaskan pedang tajam yang tertancap di tubuh Ryan. Agnia coba tarik perlahan, karena ja melihat sendiri Ryan meringis kesakitan ketika pedang itu akan dilepaskan. Memutar otak. Agnia lantas merubah posisi Ryan telentang, kemudian menempatkan tangannya di sekitar dada kiri Ryan. Gemerlap sinar hijau muncul di sekitar pergelangan tangan Agnia. Si gadis berambut merah mulai terisak-isak, tak sanggup melihat pemuda yang menjadi tujuan hidupnya ini nyaris meregang nyawa. “Ryan … aku mohon … bertahanlah!” “Agnia … su-sudah cukup … ka-kau … hanya membuang-buang mana-mu saja.” Ryan memuntahkan darah segar dari mulutnya. Kontan saja membuat Theo dan Agnia terperanjat. “Grrrhhh! Diam kau, bajingan! Bairkan Agnia mengobatimu! Jangan sok kuat kau!” umpat Theo kesal. Theo tak kuat lagi, pertahanannya runtuh. Ia ikut terisak di tengah-tengah semilir angin berdesir memperkeruh suasana, menusuk-nusuk kulit yang seakan tak berdaging. Sayup-sayup membuatnya bergetar menyaksikan kepahitan sebuah peristiwa yang tak satu pun tahu bagaimana ujungnya. “Hhh … wajahmu jelek sekali, ndes.” Ryan tertawa getir. Hal itu hanya membuat Theo dan Agnia semakin sesenggukan. “Guoblok, cuk!” umpat Theo lagi. Theo tak bisa berpikir mengapa Ryan melindunginya. Ia tak bisa menebak pikiran random sahabatnya itu yang berubah drastis.

“Aku … maafkan aku, Theo, Agnia, aku ….” Ryan kembali memuntahkan darah dari mulutnya. Agnia semakin panik. Ia tidak mengerti mengapa sihir penyembuhannya tidak bekerja untuk menyembuhkan Ryan dengan cepat. Ya, bisa ditebak kalau Agnia kalau sudah kehabisan mana. “Sudah cukup bicaranya, Ryan!” sang antagonis, Panji, tidak berkutik melihat pemandangan di depannya. Berusaha untuk tidak kerasa kepala lagi. Ia harus memikirkan langkah pasti selanjutnya. Dalam hati Panji menggerutu, ini akibatnya karena aku terlalu bernafsu untuk segera menangkap Naga Besukih, Ryan yang akan aku jadikan alat dalam perang nanti malah hampir terbunuh di tanganku, benar-benar menyebalkan! Panji berniat untuk kabur dengan Disapear, namun tertahan tatkala ia melihat Theo tiba-tiba berdiri. “Jangan lari kau, bajingan!” Theo mengambil posisi untuk menyerang Panji, ia berniat merapal mantra. Panji menggaruk belakang kepala. “Hahaha. Maaf, Theo. Lain kali saja kita lanjutkan permainan ini. Tapi sebelum itu, aku ingin memberikan hadiah padamu.” Panji berkata seraya membuka mata kanannya lebar-lebar, memfokuskannya ke arah Theo. “Annihilate!” teriak Panji menyebut sihirnya. Seketika, api hitam berkobar-kobar di area tersebut. “Dasar bajingan!” Theo menggunakan sihir bayangan. Me-klon dirinya sejumlah lima. “Kalian semua, cepat selamatkan mereka bertiga!” perintahnya kepada kelima klon. Para klon Theo dengan sigap berhasil membawa tim sekaligus kaptennya ke tempat yang aman. Sementara Panji sudah hilang di tengah-tengah kobaran api hitam. Agnia memandang marah api hitam yang melahap apapun yang dilewati. Menari-nari dengan beringas, nyalanya membuat silau mata yang menyakitkan. Klon-klon Theo tiba-tiba menghilang. Sedetik, entah kenapa Agnia bergidik takut, dia arahkan pandangannya ke arah Theo. Dilihatnya si kepala batu tahu-tahu sudah tersungkur di tanah, menahan sakit di sekitar kakinya. Ternyata, Theo yang asli sedikit terlambat untuk menghindar, sehingga membuat sihir Annihilate milik Panji memakan kakinya. “Theoooo!” teriak Agnia yang langsung berlari menghampiri Theo. Agnia tak peduli dengan kobaran api di sekitarnya, yang bisa saja memakan dirinya tiba-tiba. Langit di atas kepala Agnia seolah berputar, mengapa seperti ini akhirnya? Dua orang rekannya, juga kaptennya tidak sadarkan diri. Apa yang bisa Agnia lakukan sekarang? Dengan sekuat tenaga, Agnia memindahkan Theo ke dalam pangkuannya. “Ba-bangun, Theo! Aku mohon … sadarlah!” serunya serak, sembari menggoyangkan bahu si pemuda rambut putih. Namun, Theo sama sekali tak bergeming. Agnia semakin terisak. Ua mendekap erat Theo dalam pelukannya. Air matanya tak pernah berhenti memancar dari mata jade-nya yang sembab. Putus asa. Agnia berteriak minta tolong yang terdengar di penjuru tebing, yang berdiri kokoh di sekitar, menghasilkan gema menyakitkan bagi siapa saja yang mendengar. Agnia terlalu panik, sampai ia tak menyadari ada seseorang dari kejauhan. “Dissonance!” Lalu sekejap, api hitam yang berkobar menyala panas itu pun lenyap tanpa bekas.

***​
Flashback End “Agnia!” Mata Agnia terbuka secara perlahan. Kesadarannya kembali. Namun, yang tak Agnia sadari setitik air matanya jatuh tiba-tiba. “Hei, kenapa menangis?” Theo menyeka air mata Agnia sembari mendekatkan wajah Agnia agar bisa tercapai oleh gapaian tangannya. “A-aku hanya teringat kejadian beberapa minggu yang lalu. Itu merupakan hal terburuk di hidupku, Theo. Kau, Ryan, dan kapten terluka. Tapi, aku panik … aku … aku ….” Agnia jatuh ke dalam dekapan Theo, ikut berbaring bersama si cebol berambut putih. Sedu sedannya jelas saja membuat Theo tercekat. Pelan, Theo berkata, “Maaf, Agnia. Seandainya aku lebih-” Agnia menengadahkan wajah, memotong ucapan Theo. “Tidak! Hentikan, Theo! Kau selalu bilang semuanya salahmu.” Sembari memandang mata Theo dengan lembut, kemudian berbaring kembali di sebelah Theo. Menjatuhkan wajah putih cantiknya di atas dada bidang Sang Penyihir Putih. “Berhenti menyalahkan dirimu sendiri, Theo.” Agnia meraih tangan kiri Theo yang letaknya tidak jauh dari tangan kanannya, memberi sentuhan lembut agar Theo mau menuruti kata-katanya. Theo memandangi kepala Agnia yang berada di dadanya, mengambil nafas perlahan, merasakan aroma bunga mawar yang menusuk hidung. Ah, serasa di Taman Swargaloka yang berada di sekitar Kompleks Trowulan, yang tak bosan-bosannya ia kunjungi di waktu luangnya. Theo tersenyum. “Ya, aku mengerti, Agnia.” Agnia pun membalas senyuman Theo, lalu lebih merapatkan tubuhnya ke dalam dekapan Theo. Gadis itu tahu Theo memang sedang sakit, dan ja juga tahu aturan rumah sakit -yang menyebutkan- apapun keadaannya, satu tempat tidur berisi satu pasien, tidak lebih. Namun, entah mengapa Agnia hari ini merasa lelah sekali dari perjalanan panjangnya. Matanya pun perlahan muai terpejam. Tidak. Agnia sedang sibuk mendengarkan ocehan Theo yang tak henti-hentinya berceloteh tentang bakso dan donat. “Aku boleh makan donat, kan, Agnia?” Theo melihat ke bawah. Ditemukannya Agnia sudah terlelap. “Agnia?” panggilnya lagi. Dilihat dengan seksama, Agnia yang sudah pergi ke alam mimpinya, Theo menghembuskan nafasnya perlahan. Akhirnya, Theo memutuskan untuk tidak membangunkan Agnia. Dalam hati Theo sebenarnya sedikit nervous. Baru kali ini selama hidupnya ia berbaring satu ranjang dengan Agnia. Memang tempat tidur di ruangannya cukup besar, jadi Theo tidak terlalu mempermasahkannya. Sekali lagi Theo memandangi Agnia dengan lembut, lalu ia bawa tangan kirinya untuk membelai wajah ayu Agnia. “Ryan ….” Gumam Agnia dalam tidurnya. DEG! Theo segera menghentikan gerakan tangannya, dilihatnya raut wajah Agnia yang berubah sendu, seperti mau menangis. Sedetik, pandangan Theo beralih ke langit-langit kamar dengan penuh tanda tanya. “Apa yang sebenarnya terjadi denganmu, Ryan?” Theo mulai berpikir. “Apakah ada yang Agnia sembunyikan dariku?” Pertanyaan-pertanyaan itu pun menghantuinya sampai Theo tanpa sadar ikut terlelap.
***​
Hari kian petang, kicauan burung pengiringnya telah datang. Mereka bernyanyi merdu tatkala matahari nyaris tergelincir ke balik pegunungan. Jikalau kau perhatikan lautan nan jauh di sana, biru air seakan memerah diterpa cahaya yang merabunkan mata. Pepohonan yang berdiri kokoh di tengah keramaian kota. Tak berpolusi dan sungguh asri tatkala kau melihat pemandangannya yang begitu hijau. Sekalipun kota kerajaan itu ramai akan penduduknya. Kerajaan Majapahit. Kerajaan tempat lahirnya penyihir hebat. Suasana sekitar mulai terlihat lengang. Para penduduk kerajaan mulai kembali ke rumahnya masing-masing, berniat untuk beristirahat atau bercengkrama dengan keluarga, melepas rindu yang seharian telah lama mengusik mereka. Dan di sana, di salah satu ruangan di Rumah Sakit Kerajaan Majapahit, seorang gadis berambut merah terjaga dari tidur lelapnya. Dibuka matanya perlahan. Ia menyipit. Menahan sinar merah matahari yang menyusup di celah-celah jendala. Agnia. Gadis itu melihat sekeliling, heran karena ia tahu ini bukan tempat tidurnya. Lantas, Agnia merasakan kehangatan di sekitar kepalanya. Tersentak, bantal yang dijadikannya tempat bersandar memang tidak seempuk bantal di kamarnya, tapi entah mengapa terasa lebih nyaman. Diarahkan matanya ke samping bahunya.nSebuah tangan kokoh merengkuhnya, mengamankannya dari dingin petang yang menerpa. Agnia tercenung melihat keadaan aneh ini. Di mana aku? Agnia mengangkat kepala kaku. Barulah rasa keingintahuannya terjawab manakala Agnia melihat ke arah bawah, memperhatikan bantal yang seharian ia jadikan tempat sandaran kepalanya. Theo! Hampir saja Agnia berteriak kencang. Namun, gadis itu menutupi mulutnya agar hal itu tidak terjadi. Demi jenggot Dewa Siwa! Kenapa aku tidur di sini? Aku telah menganggu pasien. Tapi kenapa Theo tidak membangunkanku? Agnia bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Dilihatnya Theo yang tertidur pulas. Wajahnya begitu damai. Seakan-akan tidak pernah memiliki beban dalam hidupnya. Agnia tersenyum jahil, kau memang tukang tidur, Theo. Kemudian Agnia membawa tangannya ke rambut putih perak Theo, dirapikannya rambut berantakan pemuda bengal itu. Agnia melakukannya dengan penuh perasaan dan kelembutan, lalu membawa tangannya menelusuri lekuk wajah Theo hingga ke bawah dagu. Bentuk wajah Theo begitu tegas, menunjukkan kedewasaannya. Agnia menyadari bahwa Theo semakin beranjak dewasa, semakin tampan pula, dan … berkharisma. Sejenak, Agnia memperhatikan bibir Theo yang kering, tipis, dan melengkung indah. Jarang sekali lelaki yang miliki bibir seperti ini. Sebanrnya, Agnia berencana membelai bibir Theo, tapi terhenti di saat ada seseorang yang membuka pintu ruangan. CKLEK! “Selamat sore, Theo-” ternyata itu Rani Asura. Rani adalah julukan untuk raja perempuan Kerajaan Majapahit. Sesaat, mulut Rani Asura ternganga mendapati keponakannya di dalam ruangan Sang Penyihir Putih. “A-Agnia?! Sedang apa kau di sini? Dan kenapa kau naik ke tempat tidur Theo? Dia itu pa-” Agnia langsung memotong berondongan kalimat Rani Asura yang memiliki nama lengkap Nimas Ayu Asura yang nyaris tidak memiliki titik dan koma. “Maaf, Yang Mulia Maharani Asura. Anda boleh saja memarahi saya, tapi Theo sedang tidur,” jawabnya, pelan. Rani Asura memang hampir mengomeli keponakannya itu, tetapi ia urungkan niatnya, lalu mendekat ke arah Agnia. “Kau harus menjawab pertanyaanku lebih dulu, Agnia,” ucapnya, tegas. Walau Rani Asura seorang wanita, tapi dia memiliki wibawa yang cukup tinggi. Agnia segera beranjak dari tempat tidur Theo. “Bisakah kita bicara di luar, Rani Asura? Saya tidak ingin Theo terganggu.” Rani Asura mengangguk. Menuruti permintaan Agnia dan mengikutinya keluar dari ruangan di mana Theo dirawat dari belakang. Mereka pun berdiri di sekitar koridor yang tak jauh dari ruangan Theo. Rani Asura memang telah bangun dari koma panjangnya saat Agnia kembali ke Kerajaan Majapahit. Tentunya, ada rasa bahagia dalam hati Agnia melihat bibinya telah sehat seperti sedia kala. Tapi, kebahagiaan itu hanya sesaat, yang mana saat ini justru terselubungi penderitaan yang Agnia juga tak tahu kapan akan segera berakhir. “Maaf, Bibi Asura. Tadi pagi aku baru saja pulang. Aku langsung mengunjungi Theo. Tapi aku sangat kelelahan dan aku tidak sengaja tidur di ranjangnya,” jelas Agnia dengan bahasa ala bibi dan keponakan. Yang kemudian, Agnia menatap Rani Asura was-was, takut-takut andai bibinya akan memarahinya. Rani Asura menajamkan mata, lalu menghela nafas pelan. “Begitu? Lalu bagaimana? Apa kau sudah menemukan obat untuk menyembuhkan kaki Theo?” Sang Rani tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. Ya, memang itu sebenarnya yang Rani Asura ingin bicarakan jika bertemu dengan Agnia di satu waktu. Tapi, tak disangka-sangka, salah satu dari tiga Paladin terkuat yang berjuluk Judgment of Paladin itu malah menemukan keponakannya di ruangan Theo. Sang Paladin yang pernah membuat berhadapan satu lawan satu dengan salah satu pilar -Catur Bathara Arcapada- itu begitu berkharisma, anggun, sekaligus tegas. Di samping Rani Asura adalah orang nomer satu di Majapahit, kendati tak mengurangi rasa hormat dari seluruh penyihir kepada dirinya. “A-aku belum menemukannya, Bibi,” jawab Agnia jujur. “Belum? Lalu ke mana saja kau selama ini, hm?” nada suara Rani Asura mulai meninggi. Ia menyilangkan kedua tangan di depan dadanya yang besar, menunggu dengan sabar kalimat apa yang dilontarkan dari mulut anak dari adiknya itu. Namun, Agnia justru diam seribu bahasa. Agnia memutar matanya, mencari jawaban yang tepat untuk sang bibi. Lagi-lagi kekalutannya terbaca jelas oleh Rani Asura. Hembusan nafas Rani Asura terlepas kuat. “Sudahlah, Agnia. Maaf, aku terlalu menyudutkanmu. Aku tahu ke mana saja kau pergi tempo hari.” Agnia bungkam. Tak bisa mengelak. “Agnia, tidak hanya Ryan, tapi Theo juga sangat membutuhkanmu. Kita berdua tahu akan hal itu.” Rani Asura berkata satir seraya menatap tajam Agnia. DEG! Mendengar pernyataan Rani Asura, Agnia merasa disentil. Ada perasaan tidak enak muncul di hatinya. Apakah ia begitu pilih kasih terhadap Theo selama ini? “Aku tahu, Bibi Asura, aku tahu.” Agnia memejamkan matanya rapat. “Sebenarnya sulit bagiku melakukan dua pekerjaan sekaligus. Aku tidak bisa mencari pendonor jantung untuk Ryan sambil mencari literatur obat untuk luka bakar Theo.” Agnia menggigit bibirnya sendiri. Apakah Bibi Asura akan merasa puas dengan jawaban yang aku berikan? Rani Asura berkacak pinggang. “Aku sudah memberikan daftar buku dan sampel obatnya padamu, Agnia. Kau tinggal mengembangkan dan menganalisa. Memang membutuhkan analisis yang lama untuk memadukan bahan-bahannya. Tapi, hanya kau penyihir medis yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Kau paham, kan, Agnia? Jika kau tidak segera menemukannya, terpaksa kaki Theo akan diamputasi.” “Aku paham, Bibi Asura. Aku paham. Tentu saja aku tidak akan membiarkan hal itu menimpa Theo.” Agnia tertunduk lemah, rasa bersalahnya kembali mencuat. Mengapa aku tak bisa menjadi sahabat yang berguna bagi Theo? Agnia menguap. Lelah. Entah mengapa, rasa kantuk cepat sekali menerpa gadis rambut merah ini. Minggu-minggu ini merupakan minggu terberat. Agnia mengemban tugas yang terasa impossible di pundaknya untuk menyelamatkan kedua temannya yang sedang di ujung tanduk. Yang satu sedang melawan cengkraman maut, yang satu lagi terancam buntung. “Aku sangat mengerti dirimu, Agnia. Aku tahu betul bebanmu. Karena itu, aku dan penyihir medis lainnya juga akan membantu Ryan dan Theo melewati badai ini. Walau kecil sekali kemungkinan kalau … Ryan akan hidup.” Agnia kontan mendongak. Menatap Rani Asura dalam-dalam. Agnia tahu maksud Sang Rani berbicara seperti itu. Secara tidak langsung, Rani Asura mengisyaratkan untuk segera menentukan pilihan. Akan tetapi, Agnia memilih berpura-pura bodoh dengan menanyakan hal itu pada Rani Asura, “Ma-maksud Bibi, apa?” Rani Asura berkedip dua kali. “Kenapa kau jadi lemot begini, Agnia? Aku hanya ingin kau bertindak cepat. Memang ada sesuatu yang mengganjal di hatiku.” Agnia langsung lemas. Rasa-rasanya ia ingin menutupi telinganya,

takut mendengarkan kata-kata Rani Asura selanjutnya. “Kenapa, Agnia? Kenapa kau tidak merelakan salah satu … Ryan misalnya?” tanya Rani Asura tiba-tiba. JLEB! Dasar Agnia terasa dihujam pedang. Ia terkesiap. Matanya mulai berkaca-kaca. Bagaimana bisa Agnia merelakan cinta pertamanya itu meninggalkannya untuk selamanya? Agnia tahu usahanya mencari pendonor jantung untuk Ryan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi setidaknya, Agnia berharap bisa menemukan seseorang yang cocok dan mau merelakan jantungnya untuk menyelamatkan Ryan. Tak peduli dengan apa gantinya, Agnia siap melakukan apa saja. Termasuk menggadaikan kehormatannya sebagai seorang wanita: virginitas. “Aku … hanya ingin menyelamatkan Ryan saja, Bibi. Aku ingin … Ryan memiliki kesempatan kedua. Dia … dia telah menyelamatkan Theo dari serangan Panji. Ryan pasti … dia pasti berubah, Bibi!” suara Agnia mulai begetar. Sebelumnya, tidak pernah Agnia adu argumen dengan Rani Asura. Biasanya, Agnia langsung mau menuruti kata-kata bibinya, tapi kali ini Agnia berusaha untuk tetap tegak pada pendirian. “Begitu, ya?” Rani Asura kembali menghembuskan nafasnya perlahan. “Aku tahu kau sangat mencintai Ryan, Agnia. Tapi, bukan berarti kau mengesampingkan hal lain yang jadi kewajibanmu. Aku tahu kau hanya memandang Theo hanya sebatas sahabatmu saja.” Agnia langsung merespon pernyataan Ratu Asura dengan mata nyalang. “Aku sama sekali tidak bermaksud membeda-bedakan mereka, Bibi! Aku hanya … aku hanya ….” Agnia tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Batang tenggorokannya tercekat, seperti ada sesuatu yang menghalangi dirinya untuk berbicara. Agnia menahan tangis. Ia tidak ingin air matanya jatuh di depan bibi yang selalu mengajarkannya untuk menjadi seorang wanita kuat berhati baja. Rani Asura memandang Agnia dengan perasaan lara. Ia mengerti akan kesulitan yang keponakannya hadapi. Dan tentunya, Rani Asura tidak ingin keponakannya itu mengalami hal yang sama dengannya di masa lalu. Namanya Hayama. Seorang lelaki yang paling berharga dalam hidup Rani Asura. Namun naas, Hayama telah tiada dikarenakan bengisnya peperangan yang disulut oleh salah satu Catur Bathara Arcapada. Saat ini, yang Rani Asura inginkan tentunya adalah kebahagiaan Agnia. Tak peduli dengan segala retorika kehidupan yang tiada akhir. “Ah, aku sepertinya memang terlalu memaksakan kehendakku. Aku pernah kehilangan seseorang yang kusayangi. Jadi, aku sedikit mengerti apa yang kau rasakan, Agnia.” Rani Asura menatap Agnia sembari tersenyum kecil, tapi raut sedihnya tak bisa ia sembunyikan. Sungguh berat baginya untuk melanjutkan kalimat berikutnya. “Karena itu, aku tidak ingin kau mengalami kepahitan yang sama denganku. Kehilangan dua orang yang paling berharga bagimu itu adalah hal yang sangat menyakitkan. Ya, kan, Agnia?” Agnia tercengang. Ia mulai meresapi maksud dari kata-kata Rani Asura tersebut. Sedikit demi sedikit ia mulai mengerti. Agnia tahu masa-masa sulit seperti ini akan datang. Masa di mana Agnia harus memilih dan melepas sesuatu yang begitu berharga bagi dirinya. Setidaknya, satu nyawa bisa hidup jikalau yang lain gagal diselamatkan. Tapi, Agnia telah berusaha semaksimal mungkin, bukan? Bukan berarti Agnia tidak mau menyelamatkan salah satu di antara mereka. Bukan seperti itu. “Aku mengerti, Bibi,” ujar Agnia, setengah yakin, setengah ragu-ragu. Bagaimanapun, hal ini begitu berat bagi Agnia merelakan cinta pertamanya untuk pergi selama-lamanya. Agnia ingin menangis sejadi-jadinya. Menumpahkan segala keluh kesahnya kepada seseorang yang tak sanggup ia gapai hatinya. Untuk terakhir kalinya, Agnia ingin sekali mengunjungi Ryan. Karena besok … Agnia memutuskan untuk menghabiskan waktunya di laboratorium kerajaan. Rani Asura tidak ingin menambah beban keponakan tersayangnya lagi, oleh karena itu, ia segara mengakhiri pembicaraan mereka. “Baiklah, Agnia. Aku mau memeriksa keadaan Theo dulu. Kau ingin kembali ke dalam?” “Tidak, Bibi. Aku mau membelikan donat dulu untuk Theo. Dia bilang dia sangat ingin makan donat.” “Baiklah kalau begitu.” Agnia menunduk sopan. “Saya permisi dulu, Rani Asura.” “Ya.” Agnia menegakkan badannya, kemudian mulai berjalan menjauhi Rani Asura. Yang tidak diketahui oleh Rani Asura, butiran air mata Agnia mulai jatuh perlahan. Agnia berjalan sampai di persimpangan dan berhenti di sana. Dilihatnya ke belakang, tempat di mana tadi ia dan orang nomer satu di Majapahit itu berdiri. Sepi. Rupanya Sang Rani telah masuk ke dalam ruangan tempat Theo dirawat. Agnia mengambil kesempatan ini. Dengan langkah seribu, Agnia berjalan ke arah kanan, berlawanan dengan arah di mana seharusnya ia pergi seperti yang dikatakannya barusan. Ya, arah di mana kaki Agnia menuntunnya untuk pergi ke ruangan …
RYAN.​