Birahi Yang Tak Terpuaskan

Birahi Yang Tak Terpuaskan

DI RUMAHKU selain tinggal ibuku, aku dan adikku juga tinggal Mbak Enih yang menempati kamar depan.

Mbak Enih berusia sekitar 35 adalah seorang janda tanpa anak yang cerai dengan suaminya karena suaminya terpikat dengan wanita lain.

Kegiatan Mbak Enih sekarang adalah bekerja di sebuah konveksi rumahan yang tak jauh dari rumahku.

Awalnya aku tidak pernah memperhatikan Mbak Enih karena kesibukkanku bekerja ingin membantu ibuku agar api di dapur tetap ngebul setelah aku lulus SMU karena aku sudah tidak punya ayah.

Ibuku sendiri berdagang dengan membuka kios kelontong di pasar.

Ibu selalu berangkat ke pasar mulai pukul 5 pagi dan pulang sekitar jam 5 sore dan jika pulang Ibu selalu bersama adikku karena setiap pulang sekolah adikku selalu membantu Ibu di pasar.

Namun setelah 6 bulan berselang….

Hari itu hari Sabtu aku libur dan seperti biasa pada jam 9 pagi aku baru bangun. Ketika aku keluar dari kamar menuju ke kamar mandi langkahku terhenti di depan pintu kamarku. Aku mendengar suara di kamar mandi.

Akupun duduk saja menunggu sambil nonton tivi. Tak lama kudengar pintu kamar mandi dibuka, dan kulihat Mbak Enih keluar dari kamar mandi berbalut handuk berjalan menuju ke kamarnya, otomatis dia melewati aku yang sedang duduk.

“Eh.. Wiwin sudah bangun,” katanya sambil tersenyum.

Dengan agak gugup karena baru pertama kali menyaksikan pemandangan yang seperti ini aku menjawab dengan terbata-bata, “I.. i.. yaa.. Mbak…” jawabku, tetapi mataku tak lepas memandang Mbak Enih yang berlalu menuju ke pintu kamarnya.

Betapa tidak, sebab menurutku handuk yang menutupi tubuh Mbak Enih yang paling sensitif untuk mata lelaki di bagian atas maupun di bagian bawah tubuhnya kulihat buah dadanya yang betapa besar itu seperti ingin tumpah keluar dari handuknya, sedangkan pahanya terlihat padat dan putih bersih sangat menggoda kelelakianku sehingga membuat penisku langsung ngaceng saja.

Akupun menyeret kursi mengintip Mbak Enih dari lubang ventilasi.

Kulihat di dalam kamar handuk Mbak Enih sudah tidak ada di tubuhnya. Karena dia belum mengenakan pakaian praktis dia telanjang bulat.

Kulihat dia sedang mengeringkan rambutnya dengan posisi duduk di pinggir ranjang dan aku dapat melihat dengan jelas bentuk tubuhnya karena dia belum pernah melahirkan jadi walaupun sudah berumur namun badannya masih terlihat kencang.

Bentuk buah dadanya benar-benar indah dengan ukuran yang kutaksir lumayan besar dan belum turun.

Di bagian bawah terlihat rambut di sekitar selangkangannya lebat dan tampak gundukan yang benar-benar mempesona.

Tak terasa tanganku ikut meremas-remas celanaku, dan sekitar 10 menit aku melihat Mbak Enih sudah hampir mengenakan pakaiannya sementara aku juga sudah tak tahan, maka kuputuskan untuk langsung menuju kamarku.

Di dalam kamar aku langsung menanggalkan pakaianku dan beronani sambil membayangkan tubuh Mbak Enih yang telanjang.

Kubayangkan aku sedang menghisap puting susunya sementara penisku juga sedang menembus memeknya. Dan akhirnya…

Crott… crott… crott… aachh… pejuku muncrat ke tembok yang langsung membuat sekujur tubuhku lemas.

°°°°°​Semenjak kejadian pertama kali mengintip Mbak Enih aku jadi sering beronani sambil membayangkan dirinya dan aku pun selalu memperhatikannya bila aku dan dia sedang berada di rumah.

Entah berapa lama tepatnya pada malam minggu sepulangnya aku apel dari rumah pacarku. Kulihat di rumah sepi sekali yang ada hanya Mbak Enih yang sedang duduk di ruang tamu nonton televisi.

“Malam.. Mbak…” ujarku.

“Malam juga.. baru pulang apel ya..,” ledeknya dengan tersenyum. Dan kulihat betapa senyumnya terlihat manis sekali.

“Iya dong.. biasa anak muda,” balasku.

“Kamu dapat pesan dari ibumu, nggak? Katanya dia hari ini nginep ke rumah pamanmu ada arisan keluarga, jadi kamu jangan kemana-mana,” katanya.

“Iya.. deh.” akupun pamit dulu untuk ganti baju dan celana.

Sekitar 15 menit aku sudah berada di ruang tamu tetapi Mbak Enih sudah tak terlihat disana dan rupanya dia ada di kamar, tapi pintunya dibiarkan terbuka dan dia mengajak aku ngobrol.

Akupun rilek saja sambil nonton tivi, tapi bukan tivi yang kutonton, melainkan kulihat susu Mbak Enih yang mengundangku untuk menjamahnya.

Penisku langsung berdiri dan aku yang semakin tegang menjadi pusing tidak karuan membayangkannya dan walaupun keadaan rumah kosong tapi aku tidak berani berbuat nekat karena aku sangat menghormatinya.

“Kamu lihat Mbak, kayak melihat hantu aja,” katanya sambil tersenyum.

“Oh.. enggak.. cuma bingung aja, Mbak sudah setengah baya tapi masih terlihat cantik saja,” balasku.

“Hus.. belajar ngerayu lagi,” cibirnya.

“Benar Mbak.. aku serius,” balasku.

“Eh.. kamu ngerayu terus ya. Lebih baik pijitin Mbak. Mbak pegel nih,” katanya sambil berdiri di belakangku dan menepuk pundaknya.

Akupun menurut saja dan langsung memijit pundaknya. Mbak Enih menggeliat keenakan bahkan matanyapun sudah mulai sayu dan terpejam-pejam. Sementara aku yang memijit semakin tidak karuan saja karena penisku sudah ngaceng karena sambil memijit kurapatkan tubuhku ke tubuhnya.

Kuberanikan memijit bagian lengannya dan aku juga sudah memeluknya tapi tanganku hanya berada di perutnya.

“Kenapa tanganmu hanya diam saja?” tanya Mbak Enih.

Karena hasratku sudah menggebu maka kuberanikan diri melepas kancing bajunya satu persatu, dan setelah terlepas tampak jelas susu Mbak Enih yang masih dibungkus bra dan aku sangat tertegun melihat pemandangan itu.

Tiba-tiba Mbak Enih menarik tanganku. “Remas dong.. sayang.. kan kamu selama ini cuma ngebayangin doang, Mbak tau kok kamu suka intipin Mbak….”

Aku berpikir rupanya selama ini dia tahu, dan tanganku sudah berada di atas buah dadanya dan dibimbing olehnya untuk meremas-remas walaupun masih terbungku BH. Sambil meremas mulutkupun tak tinggal diam kucium lehernya dan wajah Mbak Enih berpaling ke arahku dengan mulut yang menganga. Langsung kusambar bibirnya dan kukulum habis.

Ujung lidah kami beradu, kutelusuri lidahnya sampai kami kehabisan napas.

Aku dan Mbak Enih sudah tak tahan, kurebahkan dia di sofa, kucium tubuhnya dari muka, dada, perut paha, dan betisnya. Naik lagi dan kutindih tubuhnya. Dia pun mengerang yang membuatku semakin terangsang, kubuka celana pendekku.

“Jangan disini sayang, kurang nikmat,” katanya..

Kami berdiri, dan Mbak Enih langsung memelukku dan sebelah tangannya memegang penisku dari luar celana pendekku yang tadi tidak sempat kulepas. Tangannya meremas-remas penisku yang sudah tegang dengan penuh nafsu.

“Lumayan juga punyamu, Win.. Mbak sudah lama sekali tak merasakan senjata laki-laki.. sayang.”

Dan dengan kasarnya dia langsung menarikku menuju ke kamarnya. Pintu kamar dikuncinya cepat-cepat, kubuka bajuku dan Mbak Enih langsung jongkok dan melepaskan celanaku dan dia langsung memegang penisku lalu dengan buas dan penuh nafsu dia langsung memasukkan penisku ke dalam mulutnya, dijilat, dihisap-hisap, dicium, dan dihisap lagi. Sementara aku hanya bersandar pada tembok sambil menikmati penisku yang baru pertama kali masuk ke dalam mulut perempuan membuat darahku dan otakku menjadi buntu.

Badanku rasanya makin bergetar dengan tulang yang mau berlepasan dan tubuh berkelojotan nikmat.

Aku tak tahan dan minta rebahan di ranjang. Dengan tetap BH melekat di dada dan rok yang masih digunakan Mbak Enih, mulutnya langsung mengejar burungku, dia cium, jilat dan hisap. Aku semakin bergelinjang, melayang-layang dan mataku pun mulai berkunang-kunang.

“Mbak.. oohh.. terus Mbak..” hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.

Hingga di puncaknya karena nikmat yang tak tertahankan aku tak sempat untuk memberitahunya kalau pejuku mau keluar. Hingga akhirnya.. akhh.. croot.. croot.. croot.. croott….

Pejuku muncrat di dalam mulutnya, dan dia bukannya melepaskannya tapi malah bernafsu untuk menghisapnya, menelan air maniku dan terus menghisap-hisap penisku sampai bersih, kasat dan ngilu rasanya. Dan aku pun langsung lemas.

Kucoba untuk bangun dan duduk sementara Mbak Enih segera ke meja rias mengambil air untuk diminum dan memberiku juga segelas air.

“Mbak telan? Apa Mbak nggak jijik?” tanyaku bodoh.

Mbak Enih menggeleng, justru wajahnya tampak cerah dan kepuasan terpancar di wajahnya.

“Mbak suka.. sayang, menghisap pejumu, apalagi peju yang keluar dari kontolmu terasa segar dan enak,” ucapnya lalu menciumku dari muka, sampai dadaku, dan memainkan lidahnya di putingku sementara tangannya meremas-remas penisku.

“Ayo sayang, Mbak pingin kamu juga puas,” ucap Mbak Enih mesra, penisku yang telah terkulai lemas karena sudah keluar sperma mulai menegang lagi dan Mbak Enih kembali mengulum dan menghisap-hisap penisku dengan buas.

Kubuka BH-nya dan roknya serta celana dalamnya sekalian. Mbak Enih berdiri untuk memudahkan aku menelanjanginya. Tubuhnya yang telanjang bulat langsung kuterkam dan kutindih. Dua payudaranya yang besar itu menjadi sasaranku, kuhisap putingnya bergantian, tangannya pun langsung meraih kepalaku dan menekan ke dadanya dan dari mulutnya keluar suara mendesis-desis bagai ular kepanasan,

“Esstt.. ssstt.. sedot yang kuat sayang, yaahh.. begitu isep.. kamu suka kan.. susu Mbak.. ooohh..”

Aku tidak menjawab karena aku memang sedang sibuk menghisap, menyedot layaknya bayi yang seharian belum menetek pada ibunya. Dan setelah puas menghisap tetek Mbak Enih lidahku turun ke belahan dadanya terus meluncur ke perutnya hingga akhirnya lidahku sampai pada gundukan yang berbulu sangat lebat.

Dengan kedua tanganku kusibakkan bulu di vaginanya. Kulihat belahan vaginanya yang memerah mengkilat dan bagian dalamnya ada yang berdenyut-denyut. Kuciumi dengan lembut, bau wanginya membuat sensasi yang aneh. Tak pernah ada bau seperti ini yang pernah kukenal.

Dengan hidung kugesek-gesekkan belahan vagina Mbak Enih sambil menikmati aromanya. Erangannya dan gelinjang tubuhnya terlihat seperti pemandangan yang indah sekaligus menggairahkan. Kedua tangannya meremas-remas sendiri payudaranya.

“Aakhhk.. eekh.. nikmat sekali sayang. Terus sayang…” rintihnya.

Kujulurkan lidahku, kujilat sedikit vaginanya, ada rasa asin.

Lalu dari bawah sampai ke atas kujulurkan lidahku, menjilati belahan vaginanya. Begitu seterusnya naik-turun sambil melihat reaksi Mbak Enih.

“Akkhh.. aachh.. aakkhh..” Mbak Enih terus merintih nikmat, tangannya mencari tanganku, meremas-remas jariku lalu membawanya ke payudaranya.

Aku tahu dia ingin yang meremas payudaranya adalah tanganku. Begitu kulakukan terus, kedua tanganku meremas-remas payudaranya, mulutku menjilati dan menghisap-hisap memeknya.

“Aakkhh.. sudah sayang.. sudah.. ayo sekarang sayang.. Mbak sudah tak tahan. Aakkhh.. masukkan kontolmu sayang, masukkan ke vagina Mbak.. cepet sayang.. oohh..” desahnya meraih kepalaku agar menghentikan jilatanku di vaginanya.

Tanpa harus mengulangi permintaannya langsung saja aku merangkak naik menindih tubuh Mbak Enih.

Mbak Enih melebarkan pahanya dan penisku menuju vaginanya. Beberapa kali kucoba memasukkan penisku dalam lobang memeknya namun selalu gagal. Tangan Mbak Enih lalu menyambar penisku dan menuntunnya membimbing ke lobang memeknya.

“Yah.. itu sayang.. tekan sayang.. tekan disitu.. aacchh.. ayo sayang.. tarik dan tekan lagi.. Mbak tak tahan.. oocchh.. ackh.. enak sekali kontolmu… oocch..” Mbak Enih merintih nikmat ketika penisku kutekan seluruhnya ke lubang memeknya.

Batang penisku rasanya terjepit oleh dinding yang sangat lembut di dalam vagina Mbak Enih dan kurasakan seperti berdenyut-denyut dan menghisap-hisap, nikmat luar biasa karena ini yang pertama kali kurasakan.

Mbak Enih menggoyang-goyangkan pinggulnya. Setengah berputar-putar dan kadang naik-turun. Penisku yang tertancap di vaginanya yang setengah becek dibuat seperti mainan yang membuatku semakin nikmat.

“Ayo.. sayang.. ayo.. tekan terus sayang Mbak sudah tak tahan,” rintih Mbak Enih dengan mata setengah terpejam dan mulutnya yang setengah terbuka mendesah-desah kian kuat dia menggoyang-goyangkan pinggulnya.

Akupun terus mengimbangnya sampai tiba-tiba Mbak Enih terdiam dan kedua tangannya merangkul leherku kuat-kuat dan dari mulutnya keluar desahan panjang. “Aacckh.. acckh.. oohh.. oohh..” dan bersamaan dengan rintih kepuasaannya diapun terkulai lemas, sedang diriku masih belum mencapai klimaks.

“Ooh.. sayangku…. maafkan Mbak, abis Mbak nafsu sekali ngewe dengan kamu sayangku,”

Aku hanya diam dan tersenyum.

“Kamu kuat sekali sayang.. gantian sini Mbak yang di atas kamu,” tambahnya.

Akupun merubah posisi dimana sebelumnya Mbak Enih melap dulu vaginanya dengan lap seadanya.

Mbak Enih sekarang menunggangi tubuhku, perlahan dia mulai bergoyang dan kurasakan penisku terasa lebih masuk dalam lobang vaginanya.

Dengan posisi di atas tubuhku tampak sekali payudaranya lebih besar dan semakin menantang. Mbak Enih berjongkok di atas pinggangku menaik-turunkan pantatnya, terlihat jelas bagaimana penisku keluar-masuk liang vaginanya. Yang terlihat penuh sesak, sampai habis kemaluan itu terlihat penuh kencang.

“Oohh.. enak Mbak.. oohh.. Mbak.. Mbak kok bisa enak begini.. oohh..”

Kedua payudaranya berayun-ayun keras mengikuti irama turun-naiknya tubuh Mbak Enih. “Remees susu Mbak sayang.. oochh.. yaah.. pintar kamu Win.. oohh.. Mbak enggak percaya kamu bisa kuat begini. oohh.. pintar dan hebat kamu sayang.. bikin Mbak jadi ketagihan dengan kontolmu.. oohh… oochh.. Wiwin sayang.. ganjal kepalamu dengan bantal ini,”

Mbak Enih meraih bantal yang ada di samping kirinya dan memberikannya kepadaku.

“Maksud Mbak supaya aku bisa.. cruup.. cruupp..” mulutku langsung menerkam puting payudaranya.

“Yaah sedot susu Mbak lagi sayang.. mm.. yah begitu terus.. yang kiri juga sayang.. oohh.. enak sekali sayang…,”

Mbak Enih menundukkan badannya agar kedua buah dadanya terjangkau mulutku. Decak pertemuan pangkal paha kami semakin terdengar seperti tetesan air, lubang memeknya juga semakin licin saja. Makin lama gerakan badan Mbak Enih semakin cepat dan erangannya juga semakin kencang, hingga tiba-tiba dia berkata, “Oohh.. sayang.. Mbak sudah tak tahan,”

“Tahan Mbak.. tahan.. aku juga sudah mau keluar,”

Tangannya langsung mendekap kepalaku ke dadanya, seakan-akan ia ingin agar buat dada tersebut masuk semua ke dalam mulutku.

“Ayo…. cepet.. oohh .. sedot yang kuat payudara Mbak.. ohh… achh.. ach.. Mbak keluar lagi sayang,” tubuhnya langsung mengejang dan disaat tubuh itu terdiam kurasakan memeknya seperti menghisap-hisap dan memijit-mijit penisku dengan kuatnya.

Aku yang juga sudah mau klimaks semakin kuat memeluknya dan menyodokkan penisku semakin kuat.

Kupeluk dirinya kuat-kuat hingga akhirnya.. croot.. croot.. croot.. serr.. kurasakan kenikmatan yang tiada tara sampai badanku menjadi lemas sekali.

Kami saling berpelukan mesra dan Mbak Enih berbaring lemas di sebelahku.

“Win.. Mbak kagum padamu dan benar juga perkiraan Mbak,”

“Kenapa?”

“Ternyata penismu dapat membuat Mbak ketagihan selain besar juga kuat. Boleh Mbak menikmati selama Mbak tinggal disini?”

“Boleh.. siapa sih yang enggak mau diajak ama Mbak, selain masih cantik, payudara Mbak adalah yang terindah yang pernah kulihat,”

“Kamu tuh kecil-kecil sudah pintar ngerayu orang tua.”

“Abis benar loh Mbak.. emang aku suka netek sama Mbak,” jawabku sambil mulutku menyerbu puting susunya.

“Kamu enggak capek ya.. sayang,” tangannya membelai kepalaku.

“Kalau buat itu tiada kata capek tuh.. abis benar sih.. Mbak nafsuin,” jawabku.

Akhirnya kami beristirahat dan saling cerita. Dia berkata kalau suaminya sudah meninggalkannya dan menikah dengan wanita lain disebabkan dirinya tidak bisa memberinya keturunan.

°°°°°​
Tiba-tiba hapeku berbunyi. “Ya.. Ma.. ada apa”

“Malam ini kamu jangan kemana-mana, jaga rumah dan Mama baru pulang besok malam,”

“Beres deh.. Ma.” jawabku.

“Oh.. ya.. Enih ada di rumah?” tanyanya.

“Ada Ma.. mungkin sudah tidur kali,”

“Ya sudah kalau ada apa-apa kamu telepon Mama,”

Disaat aku sedang telepon dengan mamaku kulihat Mbak Enih menghampiriku dan memelukku dari belakang. Tangannya langsung menuju ke penisku membelainya dan mengocok-ngocoknya sedang lidahnya bermain-main di telingaku dan membuatku langsung terangsang.

“Aahh.. sstt.. sstt..”

“Kenapa Win?” tanya mamaku di telepon.

“Enggak kok Ma.. aku sambil makan bakso cuma kebanyakan cabenya nih jadi agak pedas,” jawabku.

“Aahh.. e.. enak.. sstt..” ketika Mbak Enih sudah tidak memelukku lagi tapi dia berjongkok di depanku dan mulai menghisap-hisap dan menjilat-jilat penisku yang mulai tegang. Lidahnya bermain-main di kepala penisku kemudian lidah itu berjalan menyusuri pangkalnya.

Aku sudah tak konsentrasi akan semua ini dan bicara dengan mamakupun sudah tidak nyambung lagi. Maka kuputuskan bicara dengan mamaku untuk pamit lewat telepon.

“Ma.. sudah ya Wiwin sudah ngantuk nih,”

“Ngantuk atau nonton TV?” mamaku meledekku.

“Dua-duanya Ma” jawabku pula.

“Ya.. sudah tapi jangan lupa kalau sudah mau tidur matikan televisinya,” pesan mamaku.

“Oke deh Ma.. sudah.”

Kutaruh hapeku dan kulihat ke bawah Mbak Enih masih asyik menghisap penisku bagaikan seorang anak kecil yang baru dikasih permen lolipop. Dijilat, dicium dan dimasukkan dalam mulutnya dan dihisap tanpa memaju-mundurkan kepalanya.

“Oohh.. sstt.. sstt.. Mbak..”

Kuraih tubuhnya dan kusejajarkan ke tembok. Kucium mulutnya dengan penuh nafsu. Tanganku tak tinggal diam tangan kananku meremas-remas buah dadanya sedang tangan kiriku mempermainkan kloritosnya.

“Aahh.. Wiwin sayang kamu buas amat,” celotehnya.

“Mbak juga buas, tadi aja aku lagi telepon sama Mama, Mbak hisap-hisap kontolku,” jawabku dengan tetap memeluknya dan menciumnya.

“Habis.. Mbak suka banget dengan kontolmu sayang,”

Tangannya meraih kontolku dan merapatkan ke vaginanya. Akupun langsung menaikkan sebelah kakinya dan menaikkan ke salah satu kursi di sampingku. Setelah pas kuarahkan kontolku menuju lubang memeknya.

“Aahh.. aahh.. hhekk.. oohh..” jeritnya begitu penisku bersarang di vaginanya.

“Dorong sayang.. dorong yang kuat…”

Aku pun mengikuti permintaannya dan mengimbangi permainannya. Tubuhnya kutekuk ke belakang sedikit, sehingga aku dapat menghisap puting susunya.

“Oohh.. oohh.. Andi sayang kamu pintar sekali.” Mbak Enih juga semangat sekali menggoyang-goyangkan pinggulnya, kadang maju-mundur, kadang berputar, kadang terdiam dan mengejang-ngejang.

Semua itu menambah sensasi di dalam penisku yang kurasakan semakin lama-semakin hendak memuntahkan lahar kenikmatan.

“Mbak.. aku sudah mau keluar… ohh.. Mbaj.. aku sudah tak tahan,”

“Mbak juga mau keluar sayang, dorong lebih kencang sayang.. oohh.. oohh kontolmu membuat Mbak ketagihan sama kamu oohh.. oohh..”

“Mbak.. aacchh.. sshiitt..” kucoba untuk bertahan. Namun rasa nikmat itu sudah pada puncaknya hingga akhirnya.

“Yaahh.. aku keluar.. Mbak..”

Croott.. croott.. croot.. seerr. Kupeluk dirinya kuat-kuat menikmati tumpahnya pejuku dalam lobang memeknya.

“Mbak juga Wiwin sayang.. oohh.. aacch.. aacch..” tangannyapun memelukku seakan-akan tidak akan melepaskannya.

Aku pun beristirahat duduk di sofa dan melepaskan rasa letihku sambil tetap berpelukan. Nonton tivi dan mengatur nafas karena baru saja berlomba menuju puncak kenikmatan.

Malam itu kami habiskan kenikmatan sex bersama-sama tanpa mengenal lelah bagaikan pengantin baru.

Aku bagai dimanja Mbak Enih entah sudah berapa kali pejuku dihisap dan tumpah dalam rahimnya yang kurasakan esoknya hanyalah lemas dan kurang tidur.

Dan semenjak itu aku sering melakukan sex dengan Mbak Enih terutama bila aku libur karena bebas aku melakukannya di pagi hari sampai sore hari namun bila malam tiba dan disaat penghuni rumah sudah tidur aku sering datang ke kamarnya pula dan dia selalu menyambutku dengan nafsu birahi yang tinggi.