Mul

Mulyadi anak yang pendiam sejak kecil. Tidak pernah banyak minta. Selalu menurut apa kata orang tua. Aku sih tidak pernah banyak suruh sama dia, tapi bapaknya. Bapaknya lah yang banyak tuntutan. Dan sering kali tuntutan-tuntutan itu abstrak, tidak jelas, dan bikin bingung. Tetapi Mul manut saja karena dia anak yang baik.

Bapaknya kepingin Mulyadi menjadi dokter, dan tuntutan ini sudah disampaikan kepada Mul sejak dia masih SD. Mulai SMP Mul sudah diikutkan bimbel di luar sekolah supaya nilai rapotnya bagus terus. Alhasil nilai rapot Mul memang selalu sempurna. Guru-guru di sekolah membanggakannya, dan hal ini bikin bapaknya girang betul. Setiap kali kami ambil rapot, aku bisa melihat semua orang dewasa memuji-muji Mulyadi.

Yang luput diperhatikan oleh mereka adalah bahwa Mul jadi tidak punya teman di kelasnya. Sudah mah dia memang pendiam, ditambah prestasi akademiknya yang menjulang tinggi dibanding semua teman-temannya. Mul jadi sangat berjarak dengan semua anak lain di kelas. Konsekuensinya, Mul tampak tidak berbahagia meski dengan semua keberhasilan akademiknya itu. Wajahnya jarang sekali tertawa, kalaupun nyengir hanya nyengir yang dipaksakan. Sorot matanya pun tidak hidup.

Tidak ada orang yang menyadari masalah besar ini. Bahkan Mulyadi sendiri sepertinya tidak sadar bahwa hidupnya tidak bahagia.

Cuma aku yang ngeh. Kok bisa? Mungkin karena aku ibunya.

Sialnya, meski aku mengetahui hal itu, aku tak tahu harus bagaimana. Selama ini peranku di rumah hanya berkutat pada kerja domestik. Mencuci baju, merapikan perabotan, mengepel, memasak, memijit (suami), dan lain-lain. Aku tidak pernah punya suara apa-apa di dalam rumah. Selalu bapaknya saja yang bisa mengobrol dengan Mul—yang kebanyakan berupa penyampaian tuntutan ini-itu berkenaan dengan masa depan Mul.

Tidak jarang aku sebetulnya keberatan dengan tuntutan-tuntutan itu. Demi apapun, Mul masih anak-anak (ketika itu), tidak seharusnya dia dipusingkan dengan tuntutan sedemikian berat. Dia juga berhak bersenang-senang, bermain, sebagaimana anak-anak yang lain. Dia berhak punya teman. Dia berhak berbahagia.

Dalam hatiku terdalam aku tidak tega anakku diperlakukan begitu. Tapi, lagi-lagi, aku tidak punya kekuatan apa-apa untuk melawan. Aku menikah juga bukan karena ingin—justru sebaliknya, karena tidak bisa menolak. Dulu ada saudagar kaya datang ke rumah. Kebetulan orang tuaku memang sedang bingung dengan masa depanku selepas lulus sekolah waktu itu. Kuliah jelas bukan pilihan karena tidak ada duit. Awalnya aku mau disuruh cari kerja saja oleh mereka, tapi untungnya (buat mereka) datanglah orang kaya itu melamarku. Ya sudah, balik modal lah mereka dari pernikahanku.

Memang sepertinya punya wajah dan tubuh yang bikin laki-laki konak adalah satu-satunya aspek yang bisa dipasarkan dari diriku. Aku tidak pintar. Tidak juga baik—dalam arti, aku bukan tipe orang yang suka menolong orang lain. Aku menjalani hidupku mengalir apa adanya saja. Belajar di sekolah sewajarnya. Bermain sewajarnya. Pacaran juga dulu aku pernah sekali, itu juga sewajarnya. Cuma sempat ciuman—tidak lebih. Dan langsung putus begitu aku dilamar itu. Selain karena memang sudah kesepakatan orang tua bahwa aku menerima lamaran, aku sendiri tidak pernah serius punya perasaan terhadap pacarku itu. Kurasa aku pacaran memang cuma ikut-ikutan saja.

Sejak kecil, hidup sebagai orang kecil, aku bukan tipe manusia yang ambisius. Jadi awalnya aku tidak paham sama sekali kenapa bapaknya Mul segitu ngototnya ingin Mul jadi dokter. Belakangan aku baru mengetahui bahwa itu adalah pelampiasan dari kegagalan pribadinya. Dulu dia pernah punya cita-cita ingin jadi dokter, tapi terhalang biaya—dan sepertinya juga kemampuan otak. Kini dia ingin memastikan bahwa Mul bisa menghidupi impian masa lalunya itu.

Sebenarnya tidak terlalu jadi soal kalau urusan jadi dokternya. Aku sendiri suka-suka saja. Ibu mana yang tidak suka anaknya jadi dokter? Yang aku tak setuju adalah caranya itu. Padahal waktunya masih sangat panjang, tapi kenapa seolah-olah tahun depan Mul sudah harus ambil ujian masuk perguruan tinggi?

Semakin hari aku semakin membatin sendiri, bukan cuma karena kondisi Mul, tapi yang lebih bikin aku lebih sakit adalah aku ibunya tapi tidak bisa meringankan beban beratnya itu. Aku tak bisa, misalnya, datang ke kamar Mul, kemudian mengajaknya berbicara dari hati ke hati, menanyakan bagaimana keadaannya, menawarkan apa yang bisa kubantu untuk meringankan bebannya, atau sekadar mendengarkan keluh kesahnya. Selain karena aku sendiri bukan tipe orang yang pandai bicara (ya, apa sih yang bisa diharapkan dari lulusan SMA kabupaten), memang rasanya sungkan saja.

Bapaknya Mul bukan orang yang hangat. Aku sendiri sejak tinggal dengan orang tuaku dulu pun tidak pernah diajarkan menunjukkan perhatian kepada anggota keluarga lewat kata-kata dan gestur tubuh seperti memeluk atau merangkul. Semua itu terbatas pada masa bayi sampai balita saja—ketika si anak belum bisa ngomong.

Semua perhatian yang bisa kuberikan kepada Mul hanya sebatas memberikan dukungan domestik, itu pun paling banter memasak makanan kesukaannya. Selain penurut, Mul juga anak yang rapi. Aku hampir tidak pernah punya kesempatan membereskan kamarnya karena selalu rapi. Semakin Mul besar, dia jadi semakin mandiri. Bahkan dia mencuci pakaian dalamnya sendiri. Kupikir dia mulai punya rasa malu—ini alasan yang terbayang pada awalnya.

Semakin besar, Mul juga jadi semakin tertutup dari sebelumnya. Di rumah dia selalu mengurung diri di dalam kamar. Kuasumsikan dia belajar. Aku jadi semakin iba. Semakin tinggi tingkat pendidikan, sepertinya materi pelajaran jadi semakin banyak dan semakin susah. Wajah Mul kulihat semakin tak sumringah setiap harinya, tapi aku tak bisa bahkan sekadar bertanya bagaimana pelajaran dia di sekolah hari itu.

Mul itu ganteng. Sumpah ini bukan karena aku ibunya. Suamiku juga sama sekali tidak jelek, dia punya karakter wajah yang tegas dan sangat macho, sementara aku sendiri—seperti kujelaskan—wajahku bisa dengan mudah bikin semua pria ngaceng seketika. Artinya, bukan cuma cantik, wajahku ini sangat sensual. Semakin usiaku bertambah malah semakin menjadi-jadi—nanti akan kutunjukkan buktinya. Perpaduan genetik antara wajahku dan wajah suamiku menghasilkan wajah Mul jadi seperti dipahat langsung sama Tuhan. Ini paling terlihat jelas ketika Mul di masa-masa SMP. Tapi tak lama, karena kesibukan belajarnya yang semakin gila, wajah ganteng Mul tertutupi tekanan batin.

Aku jadi pusing sendiri. Aku kangen melihat wajah Mul yang normal—entahlah mungkin terakhir Mul ketawa lepas itu waktu dia masih SD. Ada satu karakteristik wajah Mul tidak seperti kelihatannya, yakni ekspresif. Sebetulnya wajah Mul itu sangat mudah dibaca. Cuma karena selama ini yang ditunjukkan hanya ekspresi suram, orang jadi mengira bahwa Mul ini mukanya datar.

Mul mendapatkan karakter wajah ekspresif itu dari wajahku. Dulu, sebelum menikah, teman-temanku bilang bahwa wajahku sangat berwarna. Mungkin ini juga salah satu faktor yang membuatku jadi terlihat cantik di mata laki-laki. Pasca menikah, hal yang senada dikonfirmasi oleh suami. Dia bilang wajahku saat horny sangat menambah gairahnya untuk menggenjotku.

Di satu sisi ini ada keuntungannya. Bagiku. Kalau sedang sange aku tidak perlu secara terus terang mengajak bercinta kepada suami. Selain karena malu, tengsin kan kalau istri minta duluan. Dengan fitur wajah seperti banner berjalan begini, aku tinggal pasang ekspresi saja. Suami langsung paham—atau mungkin dia juga jadi horny karena melihatku horny—dan mudah saja untuk akhirnya kami bersetubuh. Tidak perlu banyak cingcong.

Tapi akhir-akhir ini aku jadi kurang bisa sepenuhnya menikmati ketika sedang bercinta dengan suami. Alasannya karena aku terus-terusan kepikiran masalah Mul. Aku merasa sangat berasalah bahwa aku bisa enak-enak, sedangkan Mul senantiasa berkutat di dalam kubangan tuntutan dari bapaknya yang tak tahu adat. Aku jadi agak tidak rela juga ditiduri olehnya. Aku hampir tak pernah lagi ngajak duluan.

Di tengah kekalutan perasaan, aku menemukan setitik… entahlah… ini bisa dianggap harapan atau justru malapetaka. Suatu hari aku iseng mengecek keadaan kamar Mul saat dia sedang tidak di rumah. Sudah jarang sekali aku melakukannya karena selama ini kamarnya selalu rapi. Tapi hari itu kamar Mul terlihat agak berantakan. Secara aneh aku jadi merasa senang bahwa ada sesuatu yang bisa kulakukan. Aku segera saja sigap membereskan beberapa barang Mul yang tumben tidak dia simpan kembali ke tempatnya.

Ada gitar, kaus kaki tidur, sebuah pensil. Beberapa buku. Pemutar musik dan speaker kabel. Mungkin semalam dia bermain gitar. Aku sedikit senang karena Mul sepertinya bisa sedikit bersenang-senang.

Aku ingat di luar kepala visual interior kamar Mul. Aku tahu di mana harus meletakkan barang-barang itu. Kurang dari satu menit kamar sudah rapi kembali. Aku agak kecewa. Kenapa sih anakku tidak bisa sedikit teledor saja? Aku merasa tak berguna sebagai seorang ibu.

Lama aku terduduk di atas ranjang Mul. Kuperhatikan kasurnya yang rapi tanpa cela. Bantal dan selimut mulus seperti disetrika. Aku jadi khawatir, jangan-jangan anak ini punya obsesi tidak sehat untuk selalu tampak rapi. Dari penampilannya juga kuperhatikan Mul itu selalu wangi, necis, dan klimis. Kalau ekspresi wajahnya tidak suram, aku yakin anak cewek di sekolahnya bakal langsung mengantre untuk jadi pacar Mul. Tidak berlebihan kalau Mul disandingkan dengan cowok-cowok Korea yang mereka gandrungi itu.

Aku jadi bertanya-tanya apa Mul sudah punya pacar. Apakah dia punya kesempatan untuk mengalami jatuh cinta—meskipun aku sendiri belum pernah? Apakah Mul ada masalah ngobrol dengan cewek? Sepertinya sih iya. Aku jadi tambah sedih karena membayangkan skenario buruk bahwa di masa depan Mul akan kesulitan cari jodoh disebabkan sifat dingin dan pendiamnya itu.

Saat lagi sedih itulah mataku tiba-tiba terhujam pada suatu sudut di pojokan kamar Mul. Di pojok itu ada tempat sampah yang memang digunakan Mul untuk membuang kertas bekas coretan. Entah wangsit dari mana aku berdiri dan berjalan menuju tempat sampah itu. Biasanya tempat sampah itu kosong, Mul selalu membuang isinya ke tempat sampah besar di belakang rumah setiap pagi. Kali ini ada isinya. Kalau dari jauh sih sepertinya kertas bekas semua. Tapi tanganku tergerak untuk mengecek suatu benda berwarna putih yang sepertinya bukan kertas.

Jantungku seperti ada yang menyundul waktu kuambil dan kuamati benda itu. Sebuah tisu. Ada sesuatu di tisu itu. Kudekatkan ke hidungku—sumpah ini refleks saja. Kuendus, dan sebuah aroma khas langsung memenuhi ujung-ujung saraf penciumanku. Sundulan kedua menghujam jantungku.

Tidak perlu banyak berspekulasi, aku tentu saja tahu apa itu. Aku sangat akrab dengan bau itu. Tadi malam terakhir kali aku mengendusnya dari kemaluan suami.

Aku seperti membatu, tak tahu harus bereaksi bagaimana.

Mul onani. Mul melakukan masturbasi.

Ini benar-benar di luar perkiraan. Aku kesulitan menentukan perasaan mana yang dominan kualami. Kaget kah? Marah kah? Atau malah senang? Sudah berapa lama Mul melakukan masturbasi? Apakah dia juga menonton video porno atau bahkan punya koleksi majalah porno? Berbagai pertanyaan langsung berkecambah di benakku.

Di tengah keterbatuanku, samar-samar kudengar pintu depan dibuka. Mul sudah pulang? Harusnya belum.

Buru-buru aku keluar dari kamar Mul. Refleks juga kuselipkan tisu berpeju itu ke dalam saku dasterku. Aku tidak tahu kenapa aku malah mengantunginya dan bukan meletakkannya kembali ke tempat sampah.

Turun ke lantai bawah, benar saja itu Mul.

“Kok udah pulang?” tanyaku langsung, berusaha terdengar sebiasa mungkin. Padahal aku tegang sekali karena di kantungku saat ini ada tisu bekas pejunya.

Mul menatap wajahku. Baru kali ini aku merasa dirugikan oleh karakteristik ekspresif wajahku. Mul tahu ada yang tidak biasa dari ekspresi wajahku.

Wajah Mul juga bisa kubaca. Wajahnya… sama seperti wajahku.

“Ada yang ketinggalan.” Jawabnya singkat sambil memalingkan wajah. Kentara sekali.

Mul melesat berlari menuju kamarnya. Aku terdiam di tempat. Merasa benar-benar tolol karena bingung harus melakukan apa. Setelah beberapa menit Mul kembali turun dan mendapati aku masih dalam posisi semula.

“Ibu tadi masuk kamar Mul?” Mul bertanya dari belakangku.

“Iya.” Jawabku tanpa berbalik.

Kemudian hening. Hening yang sungguh sialan. Aku berpikir keras untuk mencari ucapan.

“Apa yang ketinggalan, Mul?”

“Eh… Buku.” Dari suaranya saja tidak meyakinkan. Kalau aku berbalik dan meihat wajahnya, aku bisa pastikan ada ekspresi ketakutan di situ.

Ini jelas sekali. Kami berdua sama-sama sadar apa yang terjadi. Pagi tadi Mul teledor tidak membuang sampah bekas masturbasinya, dia memang terburu-buru, bahkan tidak sarapan. Mul mungkin baru teringat ketika di tengah pelajaran. Oleh karena itu dia bergegas pulang saat istirahat pertama.

“Ada bukunya?” Aku masih main bego.

“Ada.”

Setelah menjawab, Mul langsung ngeluyur keluar tanpa menoleh sedikit pun ke arahku. Hampir berlari dia membuka pintu. Tidak kulihat dia membawa buku.

Selepas Mul pergi aku duduk bengong di atas sofa. Lama sekali aku bengong, sambil memegangi tisu lengket di kantungku.

***​

Kejadian pagi itu mengubah hubunganku dengan Mul secara signifikan. Kalau dibilang semakin jauh, benar, karena Mul jadi tak pernah lagi, jangankan berbicara denganku, menatap mataku saja dia tidak berani. Sebelumnya tidak begitu. Tapi bisa juga dianggap bahwa kami jadi lebih dekat, sebab sekarang ada rahasia Mul yang hanya diketahui oleh aku. Aku pegang kartu As.

Aku yakin dalam hati Mul ketakutan setengah mati aku bakal melaporkan hal ini ke bapaknya. Secara aneh aku merasakan suatu dorongan untuk memanfaatkan kelemahan ini. Ada hasrat dariku untuk menjahili Mul. Ini ganjil sekali. Bagaimana mungkin seorang ibu punya pemikiran seperti ini?

Aku yang sebelumnya tak pernah menyuruh Mul apa-apa, sebab tak mau menambah bebannya, kini mulai meminta Mul melakukan ini-itu. Bukan karena butuh, tapi sebatas ingin main-main saja. Dan hatiku girang betul begitu mendapati Mul merespon sesuai dengan dugaanku. Mul manut sepenuhnya dengan apapun yang kusuruh, tak peduli seberapa konyol dan menyebalkan perintahku.

Kuminta dia membeli tisu, padahal tisu di rumah masih banyak. Ini jahil banget sih. Tapi Mul menyanggupi. Bergegas dia naik motor ke mini market terdekat. Pulang dia membawa tisu, lalu diserahkan kepadaku seperti seorang empu menyerahkan benda pusaka ke seorang jenderal perang. Tak berani dia melihat wajahku. Padahal kalau dia melihatku, aku pun sepertinya akan kikuk.

Lain kesempatan aku meminta Mul mengelapi perabot antik yang terpajang di lemari-lemari kaca. Perabot itu memang cuma pajangan dan tidak pernah dipakai. Kondisinya pun tidak kotor sama sekali, hanya sedikit berdebu. Pasti menjengkelkan harus mengelapi perabot-perabot kecil yang jumlahnya banyak itu. Tapi Mul langsung mengerjakannya dengan sigap. Aku menahan senyum melihat tingkah manut Mul.

Paling kejam mungkin ketika kusuruh dia membeli pembalut—padahal stok pembalutku masih banyak. Kali ini Mul sempat ragu untuk melakukannya meskipun tidak dia ekspresikan dengan kata-kata. Aku melihat ekspresi wajahnya ada sedikit raut kesal di sana, padahal biasanya cuma ekspresi takut.

“Ayo, buruan. Itu ke warung depan komplek aja.” Ucapku sambil mengacungkan uang dua ribuan. Tentu saja uangnya tidak akan cukup. Aku betul-betul brengsek. Hahahaha. (Tertawa jahat)

Mul mengambil uang itu dengan penuh keraguan, tapi dia tidak mengeceknya. Dia langsung saja bergegas pakai motor.

Tak lama dia kembali lagi. Kali ini dia—untuk pertama kalinya setelah sekian lama—menatap wajahku. Ekspresinya full kesal. Merah padam wajahnya.

“Bu, uangnya kurang nih. Masa cuma dua ribu.”

Aku setengah mati menahan ketawa.

“Emang kamu nggak bawa uang lagi?”

“Ya nggak lah. Mana Mul tahu kalau uangnya kurang.”

Ini mungkin pertama kali dalam seumur hidupnya Mul menampakkan ekspresi marah dengan sangat jujur. Aku malah senang sekali. Hatiku berbunga-bunga. Harusnya begini hubungan ibu dan anak yang benar.

“Ya udah. Nih.” Kuberi dia selembar dua puluh ribu.

Dia mengambilnya dengan cepat—lebih tepatnya seperti menyabet. Terasa sekali kekesalannya. Aku menggigit bibirku supaya tidak ketahuan bahwa aku sudah tak kuat pingin ketawa.

“Dari tadi kek!” Mul masih menggerutu sambil berjalan meninggalkanku.

Seperginya Mul kembali ke warung, aku langsung melepas tawa. Sumpah. Belum pernah aku seasik ini dalam hidup. Seumur-umur aku belum pernah jadi orang usil.

Beberapa saat kemudian Mul kembali, kali ini berhasil membeli pembalutnya. Tapi tidak dia temukan aku di ruang tengah seperti sebelumnya.

“Bu…! Ibu…!” Mul mencari-cariku ke sekeliling rumah. Dia mengecek ke kamarku, tidak ada.

“Sini, Mul. Ibu di kamar kamu.” Sahutku dari kamar sebelah.

Mul membuka pintu kamarnya dan mendapatiku sedang duduk di atas ranjangnya. Ekspresi Mul tidak lagi full kesal. Ada kaget dan malu. Mul mungkin menebak-nebak kenapa kok aku ada di kamarnya. Apakah dia akan terus terang bertanya?

“Ibu ngapain di kamar Mul?”

Aku tersenyum karena senang dia bertanya.

“Nggak ngapa-ngapain. Emang nggak boleh?”

Mul mengedarkan pandang dengan ke seluruh sudut ruangan. Seolah berjaga-jaga kalau ada sesuatu yang perlu dia sembunyikan.

“Kenapa kamu gugup gitu sih?”

Mul kaget ketahuan pasang tampang waspada.

“Apaan sih. Nggak…”

“Ya udah, mana sini pembalutnya. Cukup kan uangnya? Kalau ada kembalian buat kamu aja.”

“Kembalian apaan, orang pas-pasan.”

“Ya udah, ntar Ibu kasih duit jajan tambahan.”

Mul bergeming setelah menyerahkan pembalut. Matanya kembali tak nyaman bertatapan denganku.

“Mul. Sini deh duduk. Ibu mau ngomong.”

“Ngomong apa?”

“Ya sini, duduk dulu samping Ibu.”

Mul ogah-ogahan. Kutarik saja tangannya.

Mul akhirnya ikut duduk di tepi ranjang, tapi wajahnya masih berpaling dariku.

“Kamu takut ya? Takut Ibu laporin ke Ayah.” Langsung saja kuserang to the point.

Mul langsung menoleh. Menatapku tajam. Ekspresi baru lagi. Campuran kaget, takut, kesal, dan sedikit memelas.

“Takut apa?”

“Ibu udah tahu kok.”

“Tahu apa?”

“Kamu nggak usah takut. Ibu nggak marah kok.”

“Apaan sih Mul nggak ngerti.”

“Udah… nggak usah pura-pura lagi. Ibu tahu dan Ibu ngerti.”

Mul menimbang-nimbang apakah sudah saatnya mengaku.

“Kalau kamu nggak ngaku, Ibu laporin lho ke Ayah.”

Mul diam. Masih menimbang-nimbang.

“Kok diem? Beneran lho. Ibu laporin nih ya.”

“Apaan sih, Ibu? Laporin aja sono. Emang Ibu punya bukti?”

Hahahaha. Kena kau. Jadi sebenarnya dia sudah tahu apa yang kumaksud.

“Bener lho, ya. Ibu laporin sekarang juga nih.”

Aku segera membuka layar ponselku. Mul langsung gelisah, tapi masih belum mau kalah. Kuperhatikan wajahnya, ini betul-betul kenikmatan baru. Ibarat selama ini tak pernah makan daging, hanya makan sagu, tiba-tiba mencicipi rendang. Begitulah perumpamaan wajah Mul yang kaya ekspresi.

Mul mencuri lihat apa yang kulakukan di layar ponsel. Ternyata aku betul-betul membuka layanan chat. Mul panik dan segera menahan tanganku. Ekspresi wajahnya full memelas. Hampir mau menangis. Mul menggeleng-geleng penuh permohonan.

Aku nyengir penuh kemenangan.

“Udah mau ngaku?”

Mul mengangguk cepat. Gusti… wajahnya imut sekali aku mau sinting rasanya.

“Ngaku apa?”

Mul diam lagi.

“Ngaku apa?”

Mul masih diam.

“Ya udah. Ibu laporin, ah.”

“Iya. Iya. Mul ngaku.”

“Iya, tapi ngaku apa?”

“Ya, yang Ibu bilang.”

“Emang Ibu bilang apa?”

“Pokoknya Mul mengakui apapun itu maksud Ibu.”

“Jadi kamu ngaku kamu suka onani?”

Merah mekar wajah Mul. Dia cuma bisa mengangguk pelan sambil tertunduk malu.

Kupegang pundak Mul. Kubuat kami jadi berhadapan.

“Mul. Lihat Ibu.”

Mul masih malu. Kuangkat saja dagunya. Terang benderang kulihat ekspresi malunya. Dan aku hampir mengalami orgasme emosional menyaksikan ekspresi super langka itu.

“Mul, denger. Kamu nggak perlu malu atau takut. Ibu nggak marah.”

Mul tampak sedikit relaks, tapi tetap masih dikuasai rasa takut.

“Ibu nggak bakal laporin ke Ayah kok.”

“Janji?” Bergetar suara Mul. Tak pernah kudengar dia seperti itu.

“Iya, janji.”

Kulepaskan tanganku dari dagunya dan pundaknya. Kubiarkan Mul mengolah pikirannya.

“Kenapa Ibu nggak marah?”

“Kenapa harus marah?”

Mul menunjukkan ekspresi bingung.

“Anak seusia kamu wajar kok ngelakuin itu. Semua anak cowok temen sekelas kamu juga pasti ngelakuin.”

“Jadi nggak apa-apa?”

“Apanya?”

“Iya. Jadi nggak apa-apa Mul ngelakuin?”

“Ngelakuin apa?”

Wajah Mul muncul sedikit kesal lagi. Ya ampun, aku tak tahan keimutannya.

“Jadi nggak apa-apa kalau Mul suka onani?”

Seakan belum puas—memang belum puas sih—menjahili anak sendiri, aku membalas pertanyaan Mul dengan pertanyaan lebih mematikan.

“Kamu kalau onani gitu sambil nonton video porno nggak?”

Mul lagi-lagi menunduk. Kentara banget jawabannya iya.

“Kadang-kadang.”

“Apanya yang kadang-kadang?”

“Ya, kadang-kadang sambil nonton video porno, kadang-kadang nggak.”

“Lebih sering mana?”

“Kok Ibu jadi kepo sih?”

Aku tertawa tak terduga. Aku tak menyangka kami bisa mengobrol sedekat ini, membahas topik yang dianggap tabu pula. Ini sungguh perkembangan yang sangat luar biasa.

“Ibu pernah baca di artikel. Katanya onani yang sehat itu yang nggak pake video porno.”

“Iya. Udah tahu kok.”

“Lho, kok udah tahu.”

“Ya tau lah. Kan Mul juga punya internet kali.”

Aku lega sekali dengan perkembangan pesat dalam hubungan ibu-anak ini.

***​

Selanjutnya kami jadi jauh lebih dekat. Mul seperti membuka kotak pandora hidupnya kepadaku. Mungkin dia merasa rahasia terdalamnya sudah terungkap, jadi untuk apa menutup-nutupi lagi?

Banyak sekali hal dan cerita mengenai Mul yang kupelajari. Rasanya seperti bertemu dan berkenalan dengan orang baru. Aku sangat menikmati pengalaman ini. Jika sebelumnya pikiranku dipenuhi oleh Mul dalam konteks negatif, sekarang sebaliknya.

Meskipun begitu, ada satu topik yang tidak pernah mau dibahas oleh Mul, yakni ketika aku menyinggung soal pacar atau perempuan yang dia sukai. Mul selalu saja mengelak. Dan aku jadi semakin penasaran.

Di titik obrolan terdalam yang bisa kami capai, Mul menceritakan betapa dia sangat cemas atas masa depannya. Dia takut tidak lolos tes masuk kedokteran. Padahal dia sudah ikut les paling mahal di kota.

“Kenapa mesti khawatir? Nilai kamu kan selama ini bagus terus. Ibu yakin kamu bakal langsung keterima lewat seleksi jalur rapot.”

“Katanya jalur rapot itu harus ada alumni sekolah kita dulu yang keterima dan terbukti berprestasi di kampus, Bu. Di sekolah belum pernah ada yang tembus kedokteran.”

“Ya udah. Nanti kamu yang jadi pionir.”

“Artinya harus lewat jalur tes kan, Bu.”

“Ibu yakin kamu bisa. Kamu yang paling pinter. Udah gitu kamu juga ikut bimbel intensif kan. Masa nggak lolos?”

Mata Mul berkaca-kaca. Ternyata justru itulah yang membuatnya merasakan cemas berlebihan. Ekspektasi semua orang begitu berat menghimpit. Kalau sampai gagal, hal itu akan dilimpahkan sepenuhnya kepada Mul pribadi.

Bagaimana mungkin aku baru menyadarinya?

Mul menangis. Untuk pertama kalinya sejak dia terakhir menangis ketika balita. Hati ibu mana yang tidak luluh?

Langsung saja kupeluk Mul. Juga pelukan pertama kami sejak Mul kecil.

Kami berdua duduk di pinggir ranjang. Kepala Mul keletakkan di atas dadaku sambil kuusap-usap, kubelai-belai dengan penuh kasih sayang rambut ikalnya. Tangan Mul mendekap punggungku erat. Saat itu adalah momen aku merasakan level keibuanku paling tinggi.

Air mata Mul membasahi bajuku. Setelah tangisnya mereda, kuangkat wajahnya dan kuusap air matanya. Mata Mul sembab. Tangisan pertamanya ini mungkin sudah ia tahan-tahan selama bertahun-tahun. Aku jadi ingin menangis juga melihatnya, tapi tentu saja kutahan karena saat ini yang Mul perlukan adalah dukungan penuh dan keyakinan bahwa aku akan selalu ada di sisinya.

“Mul… apapun yang terjadi, Ibu akan selalu ada di pihak kamu. Jangan takut. Mau seluruh dunia ini marah sama kamu sekali pun, Ibu bakal tetep ngebela kamu. Kamu anak Ibu satu-satunya yang palin Ibu sayang. Kamu harta paling berharga buat Ibu.”

Mul manatapku dalam. Jelas sekali tergambar di wajahnya. Cinta.

Kumajukan wajahku, kukecup keningnya. Aku terkejut karena ciuman di kening itu tak terasa canggung sama sekali. Padahal sebulan yang lalu untuk saling pegang tangan saja (selain salim) rasanya sungkan.

“Udah ya. Mul jangan takut lagi. Itu udah Ibu kasih jampi-jampi.”

Mul tersenyum. Lucu sekali. Dia berusaha tersenyum meskipun raut wajahnya masih didominasi ekspresi habis menangis. Tapi itu senyum paling tulus yang pernah kusaksikan hingga detik itu. Aku jadi tak tahan dan memajukan bibirku lagi, kini mendarat di pipinya.

“Apaan sih, Ibu? Mul kan udah gede.”

“Emang kenapa kalau udah gede?”

“Ya masa cium-cium pipi. Kayak anak kecil aja.”

“Bawel, ah.”

Kumajukan bibirku lagi. Aku sungguh tidak mengerti—karena selanjutnya ia mendarat di bibir juga.

Mul terperanjat. Aku sendiri sebetulnya kaget, tapi tubuhku ini seperti sedang diambil alih. Mungkin oleh alam bawah sadar. Entahlah. Yang jelas, kucium bibir Mul cukup lama. Sempat kubuka juga bibirku, melumat bibir Mul yang tertutup rapat. Tadinya lidahku hendak berusaha menerobos, tapi otak sadarku segera mengambil alih. Cepat-cepat kutarik wajahku.

Kami saling tatap dalam seribu ekspresi. Baik Mul dan aku mungkin sama-sama tak mampu menerjemahkan raut wajah masing-masing seperti biasanya.

“Ya udah. Eh…” aku gelagapan mencari kata-kata. “… Ibu mau…” sial, kenapa otak jadi eror begini, “… Ibu mau masak dulu.” Selesai bilang begitu aku langsung melesat keluar kamar Mul. Tidak sempat berpikir betapa konyolnya bilang mau masak padahal sudah jam 9 malam.

***​

Setelah kejadian itu langsung tercipta jarak baru antara aku dan Mul. Tetapi kali ini sensasinya sungguh lain. Dadaku berdesir setiap dekat dengan Mul. Anehnya, aku juga tidak berusaha menghindar. Kami juga tidak berhenti saling bicara. Kami tetap bicara seperti sebelumnya, hanya saja setiap kontak mata terasa begitu menjengahkan, jadi kami tidak sering melakukannya. Selain itu, aku juga tak pernah lagi memasuki kamar Mul. Kami selalu mengobrol di ruang tengah, di teras, atau di dapur. Tidak pernah di tempat yang benar-benar tertutup.

Satu hal yang tidak kuperkirakan adalah kejadian itu mempengaruhi proses belajar Mul. Mungkin bukan sekadar proses belajar, tapi proses berpikir Mul secara keseluruhan. Sangat signifikan sehingga pada sesi try out terakhir sebelum tes ujian masuk, nilai Mul anjlok. Turun sangat drastis.

Terang saja bapaknya berang. Mul didamprat habis-habisan. Kalau bukan aku menahan, hampir ditamparnya Mul. Perasaanku sendiri hancur, tapi bukan karena nilai anjloknya. Aku tak peduli, sungguh. Aku merasa sangat bersalah karena penyebab turunnya nilai Mul itu jelas perbuatanku.

Mul mengunci diri di kamarnya. Aku mengetuk berkali-kali, Mul bergeming. Aku menangis, tapi berusaha menahan suaraku. Suami menyuruhku untuk mengabaikan, biar dia bisa merenungi kesalahannya, ujar suami. Bagaimana mungkin aku bisa mengabaikan, sementara sumber kesalahannya adalah diriku sendiri?

Aku sangat khawatir, takut Mul bertindak yang aneh-aneh. Berkali-kali aku mempertimbangkan membuka pintu kamarnya menggunakan kunci cadangan. Tapi aku takut Mul akan membenciku. Dilema ini bikin hatiku ngilu.

Sampai pagi aku tak bisa tidur sama sekali. Tadinya aku mau langsung stand by lagi di depan pintu kamar Mul, tapi aku harus mengurus suami dulu. Aku mengerjakan pekerjaan rumah tangga, tapi pikiranku tetap terpusat pada Mul. Ingin rasanya suami cepat-cepat berangkat kerja.

Sebelum minggat kerja, suami berpesan untuk tidak luluh dan tetap jangan menghiraukan Mul. Dia harus belajar dari kegagalan, katanya. Aku iya-kan saja supaya dia cepat pergi. Nyatanya, begitu mobil suami keluar dari gerbang, aku langsung meluncur ke lantai dua, kembali mengetuk pintu kamar Mul sambil menyebut-nyebut namanya.

Aku tak tahan lagi, kubuka paksa pintu itu pakai kunci cadangan.

Kondisi kamar gelap karena lampu dimatikan dan tirai tidak dibuka. Cuma ada cahaya dari luar kamar. Aku sudah sangat panik, pikiran negatif merasuki benak. Mul tertidur di atas kasur sambil berselimut. Aku tidak menyadari di lantai kamarnya berserakan banyak tisu. Kalau pun sadar, sebetulnya aku tidak akan terlalu peduli juga—pada saat itu—karena prioritasku adalah keselamatan Mul.

Aku lega sekali ketika Mul menoleh menatapku dari balik selimutnya. Mul tidak bilang apa-apa dan kembali menutupi kepalanya dengan selimut.

“Mul. Makan dulu ya. Kamu kan belum makan dari kemarin siang.”

Tentu saja Mul tidak merespon.

Aku tidak bisa menebak. Dari tatapan matanya tadi aku tak tahu itu apa. Itu ekspresi yang sangat baru.

Tahu bahwa kata-kataku tidak akan digubris, kuputuskan untuk pakai tindakan saja. Aku menelusup ke dalam selimut, lalu kupeluk Mul dari belakang. Mul tampak kaget tapi tidak ada penolakan.

Kuberanikan diri berbisik di telinganya.

“Sayang… maafin Ibu.”

Lalu aku tak kuasa menangis.

Mendengarku menangis, Mul langsung balik badan. Dalam temaram cahaya dari luar kamar, kami saling tatap. Lebih tepatnya sih Mul menatapku, soalnya aku lebih sibuk menangis.

Serangan itu terjadi tiba-tiba. Tapi sangat akurat.

Tanpa banyak cingcong bibir Mul menyosor bibirku. Gila anak ini, padahal aku masih aktif menangis. Pasti ada sedikit air mataku yang terkecap oleh lidahnya. Tapi memang efektif. Tangisanku langsung berhenti seketika. Diganti oleh keterkejutan, kebingungan, dan… —sinting—rasa horny yang tiba-tiba meledak seperti mercon.

Mul menyerangku jauh lebih ganas dibandingkan waktu aku menyerangnya. Bibirnya aktif membuka dan melahap bibirku yang pertahanannya langsung jebol. Tidak butuh lama untuk lidah Mul menerobos masuk. Lidahku pun dengan tanpa malu langsung nimbrung.

Aku cipokan sambil memejamkan mata.

Sementara mulut sibuk bersilaturahmi, tangan kami saling merangkul pundak. Tapi lama-lama tangan Mul semakin turun ke bagian pinggir dadaku. Dia ragu-ragu apakah akan menjamah payudaraku.

Kubuka mataku sejenak, kulihat Mul juga sedang menatapku. Lalu kubimbing saja tangannya menempel ke payudaraku. Mul langsung cekatan meremas.

Lama sekali rasanya kami berciuman penuh gairah. Ketika lepas, bibir Mul sudah basah dengan air liur. Aku baru bahan arti tatapan Mul saat pertama menoleh tadi. Itu ekspresi horny—yang tertahan. Sedangkan yang di hadapanku sekarang adalah ekspresi horny yang lepas.

Sama sepertiku.

Ini menjadi umpan balik positif. Mul yang sange jadi semakin sange melihat wajahku yang sanget karena melihat wajah sangenya.

Mul tanpa bersuara membuka kancing bajuku satu per satu, sembari mata kami terus bertatapan. Aku tersenyum paling nakal. Dewi fortuna seperti sedang berpihak padaku hari itu karena kebetulan sekali aku sedang pakai bra yang pengaitnya di depan. Begitu kancing baju lepas semua, Mul sekalian melepas pengait BH, maka bebaslah dua gunung kembarku yang sangat indah. Mul langsung terjun melumatnya.

“Ahh…”

Aku sedikit memberikan perlawanan. Bukan karena tidak mau, tapi karena rasanya sangat geli. Sama sekali tak terpikirkan olehku bahwa anakku akan kembali menyusu di usianya sekarang.

Mul memastikan dua puncak gunung kembarku dibasahi dengan baik oleh air liurnnya.

Aku bangkit duduk. Selimut kuhempaskan. Kulepas bajuku, kulempar ke lantai sekaligus bh-nya, sehingga aku bertelanjang dada. Kuperhatikan payudaraku, disinari cahaya dari luar, telah basah kuyup oleh air liur anakku sendiri.

Mul memperhatikanku dengan penuh kekaguman. Mungkin saat itu konaknya sudah maksimal banget sebab ketika kutindih dia, betul-betul terasa tonjolan batangnya.

Kutindih Mul sambil kuciumi wajahnya. Mulai dari keningnya, pipinya, lalu berlabuh lagi di bibirnya yang sudah sigap membuka. Kami berciuman lagi dengan jauh lebih bernafsu. Perubahan posisi ini membuat kepala kami jadi lebih leluasa bergerak. Saling jilat hampir menyentuh seluruh bagian wajah masing-masing. Saling sedot seperti menyeruput sea food.

Kemudian aku duduk, menduduki batang kontol Mul yang tegang. Kami saling tatap cukup lama. Terasa sekali kontolnya berkedut-kedut menyundul memekku.

“Sayang, kamu mau apa?”

Mul tidak menjawab. Sebetulnya sudah jelas terbaca dari wajahnya, tapi aku tetap ingin mendengarnya mengucapkan kata-kata itu.

“Apa yang pengen kamu lakuin sama Ibu? Kalau kamu nggak bilang, Ibu nggak bakalan ngerti.”

Mul masih saja tengsin.

“Ibu bakal lakuin apa aja yang kamu mau. Kamu tinggal bilang.”

Tiba-tiba raut wajahnya berubah. Muncul semacam keberanian, kenekatan, atau apa entahlah. Mul ikut duduk. Jadi sekarang kami duduk berhadapan dengan selangkanganku di pangkuannya.

Tepat di depan wajahku, Mul bilang, “Mul pengen ngentot Ibu.”

Aku menyusuri kedalaman sorot matanya. Ada ketegasan di situ. Ada niat kuat yang seakan-akan sudah dipupuk selama sekian tahun.

“Kamu mau ngapain Ibu, Nak?”

“Ngentot. Mul mau ngentotin Ibu.”

Aku menelan ludah. Dadaku mulai terasa pegal karena semakin berdebar-debar.

“Ya udah. Mul tunggu sebentar ya.”

Aku bangkit berdiri di lantai untuk melepas rok dan celana dalamku, mataku menatap matanya. Mul menonton lekat-lekat setiap detik prosesiku melepas celana dalam. Dalam sekejap aku telanjang bulat.

Aku baru sadar bahwa Mul masih berpakaian lengkap. Maka aku, sebagai seorang ibu yang baik dan perhatian, dengan telaten melepaskan pakaiannya satu per satu. Mulai dari kaos yang dia pakai, lalu celana pendeknya, tonjolan kontolnya langsung mencuat dari balik celana dalam. Aroma khas kontol Mul ternyata berbeda dengan aroma kemaluan suamiku. Baunya lebih ringan.

Ketika kulepaskan celana dalam itu, aku sambil menatap dan tersenyum ke arah Mul dengan pandangan nakal. Mul sange tak tertolong.

“Ibu basahin dulu ya.”

“Biar apa, Bu?”

“Biar lancar pas dimasukin ke memek Ibu.”

Mul tersenyum dan mengangguk.

Kuraih batangnya. Pertama-tama kuhirup dulu aroma kontol itu sedalam-dalamnya. Lalu kujilati ujung kepalanya. Sambil tanganku mengocok perlahan. Setelah puas menjilati, mulai kumasukkan ke dalam mulut. Awalnya hanya mulutku turun naik, lama-lama sambil kusedot-sedot. Rasa asin mendominasi.

Mul mengusap-usap kepalaku.

Selesai menyepong, sambil tetap kontak mata, aku naik lagi ke atas kasur. Posisi Mul duduk bersila. Aku duduk mengangkangi kontolnya yang mengacung tegak dan sudah berurat. Sudah tidak sabar sepertinya. Tapi tidak segera kumasukkan. Kugesek-gesek dulu. Begitu saja sudah nikmat sekali sampai ke ubun-ubun.

“Mul bener mau ngentotin Ibu?”

“Iya.”

“Ini pengalaman pertama kamu kan?”

“Iya.”

“Kamu nggak apa-apa pengalaman pertama kamu sama ibu sendiri?”

“Mul pengen ngentot Ibu udah dari lama.”

Aku cukup terkejut dengan pengakuannya. Tapi itu nanti saja. Sekarang yang penting ngentot dulu.

Aku mengangkat selangkanganku, kugenggam batang kontol Mul, inilah momen paling menegangkan, apakah bisa masuk dalam sekali coba. Perlahan kuturunkan pinggulku sambil mengarahkan kepala kontolnya memasuki belahan memekku. Dengan sedikit penyesuaian, palkon itu masuk dengan lancar.

Ukuran kontol Mul sedikit lebih besar dari milik suami.

“Udah masuk.”

“Iya, Bu.”

Kuturunkan pinggulku terus hingga seluruh batang itu berhasil masuk. Secara refleks dinding memekku langsung melakukan gerak menghimpit-himpit.

“Ahhh… enak banget, Bu, dijepit memek Ibu.”

Kudiamkan sejenak sambil memandangi wajah Mul yang sedang sange berat. Kemudian aku melihat ke payudaraku sendiri yang ranum.

“Mau sambil nyusu?” kutawarkan.

Mul langsung saja menyambar toket kananku. Sambil mengenyot, dia mulai menggerak-gerakkan pinggulnya dari bawah, menyodok memekku. Aku belum memberikan respon genjotan. Dalam siatuasi itu aku malah berpikir banyak hal.

Apakah ini yang selama ini Mul butuhkan? Apakah seks merupakan solusi paling tepat bagi tekanan yang dialami olehnya? Apakah hal ini yang bisa kuberikan kepadanya sebagai bentuk kasih sayangku?

Seraya Mul menggenjotku dan berpindah dari menghisap toket kanan dan toket kiri, aku tenggelam dalam banyak pertanyaan.

“Bu, mau ciuman.”

Kesadaranku ditarik kembali ketika Mul meminta cium.

Kami pun berciuman dan aku mulai menggoyang pinggulku. Semakin lama semakin penuh birahi. Dan karena ini hubungan seks pertamanya, aku berasumsi Mul akan segera mencapai klimaks. Tapi ternyata tidak secepat itu.

“Bu, Mul pengen ngentotin Ibu dari atas.”

“Dari atas?”

“Iya. Ibu tiduran aja di kasur.”

Kami pun berganti gaya. Dan benar saja, dengan gaya missionari, Mul menggenjotku lebih leluasa. Ancang-ancang sodokannya lebih jauh.

“Ahh… Ah… Ah… enak banget, Bu. Enak banget ngentot Ibu.”

“Mhhh… Mmmmh… kamu dari kapan pengen ngentot sama Ibu?”

“Udah lama. Semenjak Mul mimpi basah.”

“Kamu mimpi basah mimpiin Ibu?”

“Iya. Sejak itu Mul jatuh cinta sama Ibu. Nggak ada perempuan lebih cantik dari Ibu.”

Jadi itulah kenapa dia selalu menghindar kalau ditanya soal cewek yang disuka. Ternyata akulah orangnya.

Aku menebak-nebak kapan Mul mengalami mimpi basah pertamanya.

“Mul onani setiap malem ngebayangin ngentot sama Ibu. Kalau nonton video porno juga Mul nonton yang hubungan ibu dan anak.”

“Jadi waktu itu kamu sengaja ninggalin tisu bekas onani di kamar? Biar ketahuan sama Ibu?”

“Kalau itu sumpah Mul nggak sengaja, Bu. Mana berani. Mul sebenernya takut banget perasaan Mul ini ketahuan sama siapapun, apalagi sama Ibu.”

“Lho, kenapa? Emangnya salah cinta sama ibu sendiri?”

“Kan Mul bukan cuma cinta, tapi juga pengen ngentotin Ibu. Emang itu nggak salah?”

“Terus sekarang kamu kok malah berani banget sampe beneran ngentotin Ibu?”

Wajah Mul tampak malu.

“Habis waktu itu Ibu cium bibir Mul. Mul kan jadi ngerasa dapet lampu hijau. Tapi habis itu kita malah jadi jauh lagi, padahal sebelumnya deket banget, makanya Mul jadi stres dan nggak bisa belajar sama sekali. Setiap hari cuma bisa onani.”

Ini menjelaskan bekas tisu yang berserakan di lantai.

“Maafin Ibu ya udah bikin kamu stres.”

“Ibu nggak marah?”

“Marah kenapa?”

“Ya ini, dientot sama Mul, Ibu nggak marah?”

“Kalau marah emangnya Ibu bakal mau dientot sama kamu?”

“Jadi nggak apa-apa kalau kita ngentot lagi nanti?”

Aku tertawa. “Kamu ini. Yang sekarang aja belum kelar, udah mau nambah? Emang senafsu itu kamu sama Ibu?”

“Ibu apa nggak nyadar kalau Ibu tuh nafsuin banget? Wajah Ibu, badan Ibu, bibir Ibu, wangi Ibu, sampe suara Ibu, semuanya bikin nafsu.”

Aku tertawa lagi. “Ya udah, itu urusan nanti kalau mau ngentot lagi. Yang penting sekarang selesain dulu. Kamu belum mau keluar emangnya?”

“Sedikit lagi, Bu.”

“Ya udah.”

“Nanti keluarin di mana?”

“Mul pengennya di mana?”

“Di dalam memek Ibu.”

“Ya udah, keluarin sono peju kamu di dalem memek Ibu.”

Mul tiba-tiba kalap menciumku. Genjotannya juga semakin kuat. Lalu jadi semakin cepat. Dia sudah mau sampai.

Beberapa saat kemudian, selangkangan Mul menghujam dengan sangat keras sebanyak tiga kali, bersamaan dengan pejunya menyembur ke dalam rongga memekku.

Mul ngos-ngosan.

“Enak?”

“Enak banget, Bu.”

Aku tersenyum dan membelai wajahnya. Lalu kami berpelukan dengan kontol Mul tetap di dalam memekku sampai relaksasi dan akhirnya lepas sendiri.

Mul tertidur sejenak di atas tubuh telanjangku. Aku mengusap-usap kepalanya.

Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Mulyadi anak yang pendiam sejak kecil. Tidak pernah banyak minta. Selalu menurut apa kata orang tua. Aku sih tidak pernah banyak suruh sama dia, tapi bapaknya. Bapaknya lah yang banyak tuntutan. Dan sering kali tuntutan-tuntutan itu abstrak, tidak jelas, dan bikin bingung. Tetapi Mul manut saja karena dia anak yang baik.

Bapaknya kepingin Mulyadi menjadi dokter, dan tuntutan ini sudah disampaikan kepada Mul sejak dia masih SD. Mulai SMP Mul sudah diikutkan bimbel di luar sekolah supaya nilai rapotnya bagus terus. Alhasil nilai rapot Mul memang selalu sempurna. Guru-guru di sekolah membanggakannya, dan hal ini bikin bapaknya girang betul. Setiap kali kami ambil rapot, aku bisa melihat semua orang dewasa memuji-muji Mulyadi.

Yang luput diperhatikan oleh mereka adalah bahwa Mul jadi tidak punya teman di kelasnya. Sudah mah dia memang pendiam, ditambah prestasi akademiknya yang menjulang tinggi dibanding semua teman-temannya. Mul jadi sangat berjarak dengan semua anak lain di kelas. Konsekuensinya, Mul tampak tidak berbahagia meski dengan semua keberhasilan akademiknya itu. Wajahnya jarang sekali tertawa, kalaupun nyengir hanya nyengir yang dipaksakan. Sorot matanya pun tidak hidup.

Tidak ada orang yang menyadari masalah besar ini. Bahkan Mulyadi sendiri sepertinya tidak sadar bahwa hidupnya tidak bahagia.

Cuma aku yang ngeh. Kok bisa? Mungkin karena aku ibunya.

Sialnya, meski aku mengetahui hal itu, aku tak tahu harus bagaimana. Selama ini peranku di rumah hanya berkutat pada kerja domestik. Mencuci baju, merapikan perabotan, mengepel, memasak, memijit (suami), dan lain-lain. Aku tidak pernah punya suara apa-apa di dalam rumah. Selalu bapaknya saja yang bisa mengobrol dengan Mul—yang kebanyakan berupa penyampaian tuntutan ini-itu berkenaan dengan masa depan Mul.

Tidak jarang aku sebetulnya keberatan dengan tuntutan-tuntutan itu. Demi apapun, Mul masih anak-anak (ketika itu), tidak seharusnya dia dipusingkan dengan tuntutan sedemikian berat. Dia juga berhak bersenang-senang, bermain, sebagaimana anak-anak yang lain. Dia berhak punya teman. Dia berhak berbahagia.

Dalam hatiku terdalam aku tidak tega anakku diperlakukan begitu. Tapi, lagi-lagi, aku tidak punya kekuatan apa-apa untuk melawan. Aku menikah juga bukan karena ingin—justru sebaliknya, karena tidak bisa menolak. Dulu ada saudagar kaya datang ke rumah. Kebetulan orang tuaku memang sedang bingung dengan masa depanku selepas lulus sekolah waktu itu. Kuliah jelas bukan pilihan karena tidak ada duit. Awalnya aku mau disuruh cari kerja saja oleh mereka, tapi untungnya (buat mereka) datanglah orang kaya itu melamarku. Ya sudah, balik modal lah mereka dari pernikahanku.

Memang sepertinya punya wajah dan tubuh yang bikin laki-laki konak adalah satu-satunya aspek yang bisa dipasarkan dari diriku. Aku tidak pintar. Tidak juga baik—dalam arti, aku bukan tipe orang yang suka menolong orang lain. Aku menjalani hidupku mengalir apa adanya saja. Belajar di sekolah sewajarnya. Bermain sewajarnya. Pacaran juga dulu aku pernah sekali, itu juga sewajarnya. Cuma sempat ciuman—tidak lebih. Dan langsung putus begitu aku dilamar itu. Selain karena memang sudah kesepakatan orang tua bahwa aku menerima lamaran, aku sendiri tidak pernah serius punya perasaan terhadap pacarku itu. Kurasa aku pacaran memang cuma ikut-ikutan saja.

Sejak kecil, hidup sebagai orang kecil, aku bukan tipe manusia yang ambisius. Jadi awalnya aku tidak paham sama sekali kenapa bapaknya Mul segitu ngototnya ingin Mul jadi dokter. Belakangan aku baru mengetahui bahwa itu adalah pelampiasan dari kegagalan pribadinya. Dulu dia pernah punya cita-cita ingin jadi dokter, tapi terhalang biaya—dan sepertinya juga kemampuan otak. Kini dia ingin memastikan bahwa Mul bisa menghidupi impian masa lalunya itu.

Sebenarnya tidak terlalu jadi soal kalau urusan jadi dokternya. Aku sendiri suka-suka saja. Ibu mana yang tidak suka anaknya jadi dokter? Yang aku tak setuju adalah caranya itu. Padahal waktunya masih sangat panjang, tapi kenapa seolah-olah tahun depan Mul sudah harus ambil ujian masuk perguruan tinggi?

Semakin hari aku semakin membatin sendiri, bukan cuma karena kondisi Mul, tapi yang lebih bikin aku lebih sakit adalah aku ibunya tapi tidak bisa meringankan beban beratnya itu. Aku tak bisa, misalnya, datang ke kamar Mul, kemudian mengajaknya berbicara dari hati ke hati, menanyakan bagaimana keadaannya, menawarkan apa yang bisa kubantu untuk meringankan bebannya, atau sekadar mendengarkan keluh kesahnya. Selain karena aku sendiri bukan tipe orang yang pandai bicara (ya, apa sih yang bisa diharapkan dari lulusan SMA kabupaten), memang rasanya sungkan saja.

Bapaknya Mul bukan orang yang hangat. Aku sendiri sejak tinggal dengan orang tuaku dulu pun tidak pernah diajarkan menunjukkan perhatian kepada anggota keluarga lewat kata-kata dan gestur tubuh seperti memeluk atau merangkul. Semua itu terbatas pada masa bayi sampai balita saja—ketika si anak belum bisa ngomong.

Semua perhatian yang bisa kuberikan kepada Mul hanya sebatas memberikan dukungan domestik, itu pun paling banter memasak makanan kesukaannya. Selain penurut, Mul juga anak yang rapi. Aku hampir tidak pernah punya kesempatan membereskan kamarnya karena selalu rapi. Semakin Mul besar, dia jadi semakin mandiri. Bahkan dia mencuci pakaian dalamnya sendiri. Kupikir dia mulai punya rasa malu—ini alasan yang terbayang pada awalnya.

Semakin besar, Mul juga jadi semakin tertutup dari sebelumnya. Di rumah dia selalu mengurung diri di dalam kamar. Kuasumsikan dia belajar. Aku jadi semakin iba. Semakin tinggi tingkat pendidikan, sepertinya materi pelajaran jadi semakin banyak dan semakin susah. Wajah Mul kulihat semakin tak sumringah setiap harinya, tapi aku tak bisa bahkan sekadar bertanya bagaimana pelajaran dia di sekolah hari itu.

Mul itu ganteng. Sumpah ini bukan karena aku ibunya. Suamiku juga sama sekali tidak jelek, dia punya karakter wajah yang tegas dan sangat macho, sementara aku sendiri—seperti kujelaskan—wajahku bisa dengan mudah bikin semua pria ngaceng seketika. Artinya, bukan cuma cantik, wajahku ini sangat sensual. Semakin usiaku bertambah malah semakin menjadi-jadi—nanti akan kutunjukkan buktinya. Perpaduan genetik antara wajahku dan wajah suamiku menghasilkan wajah Mul jadi seperti dipahat langsung sama Tuhan. Ini paling terlihat jelas ketika Mul di masa-masa SMP. Tapi tak lama, karena kesibukan belajarnya yang semakin gila, wajah ganteng Mul tertutupi tekanan batin.

Aku jadi pusing sendiri. Aku kangen melihat wajah Mul yang normal—entahlah mungkin terakhir Mul ketawa lepas itu waktu dia masih SD. Ada satu karakteristik wajah Mul tidak seperti kelihatannya, yakni ekspresif. Sebetulnya wajah Mul itu sangat mudah dibaca. Cuma karena selama ini yang ditunjukkan hanya ekspresi suram, orang jadi mengira bahwa Mul ini mukanya datar.

Mul mendapatkan karakter wajah ekspresif itu dari wajahku. Dulu, sebelum menikah, teman-temanku bilang bahwa wajahku sangat berwarna. Mungkin ini juga salah satu faktor yang membuatku jadi terlihat cantik di mata laki-laki. Pasca menikah, hal yang senada dikonfirmasi oleh suami. Dia bilang wajahku saat horny sangat menambah gairahnya untuk menggenjotku.

Di satu sisi ini ada keuntungannya. Bagiku. Kalau sedang sange aku tidak perlu secara terus terang mengajak bercinta kepada suami. Selain karena malu, tengsin kan kalau istri minta duluan. Dengan fitur wajah seperti banner berjalan begini, aku tinggal pasang ekspresi saja. Suami langsung paham—atau mungkin dia juga jadi horny karena melihatku horny—dan mudah saja untuk akhirnya kami bersetubuh. Tidak perlu banyak cingcong.

Tapi akhir-akhir ini aku jadi kurang bisa sepenuhnya menikmati ketika sedang bercinta dengan suami. Alasannya karena aku terus-terusan kepikiran masalah Mul. Aku merasa sangat berasalah bahwa aku bisa enak-enak, sedangkan Mul senantiasa berkutat di dalam kubangan tuntutan dari bapaknya yang tak tahu adat. Aku jadi agak tidak rela juga ditiduri olehnya. Aku hampir tak pernah lagi ngajak duluan.

Di tengah kekalutan perasaan, aku menemukan setitik… entahlah… ini bisa dianggap harapan atau justru malapetaka. Suatu hari aku iseng mengecek keadaan kamar Mul saat dia sedang tidak di rumah. Sudah jarang sekali aku melakukannya karena selama ini kamarnya selalu rapi. Tapi hari itu kamar Mul terlihat agak berantakan. Secara aneh aku jadi merasa senang bahwa ada sesuatu yang bisa kulakukan. Aku segera saja sigap membereskan beberapa barang Mul yang tumben tidak dia simpan kembali ke tempatnya.

Ada gitar, kaus kaki tidur, sebuah pensil. Beberapa buku. Pemutar musik dan speaker kabel. Mungkin semalam dia bermain gitar. Aku sedikit senang karena Mul sepertinya bisa sedikit bersenang-senang.

Aku ingat di luar kepala visual interior kamar Mul. Aku tahu di mana harus meletakkan barang-barang itu. Kurang dari satu menit kamar sudah rapi kembali. Aku agak kecewa. Kenapa sih anakku tidak bisa sedikit teledor saja? Aku merasa tak berguna sebagai seorang ibu.

Lama aku terduduk di atas ranjang Mul. Kuperhatikan kasurnya yang rapi tanpa cela. Bantal dan selimut mulus seperti disetrika. Aku jadi khawatir, jangan-jangan anak ini punya obsesi tidak sehat untuk selalu tampak rapi. Dari penampilannya juga kuperhatikan Mul itu selalu wangi, necis, dan klimis. Kalau ekspresi wajahnya tidak suram, aku yakin anak cewek di sekolahnya bakal langsung mengantre untuk jadi pacar Mul. Tidak berlebihan kalau Mul disandingkan dengan cowok-cowok Korea yang mereka gandrungi itu.

Aku jadi bertanya-tanya apa Mul sudah punya pacar. Apakah dia punya kesempatan untuk mengalami jatuh cinta—meskipun aku sendiri belum pernah? Apakah Mul ada masalah ngobrol dengan cewek? Sepertinya sih iya. Aku jadi tambah sedih karena membayangkan skenario buruk bahwa di masa depan Mul akan kesulitan cari jodoh disebabkan sifat dingin dan pendiamnya itu.

Saat lagi sedih itulah mataku tiba-tiba terhujam pada suatu sudut di pojokan kamar Mul. Di pojok itu ada tempat sampah yang memang digunakan Mul untuk membuang kertas bekas coretan. Entah wangsit dari mana aku berdiri dan berjalan menuju tempat sampah itu. Biasanya tempat sampah itu kosong, Mul selalu membuang isinya ke tempat sampah besar di belakang rumah setiap pagi. Kali ini ada isinya. Kalau dari jauh sih sepertinya kertas bekas semua. Tapi tanganku tergerak untuk mengecek suatu benda berwarna putih yang sepertinya bukan kertas.

Jantungku seperti ada yang menyundul waktu kuambil dan kuamati benda itu. Sebuah tisu. Ada sesuatu di tisu itu. Kudekatkan ke hidungku—sumpah ini refleks saja. Kuendus, dan sebuah aroma khas langsung memenuhi ujung-ujung saraf penciumanku. Sundulan kedua menghujam jantungku.

Tidak perlu banyak berspekulasi, aku tentu saja tahu apa itu. Aku sangat akrab dengan bau itu. Tadi malam terakhir kali aku mengendusnya dari kemaluan suami.

Aku seperti membatu, tak tahu harus bereaksi bagaimana.

Mul onani. Mul melakukan masturbasi.

Ini benar-benar di luar perkiraan. Aku kesulitan menentukan perasaan mana yang dominan kualami. Kaget kah? Marah kah? Atau malah senang? Sudah berapa lama Mul melakukan masturbasi? Apakah dia juga menonton video porno atau bahkan punya koleksi majalah porno? Berbagai pertanyaan langsung berkecambah di benakku.

Di tengah keterbatuanku, samar-samar kudengar pintu depan dibuka. Mul sudah pulang? Harusnya belum.

Buru-buru aku keluar dari kamar Mul. Refleks juga kuselipkan tisu berpeju itu ke dalam saku dasterku. Aku tidak tahu kenapa aku malah mengantunginya dan bukan meletakkannya kembali ke tempat sampah.

Turun ke lantai bawah, benar saja itu Mul.

“Kok udah pulang?” tanyaku langsung, berusaha terdengar sebiasa mungkin. Padahal aku tegang sekali karena di kantungku saat ini ada tisu bekas pejunya.

Mul menatap wajahku. Baru kali ini aku merasa dirugikan oleh karakteristik ekspresif wajahku. Mul tahu ada yang tidak biasa dari ekspresi wajahku.

Wajah Mul juga bisa kubaca. Wajahnya… sama seperti wajahku.

“Ada yang ketinggalan.” Jawabnya singkat sambil memalingkan wajah. Kentara sekali.

Mul melesat berlari menuju kamarnya. Aku terdiam di tempat. Merasa benar-benar tolol karena bingung harus melakukan apa. Setelah beberapa menit Mul kembali turun dan mendapati aku masih dalam posisi semula.

“Ibu tadi masuk kamar Mul?” Mul bertanya dari belakangku.

“Iya.” Jawabku tanpa berbalik.

Kemudian hening. Hening yang sungguh sialan. Aku berpikir keras untuk mencari ucapan.

“Apa yang ketinggalan, Mul?”

“Eh… Buku.” Dari suaranya saja tidak meyakinkan. Kalau aku berbalik dan meihat wajahnya, aku bisa pastikan ada ekspresi ketakutan di situ.

Ini jelas sekali. Kami berdua sama-sama sadar apa yang terjadi. Pagi tadi Mul teledor tidak membuang sampah bekas masturbasinya, dia memang terburu-buru, bahkan tidak sarapan. Mul mungkin baru teringat ketika di tengah pelajaran. Oleh karena itu dia bergegas pulang saat istirahat pertama.

“Ada bukunya?” Aku masih main bego.

“Ada.”

Setelah menjawab, Mul langsung ngeluyur keluar tanpa menoleh sedikit pun ke arahku. Hampir berlari dia membuka pintu. Tidak kulihat dia membawa buku.

Selepas Mul pergi aku duduk bengong di atas sofa. Lama sekali aku bengong, sambil memegangi tisu lengket di kantungku.

***​

Kejadian pagi itu mengubah hubunganku dengan Mul secara signifikan. Kalau dibilang semakin jauh, benar, karena Mul jadi tak pernah lagi, jangankan berbicara denganku, menatap mataku saja dia tidak berani. Sebelumnya tidak begitu. Tapi bisa juga dianggap bahwa kami jadi lebih dekat, sebab sekarang ada rahasia Mul yang hanya diketahui oleh aku. Aku pegang kartu As.

Aku yakin dalam hati Mul ketakutan setengah mati aku bakal melaporkan hal ini ke bapaknya. Secara aneh aku merasakan suatu dorongan untuk memanfaatkan kelemahan ini. Ada hasrat dariku untuk menjahili Mul. Ini ganjil sekali. Bagaimana mungkin seorang ibu punya pemikiran seperti ini?

Aku yang sebelumnya tak pernah menyuruh Mul apa-apa, sebab tak mau menambah bebannya, kini mulai meminta Mul melakukan ini-itu. Bukan karena butuh, tapi sebatas ingin main-main saja. Dan hatiku girang betul begitu mendapati Mul merespon sesuai dengan dugaanku. Mul manut sepenuhnya dengan apapun yang kusuruh, tak peduli seberapa konyol dan menyebalkan perintahku.

Kuminta dia membeli tisu, padahal tisu di rumah masih banyak. Ini jahil banget sih. Tapi Mul menyanggupi. Bergegas dia naik motor ke mini market terdekat. Pulang dia membawa tisu, lalu diserahkan kepadaku seperti seorang empu menyerahkan benda pusaka ke seorang jenderal perang. Tak berani dia melihat wajahku. Padahal kalau dia melihatku, aku pun sepertinya akan kikuk.

Lain kesempatan aku meminta Mul mengelapi perabot antik yang terpajang di lemari-lemari kaca. Perabot itu memang cuma pajangan dan tidak pernah dipakai. Kondisinya pun tidak kotor sama sekali, hanya sedikit berdebu. Pasti menjengkelkan harus mengelapi perabot-perabot kecil yang jumlahnya banyak itu. Tapi Mul langsung mengerjakannya dengan sigap. Aku menahan senyum melihat tingkah manut Mul.

Paling kejam mungkin ketika kusuruh dia membeli pembalut—padahal stok pembalutku masih banyak. Kali ini Mul sempat ragu untuk melakukannya meskipun tidak dia ekspresikan dengan kata-kata. Aku melihat ekspresi wajahnya ada sedikit raut kesal di sana, padahal biasanya cuma ekspresi takut.

“Ayo, buruan. Itu ke warung depan komplek aja.” Ucapku sambil mengacungkan uang dua ribuan. Tentu saja uangnya tidak akan cukup. Aku betul-betul brengsek. Hahahaha. (Tertawa jahat)

Mul mengambil uang itu dengan penuh keraguan, tapi dia tidak mengeceknya. Dia langsung saja bergegas pakai motor.

Tak lama dia kembali lagi. Kali ini dia—untuk pertama kalinya setelah sekian lama—menatap wajahku. Ekspresinya full kesal. Merah padam wajahnya.

“Bu, uangnya kurang nih. Masa cuma dua ribu.”

Aku setengah mati menahan ketawa.

“Emang kamu nggak bawa uang lagi?”

“Ya nggak lah. Mana Mul tahu kalau uangnya kurang.”

Ini mungkin pertama kali dalam seumur hidupnya Mul menampakkan ekspresi marah dengan sangat jujur. Aku malah senang sekali. Hatiku berbunga-bunga. Harusnya begini hubungan ibu dan anak yang benar.

“Ya udah. Nih.” Kuberi dia selembar dua puluh ribu.

Dia mengambilnya dengan cepat—lebih tepatnya seperti menyabet. Terasa sekali kekesalannya. Aku menggigit bibirku supaya tidak ketahuan bahwa aku sudah tak kuat pingin ketawa.

“Dari tadi kek!” Mul masih menggerutu sambil berjalan meninggalkanku.

Seperginya Mul kembali ke warung, aku langsung melepas tawa. Sumpah. Belum pernah aku seasik ini dalam hidup. Seumur-umur aku belum pernah jadi orang usil.

Beberapa saat kemudian Mul kembali, kali ini berhasil membeli pembalutnya. Tapi tidak dia temukan aku di ruang tengah seperti sebelumnya.

“Bu…! Ibu…!” Mul mencari-cariku ke sekeliling rumah. Dia mengecek ke kamarku, tidak ada.

“Sini, Mul. Ibu di kamar kamu.” Sahutku dari kamar sebelah.

Mul membuka pintu kamarnya dan mendapatiku sedang duduk di atas ranjangnya. Ekspresi Mul tidak lagi full kesal. Ada kaget dan malu. Mul mungkin menebak-nebak kenapa kok aku ada di kamarnya. Apakah dia akan terus terang bertanya?

“Ibu ngapain di kamar Mul?”

Aku tersenyum karena senang dia bertanya.

“Nggak ngapa-ngapain. Emang nggak boleh?”

Mul mengedarkan pandang dengan ke seluruh sudut ruangan. Seolah berjaga-jaga kalau ada sesuatu yang perlu dia sembunyikan.

“Kenapa kamu gugup gitu sih?”

Mul kaget ketahuan pasang tampang waspada.

“Apaan sih. Nggak…”

“Ya udah, mana sini pembalutnya. Cukup kan uangnya? Kalau ada kembalian buat kamu aja.”

“Kembalian apaan, orang pas-pasan.”

“Ya udah, ntar Ibu kasih duit jajan tambahan.”

Mul bergeming setelah menyerahkan pembalut. Matanya kembali tak nyaman bertatapan denganku.

“Mul. Sini deh duduk. Ibu mau ngomong.”

“Ngomong apa?”

“Ya sini, duduk dulu samping Ibu.”

Mul ogah-ogahan. Kutarik saja tangannya.

Mul akhirnya ikut duduk di tepi ranjang, tapi wajahnya masih berpaling dariku.

“Kamu takut ya? Takut Ibu laporin ke Ayah.” Langsung saja kuserang to the point.

Mul langsung menoleh. Menatapku tajam. Ekspresi baru lagi. Campuran kaget, takut, kesal, dan sedikit memelas.

“Takut apa?”

“Ibu udah tahu kok.”

“Tahu apa?”

“Kamu nggak usah takut. Ibu nggak marah kok.”

“Apaan sih Mul nggak ngerti.”

“Udah… nggak usah pura-pura lagi. Ibu tahu dan Ibu ngerti.”

Mul menimbang-nimbang apakah sudah saatnya mengaku.

“Kalau kamu nggak ngaku, Ibu laporin lho ke Ayah.”

Mul diam. Masih menimbang-nimbang.

“Kok diem? Beneran lho. Ibu laporin nih ya.”

“Apaan sih, Ibu? Laporin aja sono. Emang Ibu punya bukti?”

Hahahaha. Kena kau. Jadi sebenarnya dia sudah tahu apa yang kumaksud.

“Bener lho, ya. Ibu laporin sekarang juga nih.”

Aku segera membuka layar ponselku. Mul langsung gelisah, tapi masih belum mau kalah. Kuperhatikan wajahnya, ini betul-betul kenikmatan baru. Ibarat selama ini tak pernah makan daging, hanya makan sagu, tiba-tiba mencicipi rendang. Begitulah perumpamaan wajah Mul yang kaya ekspresi.

Mul mencuri lihat apa yang kulakukan di layar ponsel. Ternyata aku betul-betul membuka layanan chat. Mul panik dan segera menahan tanganku. Ekspresi wajahnya full memelas. Hampir mau menangis. Mul menggeleng-geleng penuh permohonan.

Aku nyengir penuh kemenangan.

“Udah mau ngaku?”

Mul mengangguk cepat. Gusti… wajahnya imut sekali aku mau sinting rasanya.

“Ngaku apa?”

Mul diam lagi.

“Ngaku apa?”

Mul masih diam.

“Ya udah. Ibu laporin, ah.”

“Iya. Iya. Mul ngaku.”

“Iya, tapi ngaku apa?”

“Ya, yang Ibu bilang.”

“Emang Ibu bilang apa?”

“Pokoknya Mul mengakui apapun itu maksud Ibu.”

“Jadi kamu ngaku kamu suka onani?”

Merah mekar wajah Mul. Dia cuma bisa mengangguk pelan sambil tertunduk malu.

Kupegang pundak Mul. Kubuat kami jadi berhadapan.

“Mul. Lihat Ibu.”

Mul masih malu. Kuangkat saja dagunya. Terang benderang kulihat ekspresi malunya. Dan aku hampir mengalami orgasme emosional menyaksikan ekspresi super langka itu.

“Mul, denger. Kamu nggak perlu malu atau takut. Ibu nggak marah.”

Mul tampak sedikit relaks, tapi tetap masih dikuasai rasa takut.

“Ibu nggak bakal laporin ke Ayah kok.”

“Janji?” Bergetar suara Mul. Tak pernah kudengar dia seperti itu.

“Iya, janji.”

Kulepaskan tanganku dari dagunya dan pundaknya. Kubiarkan Mul mengolah pikirannya.

“Kenapa Ibu nggak marah?”

“Kenapa harus marah?”

Mul menunjukkan ekspresi bingung.

“Anak seusia kamu wajar kok ngelakuin itu. Semua anak cowok temen sekelas kamu juga pasti ngelakuin.”

“Jadi nggak apa-apa?”

“Apanya?”

“Iya. Jadi nggak apa-apa Mul ngelakuin?”

“Ngelakuin apa?”

Wajah Mul muncul sedikit kesal lagi. Ya ampun, aku tak tahan keimutannya.

“Jadi nggak apa-apa kalau Mul suka onani?”

Seakan belum puas—memang belum puas sih—menjahili anak sendiri, aku membalas pertanyaan Mul dengan pertanyaan lebih mematikan.

“Kamu kalau onani gitu sambil nonton video porno nggak?”

Mul lagi-lagi menunduk. Kentara banget jawabannya iya.

“Kadang-kadang.”

“Apanya yang kadang-kadang?”

“Ya, kadang-kadang sambil nonton video porno, kadang-kadang nggak.”

“Lebih sering mana?”

“Kok Ibu jadi kepo sih?”

Aku tertawa tak terduga. Aku tak menyangka kami bisa mengobrol sedekat ini, membahas topik yang dianggap tabu pula. Ini sungguh perkembangan yang sangat luar biasa.

“Ibu pernah baca di artikel. Katanya onani yang sehat itu yang nggak pake video porno.”

“Iya. Udah tahu kok.”

“Lho, kok udah tahu.”

“Ya tau lah. Kan Mul juga punya internet kali.”

Aku lega sekali dengan perkembangan pesat dalam hubungan ibu-anak ini.

***​

Selanjutnya kami jadi jauh lebih dekat. Mul seperti membuka kotak pandora hidupnya kepadaku. Mungkin dia merasa rahasia terdalamnya sudah terungkap, jadi untuk apa menutup-nutupi lagi?

Banyak sekali hal dan cerita mengenai Mul yang kupelajari. Rasanya seperti bertemu dan berkenalan dengan orang baru. Aku sangat menikmati pengalaman ini. Jika sebelumnya pikiranku dipenuhi oleh Mul dalam konteks negatif, sekarang sebaliknya.

Meskipun begitu, ada satu topik yang tidak pernah mau dibahas oleh Mul, yakni ketika aku menyinggung soal pacar atau perempuan yang dia sukai. Mul selalu saja mengelak. Dan aku jadi semakin penasaran.

Di titik obrolan terdalam yang bisa kami capai, Mul menceritakan betapa dia sangat cemas atas masa depannya. Dia takut tidak lolos tes masuk kedokteran. Padahal dia sudah ikut les paling mahal di kota.

“Kenapa mesti khawatir? Nilai kamu kan selama ini bagus terus. Ibu yakin kamu bakal langsung keterima lewat seleksi jalur rapot.”

“Katanya jalur rapot itu harus ada alumni sekolah kita dulu yang keterima dan terbukti berprestasi di kampus, Bu. Di sekolah belum pernah ada yang tembus kedokteran.”

“Ya udah. Nanti kamu yang jadi pionir.”

“Artinya harus lewat jalur tes kan, Bu.”

“Ibu yakin kamu bisa. Kamu yang paling pinter. Udah gitu kamu juga ikut bimbel intensif kan. Masa nggak lolos?”

Mata Mul berkaca-kaca. Ternyata justru itulah yang membuatnya merasakan cemas berlebihan. Ekspektasi semua orang begitu berat menghimpit. Kalau sampai gagal, hal itu akan dilimpahkan sepenuhnya kepada Mul pribadi.

Bagaimana mungkin aku baru menyadarinya?

Mul menangis. Untuk pertama kalinya sejak dia terakhir menangis ketika balita. Hati ibu mana yang tidak luluh?

Langsung saja kupeluk Mul. Juga pelukan pertama kami sejak Mul kecil.

Kami berdua duduk di pinggir ranjang. Kepala Mul keletakkan di atas dadaku sambil kuusap-usap, kubelai-belai dengan penuh kasih sayang rambut ikalnya. Tangan Mul mendekap punggungku erat. Saat itu adalah momen aku merasakan level keibuanku paling tinggi.

Air mata Mul membasahi bajuku. Setelah tangisnya mereda, kuangkat wajahnya dan kuusap air matanya. Mata Mul sembab. Tangisan pertamanya ini mungkin sudah ia tahan-tahan selama bertahun-tahun. Aku jadi ingin menangis juga melihatnya, tapi tentu saja kutahan karena saat ini yang Mul perlukan adalah dukungan penuh dan keyakinan bahwa aku akan selalu ada di sisinya.

“Mul… apapun yang terjadi, Ibu akan selalu ada di pihak kamu. Jangan takut. Mau seluruh dunia ini marah sama kamu sekali pun, Ibu bakal tetep ngebela kamu. Kamu anak Ibu satu-satunya yang palin Ibu sayang. Kamu harta paling berharga buat Ibu.”

Mul manatapku dalam. Jelas sekali tergambar di wajahnya. Cinta.

Kumajukan wajahku, kukecup keningnya. Aku terkejut karena ciuman di kening itu tak terasa canggung sama sekali. Padahal sebulan yang lalu untuk saling pegang tangan saja (selain salim) rasanya sungkan.

“Udah ya. Mul jangan takut lagi. Itu udah Ibu kasih jampi-jampi.”

Mul tersenyum. Lucu sekali. Dia berusaha tersenyum meskipun raut wajahnya masih didominasi ekspresi habis menangis. Tapi itu senyum paling tulus yang pernah kusaksikan hingga detik itu. Aku jadi tak tahan dan memajukan bibirku lagi, kini mendarat di pipinya.

“Apaan sih, Ibu? Mul kan udah gede.”

“Emang kenapa kalau udah gede?”

“Ya masa cium-cium pipi. Kayak anak kecil aja.”

“Bawel, ah.”

Kumajukan bibirku lagi. Aku sungguh tidak mengerti—karena selanjutnya ia mendarat di bibir juga.

Mul terperanjat. Aku sendiri sebetulnya kaget, tapi tubuhku ini seperti sedang diambil alih. Mungkin oleh alam bawah sadar. Entahlah. Yang jelas, kucium bibir Mul cukup lama. Sempat kubuka juga bibirku, melumat bibir Mul yang tertutup rapat. Tadinya lidahku hendak berusaha menerobos, tapi otak sadarku segera mengambil alih. Cepat-cepat kutarik wajahku.

Kami saling tatap dalam seribu ekspresi. Baik Mul dan aku mungkin sama-sama tak mampu menerjemahkan raut wajah masing-masing seperti biasanya.

“Ya udah. Eh…” aku gelagapan mencari kata-kata. “… Ibu mau…” sial, kenapa otak jadi eror begini, “… Ibu mau masak dulu.” Selesai bilang begitu aku langsung melesat keluar kamar Mul. Tidak sempat berpikir betapa konyolnya bilang mau masak padahal sudah jam 9 malam.

***​

Setelah kejadian itu langsung tercipta jarak baru antara aku dan Mul. Tetapi kali ini sensasinya sungguh lain. Dadaku berdesir setiap dekat dengan Mul. Anehnya, aku juga tidak berusaha menghindar. Kami juga tidak berhenti saling bicara. Kami tetap bicara seperti sebelumnya, hanya saja setiap kontak mata terasa begitu menjengahkan, jadi kami tidak sering melakukannya. Selain itu, aku juga tak pernah lagi memasuki kamar Mul. Kami selalu mengobrol di ruang tengah, di teras, atau di dapur. Tidak pernah di tempat yang benar-benar tertutup.

Satu hal yang tidak kuperkirakan adalah kejadian itu mempengaruhi proses belajar Mul. Mungkin bukan sekadar proses belajar, tapi proses berpikir Mul secara keseluruhan. Sangat signifikan sehingga pada sesi try out terakhir sebelum tes ujian masuk, nilai Mul anjlok. Turun sangat drastis.

Terang saja bapaknya berang. Mul didamprat habis-habisan. Kalau bukan aku menahan, hampir ditamparnya Mul. Perasaanku sendiri hancur, tapi bukan karena nilai anjloknya. Aku tak peduli, sungguh. Aku merasa sangat bersalah karena penyebab turunnya nilai Mul itu jelas perbuatanku.

Mul mengunci diri di kamarnya. Aku mengetuk berkali-kali, Mul bergeming. Aku menangis, tapi berusaha menahan suaraku. Suami menyuruhku untuk mengabaikan, biar dia bisa merenungi kesalahannya, ujar suami. Bagaimana mungkin aku bisa mengabaikan, sementara sumber kesalahannya adalah diriku sendiri?

Aku sangat khawatir, takut Mul bertindak yang aneh-aneh. Berkali-kali aku mempertimbangkan membuka pintu kamarnya menggunakan kunci cadangan. Tapi aku takut Mul akan membenciku. Dilema ini bikin hatiku ngilu.

Sampai pagi aku tak bisa tidur sama sekali. Tadinya aku mau langsung stand by lagi di depan pintu kamar Mul, tapi aku harus mengurus suami dulu. Aku mengerjakan pekerjaan rumah tangga, tapi pikiranku tetap terpusat pada Mul. Ingin rasanya suami cepat-cepat berangkat kerja.

Sebelum minggat kerja, suami berpesan untuk tidak luluh dan tetap jangan menghiraukan Mul. Dia harus belajar dari kegagalan, katanya. Aku iya-kan saja supaya dia cepat pergi. Nyatanya, begitu mobil suami keluar dari gerbang, aku langsung meluncur ke lantai dua, kembali mengetuk pintu kamar Mul sambil menyebut-nyebut namanya.

Aku tak tahan lagi, kubuka paksa pintu itu pakai kunci cadangan.

Kondisi kamar gelap karena lampu dimatikan dan tirai tidak dibuka. Cuma ada cahaya dari luar kamar. Aku sudah sangat panik, pikiran negatif merasuki benak. Mul tertidur di atas kasur sambil berselimut. Aku tidak menyadari di lantai kamarnya berserakan banyak tisu. Kalau pun sadar, sebetulnya aku tidak akan terlalu peduli juga—pada saat itu—karena prioritasku adalah keselamatan Mul.

Aku lega sekali ketika Mul menoleh menatapku dari balik selimutnya. Mul tidak bilang apa-apa dan kembali menutupi kepalanya dengan selimut.

“Mul. Makan dulu ya. Kamu kan belum makan dari kemarin siang.”

Tentu saja Mul tidak merespon.

Aku tidak bisa menebak. Dari tatapan matanya tadi aku tak tahu itu apa. Itu ekspresi yang sangat baru.

Tahu bahwa kata-kataku tidak akan digubris, kuputuskan untuk pakai tindakan saja. Aku menelusup ke dalam selimut, lalu kupeluk Mul dari belakang. Mul tampak kaget tapi tidak ada penolakan.

Kuberanikan diri berbisik di telinganya.

“Sayang… maafin Ibu.”

Lalu aku tak kuasa menangis.

Mendengarku menangis, Mul langsung balik badan. Dalam temaram cahaya dari luar kamar, kami saling tatap. Lebih tepatnya sih Mul menatapku, soalnya aku lebih sibuk menangis.

Serangan itu terjadi tiba-tiba. Tapi sangat akurat.

Tanpa banyak cingcong bibir Mul menyosor bibirku. Gila anak ini, padahal aku masih aktif menangis. Pasti ada sedikit air mataku yang terkecap oleh lidahnya. Tapi memang efektif. Tangisanku langsung berhenti seketika. Diganti oleh keterkejutan, kebingungan, dan… —sinting—rasa horny yang tiba-tiba meledak seperti mercon.

Mul menyerangku jauh lebih ganas dibandingkan waktu aku menyerangnya. Bibirnya aktif membuka dan melahap bibirku yang pertahanannya langsung jebol. Tidak butuh lama untuk lidah Mul menerobos masuk. Lidahku pun dengan tanpa malu langsung nimbrung.

Aku cipokan sambil memejamkan mata.

Sementara mulut sibuk bersilaturahmi, tangan kami saling merangkul pundak. Tapi lama-lama tangan Mul semakin turun ke bagian pinggir dadaku. Dia ragu-ragu apakah akan menjamah payudaraku.

Kubuka mataku sejenak, kulihat Mul juga sedang menatapku. Lalu kubimbing saja tangannya menempel ke payudaraku. Mul langsung cekatan meremas.

Lama sekali rasanya kami berciuman penuh gairah. Ketika lepas, bibir Mul sudah basah dengan air liur. Aku baru bahan arti tatapan Mul saat pertama menoleh tadi. Itu ekspresi horny—yang tertahan. Sedangkan yang di hadapanku sekarang adalah ekspresi horny yang lepas.

Sama sepertiku.

Ini menjadi umpan balik positif. Mul yang sange jadi semakin sange melihat wajahku yang sanget karena melihat wajah sangenya.

Mul tanpa bersuara membuka kancing bajuku satu per satu, sembari mata kami terus bertatapan. Aku tersenyum paling nakal. Dewi fortuna seperti sedang berpihak padaku hari itu karena kebetulan sekali aku sedang pakai bra yang pengaitnya di depan. Begitu kancing baju lepas semua, Mul sekalian melepas pengait BH, maka bebaslah dua gunung kembarku yang sangat indah. Mul langsung terjun melumatnya.

“Ahh…”

Aku sedikit memberikan perlawanan. Bukan karena tidak mau, tapi karena rasanya sangat geli. Sama sekali tak terpikirkan olehku bahwa anakku akan kembali menyusu di usianya sekarang.

Mul memastikan dua puncak gunung kembarku dibasahi dengan baik oleh air liurnnya.

Aku bangkit duduk. Selimut kuhempaskan. Kulepas bajuku, kulempar ke lantai sekaligus bh-nya, sehingga aku bertelanjang dada. Kuperhatikan payudaraku, disinari cahaya dari luar, telah basah kuyup oleh air liur anakku sendiri.

Mul memperhatikanku dengan penuh kekaguman. Mungkin saat itu konaknya sudah maksimal banget sebab ketika kutindih dia, betul-betul terasa tonjolan batangnya.

Kutindih Mul sambil kuciumi wajahnya. Mulai dari keningnya, pipinya, lalu berlabuh lagi di bibirnya yang sudah sigap membuka. Kami berciuman lagi dengan jauh lebih bernafsu. Perubahan posisi ini membuat kepala kami jadi lebih leluasa bergerak. Saling jilat hampir menyentuh seluruh bagian wajah masing-masing. Saling sedot seperti menyeruput sea food.

Kemudian aku duduk, menduduki batang kontol Mul yang tegang. Kami saling tatap cukup lama. Terasa sekali kontolnya berkedut-kedut menyundul memekku.

“Sayang, kamu mau apa?”

Mul tidak menjawab. Sebetulnya sudah jelas terbaca dari wajahnya, tapi aku tetap ingin mendengarnya mengucapkan kata-kata itu.

“Apa yang pengen kamu lakuin sama Ibu? Kalau kamu nggak bilang, Ibu nggak bakalan ngerti.”

Mul masih saja tengsin.

“Ibu bakal lakuin apa aja yang kamu mau. Kamu tinggal bilang.”

Tiba-tiba raut wajahnya berubah. Muncul semacam keberanian, kenekatan, atau apa entahlah. Mul ikut duduk. Jadi sekarang kami duduk berhadapan dengan selangkanganku di pangkuannya.

Tepat di depan wajahku, Mul bilang, “Mul pengen ngentot Ibu.”

Aku menyusuri kedalaman sorot matanya. Ada ketegasan di situ. Ada niat kuat yang seakan-akan sudah dipupuk selama sekian tahun.

“Kamu mau ngapain Ibu, Nak?”

“Ngentot. Mul mau ngentotin Ibu.”

Aku menelan ludah. Dadaku mulai terasa pegal karena semakin berdebar-debar.

“Ya udah. Mul tunggu sebentar ya.”

Aku bangkit berdiri di lantai untuk melepas rok dan celana dalamku, mataku menatap matanya. Mul menonton lekat-lekat setiap detik prosesiku melepas celana dalam. Dalam sekejap aku telanjang bulat.

Aku baru sadar bahwa Mul masih berpakaian lengkap. Maka aku, sebagai seorang ibu yang baik dan perhatian, dengan telaten melepaskan pakaiannya satu per satu. Mulai dari kaos yang dia pakai, lalu celana pendeknya, tonjolan kontolnya langsung mencuat dari balik celana dalam. Aroma khas kontol Mul ternyata berbeda dengan aroma kemaluan suamiku. Baunya lebih ringan.

Ketika kulepaskan celana dalam itu, aku sambil menatap dan tersenyum ke arah Mul dengan pandangan nakal. Mul sange tak tertolong.

“Ibu basahin dulu ya.”

“Biar apa, Bu?”

“Biar lancar pas dimasukin ke memek Ibu.”

Mul tersenyum dan mengangguk.

Kuraih batangnya. Pertama-tama kuhirup dulu aroma kontol itu sedalam-dalamnya. Lalu kujilati ujung kepalanya. Sambil tanganku mengocok perlahan. Setelah puas menjilati, mulai kumasukkan ke dalam mulut. Awalnya hanya mulutku turun naik, lama-lama sambil kusedot-sedot. Rasa asin mendominasi.

Mul mengusap-usap kepalaku.

Selesai menyepong, sambil tetap kontak mata, aku naik lagi ke atas kasur. Posisi Mul duduk bersila. Aku duduk mengangkangi kontolnya yang mengacung tegak dan sudah berurat. Sudah tidak sabar sepertinya. Tapi tidak segera kumasukkan. Kugesek-gesek dulu. Begitu saja sudah nikmat sekali sampai ke ubun-ubun.

“Mul bener mau ngentotin Ibu?”

“Iya.”

“Ini pengalaman pertama kamu kan?”

“Iya.”

“Kamu nggak apa-apa pengalaman pertama kamu sama ibu sendiri?”

“Mul pengen ngentot Ibu udah dari lama.”

Aku cukup terkejut dengan pengakuannya. Tapi itu nanti saja. Sekarang yang penting ngentot dulu.

Aku mengangkat selangkanganku, kugenggam batang kontol Mul, inilah momen paling menegangkan, apakah bisa masuk dalam sekali coba. Perlahan kuturunkan pinggulku sambil mengarahkan kepala kontolnya memasuki belahan memekku. Dengan sedikit penyesuaian, palkon itu masuk dengan lancar.

Ukuran kontol Mul sedikit lebih besar dari milik suami.

“Udah masuk.”

“Iya, Bu.”

Kuturunkan pinggulku terus hingga seluruh batang itu berhasil masuk. Secara refleks dinding memekku langsung melakukan gerak menghimpit-himpit.

“Ahhh… enak banget, Bu, dijepit memek Ibu.”

Kudiamkan sejenak sambil memandangi wajah Mul yang sedang sange berat. Kemudian aku melihat ke payudaraku sendiri yang ranum.

“Mau sambil nyusu?” kutawarkan.

Mul langsung saja menyambar toket kananku. Sambil mengenyot, dia mulai menggerak-gerakkan pinggulnya dari bawah, menyodok memekku. Aku belum memberikan respon genjotan. Dalam siatuasi itu aku malah berpikir banyak hal.

Apakah ini yang selama ini Mul butuhkan? Apakah seks merupakan solusi paling tepat bagi tekanan yang dialami olehnya? Apakah hal ini yang bisa kuberikan kepadanya sebagai bentuk kasih sayangku?

Seraya Mul menggenjotku dan berpindah dari menghisap toket kanan dan toket kiri, aku tenggelam dalam banyak pertanyaan.

“Bu, mau ciuman.”

Kesadaranku ditarik kembali ketika Mul meminta cium.

Kami pun berciuman dan aku mulai menggoyang pinggulku. Semakin lama semakin penuh birahi. Dan karena ini hubungan seks pertamanya, aku berasumsi Mul akan segera mencapai klimaks. Tapi ternyata tidak secepat itu.

“Bu, Mul pengen ngentotin Ibu dari atas.”

“Dari atas?”

“Iya. Ibu tiduran aja di kasur.”

Kami pun berganti gaya. Dan benar saja, dengan gaya missionari, Mul menggenjotku lebih leluasa. Ancang-ancang sodokannya lebih jauh.

“Ahh… Ah… Ah… enak banget, Bu. Enak banget ngentot Ibu.”

“Mhhh… Mmmmh… kamu dari kapan pengen ngentot sama Ibu?”

“Udah lama. Semenjak Mul mimpi basah.”

“Kamu mimpi basah mimpiin Ibu?”

“Iya. Sejak itu Mul jatuh cinta sama Ibu. Nggak ada perempuan lebih cantik dari Ibu.”

Jadi itulah kenapa dia selalu menghindar kalau ditanya soal cewek yang disuka. Ternyata akulah orangnya.

Aku menebak-nebak kapan Mul mengalami mimpi basah pertamanya.

“Mul onani setiap malem ngebayangin ngentot sama Ibu. Kalau nonton video porno juga Mul nonton yang hubungan ibu dan anak.”

“Jadi waktu itu kamu sengaja ninggalin tisu bekas onani di kamar? Biar ketahuan sama Ibu?”

“Kalau itu sumpah Mul nggak sengaja, Bu. Mana berani. Mul sebenernya takut banget perasaan Mul ini ketahuan sama siapapun, apalagi sama Ibu.”

“Lho, kenapa? Emangnya salah cinta sama ibu sendiri?”

“Kan Mul bukan cuma cinta, tapi juga pengen ngentotin Ibu. Emang itu nggak salah?”

“Terus sekarang kamu kok malah berani banget sampe beneran ngentotin Ibu?”

Wajah Mul tampak malu.

“Habis waktu itu Ibu cium bibir Mul. Mul kan jadi ngerasa dapet lampu hijau. Tapi habis itu kita malah jadi jauh lagi, padahal sebelumnya deket banget, makanya Mul jadi stres dan nggak bisa belajar sama sekali. Setiap hari cuma bisa onani.”

Ini menjelaskan bekas tisu yang berserakan di lantai.

“Maafin Ibu ya udah bikin kamu stres.”

“Ibu nggak marah?”

“Marah kenapa?”

“Ya ini, dientot sama Mul, Ibu nggak marah?”

“Kalau marah emangnya Ibu bakal mau dientot sama kamu?”

“Jadi nggak apa-apa kalau kita ngentot lagi nanti?”

Aku tertawa. “Kamu ini. Yang sekarang aja belum kelar, udah mau nambah? Emang senafsu itu kamu sama Ibu?”

“Ibu apa nggak nyadar kalau Ibu tuh nafsuin banget? Wajah Ibu, badan Ibu, bibir Ibu, wangi Ibu, sampe suara Ibu, semuanya bikin nafsu.”

Aku tertawa lagi. “Ya udah, itu urusan nanti kalau mau ngentot lagi. Yang penting sekarang selesain dulu. Kamu belum mau keluar emangnya?”

“Sedikit lagi, Bu.”

“Ya udah.”

“Nanti keluarin di mana?”

“Mul pengennya di mana?”

“Di dalam memek Ibu.”

“Ya udah, keluarin sono peju kamu di dalem memek Ibu.”

Mul tiba-tiba kalap menciumku. Genjotannya juga semakin kuat. Lalu jadi semakin cepat. Dia sudah mau sampai.

Beberapa saat kemudian, selangkangan Mul menghujam dengan sangat keras sebanyak tiga kali, bersamaan dengan pejunya menyembur ke dalam rongga memekku.

Mul ngos-ngosan.

“Enak?”

“Enak banget, Bu.”

Aku tersenyum dan membelai wajahnya. Lalu kami berpelukan dengan kontol Mul tetap di dalam memekku sampai relaksasi dan akhirnya lepas sendiri.

Mul tertidur sejenak di atas tubuh telanjangku. Aku mengusap-usap kepalanya.

Apa yang akan terjadi selanjutnya?