Noda Hitam, Nada (No Sara)

PENGINGAT Salah satu draft yang kayaknya mending di post aja hahaha. Sedikit dipoles beberapa dari draft lama. Tulisan iseng, karna mau coba belajar bikin cerita yang cukup simple. Gak perlu sampai berpart banyak-banyak. *Cerita ini fiktif belaka dan juga mulustrasi hanyalah pemanis imajinasi*

=***= Bagian Pembuka ​
Masa-masa transisi menuju dewasa atau “puber” adalah sebuah fase kehidupan yang sangat menarik bagiku ketika masih bersekolah atau mungkin untuk sebagian semua orang. Sejak memasuki fase seragam putih abu-abu ini, aku tinggal bersama Paman dan Bibiku. Paman dan Bibiku tinggal di daerah perkebunan, aku meminta kepada Ayahku untuk tinggal bersama mereka, karna sejak masa-masa SMP aku sudah tertarik dengan bisnis di sektor pertanian. Pamanku khususnya adalah petani yang bisa dibilang cukup sukses dalam bidang ini.

Intinya aku ingin belajar banyak darinya.

Ayahku yang memang mindsetnya seorang “pebisnis” tentu saja mengizinkan anak satu-satunya ini dapat belajar banyak perihal apa yang diinginkan oleh anaknya. Jadi Ayah dan Ibuku mendukung besar keinginanku, tentu saja Ayahku meminta laporan tentang apa saja yang kudapatkan selama belajar dengan Pamanku. Dengan segala wejangan dan kebawelannya Ayahku sebagai sosok seorang Ayah yang tak ingin berpisah terlalu jauh dengan Putrinya. Namaku adalah Nessalia Zenada, di rumah aku dipanggil Elia oleh Ayah dan Ibuku, kalau di sekolah, aku dipanggil Nada, aku sih senang-senang saja memiliki beberapa nama panggilan, karna bagiku, selama itu bisa mendekatkan banyak teman ya tak masalah.
(ilustrasi Nada)​
Kehidupanku sudah dipenuhi banyak tuntutan oleh Ayah dan Ibuku, jadinya akupun memiliki sikap yang cukup kompetitif, apalagi kalau aku sudah menginginkan sesuatu,
aku harus mendapatkannya sebisa mungkin. Ruang tamuku penuh dengan banyak-banyak piagam maupun piala. Mulai dari milik Ayah dan Ibu, dan juga milik ku sendiri.
Semua terpampang rapih disana. Tetapi tak semua watak atau sikap yang dimiliki oleh Ayah dan Ibuku aku suka, terkadang kamipun juga berdebat atas perbedaan sebuah sudut pandang. Kini aku dapat mencoba hidup sendiri tanpa perlu khawatir akan berdebat oleh Ayah dan Ibuku, meskipun aku belum tahu pasti pula apakah Paman dan Bibiku memiliki sikap yang sama seperti mereka. Dan selama aku tinggal disana, aku pun tak hanya jadi satu-satunya anggota keluarga di tempat Paman dan Bibiku.

Mereka memiliki dua anak yang jelita, namanya kak Dania dan Rania. Kuakui, meskipun mereka berdua umurnya berbeda 5 tahun diatasku untuk kak Dania dan setahun dibawahku untuk Rania, tapi mereka berdua sangatlah cantik. Kecantikan mereka bisa dibilang membuatku insecure, dengan bentuk wajah berbanding terbalik dengan diriku yang sedikit lebih “amoy”, karna Bibiku itu sedikit pribumi dibandingkan Ibuku. Perbedaan latar belakang suku yang mencolok diantara keluarga Pamanku dan Bibiku, menghasilkan produksi yang benar-benar “wah” bagiku. Setiap kali ada acara kumpul keluarga besar, aku tak pernah bosan-bosannya memandangi wajah mereka berdua. Dan inilah yang menjadi salah satu obsesiku, dimana aku mengidam-idamkan pasangan yang “berseberangan dari diriku.”

Dan inilah kisahnya, awal mula aku semakin terobsesi dengan “kategori pejantan” seperti ini, salah satu penyebabnya adalah karna kak Dania.

=***=

Masa-masa putih abu-abuku ini berlalu begitu cepat, hingga tak terasa aku tinggal memiliki 1 semester lagi untuk menikmati momen ini sebelum aku melanjutkan untuk ke perguruan tinggi. Selama menjalani masa-masa remaja indah ini, akupun memiliki banyak teman yang beragam wataknya. Mulai dari yang paling bageur hingga yang paling pabalatak. Hahaha, aku baru belajar kosakata ini ketika aku pindah ke tempat Paman dan Bibiku. Yang namanya pedesaan tentu saja pasti banyak yang kenal satu sama lain secara keseharian, namun ketika orangnya bertampang “amoy” sepertiku masuk ke daerah seperti ini. Rasanya seperti “putih” yang berbeda, apalagi untuk sebagian yang warna kulitnya bisa terbilang sawo matang, untuk yang putih pribumi saja, warna kulitku juga “putih” yang berbeda. Sehingga sering kali aku mendapati sorot pandang yang “agak” berbeda dari mereka-mereka yang menuju pandangannya kearahku. Awalnya yang kurasakan adalah tatapan seperti “orang asing”, makin lama, tatapan-tatapan yang kurasakan adalah bagaikan sebuah keinginan untuk memangsaku.

Bukan aku tak ingin geer, namun seringkali aku didekati oleh anak laki-laki di sekolahku. Tak ada satupun yang kutanggapi, karna memang belum ada keinginan dariku untuk berpacaran, meskipun masa-masa remaja putih abu-abu adalah momen percintaan yang paling indah dibandingkan ketika sudah semakin beranjak dewasa. Tetapi yang namanya perempuan kalau terus mendapatkan perhatian perhatian lebih terkadang bisa jebol juga pertahanannya, tapi tetap ada rasa ragu dariku untuk berpacaran.

Karna pergantian semester, saat ini aku sedang libur sekolah selama 3 minggu. Biasanya sekolah itu libur itu 2 minggu kan? Tapi entah mengapa sekolahku memberikan waktu libur 3 minggu. Aku sih senang-senang saja untuk menikmati momen libur ini. Setiap hari aku berlajar soal perkebunan bersama Pamanku dan kak Dania. kak Dania bisa dibilang adalah calon pengurus usaha Pamanku ini, makanya sejak kecil kak Dania sudah dicekoki hal-hal yang berbau bercocok tanam dan terlihat hasilnya kalau diapun sangat antusias dibidang usaha ini. Kalau pamanku sibuk mengurus hal-hal yang bersifat kerjasama bisnis, terkadang dia menyuruhku untuk belajar dengan kak Dania saja.

Seperti hari ini, aku bersama kak Dania sedang mengitari kebun-kebun pamanku. Kami bersama ajudannya pamanku mengitari sektor persektor, untuk memastikan persiapan untuk panen perkebunan Pamanku sudah beres.

“Jadi sudah disiapkan semua kan pak Mulyono?”
“Aku cuma mau mastiin lagi aja, kalau semua persiapan panen kita sudah beres.”
kata kak Dania.

“Sudah non, nanti laporannya saya taro di rumah.”
“Non Dania sama non Nada bisa pulang, gapapa sisanya mamang Mulyono yang ngurus.”
jawab pak Mulyono.

“Ih jangan gitu dong pak, nanti ku diomelin papa!”

“Hehe, gapapa non, lagian saya perhatiin non kecapean, mending non istirahat aja.”
“Udah 3 hari ini non Dania sama non Nada kan kesini terus.”

“Eh emang aku keliatan kecapean ya pak?”
tanya kak Dania.

“Iya tuh wajah non sedikit pucet.”
“Apalagi kan kemarin kan jadwal non lari pagi.”
jawab pak Mulyono

Memang aku tahu kalau kak Dania itu suka berolahraga pagi, mulai dari yoga maupun lari pagi. Jadwalnya sering diselang-seling oleh kak Dania.

Jika hari ini yoga, maka esoknya dia akan lari pagi. itulah yang membuat tubuhnya sangat “body goals” untukku. Akupun sering ikutan olahraga pagi bersama kak Dania,
tapi hanya diakhir pekan saja, tidak setiap hari, karna aku harus sekolah. Kak Dania itu suka berolahraga di belakang rumah. Teras yang cukup megah dan juga akses jalan setapak menuju spot perkebunan pribadi milik Paman dan Bibiku, menjadi santapan untuk menu olahraga kak Dania. Jadi jika deskripsikan, bagian belakang rumah pamanku itu terdapat teras yang cukup nyaman, desain sederhana ala kearifan lokal dan juga hiasan kayu-kayu, dengan lantai tanpa di tegel, hanya semen yang diberi lapisan glossy, membuat kesan yang kuat untuk “menikmati hidup” seperti yang kita suka lihat di Bali. Dan juga ada rumah kecil serta akses menuju spot kebun pribadi Pamanku serta akses jalan sambung menuju perkebunan.

Nah di rumah kecil itu terdapat 3 kamar, yang masing-masing diisi oleh ajudan dan orang kepercayaan Pamanku. Yang kutahu, yang mengisi rumah itu hanya pak Mulyono tadinya, yang 2 lagi jarang mengisi tempat itu. Karna mereka lebih sering pulang langsung ke rumah mereka, karna mereka juga tinggal di desa ini. Sampai akhirnya aku tahu kalau 2 orang lagi itu bernama pak Joko dan keponakannya yang bernama Bagus. Mereka hanya akan tinggal disitu, kalau kebun Pamanku akan mau panen ataupun hal-hal yang berkaitan sangat penting untuk diselesaikan oleh Pamanku.

Dari rumah itu pun sebenarnya bisa melihat kearah rumah pamanku karna memang untuk memudahkan Pamanku memanggil pak Mulyono ataupun pak Joko.
Posisi rumah itu agak menyamping, jadi harus diri diteras itu terlebih dahulu, baru bisa melihat kearah rumah Pamanku.
Rute lari pagi kak Dania pun pasti akan selalu lewat situ, jadi mungkin saja pak Mulyono melihat kak Dania lari pagi kemarin.

Mendengar pak Mulyono bilang seperti itu, akupun jadi memandang secara seksama wajah kak Dania. Memang terlihat wajah kak Dania sedikit pucat.

“Eh iya loh kak, wajah kakak jadi keliatan pucat!”
sanggahku.

“Ee..masa sih nad?”
“Coba-coba aku lihat.”
jawab kak Dania sambil mengeluarkan ponselnya untuk berkaca melihat raut wajahnya.

“Oya nih sedikit pucet, yaudah deh kita balik aja yuk nad.”
ajak kak Dania.

“Iyaloh non, makanya saya bilang kalau sebaiknya non pulang saja.”
“Badan non pasti kecapean, udah 3 hari ini non kesini terus jalan jauh.”
“Terus kemarin non olahraga jalan pagi juga, apa gak cape non?”
ucap pak Mulyono panjang lebar.

“Bener juga sih kata bapak, apalagi juga kemarin gara-gara bapak aku jadi banyak gerak!”
balas kak Dania dengan memberikan sedikit senyuman ke pak Mulyono dan dibalas dengan tawa kecil pak Mulyono.

Aku yang melihat kak Dania berucap seperti itu jadi kebingungan. Memang biasanya kak Dania itu keluar jam 5 pagi untuk jalan pagi dan sampai lagi ke rumah itu sekitar jam 7 pagian atau kadang lebih cepat jam setengah 7 pagi, tergantung arah rute yang kak Dania pilih. Aku tahu pasti hal itu karna aku beberapa kali sudah sering ikut kak Dania jalan pagi. Nah kemarin diapun pulang tepat waktu, memang sempat gitu berpapasan dengan pak Mulyono? Emang mereka abis ngapain?

“Emang kemarin pagi kak Dania ngapain sama pak Mulyono?”
tanyaku penasaran.

“Oh itu, kemarin waktu kakak udah mau sampe rumah, kakak ngeliat pak Mulyono lagi benerin pompa air.”
“Kamu tahu kan ada pompa air di dinding kiri rumah itu?”
tanya kak Dania dan kujawab dengan menggangguk.

“Nah ngeliat kakak lagi jalan menuju rumah, pak Mulyono itu minta tolong kakak buat pe-gang-in selang pompanya.”
ucap kak Dania memberikan penekanan.

“Soalnya pak Mulyono mau ngecek kenapa aliran airnya gak keluar-keluar.”
“Pak Mulyono udah kebelet buang air kecil katanya haha.”
ucap kak Dania sambil ketawa dan juga ditimpal ketawa oleh pak Mulyono.

“Iya non Nada, kan itu pompa tua, jadinya harus sering-sering dicek buat mastiin kalau masih bagus pompanya.”
“Nah kebetulan pagi itu mamang lagi kebelet banget pengen buang air kecil.”
“Eh beruntungnya mamang ada non Dania lewat.”
“Jadi mamang minta tolong deh.”
ucap pak Mulyono memberikan penjelasan.

“Makanya kalau kamu inget, kemarin pagi kan kita papasan di dapur.”
“Yang kamu tanya tumben kak Dania keringetnya lebih banyak dari biasanya, padahal cuma lari pagi?”
“Nah itu kakak abis bantuin pak Mulyono.”
ucap kak Dania menambahi penjelasan. Aku mencoba mengingat-ingat kejadian kemarin pagi, memang aku berpapasan dengan kak Dania di dapur. Karna aku ingin menyiapkan sarapan pagi untukku, dan kulihat memang baju yang dikenakan oleh kak Dania jauh lebih basah daripada lari biasanya, seakan-akan abis olahraga ekstra. Dan lebih dari itu, aku mencium aroma yang sedikit berbeda dari biasanya, aroma keringat tubuh kak Dania sih aku tahu karna sudah sering berolahraga bareng. Tapi aroma ini aku belum pernah menciumnya. “Oh jadi itu makanya kak Dania kemarin bajunya basah banget?” tanyaku lagi. “Iyap betul!” “Kakak makin keringetan gara-gara dimintain tolong sama pak Mulyono.” “Tapi kok tadi kakak bilang kenapa jadi banyak gerak?” “Emangnya benerin pompa mesti banyak gerak?” tanyaku lagi penasaran karna menurutku ada yang membingungkan, memangnya benerin pompa harus banyak gerak?? “Giniloh non Nada.” pak Mulyono mencoba menjelaskan. “Jadi kan bapak kebelet mau pipis nih.” “Nah pompa air di tempat bapak kok berasa kayak macet gitu.” “Pas non Dania lewat, bapak minta tolong tuh buat bantu bapak benerin pompanya.” “Karna bapak udah kebelet pipis banget.” ujar Pak Mulyono menjelaskan. “Terus-terus?” tanyaku penasaran. “Jadi bapak minta tolong non Dania pegangin tuh selang pompanya.” “Sambil bapak TEKAN-TEKAN pompanya.” “Buat mastiin seberapa banyak air yang keluar kalau mamang TEKAN-TEKAN terus.” “Setelah beberapa menit kok masih gak keluar-keluar padahal mamang udah kebelet ini.” “Apalagi mamang tahu jam setengah 8 pagi, non Dania sama non Nada kan mesti jalan buat cek kebun, si Bapak yang bilang ke mamang Mulyono kemarin sorenya.” aku masih terdiam sambil mencoba mencerna penjelasan pak Mulyono. “Karna kok gak keluar-keluar, yaudah mamang minta non Dania gantian yang nekan-nekan pompanya, mamang yang megang selangnya.” “Eh bener aja langsung keluar deres airnya haha..” ucap pak Mulyono diakhir tawa puas seakan itu hal yang lucu, kak Dania pun juga tersipu. “Hihi lagian kan pak Mulyono kalau mau pipis tinggal pipis di kebun, gak ada yang lihat ini.” ucap kak Dania. Hmm ada benarnya juga ucapan kak Dania pikirku. Kenapa pak Mulyono gak langsung pipis aja di kebun? Gak akan ada yang lihat atau tahu juga. “Ya gak enak atuh non Dania nanti kebunnya bau, pipis paling enak dan nyaman itu pada tempatnya.” ucap pak Mulyono sambil senyum penuh arti. Aku semakin bingung untuk mencerna pembetulan perpompaan ini, emang gitu ya cara benerin pompa air? “Oh gitu ya pak? Hihi.” “Tapikan tempat yang tepatnya jadi ikutan bau juga.” balas kak Dania. “Tetap saja non, lebih baik pada TEMPATNYA.” ucap pak Mulyono memberikan penekanan. “Dah ah, kasian tuh kayaknya Nada kebingungan dengerin penjelasan bapak.” “Nanti dia juga tahu kok cara benerin pompa.” ucap kak Dania sambil tersenyum kearahku. Aku benar-benar tak paham, entah karna memang sudah menjadi sifatku selalu penasaran sama hal-hal baru, jadinya aku merasa penasaran sama cara membetulkan pompa. Dari penjelasan pak Mulyono tadi malah meninggalkan teka-teki untukku, apa memang gitu cara membetulkan pompa macet? Tinggal ditekan-tekan pasti airnya lancar keluar? Dah lah, nanti kucari di google saja. =***= Karna Nada sedang berjalan didepanku, aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Kusedikit memelankan jalanku sambil memberikan gestur seakan-akan masih ada hal yang ingin kubicarakan terhadap orang yang disampingku. “Jangan aneh-aneh ya Mang!” ucapku sambil berbisik. “Hehe, iya non..” “Non nada kayaknya gak paham juga sama penjelasan mamang tadi.” jawab orang itu. “Pokoknya mamang jangan kayak gitu lagi!” “Hehehe, sip non!” “Oya non..” “Apa mang?” ucap kami berdua masih dalam keadaan berbisik. “Non makin pinter! Hehehe..” Sambil tersipuh akupun membalas… “Mamang kan yang ngajarin hihi..”
(ilustrasi Dania)​
#Bersambung