Rezeki Wisata Ke Pantai

Rezeki Wisata Ke Pantai

HARI Minggu Pak Jaya menyuruh aku mengantar keluarganya pergi wisata ke pantai. Pekerjaanku sehari-hari adalah sopir mobil online, sekaligus juga tetangga baik Pak Jaya.

Keluarga Pak Jaya terdiri dari Pak Jaya, istrinya Bu Wulan, anaknya Astrid dan kakak ipar Pak Jaya.

Perjalanan sekitar 2,5 jam kami lalui dengan baik tanpa banyak hambatan. Setelah membayar uang retribusi sebesar Rp. 3.000,- per orang plus uang parkir mobil Rp. 10.000,- kamipun bisa melihat pemandangan indah yaitu hamparan pasir putih dan perahu-perahu nelayan yang tertambat di tepi pantai dengan ombak yang mengalun pelan kemudian pecah di tepi pantai.

Kami segera mencari tempat untuk menggelar tikar di bawah pohon pinus yang rindang untuk menaruh makanan dan minuman yang dibawa keluarga Pak Jaya.

Setelah semuanya lengkap kami semua mengelilingi tikar untuk makan siang.

Sedap rasanya makan di tepi pantai sambil memandang elang laut memburu ikan di tengah lautan ditemani oleh daging rendang bikinan Bu Wulan yang sangat enak. Tetapi tukang asongan juga tidak sedikit yang datang menawari dagangan mereka seperti ikan asin, pete, emping, keripik jengkol mentah, ebi kering dan rengginang.

Selesai makan Bu Wulan pergi ke pantai duluan dengan Astrid, kemudian Pak Jaya menyusul. Sedangkan aku membantu kakak ipar Pak Jaya mengumpulkan sampah-sampah bekas makan kami di kantong plastik.

Setelah tikar menjadi rapi dan bisa kami pakai untuk duduk memandang gulungan ombak yang terdampar ke tepi pantai, datang seorang wanita paruh baya menawarkan asongannya pada kami.

Wanita yang memakai kerudung dan rok panjang ini bukan menawarkan makanan pada kami, melainkan kebutuhan wanita, yaitu kayu wangi untuk dimasukkan ke lubang vagina supaya lubang vagina menjadi wangi dan singset, dan juga ada minyaknya.

Bisa dibeli satuan, tetapi membeli dua-duanya lebih bagus katanya. Minyak bisa dioleskan dulu ke kayu wangi supaya gampang dimasukkan ke lubang vagina, khususnya untuk wanita yang sudah menopause karena lubang vagina mereka sudah kering.

Harganya juga tidak mahal. Hanya kayu wangi saja harganya Rp. 75.000,- dan minyak Rp, 50.000,- tetapi beli dua-duanya Rp. 100.000,-

Kata penjualnya pula kayu ini hanya ada di daerahnya ini, tidak ada di daerah lain. Ia juga mengingatkan kami supaya hati-hati karena banyak penjual barang palsu. Karena itu, ia memberikan jaminan pada kami dengan memberikan kami kartu nama yang tercantum nomor telepon rumahnya, jika dalam 4 bulan nanti kayunya sudah tidak wangi, kayunya boleh dikembalikan dan uang akan dikembalikan secara utuh.

Bentuk kayunya juga bagus, dibuat dalam bentuk seperti penis berukuran panjang 16 sentimeter dan berdiameter 4 sentimeter.

 

“Ha.. ha..” Bu Yanti tertawa lucu. “Aku sudah gak punya suami, Bu… kalau mau bau, biarin bau deh, sudah nggak ada yang pake…” kata Bu Yanti.

“Nggak punya suami juga bagus kok dipakai sehari-hari, Bu… kalau lagi sendirian di rumah pengen berhubungan, pakai ini saja dimasukin… aku juga gak punya suami, tapi seks jalan terus pakai ini… ini ada testernya, Bu… Ibu boleh coba dulu, dijamin bersih…!” kata si ibu mengeluarkan tester penis kayu wanginya yang dibungkus dengan kain putih.

Bu Yanti memandang aku seperti minta pendapatku. “Habis coba, nggak beli nggak apa-apa kan, Bu…?” tanyaku pada penjualnya.

“Yang penting cocok dulu, Mas… untuk harga nanti ibu kurangi sedikit sebagai penglaris…”

“Cobanya dimana, Bu?” tanya Bu Yanti.

“Di sini saja.” jawab si ibu penjual menunjuk ke tikar.

Aku terhenyak kaget, apalagi aku melihat Bu Yanti masih cukup muda, baru sekitar 40-an umurnya tetapi sudah janda, suaminya meninggal karena serangan jantung mendadak 2 tahun yang lalu.

“Nggak apa-apa,” kata si ibu penjual, “Nggak banyak tamu yang lewat di sini, kecuali asongan, mereka juga ngerti kok, kita sama-sama cari duit halal di sini…”

Bu Yanti memandang aku lagi. “Ya sudah, kalau Ibu mau coba, coba saja…” kataku.

“Tapi jangan bilang-bilang ya…”

“Iya…” jawabku. “Sekalian aku jaga mereka…” kataku.

Bu Yantipun melepaskan celana panjangnya. Aku tidak mau melihat saat Bu Yanti berbaring di tikar dengan kaki menghadap ke hutan pinus. Hanya pura-pura saja.

Tetapi pada saat si ibu memasukkan kayu wangi ke lubang vagina Bu Yanti, akupun melihat. Aku sengaja melihatnya dari depan. Tidak mungkin Bu Yanti atau ibu si penjual mengusir aku pergi.

Seandainya saja, batinku tempik si janda ini dimasukkan kontiku, bukan batang kayu.

Kemudian si ibu penjual tidak mendiamkan kayu wangi yang sudah dimasukkan ke lubang vagina Bu Yanti. Batang penis imitasi ia tarik-dorong keluar-masuk.

“Hi.. hikk… hi… hikk…” Bu Yanti tertawa.

“Enak ya, Bu…” tanya si ibu penjual.

“Iya… mmmhh… mau keluar rasanya… ooohh…”

Bu Yanti merasa mau keluar atau merasa mau orgasme bukan karena efek dari kayu wangi itu, melainkan vagina Bu Yanti sudah 2 tahun tidak dipakai untuk bersetubuh sehingga digesek-gesek oleh si ibu itu dengan kayu berbentuk penis pastilah Bu Yanti merasa nikmat seperti vaginanya dimasuki dildo.

“Jadi, mau beli?” tanyaku pada Bu Yanti.

“Terserah kamu…” jawab Bu Yanti.

“Aku ambil yang sedang dipakai itu saja, boleh ya, Bu…?” kataku pada penjualnya.

“Boleh…” jawab si ibu penjual. “Ibu nggak cabut, ya…” katanya.

Aku cepat-cepat memberikan si ibu Rp.100.000,- dan setelah berbenah, si ibu itu segera pergi membawa tasnya, tinggal Bu Yanti yang masih berbaring di tikar dengan kayu wangi masih menancap di lubang vaginanya.

Akupun segera menurunkan celanaku dan mengeluarkan penisku yang tegang. “Masa di sini?” kata Bu Yanti.

“Sudah, Ibu diam saja… biar aku yang kerja sekarang.” jawabku mengeluarkan kayu wangi dari lubang vagina Bu Yanti yang sudah banyak kuyup, termasuk penis kayu itu juga basah kuyup, ganti penisku yang masuk ke lubang vagina Bu Yanti dari pinggir celana dalamnya yang tidak dilepaskan.

Blebbb… blleesss… penisku yang mengacung keras langsung memasuki lubang lawas Bu Yanti, kakak ipar Pak Jaya.

“Enak mana?” tanyaku pada Bu Yanti setelah penisku tertelan lubang vaginanya.

“Enak yang asli-lah…” jawabnya. “..ooohhh… ooohhh… ahhhh…” ritihnya saat penisku bergerak maju-mundur keluar-masuk di lubang vaginanya.

Tidak kusangka penjual penis kayu wangi membawa rezeki bagiku bisa menikmati vagina kakak ipar Pak Jaya. Dapat pemandangan indah di tepi pantai, dapat ngentot pula.

Aku keluarkan teteknya dari BH, lalu aku remas-remas dan hisap-hisap puting teteknya yang besar itu. Kemudian Bu Yanti mengimbangiku dengan meliuk-liukkan pinggulnya.

Ohhh…

Penisku yang keras itu seperti ditekuk-tekuk dan dibelit-belit oleh lubang vagina Bu Yanti yang licin dan basah, tetapi nikmatnya sungguh membuat aku tidak tahan lebih lama lagi.

Untuk 10 menit pompaanku sudah membuat spermaku menyembur di rahim Bu Yanti.

Craattt…. crrrooottt… crrroott… crrooott…

Aku diamkan penisku di dalam lubang vagina Bu Yanti biar spermaku yang kental dan hangat itu merendam rahim Bu Yanti.

“Kapan-kapan kamu ke rumah aku, ya…” suruh Bu Yanti.

Bu Yanti tidak tinggal serumah dengan Pak Jaya. Ia hanya datang bermain ke rumah Pak Jaya.

Bu Yanti termasuk seorang wanita yang pintar menyembunyikan perasaannya sewaktu Bu Wulan datang, Bu Yanti tampak tenang-tenang saja.

Bu Wulan kemudian menyuruh Bu Yanti menggantikannya menjaga Astrid yang masih berenang, karena Pak Jaya lagi sibuk mancing.

 


Pak Jaya dulu pernah menikah,tetapi kemudian cerai lalu menikah lagi dengan Bu Wulan. Maka itu Bu Wulan masih cukup muda usianya, mungkin baru sekitar 35 tahun. Bu Yanti berumur sekitar 40 tahun, sedangkan Pak Jaya sudah berumur 55 tahun.

“Apa itu…?” Bu Wulan kaget sewaktu kutunjukkan penis kayu wangi itu padanya yang tentu saja sudah dicuci bersih dengan air oleh Bu Yanti.

Lalu aku menjelaskan pada Bu Wulan asal usul dari mana asal penis kayu wangi ini.

“Wah, ini cocok untuk aku.” katanya. “Siapa yang beli?”

“Aku…” jawabku. “Untuk Bu Yanti sih sebenarnya… lalu, untuk Bu Wulan apa gunanya?” tanyaku. “Kan Bu Wulan sudah punya Pak Jaya yang lebih enak dan lebih efektif, daripada ini… kaku…” kataku.

“Lebih enak apa, Adi…? Sekarang hanya kuat semenit, Ibu belum apa-apa, Bapak sudah ngecrot….”

Aku cukup kaget juga mendengar Bu Wulan berkata begitu. Ternyata Bu Wulan menyimpan duka seorang istri yang mendambakan seorang suami yang perkasa, ternyata ia tidak mendapatkan itu.

“Hii… aku sangka Bapak masih sekuat tenaga kuda…” kataku. “Ini nanti Bu Wulan pakai berdua saja dengan Bu Yanti.”

“Nggak…” katanya. “Kamu nggak sayang sama aku, kamu sayang sama Yanti…”

“Nggak Bu Wulan, Bu Wulan jangan salah kaprah….” jawabku cepat. “Kalau aku disuruh pilih, tentu saja aku lebih sayang sama Bu Wulan, karena Bu Wulan rumahnya deket, kalau pengen bisa langsung ke rumah… he.. he..”

Tak lama kemudian datang mereka bertiga. Hari seperti mendung ingin hujan. “Kita cari tempat menginap yuk, Di…” ajak Pak Jaya.

“Bapak ngajak aku mencari penginapan mau kencani Ibu.” bisikku menggoda Bu Wulan.

“Nanti kamu sama Yanti, ya?” kata Bu Wulan. “Kasihan tuh, Yanti nggak ada yang kencani…”

“Aku mau sama Bu Wulan.” sebutku.

Bu Wulan mencubit lenganku manja sambil kami rapikan barang-barang bawaan kami dari rumah untuk dibawa ke mobil.

Sebentar kemudian kami sudah memindahkan barang-barang bawaan kami ke mobil, lalu aku segera mengajak Pak Jaya bersama keluarganya mencari penginapan.

Sebenarnya bukan penginapan, tetapi rumah penduduk yang disewakan untuk para pelancong yang ingin menginap sudah termasuk makan, Rp. 100.000,- per malam per orang.

Berhubung sudah sore, kamipun memesan makanan sebelum masuk ke penginapan.

Bu Wulan memesan ikan baronang bakar, kangkung cah belacan, cumi goreng tepung dan CENDOL gula aren tak ketinggalan.

Kami makan sekitar 1 jam sambil ngobrol memandang keindahan pantai di sore hari terutama saat matahari kembali ke peraduannya, atau orang bule ngomong itu ‘sunset’.

Setelah itu aku siap tidur di mobil, atau mencari PSK untuk mengajaknya kencan semalaman, tetapi aku diberi kamar untuk tidur dengan Bu Yanti.

Ho… ho…. cendol… cendol…

•••••

Mungkin kemujuran jugalah yang mempertemukan aku dengan Bu Wulan sewaktu aku mau ke kamar mandi Bu Wulan juga mau ke kamar mandi.

 

Kata Bu Wulan padaku, Pak Jaya sudah tidur setelah mandi. Kesempatan itu, tidak kami sia-siakan. Kamipun berpelukan dan berciuman. Mumpung di belakang penginapan sepi, aku segera menarik Bu Wulan lalu menelanjanginya di kamar mandi.

Tubuh putih mulus itu tanpa perlu lama langsung aku eksekusi dengan mendorongnya menghadap ke bak penampung air, aku memasukkan penisku ke lubang vagina Bu Wulan dari belakang.

Tidak semudah itu aku menjebloskan penisku yang tegang ke lubang vagina Bu Wulan, karena lubang vagina Bu Wulan masih pret. Tetapi berhubung aku penasaran dengan lubang vagina tubuh mulus itu dan aku juga tidak ingin mengecewakan Bu Wulan aku berusaha mendorong penisku sampai masuk hingga penisku terjepit sesak di dalam, namun masih memungkinkan penisku untuk melakukan gerakan manuver dan akrobatik di lubang vagina Bu Wulan yang sudah jarang disetubuhi Pak Jaya ini.

Aku sebadani istri Pak Jaya ini sekitar 20 menit di kamar mandi, lalu kami mandi bersama.

Kami saling sabunan. Bu Wulan membiarkan teteknya kupegang dan kuremas-remas dengan busa sabun, lubang vaginanya kucolok-colok dengan jari dan kujilat.

Pokoknya tidak ketinggalan satu inci pun tubuh Bu Wulan tidak kuekplorasi, termasuk anus dan telapak kakinya ikut kujilat, lalu kusetubuhi sekali lagi Bu Wulan.

Bu Wulan membiarkan aku menanam benih di rahimnya, katanya ia ingin punya anak laki-laki.

Sebaliknya di kamar, selesai aku mandi Bu Yanti sudah menunggu aku dengan tubuh telanjang bulat. Aku sudah tidak bertenaga. Jujur aku berkata pada Bu Yanti bahwa aku baru saja menyetubuhi adiknya 2 kali di kamar mandi.

Bu Yanti menunggu tenagaku pulih dengan sabar sambil mengocok dan menghisap penisku. Kenikmatan yang diberikan Bu Yanti membuat penisku bangkit lagi.

Bu Yanti naik ke tubuhku, memasukkan penisku ke lubang vaginanya. Bleessss….

Lalu mulai ia memacunya dengan menggoyang pantatnya maju-mundur sambil duduk di pangkal pahaku. Penisku yang berdiri menancap di lubang basah Bu Yanti seperti diguncang-guncang dan dibesot-besot.

Kemudian aku mengimbangi gerakan Bu Yanti tersebut dengan menggerakkan pantatku naik-turun menusuk-nusukkan penisku ke lubang vagina Bu Yanti.

“Akkhhh…. aakkhhh… akkkhhh… ooohhhh…” desah Bu Yanti kesedapan sambil menggeleng-geleng kepalanya sementara pantatnya semakin memacu kencang sehingga membuat ranjang ikut bergoyang.

Perbuatan kami yang hanya dilandasi napsu tanpa cinta itu kemudian terputus sampai di situ saja.

Kemudian Bu Wulan kulihat juga hamil, tapi berhubung kehamilan itu diingini Bu Wulan, aku kembali melewati hari-hariku menjadi sopir mobil online seperti biasa.

Aku dapat duit dari Pak Jaya yang menyewa mobilku, dapat tubuh bininya dan dapat tubuh kakak iparnya. Betapa beruntungnya aku. (bc2024)