3 in 1

3 kisah digabung menjadi 1.
Selamat menikmati.
Semoga tidak membosankan.

~~~●●●~~~

BH Mama

AKU baru saja menaruh sepeda motorku di halaman, Mama berlari keluar dari rumah. “Yudi… Yudi… tolong Mama sebentar ya?” kata Mama.

“Tolong apa, Ma?” tanyaku pada Mama.

“Masuk dulu sini…” suruh Mama.

Aku masuk ke rumah meletakkan ranselku di kursi ruang tamu, Mama keluar dari kamarnya membawa sebuah kantong plastik. “Ini BH…” kata Mama.

“BH? Buat apa, Ma?” tanyaku bingung.

“Tadi Mama beli…,” Mama mengeluarkan 2 potong BH, satu berwarna hitam dan satu berwarna merah dari kantong plastik. “…ternyata nggak pas buat Mama. Tolong Mama tukar ya, ini masih ada bonnya. Mama sudah janji sama mbaknya, kalau nggak cocok boleh ditukar…”

“Ahh… Mama, masa suruh aku yang tukar BH sih?”

“Nggak apa-apa, tolong Mama sebentar, ya… soalnya besok sudah nggak boleh ditukar…”

“Memangnya tadi beli nggak dicoba dulu? Mau tukar nomor berapa?”

“Barang obral, kata mbaknya nggak boleh dicoba. Yang sekarang nomor 36, tolong Mama tukar nomor 38, ya…”

“Besar amat nomor 38?” kataku.

“Memang besar tetek Mama, nih…” Mama membusungkan dadanya di depan aku.

“Hee… hee…” aku tertawa.

“Iya… kan?”

“Iya…” aku menjulurkan tanganku ke dada Mama. Siapa suruh memamerkan tetek padaku, kataku dalam hati.

“Eittss… pegang-pegang, ada Fendi ah di kamar!” Mama menepis tanganku. “Sudah, makan dulu sana baru pergi, ada ikan asin dan sayur asem…”

Aku pergi ke dapur. Mama menyiapkan makanan untuk aku di atas meja. Lalu aku duduk di bangku yang berada di depan meja makan mulai menyuap nasi ke mulutku dengan sendok.

Karena perutku sudah lapar, aku makan dengan lahap, apalagi sayur asem bikinan Mama sangat nikmat dimakan sama ikan asin. Sebentar saja nasi dipiringku sudah ludes.

“Mau tambah lagi nasinya?” tanya Mama datang membawakan aku segelas air minum.

“Sudah kenyang Ma, sayur asemnya enak!” pujiku memandang Mama yang berdiri di samping aku. Mataku menatap teteknya yang sangat mengundang itu. Mengundang untuk dijamah, mengundang untuk diremas.

Kemudian aku merangkul pinggang Mama, lalu kucium teteknya yang terbalut kaos dan BH. “Genit, ya? Nih… sekalian cium ketek Mama, wangi….” kata Mama mengangkat lengannya.

Tanpa menunggu lagi, aku beranjak bangun dari bangku yang kududuki, lalu kucium ketek Mama dan kusedot bau ketiak Mama yang wangi merangsang itu. “Ee…. beneran, ya…. Yudii… Yudiii…. Yudiii… oohhh…. Yudiii…” seru Mama ketika tanganku ikut meremas teteknya.

“Ii….ihh…” Mama memukul tanganku. “Nakal nih tangan…”

“Enak sih….”

“Kamu yang enak, Mama yang kebagian sakitnya… tetek masih di dalam BH… diremas-remas…” kata Mama mengomel. “Sudah, minum tuh… airnya…” suruh Mama. “… BH Mama nanti tukar dengan warna yang sama ya, kalau model… terserah kamu, kamu pilih aja sendiri, sukanya model apa…”

Mama membawa piring dan gelas bekas makan dan minumku ke tempat cuci piring.

Aku pengen usilin Mama lagi. Aku melangkah mendekati Mama memeluk perutnya yang agak buncit. “Sudah, pergi sana… nanti pulang dari toko saja kalau mau cium Mama, sekarang nggak enak, lagi ada Fendi di rumah…” kata Mama.

Mama seolah-olah merestui aku mengusilinya. Aku mencium leher Mama, sementara itu kedua tanganku merayap ke atas memegang kedua teteknya yang berdiri tegak di depan dadanya karena Mama memakai BH yang ketat dan tebal mangkok BH-nya supaya teteknya yang montok itu bisa ditopang dengan sempurna, tidak menggelayut.

“He… nanti kelihatan sama Fendi… sudah, sana pergi dulu… pulang nanti kamu mau apa saja silahkan…” kata Mama sambil mencuci piring, sedangkan telapak tanganku mengelus-elus dadanya yang membusung itu.

“Nih anak… ngomong nggak mau ngerti ya? Penasaran, ya?” tanya Mama.

“Hee… hee… aku buka ya BH Mama….”

“Iya… biar penasaran kamu itu hilang…”

Terus tanganku membuka pengait BH Mama di belakang. Thezzz… BH Mama menjadi longgar di dalam kaosnya. Mama lalu membalik menghadap aku. Kedua tangannya yang basah diletakkannya di pundakku. “Mau ngapain sih?” tanyanya.

Aku memeluk Mama. Dalam sekejap kedua bibir kami sudah dalam dekapan yang saling mengecup dan saling melumat. Ludahku dan ludah Mama pun bercampur menjadi satu ketika lidah kami saling menjilat, saling memelintir dan saling menghisap.

O… tidak kusangka Mama mau bercinta denganku. Mungkin Mama horny ketika tadi kupegang-pegang teteknya. Sejurus kemudian tanganku sudah masuk ke dalam kaosnya.

BH-nya kuangkat, lalu teteknya yang menggelayut di dadanya kuremas-remas, putingnya yang besar kuputar-putar dengan jariku. Napas Mama tidak beraturan sudah, mendengus-dengus dan mendesah-desah, tubuhnya bergetar hebat. Mama memeluk aku erat-erat.

“Maammaa… gak tahann, Yudiii… Mamm… maa… gak tahannn… Mama keluarrr… ooohhh…” kata Mama pelan di dekat telingaku dengan napas tersengah-engah.

Mama orgasme. Aku membawa Mama duduk di bangku. Kulihat wajahnya sayu dan pucat. “Kamu…. bikin Mama lemes…” kata Mama pelan.

“Maaf ya, Ma… aku nggak tau Mama cepat gitu keluarnya…”

“Sudah, sana pergi… nanti Fendi keluar dari kamar melihat Mama lemes gitu, disangkanya kita lagi ngapain lagi di sini… ia kan sudah ngerti yang gitu-gituan… Mama pernah melihat ia nonton film porno dan ngocok kemaluannya di kamar….” kata Mama.

“Punyaku, gimana nih, Ma? Lagi keras banget…”

“Di pojok situ… biar nggak ketahuan Fendi….”

Mama takut banget dengan Fendi. Memang orangnya agak kasar, suka bentak-bentak Mama. Kalau Mama omongin sedikit saja, ia suka nggak mau terima meskipun ia bersalah.

Di pojok dapur, aku berdiri menurunkan celana panjangku dan ketika aku menurunkan celana dalamku, kontolku yang keras terpental keluar dari celana dalamku. Kemudian Mama berlutut, Mama memegang pangkal kontolku dengan tangannya hangat. Aku menggelinjang.

Kemudian Mama membuka mulut memasukkan kontolku ke dalam mulutnya. Ketika dikulum… ahhh… ditambah telapak tangan Mama meremas-remas biji pelerku… uuughhh… segera kukocok kontolku keluar-masuk di mulut Mama.

Peduli amat orang mau ngomong aku anak durhaka, sebab sudah tidak bisa kutahan lagi akan nikmatnya kuluman mulut Mama.

Kepala Mama ikut maju-mundur, Kelihatannya ia begitu nikmat menghisap kontolku yang keras, panjang dan besar. Air ludahnya sampai menetes keluar dari mulutnya.

Aku pun sudah mampu bertahan lebih lama lagi. Kontolku berdenyut-denyut dan tubuhku mengejang hebat. “Ooohh… Mamaaa… Mamm…maaa… aku kluarrrrrr….” erangku.

Kupegang kepala Mama, lalu kusemburkan air maniku di dalam mulutnya. Crroottt… crrooottt… creettt… crrooottt… semburan yang begitu kencang, seperti semburan lava dari gunung berapi yang meletus. Mama sampai menahan napas dan memejamkan matanya.

“Paling nikmat, Ma….” kataku ketika Mama mengeluarkan kontolku dari mulutnya.

Mama tersenyum sembari mengulum air maniku, lalu berlari pergi menuju ke tempat cuci piring mengeluarkan air maniku dari mulutnya. Sementara itu aku memakai kembali celanaku. Tubuhku masih lemas lunglai ketika aku naik sepeda motor pergi ke toko untuk mengganti BH Mama.

~~~●●●~~~​
Di atas sepeda motorku, pikiranku masih melayang-layang membayangkan Mama. Mama tampak begitu cantik seperi bidadari. Rasanya aku tidak tahan kalau tidak cepat-cepat pulang ke rumah.

Untung SPG toko tempat Mama membeli BH tidak menyulitkan aku. Setelah aku menukar BH dengan nomor yang sesuai dengan keinginan Mama, secepatnya aku memacu sepeda motorku pulang ke rumah.

“Dapat nggak tukarannya, Yud…?” tanya Mama yang sedang setrika pakaian.

“Dapat dong, Ma….” jawabku bangga.

“Mana, sini Mama coba…” kata Mama mengulurkan tangannya mengambil bungkusan plastik dari tanganku.

Mama menarik stop kontak setrikaannya, lalu masuk ke kamar tidurnya, sedangkan aku menukar pakaianku di kamar tidurku. Aku dengan Fendi masing-masing menempati satu kamar tidur.

Tidak lama setelah aku berada di ruang tengah, Mama keluar dari kamar tidurnya. Pasti Fendi sudah pergi dari rumah, soalnya mama berani keluar memakai BH yang tadi kutukar.

“Yud, bagus nggak dipakai sama Mama?” Mama bertanya padaku.

“Bagus dong, Ma… seksi…” jawabku memandang tetek Mama yang terbalut BH merah. Serasi banget dengan kulit Mama yang berwarna putih. “Papa nanti tambah jatuh cinta deh sama Mama…” tambahku.

“Kayak kamu nggak tau sifat papamu aja… memangnya kamu pernah mendengar papamu memuji Mama?” tanya Mama.

“Iya, sih…” jawabku menjulurkan tanganku ke bongkahan BH Mama.

“Ayo… ayo, mau ngapain lagi? Tadi kan sudah, masa mau sekali lagi?” kata Mama.

“Soalnya hisapan Mama nikmat banget sampai merasuk ke tulang sumsumku,” jawabku. “Sekali lagi ya, Ma?” aku cium-cium BH-nya yang bau toko.

“Besok aja, sekarang setrikaan Mama lagi setumpuk.”

“Sekarang aja deh, Ma… mumpung nggak ada Fendi. Mau ya, Ma….” rayuku.

Mama masuk ke kamar tidurnya. Aku mengikuti. Di dalam kamar tidur, aku memeluk Mama dari belakang, lehernya kucium dan kulumat. Mama menggelinjang. “Arrgghhh….” Ia melepaskan pelukanku, lalu naik ke tempat tidur berbaring.

Aku segera naik ke tempat tidur. Lengan Mama kubuka lebar dan keringat di ketiaknya kujilat dengan lidahku. Mama memeluk aku. Tidak ada kata-kata yang lebih indah ketika bibir kami berciuman mesra. Ludah Mama kusedot dan kuhisap. Mama memainkan lidahku di mulutnya dan tanganku ikut menjamah tubuhnya. BH-nya kutanggalkan. Teteknya yang sudah telanjang kuremas-remas dengan telapak tanganku. Tetek Mama besar tapi masih sangat kenyal.

Putingnya pun sangat tegang, lalu kuputar-putar dengan jariku. Mama mendesis. Napasnya tidak beraturan, tersengal-sengal dan menderu-deru. Kontolkupun dikeluarkannya dari celana pendekku, lalu dikocok-kocoknya. Tidak ayal lagi membuat aku semakin terangsang.

Celana pendeknya aku tarik lepas pun didiamkannya. Ketika di tubuh Mama hanya tersisa selembar celana dalam, aku melepaskan celana pendekku lalu naik ke tubuh Mama dengan posisi 69.

Kontolku kusodorkan ke mulutnya. Tangan Mama segera mangkap kontolku, kemudian dihisapnya. Sementara itu, aku mencium-cium celana dalamnya.

Ooo… celana dalam Mama begitu nikmat baunya. Kusibak dan terlihat memek Mama yang berwarna coklat dan sangat tembem bibir memeknya.

Waww…

Mama masih terus menghisap batang kontolku ketika jariku kucucukkan ke lubang memeknya yang basah. Sewaktu kukocok, baunya menguap kemana-mana, tapi justru membuat aku semakin terangsang mencium bau memek Mama yang basi. Lendirnya keluar banyak sekali, sehingga membuat jariku basah kuyup.

Kulepaskan celana dalam Mama untuk membersihkan jariku yang basah. Setelah itu memek Mama kujilat-jilat. “Ooooo… ooooo… ooooo…..” tubuh Mama mengejang hebat melepaskan kontolku dari mulutnya

Aku tidak menghentikan jilatanku. Kelentitnya yang sangat keras segara kuhisap. Mama menggelepar-gelepar seperti cacing kepanasan. “Sudahhh… sudahhhh… sudahhhh…. Yudiiiii… oooohhh…. Mama keluarrrrr……” rintihnya.

Aku membalik tubuhku memeluk Mama. Kami berpelukan dengan telanjang. Kulit tubuh kami saling menggesek tanpa batas seperti suami-istri.
Kami benar-benar sudah lupa diri, Apalagi kontolku kumasukkan ke dalam memek Mama, Mama memeluk pantatku kuat-kuat dengan kedua kakinya. “Masukin yang dalam, Yudi….” suruh Mama.

Kontolku yang panjang sekitar 16 senti kutekan habis masuk ke lubang memek Mama. Setelah itu pelan-pelan kutarik dan menekan maju-mundur. Ohhh… betapa nikmatnya sewaktu kontolku tergesek dinding memek Mama yang menggerinjel.

Mama kemudian ikut meliuk-liukkan pantatnya. Kontolku meliuk-liuk di dalam memek Mama yang semakin basah dan semakin licin.

Nggak boleh aku kocok kuat-kuat kontolku, karena pasti tergelincir. Kemudian Mama cepat-cepat memasukkan lagi kontolku ke dalam memeknya.

Aku kocok lagi kontolku beberapa kali di memek Mama sembari kuhisap puting teteknya. Saat itu aku bisa merasakan dada Mama berdebar-debar.

Akhirnya kontolku terasa senut-senut. Bersamaan dengan itu Mama berteriak. “Yudiiii…. Mama kluarr lagiihhh…. Mmaammaa… kekk… keluarrr lagiiiiihhh… ooogggggggg…. ooooogggggg….. “

Napas Mama seperti tercekat di tenggorokannya. “Aku juga sudah mau keluarr, Maaa….”

Creetttt… crrooottt…. crreettttt…. crrooottt… air maniku menyembur-nyembur di rahim Mama. Nikmatnya… sampai aku terkulai lemas di atas tubuh Mama yang berkeringat basah.

Mama memandangku tersenyum. “Main dengan kamu, Mama baru benar-benar menikmati apa itu seks, Yudiii….” kata Mama.

Kukecup bibirnya. “Jadi istriku ya, Ma?”

“Sekarang Mama sudah jadi istri kamu…. istri simpanan… haa… hhaaa…”

T e r g o d a

AKU keluar dari kamar tidurku setelah mengerjakan tugas kuliahku. Di dapur aku melihat mama sedang duduk di depan meja makan mengupas kentang.

“Masak apa, ma?” tanyaku berdiri di belakang tempat duduk mama memegang pundaknya.

“Tante Lily nyuruh mama masak semur,” jawab mama. “Ahh, daripada kamu nganggur, pundak mama dipijitin dong sekalian,” suruh mama.

“Sebentar lagi aku mau pergi, ma…”

“Sekarang kan, belum? Ayo… pegel banget nih badan mama…”

Aku pun memijit pundak mama dengan jari jemari kedua tanganku. Kedua pundak Mama kupijit secara bersama-sama. ”Oo.. enak, apalagi dipijitin sampai ke bawah… lebih enak lagi.” kata mama.

Permintaan mama kuturuti. Aku pijit-pijit dari pundak sampai ke punggung mama. “Duh… sakit!” keluh mama.

“Sakit kenapa, ma? Terlalu kuat ya aku mijitnya?” tanyaku.

“BH mama… tolong dibuka dulu deh, tadi BH mama juga kamu ikut pijit, nggak lihat-lihat dulu…” kata mama.

“Ee… biasanya juga mama nggak pakai BH..” jawabku.

“Masa sih kamu nggak bisa membedakan mama pakai BH apa nggak?”

Jadi berdebat deh aku dengan mama gara-gara BH.

Lalu kubuka pengait BH mama dari luar kaosnya. Kemudian mama menarik lepas BH-nya dari dalam kaosnya. “Sini…” kataku menjulurkan tanganku mengambil BH dari tangan mama.

Mama memberikan BH-nya padaku. BH mama rasanya hangat seperti ‘roti fresh from oven’. Lalu aku membayangkan tetek mama yang terbungkus BH itu. Tetek mama tidak seberapa montok, tapi masih lumayan kencang buat ukuran seperti mama yang sudah berusia 40-an.

BH mama lalu kucium-cium sembari membayangkan kucium tetek mama yang hangat. Akibatnya bau tetek mama yang melekat di BH-nya itu sungguh-sungguh membuat urat maluku menegang.

Kubuang BH mama ke lantai. Kemudian kulanjutkan memijit punggung mama lagi sembari kuintip tetek Mama dari pundaknya.

Terlihat olehku tetek mama yang mulus putih dengan pentilnya yang berwarna coklat sehingga membuat aku tidak tahan lagi. Kemudian tidak tanggung-tanggung sekalian kukeluarkan penisku yang masih saja tegang itu dari celanaku dan selanjutnya kugosok-gosok penisku di kaos Mama.

Mama yang masih terus mengupas kentang tidak merasa kaosnya kugosok-gosok dengan penisku. Jantungku berdebar-debar dan pikiranku melayang kemana-mana, karena penisku rasanya begitu nikmat.

Sewaktu tiba saatnya air maniku mau keluar dari penisku, aku genggam kuat-kuat batang penisku dan mengocoknya semakin cepat. Napasku mendengus-dengus. “Kamu kenapa Dika?” tanya mama.

Tangan kiriku segera ke depan memegang dan meremas tetek mama. “Dika… sudah gila kali kamu ya, tetek mama diremas-remas gitu..” omel mama.

Aku tidak peduli dengan ocehan mama. “Oohh.. maaa… “ erangku melampiaskan rasa nikmatku ke kaos mama. Dheess… dheess… dhesss… croott…. crroottt… croottt… air maniku yang kental itu menyembur di kaos mama.

“Dikaaaaaaaaaa…!” seru mama tertahan saat ia membalik tubuhnya melihat aku. Mama seperti tidak percaya apa yang dilihatnya, karena aku belum sempat memasukkan penisku ke dalam celanaku.

“Maaf ma, tadi aku tidak tahan dengan BH mama yang hangat..” kataku.

Sambil duduk, kemudian mama menjulurkan kedua tangannya memeluk aku. Aku hanya bisa mengelus-elus rambutnya. Setelah beberapa saat, lalu mama melepaskan aku dari pelukannya.

Mama memandang penisku yang sudah lemas. Kemudian diambilnya dan menunduk menciuminya sejenak, setelah itu mama masukkan ke dalam celanaku.

“Kaos mama basah,” kataku.

“Kamu sih.. iseng! Sana, ambilin kaos mama yang bersih…”

Aku segera pergi ke keranjang pakaian mengambil kaos mama yang bersih. Setelah itu kubawa pada mama. Mama mengambil kaosnya, lalu aku mau pergi. “Nih, sekalian…” kata mama.

Mama melepaskan kaos yang dipakainya. Waww… seruku dalam hati ketika kulihat tetek mama yang telanjang terpajang di depan mataku.

Mataku menjadi silau. Sebelum mama memakai kaosnya, kujulurkan tanganku memegang teteknya. Mama memandangi aku.

“Ngapain? Mau?” tanya mama.

Aku tidak menjawab mama, tapi kutundukkan kepalaku dan kucium tetek mama. Setelah itu kuhisap pentilnya yang mungil. Mama menarik tubuhnya bangun dari kursi yang didudukinya, lalu memeluk aku.

Aku mencium kuping mama dan menjilat lubang kupingnya, sehingga membuat mama menggeliat-geliat tak tertahankan dalam pelukanku, kemudian kuhisap lehernya, sembari kutarik turun celana longgar ¾ yang dipakainya bersama celana dalamnya.

Mama bernapas tersengal-sengal dan tak teratur sewaktu kuselipkan penisku yang tegang di sela pahanya. Mama kemudian mendorong penisku dengan tangannya ke vaginanya.

Selanjutnya kemudian mama mau saja kurobohkan ke lantai dapur. Kutarik lepas celana yang menggantung di pertengahan pahanya dan kulepaskan celanaku juga.

Napsu birahi sudah menguasai kami berdua sehingga segera kudorong masuk penisku yang tegang itu ke tubuh mama.

“Oohhh…” mama hanya mendesah ketika penisku sudah mendekam di dalam vaginanya yang basah.

Segera kugoyang penisku. Mama juga menggoyang pantatnya. Kami saling menggoyang dan saling memuaskan sembari berciuman bibir. Kenikmatan menyerang syaraf-syaraf sensitif di tubuh kami.

“Oooo… aaahhh… oooo…” mama mendesah dan mengerang saat kuhujamkan penisku semakin dalam ke lubang nikmatnya yang semakin basah.

Akhirnya aku terkulai di atas tubuh mama dengan penis terendam air mani yang memenuhi lubang vagina mama.

Lama kami berbaring di lantai menikmati masa-masa indah yang baru saja kami reguk bersama. @bc_16052019_09:10_am

Cintaku Bersemi Di Mall

SABTU sore Mami mengajak aku ke mall. Mami ingin melihat-lihat handphone. Mami rencananya mau membeli handphone baru, sedangkan handphone yang Mami pakai sekarang mau diberikan pada pembantu.

Setelah memasuki beberapa toko handphone, Mami mengajak aku makan. Kami mampir di sebuah restoran yang sudah biasa kami kunjungi kalau datang ke mall. Mami memesan mie bakso, sedangkan aku memesan tongseng dan nasi. Minumnya es teh.

Sambil menunggu pesanan datang, namanya cowok, mataku suka melirik sana melirik sini melihat cewek atau wanita yang berdada besar. Aku suka dengan cewek atau wanita yang teteknya montok. Apalagi kalau pakaiannya kaos yang ketat, duuhhh… aduuhhhh… itu adek di bawah sana langsung kontak!

“Hmmm… itu mata kalau melihat wanita…” kata Mami. “Asyik ya, montok!”

“Hee.. hee.. jadi malu deh sama Mami…“

“Suka ya sama yang montok-montok?”

“Hee… hee… iya, Mi.”

“Malu-maluin aja kalau ketahuan sama orangnya. Kenapa nggak lihat punya Mami? Kurang montok, ya?” goda Mami.

“Mami tertutup rapat sih. Coba kalau dibuka dikit…” balasku.

Di bawah meja, Mami mencubit pahaku.

Aku tidak mau kalah. Aku pegang paha Mami yang terbungkus celana panjang, lalu aku elus-elus. “Nanti diintip orang tuh…” kata Mami menikmati elusanku.

“Nggak takut,” jawabku. “Yang aku elus kan paha Mami aku sendiri, nggak bakalan ditangkap polisi…”

Mami mencubit lagi pahaku. Mami seperti memberikan bom waktu padaku. Tanganku tidak kudiamkan, tapi segera berpindah ke selangkangan Mami. Selangkangan Mami yang hangat dan lembab itu aku remas.

Mata Mami langsung terbelalak. “Aggghhh…!” rintihnya tertahan dengan mulut terbuka lebar. Kemudian Mami menahan tanganku. “Jangan… Bram… Mami nggak tahan, nanti Mami keluar…”

“Terangsang ya, Mi?”

“Mmmm… iyaa…” jawab Mami dengan mata sayu

Jawaban Mami membuat aku semakin nekat. Aku tidak menjauhkan tanganku dari selangkangan Mami, tapi aku elus-elus selangkangan Mami dengan jari jemariku yang kira-kira kena di vaginanya. “Mmmmhhh… oooohh… ssstttt… oohhh… Braammmm… ooooo… “ desah Mami pelan sambil memejamkan mata.

Kemudian tiba-tiba tangan Mami mencengkeram kuat penisku yang tegang di dalam celana pendekku. Mami menarik napas panjang. “Oooohhhh… Braammm…. enakkk sekaliii…”

Seketika Mami selonjotan di tempat duduk dan tangannya pelan-pelan melepaskan penisku yang dicengkeramnya. “Tadi orgasme ya, Mi?” tanyaku.

“Iya… kamu sih….!”

Aku mencium pipi Mami.

Kami segera duduk dengan sopan ketika pelayan datang membawa pesanan kami. Lalu kami makan tanpa bicara. Selesai makan, kami tidak keliling-keliling toko handphone lagi. Kami langsung ke tempat parkir mobil.

~~~●●●~~~​
Tempat parkir mobil sangat sepi. Di dalam mobil, aku merangkul bahu Mami. Mami mau kutarik mendekatiku, lalu aku mencium bibirnya. Mami tidak menolak. Mami melumat halus bibirku, tapi lama-lama bibir kami saling menghisap dan lidah kami saling bergelut.

Saat itulah tanganku masuk ke dalam kaos Mami. BH Mami terasa sangat penuh sampai-sampai jatuh menggantung. Kemudian aku mengeluarkan tetek Mami dari BH-nya. Aku remas tetek Mami yang besar tapi lembut itu. Putingnya mengeras, lalu aku hisap.

Mami mencubit pahaku hingga aku melepaskan putingnya dari mulutku. “Iseng ya kamu! Seneng ya ngeliat Mami orgasme terus? Iiihhhh…nih, nanti Mami tarikkk…” kata Mami meremas-remas penisku yang tegang.

Aku keluarkan penisku dari celana. “Idiihhh… mmmm… adek sayang…” desah Mami memegang penisku, lalu Mami menunduk mencium.

“Hisap, Mi!”

“Nggak, bau pesing!”

Pelan-pelan mobil yang kukendarai keluar dari tempat parkir. Kami sampai di rumah kurang dari 1 jam. Papi sedang duduk sendirian nonton televisi. “Jadi beli hapenya, Mi?” tanya Papi.

“Belum, tunggu beberapa hari lagi, ada model yang baru. Anak-anak sudah tidur?” tanya Mami.

“Belajar di kamar…” jawab Papi.

“Mana tuh Bram? Langsung pergi tidur kali tuh anak!” kata Mami.

Kemudian, tok… tokk.. tok.. “Bramm…” panggil Mami.

“Ya, Mi…” jawabku sambil berbaring di tempat tidur.

Mami membuka pintu kamarku. Kemudian Mami menutup kembali. Setelah itu, dikuncinya pelan-pelan. Lalu Mami menyerbu celana dalamku. Mami menciumnya. “Hmmm… bau pesing!” kata Mami. “Mami buka, ya?”

“Iya, Mi.” jawabku.

Mami melepaskan celana dalamku. Tubuhku jadi telanjang. Mami mencium penisku. Mami menjilatnya. Aduuhh… alamak… nikmatnya sampai ke tulang sumsumku!

Mami sangat pandai mencari titik-titik sensitifku. Mami menjilat-jilat lubang kencingku. Mami menjilat anusku.

Penisku jadi begitu tegangnya, sampai mau meledak rasanya. Kemudian Mami mengulumnya dalam-dalam sampai ujung penisku kena tenggorokannya. Ketika hisapan Mami berpindah ke kepala penisku, Mami mengocok-ngocok batang penisku.

Tanganku segera bergerak menarik kaos Mami. Kemudian Mami melepaskan kaosnya dan BH-nya. Mami berani sekali, padahal Papi masih nonton televisi. Tapi, itulah yang membuat aku makin terangsang.

Kuremas tetek Mami yang menggelantung kedodoran itu, tapi putingnya yang berwarna coklat gelap itu sangat tegang. Aku lumat… aku hisap… hingga kulit di tetek Mami timbul beberapa garis kecil berwarna merah.

Mami mendesah, Mami menggeliat nikmat, sehingga ia pun rela melepaskan celana panjangnya.

Dengan celana dalam mini berwarna merah, Mami naik ke atas tubuhku. Kami saling melumat bibir dan bergulat lidah.

Ludahku jadi milik Mami, ludah Mami jadi milikku. Mami menggoyang-goyangkan teteknya di dadaku. Hmmm… sangat merangsang!

Napas Mami pun semakin menderu-deru, sehingga dilepaskannyalah celana dalamnya, hingga tubuh Mami telanjang bulat di depan anak lelakinya. Tak hanya itu, Mami kemudian mendorong penisku masuk ke dalam lubang vaginanya.

Blesss… sluupppp…. batang penisku menerobos masuk ke dalam lubang vagina Mami yang hangat, licin, basah dan longgar. Tapi ketika pantat Mami bergerak memutar-mutar, penisku rasanya seperti dibelit-belit oleh dinding vaginanya yang kasar menggerinjel.

Mami membuat aku lupa segala-galanya. Sewaktu Mami menaik-turunkan pantatnya dan alat kelamin kami saling beradu dan bertumbuk sampai-sampai menimbulkan suara ceepp.. cepp.. ceeppp… saking basahnya vagina Mami.

“Kantolmu enak banget, Bramm… ayo, bantu Mami goyang, biar Mami orgasme lagi….” kata Mami.

Aku membalik tubuh Mami hingga Mami berada di bawah. Kini dengan leluasa aku menggenjot vagina Mami. Mami sepertinya tidak mau kalah. Pinggulnya ikut meliuk-liuk. Penisku rasanya berayun-ayun, berputar-putar di dalam vagina Mami yang kini jadi seperti kolam renang.

Aku melihat di pangkal penisku dekat daerah bulu kemaluanku terdapat busa berwarna putih. Baunya amis.

Aku tidak peduli. Aku sodok-sodok lagi vagina Mami. Saking kuatnya sodokanku sampai-sampai ujung penisku berbenturan dengan dinding rahimnya.

Aku sudah semakin tidak kuat. Aku hisap puting Mami kuat-kuat, sedangkan kaki Mami menekan kuat ke pantatku. “Masukin dalam-dalam…” suruh Mami.

Akhirnya… crroottt… crrooottt… crrooottt… air maniku menembak-nembak rahim Mami dengan kencangnya.

Uuughhh… aku kecapean. Mami juga kecapean. “Mi, boleh nggak aku mencintai Mami?”

“Boleh, sayang. Mami juga mencintaimu. Makanya, Mami rela memberikan segala-galanya untukmu.”

“Sekali lagi ya, Mi?”

“Hmmmmmm….!!!!”

Mami tertawa senang. Beberapa bulan kemudian, Mami hamil!

Papi menyuruh aku menyingkirkan Mami ke tempat lain supaya tidak ketahuan tetangga.

Papi juga menghentikan biaya kuliahku sebagai hukuman. Terpaksa aku harus bekerja membiayai hidup kami berdua.