Sesama Lansia

Sesama Lansia

PERTAMA kali saya mengenal ciuman bibir adalah melalui kakak kandung saya sendiri, Kak Elly.

Waktu itu saya baru berumur 10 tahun, sedangkan Kak Elly berumur 13 tahun. Setelah pulang dari sekolah, biasanya kami tidak keluar dari rumah lagi untuk pergi les macam-macam, karena kami tinggal di kampung.

Kak Elly mempunyai alat bermain masak-masakan yang sangat lengkap. Bonekanya ada 3 buah. Boneka Barbie, boneka Teddy Bear dan satu lagi boneka yang bisa menangis kalau dot-nya dilepas dari mulut si boneka.

Nah, suatu kali saya melihat di kamar Kak Elly sedang menetek bonekanya yang bisa menangis. Ia mengangkat kaosnya dan teteknya yang sudah tumbuh bulat kecil di dadanya itu disodorkannya ke mulut si boneka.

Kak Elly pasti belajar dari Mama, karena Mama sering menetek adik kami di depan kami. “Kak, aku ikut main boleh, nggak?” tanya saya.

“Boleh. Kamu jadi papa, aku jadi mama, ya?” jawabnya membagi peran.

“Tugas aku jadi papa apa dong, Kak?”

“Masak air untuk mandikan anak kita.” jawabnya.

Saya masak air dengan ceret dan kompor listrik dari plastik. “Airnya sudah mendidih, Kak.” kata saya belum 5 menit.

Kak Elly melepaskan pakaian bonekanya. Saya bertanya pada Kak Elly,: “Kenapa kita belum pacaran sudah punya anak, Kak?”

“Ayo, kita pacaran.” ajak Kak Elly polos meninggalkan bonekanya yang telanjang di lantai.

Kemudian Kak Elly bertanya pada saya. “Kamu sayang sama aku nggak, Dek?”

Saya mengangguk lugu.

“Kita cium bibir ya, Dek!” kata Kak Elly.

Mungkin Kak Elly sudah sering ikut nonton film romantis dari Taiwan atau Hongkong yang dikemas dalam DVD dan sering ditonton oleh kedua orangtua kami.

Kak Elly memeluk saya. Kak Elly mencium bibir saya. Saya melihat mata Kak Elly terpejam. Saat itu entah kenapa, penis kecil saya yang tidak disunat itu menjadi tegang.

****(*)****​

50 tahun kemudian…

Saya dan Kak Elly dipertemukan dalam acara ulang tahun Mama yang ke-90. Kak Elly sengaja datang dari Australia dengan suaminya, Brown.

KaK Elly dan suaminya menginap di hotel, sedangkan saya bertugas menjemput dan mengantar kemana saja mereka mau pergi dengan mobil pinjaman dari teman saya.

Setelah satu hari mereka di Jak****, pada sore harinya saya mau mengajak Kak Elly dan Brown makan malam di sebuah restoran Chinese..

Saya sudah menghubungi Cik Elly melalui telepon, tapi jam berapa saya datang menjemput, saya lupa memberitahukan pada Cik Elly.

Jam 4 lewat 10 menit saya tiba di lobby hotel tempat Cik Elly dan Brown menginap.

Saya melapor terlebih dahulu di meja resepsionist hotel. Oleh room boy kemudian saya di antar ke lift.

Kamar Kak Elly terletak di lantai 20. Setelah sampai di lantai 20, saya menelusuri lorong kamar yang berlampu temaram itu mencari kamar nomor 2017.

Nah, ini dia kamar nomor 2017!

Saya mengetuk pintu kamar. Ketika pintu kamar nomor 2017 terbuka, waww… saya terkejut untuk beberapa detik.

Kak Elly berdiri di depan pintu menyambut saya dengan tubuh berbalut handuk dan kepalanya juga berbalut handuk.

“Brown lagi minum kopi di Starb***s! Ayo, masuk!” ajak Kak Elly membuyarkan keterkejutan saya.

Saya pergi ke jendela menatap matahari sore di Jak****. Kendaraan di jalan raya terlalu sesak. Cik Elly menepuk pundak saya. “He Teddy, masih ingat nggak kamu waktu ciuman pertama kali dengan aku?”

“Sudah lupa, Kak.” jawab saya tersenyum.

“Ciuman pertama kok lupa? Aku masih ingat, lho!” balas Kak Elly.

Saya melihat payudara Kak Elly yang keluar sebagian dari handuknya. Ia tersenyum. “Penis kamu bangun lagi nggak seperti pertama kali kita ciuman?” tanya Kak Elly tiba-tiba.
Saya kaget. Kak Elly masih ingat semuanya walaupun kejadiannya sudah 50 tahun yang lalu.

“Sudah tua, Kak!” jawab saya.

“Haa… haa… apa karena istri kamu sudah meninggal, lalu membuat kamu nggak ada semangat lagi? Jangan gitu, ah…”

Kak Elly mendekati saya dan ia memegang pipi saya, kemudian ia mencium bibir saya. Ciuman yang hangat. Bagaimana saya sebagai seorang laki-laki yang sudah kehilangan istri hampir 5 tahun tidak terpengaruh?

Saya langsung membalas ciuman Kak Elly. Kak Elly menjulurkan lidahnya sembari ia mengambil tangan saya, lalu ditaruhnya di payudaranya. Kemudian Cik Elly berkata pada saya. “Aku ingin bercinta dengan kamu, Teddy yang dulu belum sempat kita lakukan! Jangan takut dengan Brown, kalau dia sudah duduk di Starb***s, bisa berjam-jam…”

Ahhh…

Kemudian Kak Elly membuka ikat pinggang di celana panjang saya. Ia melepaskan kaos yang saya pakai. Ia menanggalkan celana panjang saya. Ia mencopot celana dalam saya dan ia tersenyum melihat penis saya yang tertidur lemas.

Kak Elly mencium penis saya. Setelah itu, ia menjilat. Diperlakukan seperti itu oleh kakak kandung sendiri, penis saya pelan-pelan bangun.

Saya berumur 60 tahun dan Kak Elly berumur 63 tahun.

Tubuh Kak Elly sebagian belum keriput saat ia melepaskan handuknya. Perutnya besar berjuntai dan tidak ada bulu kemaluan di bagian atas vaginanya.
Payudaranya juga sudah menggelantung, tapi montok besar. Semangatnya untuk bercinta dengan saya masih tinggi.

Ia mengoles minyak ke penis saya yang tegang dan selanjutnya ia juga mengoles minyak ke vaginanya.

Seterusnya ia naik ke tempat tidur mengangkang di atas penis saya.

Penis saya dipegangnya, lalu perlahan ia menurunkan vaginanya ke ujung penis saya. Jleebbb… blessss…oooohhh…. masih mantap penismu, Teddy… desah Kak Elly memeluk saya.

Kami berciuman dan pada saat yang sama pantatnya naik-turun, sementara lubang vaginanya yang licin itu menggesek-gesek kepala penis saya. Otomatis membuat saya menghujamkan penis saya dari bawah.

Plookk.. plokk.. plokk…

“Oooooohhhh….” rintih Kak Elly, “Saya mau orgasme!” katanya.

Ketika dinding vaginanya meremas-remas batang penis saya. Saya ikut tidak tahan lebih lama lagi.

CRROOOTTT…. SHHERRRR…. SHERRRRR… air mani saya menembak kencang di rahim Kak Elly.

Semuanya kembali seperti biasa, saat aku dan Kak Elly serta Brown makan malam di sebuah restoran Chinese.

Selama seminggu Kak Elly di Jak****, selama 7 hari berturut-turut saya bercinta dengan Kak Elly.

Bercinta sesama lansia, memang berbeda rasanya, apalagi bercinta dengan kakak kandung sendiri, selangit nikmatnya!