FIFTH STORY : Can’t Focus, Marissa!

Part 1

Beberapa hari ini, jadwalku cukup sibuk untuk dihabiskan di luar kantor. Aku lebih sering melakukan dinas ke luar kantor. Kadang mencuri waktu dengan ritual “bobo siang” sama yang sudah – sudah sebelumnya. Well, at least, hari – hariku berjalan dengan normal.
Disebuah kantin di kawasan perkantoran Mega Kuningan, dalam rangka meeting dengan klien. Aku sempatkan diri untuk melepaskan dahaga karena panasnya cuaca. Aku duduk bersama dengan orang – orang berkemeja rapi yang tidak kukenal. Seorang pria berusia 35-an menyapaku. Kumis tipisnya menebar senyum kepadaku.
“Pak Grha dari PT. Xxxx?”
“Iya, saya sendiri.”
“Saya Tito dari General Affair Div. PT. Xxxx.”
Aku bangkit dan menyalami Pak Tito.
“Mohon maaf, saya tidak mengenali Pak Tito.”
“Tidak apa – apa, Pak. Saya kesini karena ada perubahan rencana. Meetingnya dipercepat karena ada keperluan mendadak.”
“Sekarang meetingnya, Pak Tito?”
“Iya, di ruangan saya saja.”
Selesai dengan Pak Tito, sekilas, mataku melihat seorang wanita dengan pakaian khas kantoran berlalu begitu saja.
“Rasanya tidak asing melihatnya.”
“Wanita tadi? Iya dia artis sinetron. Pernah main layar lebar juga. Marissa Christina.”
“Oh, pantas saja aku pernah melihatnya.”
“Perusahaan kami menyewanya sebagai MC saat meeting kantor dengan klien. Maklum, Boss kami ngefans istilahnya dengan dia.”
Aku berpamitan pulang, dan langsung menuju ke rumah. Zaskia meneleponku untuk ketemuan. Huh, aku akan pulang terlambat lagi.
Beberapa hari kemudian, aku kembali meeting dengan Pak Tito dalam rapat final. Wanita yang kulihat tempo hari menjadi MC. Sepanjang meeting, aku tidak fokus karena ia terlalu menebarkan pesonanya ke semuanya dalam ruangan. Gayanya anggun dan dewasa menggoda naluri lelakiku. Rambutnya digelung ke belakang membuatku bergairah. Pak Tito di dekatku berbisik.
“Sepertinya anda tidak fokus, Pak Grha.”
“Ya, MC yang disewa cukup mengganggu konsentrasiku. Strategi perusahaan anda brillian. Memanfaatkan daya tarik wanita.”
“Itu keinginan Boss kami. Kami hanya menuruti saja.”
Coffe break tiba, kami beristirahat untuk melepas penat dalam ruangan. Tentu saja, aku masih bersama Pak Tito yang sepertinya menemukan partner ngobrol yang nyaman setelah beberapa hari komunikasi intens.
“Anda sepertinya terbiasa, Pak Tito.”
“Melihatnya berkali – kali tentu membuatku menjadi hal yang biasa. Kau berniat menggunakan jasanya?”
“Perusahaan tempatku bekerja tidak se bonafide dengan perusahaan ini.”
“Kau memuji berlebihan. Tidak tertarik jasa lainnya? Kebetulan karirnya di entertainment agak menurun. Biasa, harus cari tambahan.”
“Maksudnya?”
“Teman tidur.”
“Dia terlibat juga?”
“Beda mucikari aja.”
“Gajiku setahun bakal cuma dia semalaman dengan dia.”
“Hahaha….culik aja terus perkosa dia.”
“Lebih panjang urusannya. Lagipula, semangat sekali dengan ide itu.”
“Aku juga lelaki normal seperti anda.”
“Sepertinya sudah akan mulai lagi.”
“Ya sudah kita kembali ke dalam ruangan.”
Dan pikiranku teringat akan perkataan Pak Tito. Kuabaikan saja hingga akhir meeting dengan hasil yang menguntungkan kedua belah pihak. Aku undur diri bersama Boss perusahaanku. Pak Tito mengantarku hingga lobby.
“Ya ampun, penaku tertinggal di ruang meeting.” Bossku menepuk dahinya.
“Ada apa, Pak?” Tanyaku.
“Penaku tertinggal di ruang meeting. Itu pena berharga saya. Harganya bisa mencapai satu unit sepeda motor.”
“Baik, pak. Saya ambilkan untuk bapak.”
“Aku masih ada meeting di tempat lain. Nanti, antarkan saja penaku ke rumah. Ini tempatnya. Awas hati -hati.”
“Baik, Pak.”
Aku menghampiri Pak Tito yang masih di Lobby.
“Pak Tito, saya bisa ke ruang meeting? Pena mahal bossku ketinggalan disana.”
“Aku akan menemanimu kesana.”
Kantor sudah dalam keadaan sepi karena karyawan sudah pulang dari kantor. Kulangkahkan kaki menuju ruang meeting. Lamat – lamat terdengar percakapan. Ruang meeting hanya ada 1 akses pintu masuk dan keluar dan tertutup.
“Aku mendengar sesuatu, Pak Tito.”
Kudekatkan telingaku pada pintu yang diikuti oleh Pak Tito.
“Sayang, udah ditransfer ya. Sekarang puasin aku dunk.”
“Bentar ya aku cek dulu. Udah masuk nih.”
Aku melihat Pak Tito. Kami berpikiran sama saat itu.
“Itu suara Marissa? Bersama siapa dia?”
“Itu suara bossku, Pak Grha.”
“Kita denger aja.”
Aku kembali mendengarkan.
“Aku buka nih. Uuucchhh…..udah gede aja…***k sabar diisep ya?”
“Aaahhhh…….aaaaaahhhhh……uuuuhhhh….”
“Plop…plop…plop….plop….plop….”
“Aaaaaahhhh……..Sssssshhhhh….”
“Punya bapak enak banget…aku jilatin nih…..”
“Oooooohhhh…….ssshhhhh”
“Jangan keluar dulu, dunk. Gak mau dimasukkin nih.?”
“Mau dunk dimasukkin.”
“Dimasukkin nih….ooooohhhhh…..aaaaaacccchhhh….”
“Terus, sayang. Genjot terus.”
“Hhhhmmmmm…….mmmmmmhhhhh……ssssssshhhhhhhh…….aaaaaaaccccchhhhh….”
“Enak banget nih….”
“Digenjot terus nih….ssssssHhhhhh….”
Dari luar, aku melihat Pak Tito yang agak masam.
“Yah, jadi gak enak sama kamu, Grha.”
“Gimana caranya ngambil penanya ya, Tito.”
“Jangan lama – lama disini. Bisa bahaya akunya, ke ruanganku aja.”
“Tapi, penaku.”
“Kita tunggu saja hingga selesai.”
“Baiklah.”
Aku berada di ruangannya saat ini. Ia sibuk dengan komputernya. Aku cuma duduk membayangkan apa yang terjadi di dalam ruangan itu. Marissa, kenapa pikiranku dipenuhi olehnya.
“Ayo kita kesana. Sepertinya, mereka sudah selesai.”
Aku kembali ke ruang meeting. Sudah tidak ada siapapun disana. Aku menemukan pena milik bossku. Pak Tito, sibuk dengan vas bunga di pojok ruangan. Ia menggenggam sebuah action camera.
“Kau menaruh kamera di ruangan ini?”
“Aku berjaga saja apabila boss macam – macam denganku.”
“Sebuah senjata. Aku jadi tidak yakin kau itu orang baik.”
“Kita semua abu – abu. Dan, aku sudah mengumpulkan bukti. Lagipula, akan ada dimana ada krisis yang menyeretku masuk.”
“Yang penting aku bisa mendapatkan penaku.”
“Tolong rahasiakan apa yang aku lakukan.”
“Aku tidak menjaminnya.”
“Hahaha….aku pastikan itu.”
Aku mengembalikan pena milik boss dan kembali ke rumah. Aku menyalakan komputer untuk sekedar mengecek email dan bersosial media.
Sebuah email anonim masuk dan memberiku tautan menuju laman penyimpanan online. Aku mengunduhnya dan terpassword. Apa ini? Menyuruhku untuk mengunduh file dengan password yang aku tidak tahu. Aku mengetik sembarang password. Tidak ada yang berhasil. Aku mengetik Marissa dan terbuka. Sebuah file video yang beradegan mesum. Aku mengenali wanitanya sebagai Marissa. Buru – buru, aku menelepon Pak Tito.
“Halo. Mengapa kau mengirim file ini kepadaku?”
“Hanya berjaga saja. Always have a backup. Dan, garansi agar hal ini tidak bocor ke luar. Somehow, I trust you and you are the one who capable.”
“Baiklah, aku mengerti.”
Marissa oh Marissa, wanita dewasa yang menggairahkanku.

Pagi semangat membangunkanku dari peristirahatan. Saatnya kembali bekerja. Teleponku berdering. Siapa pagi – pagi meneleponku. Private Number.
“Halo, siapa ya?”
“Bukain pintu depan dunk buruan.”
“Iya, iya.”
Aku beranjak ke pintu depan. Masih dengan sarung dan baju kubuka pintu depan. Seorang wanita menubrukku da mendaratkan ciuman.
“Kara? Kenapa ada disini?”
“Emangnya gak boleh ya? Boleh aku masuk dulu.”
Kupersilahkan ia masuk. Setelah itu, aku mempersiapkan minuman hangat pagi ini. Kara menggodaku dari belakang, dicubitnya pantatku dan dipeluknya badanku.
“Kangen banget sama kamu nih.”
“Kangen apanya? Akunya atau penis aku?”
“Dua – duanya dunk.”
Dilonggarkannya sarungku hingga terlepas. Praktis, aku telanjang di bagian bawah. Gemas, Kara meraba dan menggenggam penisku.
“Aahhh…” Desahku pendek “Kara, aku lagi morningwood masih kamu pegangin juga.”
“Pengen ngerasain penis fresh kamu pagi ini.”
Ia masih memeganginya. Sejurus, ia mulai mempermainkan penisku dengan lidahnya yang mengulum. Dioralnya penisku hingga zakar. Diriku tidak dapat menahan diri juga, sesekali kudorong penisku pelan di dalam mulutnya.
“Emutan kamu bikin kelojotan, Ra.” Kuatur nafasku mengikuti permainannya. Tersengal – sengal mencari udara disekitarku.
“Sssslllpppp………sssssllllllppppp…….Sssslllllllpppp….”
Diambilnya sebuah gelas. Diarahkannya penisku di dalamnya.
“HhhhhHhnnnngggggghHhhhhhh……aaaahhhh…..”
Ditangannya, gelas bening itu berisi spermaku. Di campurnya ke dalam minuman hangatnya dan di minumnya.
“Makasih ya udah bikinin aku minuman pagi ini. Sama pejuhnya yang bikin manis minuman ini.”
Mandi ini terasa nyaman, mungkin karena Kara telah memberiku semangat yang luar biasa. Aku sendiri tidak membayangkannya. Aku sudah rapi, Kara masih disana menikmati minumannya. Ia menyeka bibirnya dan mendaratkan ciuman hangatnya ketika aku disana. Aku meraba bagian V nya. Terasa tebal oleh sesuatu.
“Lagi mens ya?” Tanyaku.
“Iya, lagi mens. Dari kemarin.” Jawabnya sesal “padahal, pengen main kuda – kudaan sama kamu.”
“Nanti aja kalo udah selesai.”
“Nyusu yuk.”
Ia berbaring di sofa. Dibukanya pakaian atasnya. Payudaranya menyembul jelas menjadi pusat perhatianku. Seperti bayi, payudara itu kuhisap kuat dan tanpa malu meninggalkan bekas kemerahan.
“Bayi gede ini nakal ya. Ibunya dikasih cupang di toket.”
Aku tidak memperdulikan perkataannya. Yang kudengar kini, hanya desahannya.
“Aaaahhh……sssssssHhhhh……mmmmmmhhhhhh…….ooooocccchhh….”
“Mau dijepit gak penisnya?”
Dari balik celana, penisku menyeruak dari lubang restsleting. Ia sedikit menyandar pada sofa. Penisku dijepit payudaranya. Ia mulai mengolahnya seperti adonan. Aku mengiris payudaranya dengan penisku. Dari bibirnya, ludahnya melumasi penisku agar bergerak lancar. Sengaja, ia menciumi penisku.
“Aaaaaahhhh……nnnngggggghhhhh…cccrrroooootttt……ccccccrrrroooottt……cccccrrrrooootttt….”
Spermaku menodai muka dan lehernya.
“Iiihhhh…..jadi jorok nih muka aku.” Rajuk Kara. Padahal, ia menikmatinya.
Ia mencuci mukanya di kamar mandi.
“Udah siang nih, Ra. Aku harus berangkat kerja juga.”
Kami berpisah. Today is a good day to start. Aku berangkat kerja dengan nyaman.
Lama tidak kudengar kabar Pak Tito. Dan, aku mendapat tugas dinas luar kantor. Aku menuju sebuah pusat perkantoran. Dari jauh, aku melihat sosok tidak asing. Ya, dia Marissa pikirku. Ia sibuk dengan gadgetnya tidak memperhatikan jalan. Di depannya, ada peringatan lantai basah. Aku menarik pinggangnya hingga ia berbalik badan ke arahku. Matanya menatap lurus ke mataku. Kami sempat freeze untuk beberapa saat.
“Ibu Marissa, lain kali hati – hati. Untung, tidak terpeleset.”
“Makasih ya pak.” Katanya “Sepertinya saya pernah liat anda. Anda yang pernah meeting di kantor PT. Xxxx”
“Iya itu saya. Oiya, perkenalkan diri saya. Saya Grha.”
“Gak perlu formal begitu. Panggil aja Icha. Mau kemana sekarang?”
“Tadi ada keperluan di sini. Sekarang ya balik kantor, Ibu Icha.”
“Emang sudah tua ya dipanggil Ibu?”
“Belum tante – tante ‘kan?” Candaku dengannya yang dibalas dengan tawa.
“Itung – itung tadi nolongin aku. Aku ajak kamu ngopi. Gimana?”
“Ide yang bagus.”
Diseberang kami ada kedai kopi CB dan saling bercengkrama satu sama lain mengenalkan diri lebih lanjut. Kami menukar kartu nama agar lebih akrab.
“Kalo butuh jasa aku hubungin di nomor yang depan.”
“Baiklah.”
“Kalo ingin ngobrol langsung liat di belakang.”
Sebuah tulisan nomor dengan pulpen biru dengan nama Icha.
“Terima kasih, Ibu Icha.”
“Bisa panggil Icha aja?”
“Baiklah, Icha. Seperti itu?”
“Aneh ya, berasa kaya artis siapa gitu.”
“Hahaha….”
Pribadi yang menarik. Nyaman diajak ngobrol. Semoga bisa saja berlanjut lebih dalam.
“Maaf, aku masih ada urusan. Nanti kita sambung lagi.”
Ia bangkit dari kursi dan berbisik kepadaku.
“Kita pasti bertemu lagi.”

Ia berlalu pergi. Fiuh, kata – katanya membuat merinding dada. Jika harus membayarnya, lebih baik mundur perlahan. Aku kembali ke kantor, baru saja aku membalik badan, Sibad mengenaliku.
“Grha?”
“Sibad?”
“Gimana kabarnya?”
“Baik koq. Tumben disini. Lagi apa?”
“Ada urusan kerjaan.”
“Udah lama gak ketemu sama kamu. Temenin dunk.”
Obrolan kami berlanjut dengan akhir ia tertidur pulas di kasur hotel. Aku mengecup keningnya.
“Sayang, aku balik kantor duluan yah.”
Ia masih tertidur. Aku meninggalkannya untuk balik kantor menyelesaikan pekerjaan. Sibad, Gita, Zaskia, dan Kara. Fuh, aku harus mulai mengendalikan diriku sendiri.
Tidak ada yang menarik hingga berakhirnya hari. Hanya istirahat lebih awal karena lelah yang sangat. Penisku juga membutuhkan waktu beristirahat.
Weekend tiba, pagi – pagi aku berangkat ke kota karena ada Car Free Day. Bebas aku berlari di jalan yang sudah di batasi. Sekalian, cuci mata dengan melihat perempuan – perempuan muda berkeringat.
“Hey, kau berolahraga juga disini?” Sapa Marissa entah dari mana.
“Mencari suasana baru aja. Bosen lari – lari di deket rumah.”
“Masih capek nih?” Ia berjongkok di depanku.
Marissa memakai baju ketat warna abu abu dengan siluet merah muda. Hanya saja, ia menguncir rambutnya. Keringatnya membasahi bajunya.
“Ayolah kalo gitu.” Kataku.
Kami berlari seiringan. Orang – orang melihat Marissa. Hingga ada kumpulan Ibu – Ibu dan remaja di depanku meneriakkan nama Marissa.
“Sepertinya lain kali aku harus berlari di dekat rumahmu saja agar tidak terjadi seperti ini.” Ia berhenti kemudian melayani para fansnya. Berfoto, minta tanda tangan dan banyak hal lainnya.
Ia memberi isyarat kepadaku agar membubarkan kerumunan itu.
“Permisi ya Bapak, Ibu, Mbak, Adek. Mbak Marissanya mau olahraga dulu. Nanti disambung lagi ya. Terima kasih.”
Walau ada yang tidak menerima. Kujelaskan perlahan dan mereka membubarkan diri. Kami kembali berlari hingga ia beristirahat.
“Udah ah capek. Udah lumayan juga.” Ia ngos – ngosan setelah berlari.
Aku memberikan botol air mineral kepadanya.
“Makasih.” Marissa meminumnya dan menyeka keringatnya dengan handuk kecil yang dibawanya.
“By the way, makasih ya udah nemenin aku lari pagi ini.” Kataku.
“Aku yang bilang harusnya. Kamu udah bantuin aku tadi sama fans aku.”
“Gak apa – apa. Biasa aja.”
“Oiya, kenapa gak ngehubungin aku? Padahal aku nungguin loh. Lagi sibuk kerjaan?”
“Dikit sih. Sungkan aku ngehubungin kamu.”
“Kenapa? Aku juga manusia juga.”
“Ya, karena kamu artis, jadi berasa kecil aja akunya.”
“Aneh kamunya gara – gara aku artis terus kamu sungkan ngehubungin aku. Anggap aja aku pekerja kantoran kaya kamu aja.”
“Nanti malah ngobrolin kerjaan lagi. Oiya, emang kamu kerja di PT. Xxxx itu?”
“Bukan, aku cuma jadi MC meeting aja. Lumayan nambah wawasan dan kerjaan. Jadi artis gak selamanya untung.”
“Iya sih. Mending cari kerjaan atau usaha gitu.”
“Aku syuting dulu ya. Inget, aku nunggu kamu buat hubungin aku.”
Ia beranjak pergi dengan kendaraannya. Handuknya ketinggalan di dekatku. Aku menyusul dan gagal mengejarnya. Bau keringat Marissa terpancar dari handuknya. Kubawa saja pulang ke rumah dan aku terlupa dengan handuk itu hingga selesai aktivitas dan kerjaan. Kuciumi handuknya, wangi badannya menempel disana. Pikiranku terbuai oleh Marissa saat itu. Dering ponsel membuyarkanku. Dari Marissa.
“Halo, Mar…eh Icha.”
“Nah gitu dunk, Grha.”
“Lagi break syuting?”
“Ya belum ada scene lagi buat aku. Daripada bengong, nelpon kamu aja.”
“Oh begitu ya.”
“Jadi, Tuan yang sungkan ini masih sungkankah untuk ngehubungin?”
“Aku rasa kekhawatiranku agak berkurang.”
“Handukmu ketinggalan loh, Icha.”
“Ada sama kamu?”
“Iya ada sama aku. Cuma belum sempet dicuci. Gimana cara balikinnya ya ke kamu, Cha.”
“Yaudah gapapa simpen aja buat kamu. Bukan dengan orang lain. Kali aja kepake.”
“Buat apaan? Buat mandi kekecilan.”
“Buat urusan laki – laki dunk.”
“Ha?”
“Masa’ dijelasin juga sih. Buat onani kan bisa.”
“Aduh, Icha ada – ada aja.”
“Emang gak pernah onani?”
“Ya pernah sih.”
“Yaudah onani aja pake handuk aku kan lumayan.”
“Capek ah pake tangan sendiri. Kenapa gak dibantuin aja onaninya?”
“Jorok ih kamunya.”
“Kamunya bilang gitu.”
“Asal jangan dijual aja. Kalo dijual, aku bakal cari kamu.”
“Iya. Bentar lagi aku cuci koq. Aku bukan orang demen begituan.”
“Terus demennya?”
“Langsung aja.”
“Yaudah, aku ada scene lagi. Bye.”
Dia begitu bersemangat menghubungiku. Ada apa sebenarnya?
Hubunganku dengan Marissa semakin intens, obrolanku dengannya sudah menjurus ke hal yang berbau dewasa. Ia pun mengadakan pertemuan denganku dengan mengajak makan malam.
“Thanks ya udah ngajak makan malem bareng, Cha.”
“Sebenernya ini di luar habit aku. Tapi gapapa koq. Sekali – kali aja boleh”
“Akunya yang gak enak sama kamu.”
“Dienak – enakin aja. Gak usah grogi gitu.”
“Emang keliatan ya?”
“Keliatan banget tuh.”
“Kamu cantiknya kebangetan sih. Udah tinggi, cantik, baik lagi.”
“Terus…..?”
“Jangan diterusin ah. Bingung akunya.”
“Aku stay di hotel deket sini. Anterin yuk.”

Kuantar Marissa ke sebuah hotel. Dari dalam tasnya, ia mengeluarkan sebuah kartu dan memasukkannya di slot pintu.
“Udah sampai kan, Cha. Aku permisi dulu.”
“Masuk dulu aja, temenin aku bentar.” Ia menggamit tanganku.
“Gimana ya?”
“Udah masuk aja.”
Kamar hotel itu cukup sempit. Warna krem dominan dengan sentuhan vintage terkesan minimalis. Aku sendiri duduk di kursi di depan kasur. Marissa mengambil 2 gelas dan sebuah botol wine.
“Suka nge-wine?”
“Belum pernah sama sekali.”
“Kebetulan, saatnya mencoba wine.”
Ia menuangkan wine berwarna merah cherry ke dalam gelas.
“Bersulang.” Katanya riang.
“Bersulang.” Aku meminum wine sedikit demi sedikit. Ia melihatku dengan matanya penuh selidik.
“Gimana? Gak terlalu buruk kan?”
“Terlalu mewah untukku, Cha.”
Kami saling bersulang hingga wine itu habis. Badanku sedikit limbung, aku merasa sangat bergairah saat itu.
Marissa mendekatiku. Ia melepaskan blazernya dan membuka kancing pakaiannya.
“Cha, maksudnya apa ini?”
“Sssstttt…..kita udah sama – sama dewasa.”
Ia membuka kancing pakaianku. Kuhalangi dengan tanganku, diciumnya tanganku agar menurutinya. Ia mendekatkan wajahnya di depan wajahku seolah ingin menciumku. Namun, urung dilakukannya. Ia menghembuskan nafas hangatnya di wajahku. Aku jengah dengan tingkahnya.
“Kau tidak menyukainya.”
Tanpa sadar, sabuk dan celanaku telah dilucutinya. Dari boxerku, penisku menonjol. Ditekannya dengan jarinya.
“Ooouuuhhhh…..”
“Udah cukup tegang nih.”
Aku berusaha menjauhkan dirinya. Ia semakin beringas denganku.
“Aku kurang menggoda?”
“Bukan itu. Hal ini salah, Cha.”
“Lantas, mengapa kau menolakku.”
“Aku tidak bisa melakukannya.”
Ia merebahkanku di kasur. Dilepasnya kemeja putih yang dikenakannya, bra hitam menutupi dadanya. Ia membimbing tanganku ke dadanya.
“Diremesin kaya gini….aaahhh…ooooohhhh…..” Tanganku digerakkannya dengan tangannya. Disusupkannya masuk ke dalam branya. Aku menyentuh payudaranya secara langsung. Tapi, aku tidak merasakan nikmat apapun karena ketakutanku. Ia memasang muka tidak puas.
“Gak seneng bisa megang toket aku?” Ia melepaskan tanganku dari payudaranya.
Kali ini aku terpejam takut melihat Marissa. Ia mengelus wajahku mencoba membuka mataku.
“Oh jadi mau main tutup mata nih.”
Marissa menanggalkan roknya. Mukaku digeseknya dengan Vaginanya yang masih tertutup CD.
“Mmmmppphhhhhh……mmmmmmmpppphhhhffffff……”
“Aaaaahhhhhh……..uuuuuuccccchhhhh…… Dijilatin dunk……”
Wangi Vagina membuai pikiranku. Sedikit demi sedikit, aku menuruti perintahnya.
“Eh, koq malu – malu sih? Jadi gemes deh.”
Ia melepaskan CDnya. Vaginanya dipenuhi bulu halus yang rapi. Gesekan bulu itu memenuhi hidungku.
“Oooooohhhhh……terus…….aaaaaaahhhhhhh……sssshhhhhh….”
Lidahku bermain dengan Vagina Marissa. Aku kehilangan kontrol diri. Kali ini, aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.
“Udahan ya maininnya. Sekarang giliran ngelemesin burung kamu.”
Ia menurunkan boxer-ku. Penisku mengacung dimukanya.
“Mmmmhhhh……looks good.”
Ia mengulumnya. Ia terlalu pandai dalam hal ini. Baru sebentar saja, aku sudah kewalahan menghadapi ejakulasiku yang akan sebentar lagi.
“Cha, udahan. Gak kuat akunya.”
“Mmmmmhhhhh…….sssssllllppppp……sssllllllpppppp…….mmmmmmhhhhhh…..”
Marissa membuka mulutnya dan mengocokku.
“Chaaa, aaaakkkkkuuuuuu kkkkkkkeeeeelllluuuuuuaaaaarrrrr……cccccrrrrrooooottttt……ccccccccrrrrooooottttt…….cccccccrrrrrooootttttt…..ccccccrrrrooootttttt…..”
Spermaku menyembur deras di mulutnya. Ia menutup mulutnya merasakan spermaku di dalam mulutnya.
“Cha? Kamu gapapa?”
“Pejuh kamu manis kaya gula.”

Bersambung Di Post Selanjutnya

— Apapun yang terjadi, aku bakal ketemu sama kamu —

 

Part 2

Penisku masih sedikit tegang naik turun. Ia kembali menggenggamnya.
“Penis kamu masih tegang? Oh my….boleh aku minta sesuatu?”
“Apa, Cha?”
“Entotin aku kaya kamu perkosa aku.”
“Aku gak tega, Cha.”
“Plisss, perkosa aku.”
“Maafin aku ya, Cha.”
Kupegang tangannya erat disamping badannya. Kubuka belah pahanya dengan pahaku. Penisku tepat di depan Vaginanya. Sempat terpikir, mengapa aku harus melakukan ini.
“Buruan, katanya mau merkosa.” Pintanya pelan.
“Bleeesshhhh……..”
Tidak butuh waktu lama penisku untuk masuk. Agak longgar, namun tetap saja mampu mencengkram penisku kuat. Segera saja, kumulai genjotannya.
“Gamparin muka aku, Grha.”
Tanganku menampar keras mukanya yang cantik. Aku terus menamparnya hingga bekas kemerahan di pipinya terlihat.
“Ooooohhhh………ssssssshhhhh…….mmmmmhhhh……ampun……..ampun………ampun……..”
Payudaranya menjadi sasaran untuk kumainkan dengan keras. Kunikmati hubungan badan ala pemerkosaan ini. Sifat liarku membantuku menggapai setiap nikmat di tubuhnya. Beberapa kali kulihat wajah Marissa yang sayu lemas, berlinangan air mata. Sesekali, ia menutupi wajah dan memaksaku untuk melepaskan penisku. Aku yang masih mendalami peranku terus saja tidak mengindahkannya.
“Ampun……..jangan….jangan…..jangan…….sakit….sakit…….sakit…….lepasin……lepasin…….lepasin……”
Aku melepaskannya dan membalik badannya. Aku menyodokkan penisku dari belakang. Bongkahan pantatnya menggoda mataku. Tiada ampun lagi, kujambak rambutnya dan kutarik. Penisku masih melakukan tugasnya.
“Aaaaahhhhh…….ssssssshhhhh…….udah……udah……uuuuddddaaaahhhh…….sakit…….ssaaakkiiitttt…….pppeeerriiihhhh……ppppeerrriiihhh….”
Kudekatkan penisku di wajahnya.
“Bacot, lonte berisik banget. Rasain nih.” Ejek aku pada Marissa.
Penisku menampari mukanya. Ia menutup matanya takut. Ia benar – benar berakting dengan kejadian ini.
Aku sudah tidak tahan lagi, aku memasukkan penisku dalam mulutnya. Dengan rambut terjambak, kuperkosa mulutnya hingga spermaku membuatnya tersedak. Sempat memuntahkannya dan mengenai badannya. Ia terlihat begitu lelah dan seperti wanita yang telah diperkosa.
Aku mendekatinya dan memeluknya.
“Cha, kamu gapapa kan?”
“Gapapa koq. Kamu udah menuhin keinginan aku bagus banget. Cuma gak nyangka aja, aku berasa kaya beneran.”
Kucium bibirnya pelan dan kupakaikan tubuhnya pakaian dalam yang layak.
“Gak pernah bakal berakhir seperti ini, Cha.”
“Gak pernah dapet perhatian seperti ini juga, Grha.”
Selimut itu kutarik menutupi tubuh kami berdua yang saling berpelukan.
“Temenin aku malam ini, Grha.”
“Aku temenin kamu, Cha.”
Keesokan harinya, ia meninggalkanku sendirian di kamar hotel dan pesan bahwa ia ada urusan sehingga harus ditinggalkannya. Semenjak peristiwa itu, aku menjadi curiga kepadanya.
Meski, aku sendiri semakin berhati – hati. Wanita ini sepertinya mensejajarkan kastanya denganku. Berusaha membuatku dekat dengannya. Apakah ada sesuatu hal yang aku tahu? Atau ia ingin menjebakku dengan semua ini?

Shit, aku tidak boleh terjebak dengan permainan ini. Hal ini bisa membahayakan perusahaanku.
Dia makin membuatku semakin tidak fokus. Setiap saat aku memikirkannya. Apa yang ia lakukan kepadaku?
Semoga saja tidak ada apa – apa. Kulihat file SPK antara perusahaanku dengan perusahaan Pak Tito. Belum kubuka, mouse komputerku hanya menyorotnya. Aku menelepon salah satu staff di perusahaanku.
“Elfie, tolong cek-in SPK PT. Xxxxx.”
“Ada apa? Ada yang salah.”
“Tolong review ulang pasal – pasal perjanjiannya. Entah, aku merasa janggal.”
“Baiklah, aku akan memberitahukan segera setelah aku menemukan kesalahan.”
“Dan juga tolong draft awal yang sudah disetujui dan draft final yang sudah ditandatangani dicek ulang.”
Marissa, apa kau menjalankan rencana seseorang. Teringat dengan Pak Tito, aku menghubunginya.
“Halo, Pak Tito.”
“Pak Grha, sudah lama kau tidak meneleponku. Ada hal yang dapat aku bantu?”
“Kau menaruh action camera di ruang meeting waktu itu? Apa kau merekam sewaktu kita meeting?”
“Itu hal yang konfidensial. Aku tidak boleh sembarangan memberitahukannya.”
“Apa kau menyembunyikan sesuatu yang tidak aku ketahui?”
“Tidak. Aku tidak menyembunyikan sesuatu.”
“Pak Tito, saya tahu kepentingan saya saling berseberangan dengan kepentingan anda. Tetapi, saya sangat membutuhkan bantuan anda.”
“Saya sudah bilang. Saya tidak tahu apa – apa. Permisi, saya masih ada urusan.”
Pak Tito menutup teleponku. Kecurigaanku semakin bertambah. Ada sesuatu hal yang terjadi. Aku harus menemukan jawaban. Aku harus mengurangi intensitasku dengan Marissa. Walaupun, ia terkadang bisa mengajakku ke dalam alurnya.
Kualihkan pikiranku dengan “bobo siang” dengan orang lain. Tapi, tetap saja. Marissa terlalu dalam menancapkan pesonanya kepadaku sehingga aku tidak dapat lupa.
Elfie mendekatiku saat tengah bekerja.
“Grha, aku mendapatkan apa yang kau minta. Tapi, aku tidak dapat menunjukkannya disini.”
Aku bersama Elfie keluar kantor ke cafeteria terdekat.
“Gotcha, ada sedikit perbedaan dengan draft SPKnya. Lihatlah dengan matamu sendiri.” Alfie menggeser tablet elektroniknya dan meng-compare 2 dokumen yang sudah ditandai.
Aku membacanya dan terbelalak.
“What the fuck, ada merubah pasal ini. Tetapi, bagaimana caranya? Draft asli SPK baru dikeluarkan saat meeting.” Aku tidak percaya dengan apa yang kubaca.
“Aku takut menyampaikannya kepadamu. Tetapi, hal ini akan sangat membahayakan divisimu dan stabilitas perusahaan jika dibiarkan. Kerugiannya ditaksir menjadi 40 persen dari nilai kontrak.”
Seketika pikiranku kacau dan gagal paham. Mengapa hal ini dapat terjadi.
“Aku akan memberitahukan kepada atasanku. Aku akan menanggung segala resikonya. Dan, aku minta tolong. Bisakah kau melacak email dikirim oleh siapa dan bisakah kau mengambil data dari sumbernya? Aku rasa ada yang mempermainkanku saat meeting itu terjadi.”
Aku mengirimkan email yang dikirim Pak Tito.
“Tautan laman dewasa? Yang benar saja.”
“Telusuri uploadernya. Dan, ambil semua datanya.”
“Kau yakin, hal ini akan memakan waktu yang lama dan membutuhkan jaringan deep web.”
“Terserah apa yang kau lakukan. Karena setelah ini, aku akan diberhentikan dari perusahaan.”
Aku memberitahukan kesalahan yang terjadi kepada atasan. Dan, mereka melakukan investigasi. Surat pemberhentian sampai di mejaku. Untuk saat ini, aku dinonaktifkan.
Seketika, kontakku dengan Marissa berkurang drastis. Aku lebih sering menghabiskan waktuku dengan yang lain dan mencoba menghubungi Pak Tito.
Sibad menghiburku dengan goyangannya saat aku berhubungan badan, Gita yang selalu menelan habis spermaku, Zaskia yang selalu menyediakan anusnya untuk anal. Dan, Kara yang selalu memberiku titjob. Tidak luput, aku selalu berusaha mencari tahu apa yang terjadi.
Hari berganti minggu, dan setelah beberapa minggu. Elfie menghubungiku.
“Halo, Grha. Gimana kabarmu?”
“Baik saja. Apa yang kau temukan.”
“Sekumpulan video porno indonesia. Dan ada satu video scrap yang menurutku tidak berguna. Dan komputer ini terdaftar di Gen. Affair PT. Xxxxx .”
“Video scrapnya berisi apa?”
“Hanya percakapan orang orang berjas.”
“Lebih baik kita bertemu.”
“Aku akan ada di alun – alun kota sore ini. Datanglah, aku sangat merindukanmu.”
Sore, di bangku taman aku dan Elfie bersama. Dari kacamata kotaknya, ia memperlihatkan video scrap.
“Ini video meeting perusahaan kita dengan PT. Xxxxx”
“Kau yakin?”
“Iya, wanita itu Marissa Christina. Dia menjadi MC meeting waktu itu.”
Adegan demi adegan kulihat. Beberapa kali kutemukan statis yang mengganggu. Aku melihatnya berulang – ulang.
“Kau mencari apa?”
“Aku mencari bukti yang menunjukkan bahwa Marissa telah menukar dokumen SPK saat coffe break. Aku curiga statis ini sengaja dibuat untuk mengaburkan kita.”
Kuamati berkali – kali hingga pusing sendiri.
“Damn, aku tidak dapat menemukan apapun.”
“Kau sudah berusaha.”
“Bagaimana kelanjutan kasus kemarin?”
“Kita tidak dapat berbuat apa – apa. Jika kita berhenti maka kita harus membayar 70 persen dari nilai kontrak. Jika diteruskan perusahaan akan merugi sekitar 40 persen. Jika dibawa ke jalur hukum, kita harus menanggung biaya lebih berat.”
Kembali kuamati video itu di detik terakhir. Aku menangkap sesuatu yang dilakukan dalam sepersekian detik.
“Aku menemukan sesuatu. Tapi statis ini menggangguku. Bisakah kau mengamatinya lagi.”
“Tentu jika kau mau bersabar.”
“Baiklah. Tolonglah aku.”
“Sebenarnya ada hal yang ingin aku tanyakan kepadamu?”
“Apa Elfie? Katakan saja.”
“Kau pernah berhubungan badan dengan wanita yang di video itu?”
“Maksudmu?”
“Perusahaan tidak memecatmu karena menemukan kesalahan ini. Mereka memecatmu karena saat investigasi dimulai, beberapa petinggi dikirim sebuah video yang berisi kau sedang memperkosa Marissa di kamar hotel.”
Pikiranku kembali mengingat hubungan badan yang pernah kulakukan bersamanya. Sial, dia merekamnya dan menjadikannya senjata makan tuan untukku.
“Kau tidak menjawabnya? Berarti itu benar terjadi.”
“Elfie, dengarkan aku. Aku memang pernah berhubungan badan dengan Marissa. Dia memintaku untuk melakukannya.”
“Tapi video itu membuktikan bahwa kau memperkosa Marissa. Kau sempat akan dipolisikan. Tetapi, agar masalah ini tidak meluas. Kau di pecat dari perusahaan.”
“Aku melakukannya karena permintaannya, Elfie. Percayalah.”
“Aku percaya. Walau, video itu membuatku tidak memungkiri kalau kau benar memperkosanya.”
“Elfie, percayalah padaku. Aku dijebak olehnya.”
Ia berdiri dan melangkah pergi tanpa sepatah kata. Aku begitu gusar atas kejadian ini. Tidak kusangka akan serumit ini. Hingga beberapa hari kemudian, aku benar – benar mencari tahu apa yang terjadi. Aku menghiraukan semua ajakan wanita yang pernah kutiduri.
Aku mencoba menghubungi Pak Tito dan Marissa. Sayang, mereka tidak menggubrisku sama sekali. Praktis, aku hanya bergantung dengan Elfie yang mungkin saja tidak akan membantuku.
“Aku harus menemui Elfie.”
Ia tidak berada di apartemennya. Aku menungguinya di dekat apartemen. Sesaat kemudian, ia kembali menemuiku. Awalnya ia menolakku, perlahan ia menerimaku. Setelah pembicaraan yang kulakukan dengannya, terbukti bahwa ada intrik dalam peristiwa yang aku alami.
“Jadi, seperti itukah kejadiannya.”
“Aku kembali mengamati statis di video yang kau berikan. Ternyata, video itu sengaja di dihilangkan agar terkesan utuh.”
“Terima kasih, Elfie. Kau sangat membantuku.”
“Tapi, aku tidak bisa banyak membantu dengan karirmu. Kalaupun hasil ini ditunjukkan. Tidak akan langsung mengembalikan posisimu. Paling tidak, nama kamu bersih.”
“Tidak apa, Elfie. Aku tidak masalah. Aku minta tolong kau mengirimkannya kepada Marissa dan Pak Toto serta jajaran direksi perusahaan kita.”
“Segera setelah ini akan aku kirimkan.”
“Aku tidak tahu harus berterima kasih. Aku tidak tahu caranya.”
“Kau tidak perlu berterima kasih, Grha.”
Kuamati sekilas, Elfie sebenarnya wanita yang cantik. Hanya, kacamata botol sapi yang dipakainya. Rambut panjangnya tergerai alami. Tahi lalat di pipi kanannya menarikku. Aku duduk disampingnya melepaskan kacamatanya.
“Sudah kubilang jangan memakai kacamata seperti ini. Pake contact lens dunk. Elfie itu cantik.”
“Ih, apaan sih kamu, Grha.”
“Coba deh aku foto kamu.”
Smartphoneku dengan cepat menangkap gambar wajahnya. Sebuah wajah yang berusaha memalingkan diri.
“Tuh, liat. Kamu itu cantik, Elfie.”
Ia merebut smartphoneku yang kujauhkan dari jangkauannya. Wajah Elfie nampak jelas dihadapanku. Kami berdua salah tingkah.
“Tadi, itu….”
Belum sempat Elfie meneruskan perkataannya. Kugenggam tangannya. Kubelai rambut yang menutupi wajahnya.
“Sssttt….***k usah bilang apa – apa.” Kataku mencium tangannya.
“Grha. Kamu…”

Beberapa hari setelah pertemuanku dengan Elfie, pintu apartemenku diketuk. Seorang perempuan dengan dengan pakaian rapi ala kantoran berdiri di depan pintu. Kacamata hitamnya menutupi matanya.
“Marissa?”
“Boleh aku masuk? Aku ingin bicara sesuatu?”
Aku menampar mukanya dengan keras.
“Anjing. Biadab lo. Ngejebak gue ngentotin memek busuk lo.”
“Gue mau jelasin kalo….”
“Tai lo, Cha. Gak ada gunanya jelasin lagi. Selamet dah pokoknya buat lu.”
Aku membanting pintunya dengan keras dihadapan Marissa.
“Grha, tolong bukain pintunya.” Marissa menggedor pintu.
Aku berpikir sejenak tidak ada salahnya aku berbuat baik kepada orang yang menjahatiku. Kembali kubuka pintunya.
“Kenapa kau kesini?”
“Aku ingin bla bla bla bla bla……”
Aku tidak mengindahkan obrolannya. Parasnya masih saja bisa menghipnotisku hingga aku tidak sadar.
“Grha? Bisa ngobrol di dalem?”
“Baiklah. Silahkan masuk.”
Ia duduk di sofa. Aku membuatkan minuman untuknya.
“Silahkan diminum.”
“Makasih.” Ia meminumnya.
Aku duduk di dekatnya menatapnya.
“Jadi, bagaimana kau tahu tempat tinggalku?”
“Ceritanya panjang. Aku kesini karena aku ingin menyelesaikan masalah yang terjadi di antara kita. Aku tahu ini tidak mudah. Tetapi, aku ingin semuanya jelas.”
“Semua sudah jelas. Kau menukar dokumen SPK dan menjebakku dengan video itu sebagai senjata apabila perusahaanku balik melawan.”
“Aku memang melakukannya.”
“Kurasa tidak perlu kau menjelaskan mengapa kau melakukannya.”
“Aku menyesal telah melakukannya.”
“Syukurlah jika kau menyesal. Tetapi, kau akan menyesalinya sesaat dan kau kembali melakukan hal yang sama.”
“Aku tidak akan melakukannya lagi.”
“Aku tidak berhak melarangmu melakukan hal tersebut. Hanya, aku tidak percaya saja kau melakukannya kepadaku.”
“Apa yang harus aku lakukan?”
Ia berpindah ke lantai dan melepaskan kemeja. Payudaranya menyembul dari bra yang dikenakan. Damn, ia menggunakan tubuhnya.
“Kali ini, aku berniat meminta maaf secara tulus.”
Aku sendiri hanya memakai celana pendek tanpa boxer dan kaos. Aku masih duduk di sofa.
“Tidak perlu seperti ini, Icha.” Tanganku memegang bahu Marissa. Ia refleks memegang leherku dan mencium bibirku. Aku memberontak tiada guna.
“Cha….mmmppphhhh…….udah….mmmmmppphhhh……” Ia menciumiku dengan beringas. Kepalaku dipegangnya erat. Aku terbuai nikmat yang diberikannya. Aku mulai mengikuti permainan bibir Marissa.
“Bibir kamu ngangenin, Grha.” Marissa mengusap bibir basahnya dengan jari. Dadanya masih menekan dadaku dengan kencang.
“Liat nih, mau gak toket aku? Gak mau nih? Yakin?” Payudaranya ditonjolkan di depan mukaku.
“Aaaahhh…..nafas kamu bikin toket aku sange.”
Pikiranku berkecamuk. Haruskah aku mengikuti nafsuku atau aku tetap teguh dengan pendirianku.
“Lama nih. Udah ah.” Mukaku di dekap di payudaranya. Kulit halusnya menyentuh wajahku yang kasar.
“Hhhmmmmpppfffffff…….hhhhhhmmmmpppppfffffff….Ichaaaaa……”
“Ih, basah kan gara – gara iler kamu nih.” Merajuk, ia melihat branya yang basah oleh liurku dan melepasnya. Payudara dengan puting yang kurindukan kini tersedia di depanku.
“Untuk ukuran seorang wanita dewasa, kau mengalahkan banyak perempuan di luar sana.” Aku bermain dengan payudaranya. Kujilat aerolanya dan beranjak ke putingnya yang kugigit, kuhisap dan mencoba menelannya bulat – bulat. Tapi, payudaranya tidak muat di mulutku.
“Sssssshhhhhh……..aaaaaaaaccccchhhhh……mmmmmmhhhhhh………uuuuuuuucccchhhhh………” Ia mendesah dan menggelitiki telingaku.
“Cha, bisakah kau…..”
Ia mencubit dadaku. Aku mengaduh kesakitan. Ia nampak senang.
“Apa? Mau bilang apa?”
“Sakit Cha di cubit kaya gitu.”
Aku melepaskan kaos dan melemparnya ke sembarang. Marissa mengecup dan menjilati dadaku dengan mesra. Ia merangsangku dengan usahanya. Tubuhku berdesir pada setiap jilatan lidahnya. Jarinya menekan – nekan dengan lembut.
Giliranku, aku berdiri dan melepaskan rok yang Marissa pakai. Aku lepas Garter yang dikenakannya. Sama – sama bertelanjang dada, tangan Marissa masuk dalam celanaku dan menggenggam penisku.
“Lepas aja yah. Aku juga lepas CD aku.”
Aku telanjang bulat. Marissa pun sama. Kami saling berhadapan dan melihat satu sama lain.
“Penisnya maju banget tuh.”
“Toket kamu juga ikut – ikutan tuh.”
“Kali ini, aku bakal servis kamu penuh.”
Kedua tangannya di pinggangku. Lidahnya menjamahi kepala penis (lanis) dan batang penis (tanis). Sentuhan basahnya menggetarkan badanku. Dikulumnya lanisku disertai gerakan memutar. Tanisku tidak luput darinya. Tangannya mulai membantu memijat tanisku. Mula – mula, 1 tangan dan 2 tangan berikutnya.
“Sssssllllrrrrppppp……..sssssslllllrrrrrrppppp………ffffffllllllooooooppppp……….fffffffllllloooooppppp………ggggguuullllppppp…….ggggguuuuulllllppppp……”
Jemariku menyisir kepala Marissa.
“Udah, Cha….aku gak mau keluar duluan.” Aku mencabut penisku keluar dari mulutnya. Begitu merah dan basah.
“Aku kasih kamu show gratis nih. Kamu liat aku sambil kocokin penis kamu.”
Ia mengangkang dan mulai memasukkan jarinya di vaginanya. Dikocoknya dengan racauan yang menambah semangatnya. Payudaranya juga dirangsang dengan tangannya sendiri. 2 jarinya masuk ke liang vagina. Aku mengocok penisku sambil Marissa masturbasi di depanku. Pemandangan ini tidak kusia – siakan.
“Deketan dunk. Penis kamu arahin di depan vagina aku.”
Lanisku mengarah persis di depan liang vaginanya. Aku masih mengocok penisku. Hingga pada akhirnya, Marissa squirt dan cairannya menyembur membasahi penis dan sekitar perutku.
“Udah dibasahin penis kamu. Punya aku juga udah basah. Yuk, main bikin anak.”
Main bikin anak? Dasar sikap keibuannya terbawa. Aku mengunci kaki dan tangannya. Kudorong penisku menembus masuk. Lancar tanpa ada perlawanan. Bulu halusnya masih seperti dulu.
“Ah…ah….ah…ah….ah….ah…ah…”
“Ooooccchhh….ooooocccchhhh…..ooooccchhh….oooocccchhhh…..oooooccchhh….”
Penisku berusaha menggapai kenikmatan duniawi di dalamnya. Setelah puas dengan posisi ini, kami berganti posisi. Ia berbalik dan aku duduk menutup rapat kedua kakiku bersila. Aku melihat punggungnya dengan jelas saat ia sibuk naik turun. Ia kembali menghadapku dan kali ini kugunakan kesempatan untuk kembali menikmati payudaranya.
“Aaaacccchhhh…….aaaaaccccchhhhh……aaaaacccccchhhhh…….aaaaaaccccchhhh…….aaaaaacccchhhhh……”
Aku menyusu payudaranya dan penisku masih memompa masuk ke dalam vaginanya.
Aku menjambak rambutnya dan mengganti posisi lagi. Dengan doggy style, aku mengangkanginya dan penisku menyeruak masuk. Aku bersikap kasar padanya kali ini. Rambutnya kutarik – tarik tak ubahnya seperti tali kendali. Ia tetap menikmatinya.
“Aaaaaccchhhh……sakit…rambut…..aku…..”
“Bawel, kamu gak ngerasain sakitnya aku waktu dipecat.”
Aku mempercepat gerakan penisku. Tidak kusadari, aku juga menganiaya punggungnya hinga bekas tanganku meninggalkan bekasi kemerahan.
Kulepaskan dia ke lantai membuangnya seperti sampah. Aku duduk di sofa dengan penis masih berdiri dan mengumpulkan tenaga sejenak. Marissa bangkit dan ia memosisikan diri memasukkan vaginanya dengan penisku.
Ia memuaskan dirinya dengan penisku. Keringatnya bercucuran dari wajahnya. Ia mencoba berbalik badan dan menggenjotnya lebih keras. Penisku mulai nyeri dan merasakan sesuatu akan keluar dari penisku. Ia berhenti menghela nafas.
“Capek. Kamu kuat banget gak keluar – keluar. Perih vagina aku nih. Panas juga.”
“Udah lama gak keluar juga soalnya.”
“Pokoknya mesti keluar. Titik.”
Aku memegang pinggangnya dan kugenjot dengan tenaga yang kupunya. Marissa sudah pasrah dengan tubuhnya. Ia sudah capek. Kukembalikan kesadarannya dengan menamparnya.
“Keluarin kata binal kamu.”
“Pejuh. Aku pengen pejuh kamu.”
“Terus?”
“Perek yang cuma butuh pejuh.”
“Apalagi?”
“Icha pengen dipejuhin Grha kayak perek.”
Penisku berganti lubang. Mulutnya menjadi santapan terakhirku hingga aku ejakulasi.
“Aaaahhhh……..Ichaaaaaa……”
Penisku berkedut menyemburkan spermaku di mukanya dan terus meluber mengotori rambut dan badannya. Ia mengulum penisku hingga lemas. Ia terdiam dengan pejuh yang masih belum dibersihkannya.
“Yuk bersihin badan kamu.”
Ia menolaknya. Ia masih duduk disana.
“Gak mau. Pejuh ini kayak aku. Dibuang percuma cuma bisa ngotorin aja. Aku gak ada bedanya sama pejuh kamu.”
“Kamu bicara apa sih, Cha?”
“Aku minta maaf, Grha. Sebanyak apapun pejuh kamu tumpahin ke aku, aku gak akan bisa nebus kesalahan aku ke kamu.”
“Hal itu bukan berarti bikin kamu gak berharga, Cha. Mungkin, aku masih belum bisa maafin kamu secara utuh. Tetapi, jangan punya pikiran kayak gitu.”
Ia langsung memakai pakaiannya dan muka penuh sperma yang mulai mengering, ia meninggalkan rumahku. Aku menahannya dan ia tidak mengindahkanku. Dalam kebingungan, aku berpikir tentang Marissa.

Beberapa hari kemudian, perwakilan perusahaanku mendatangi tempat tinggalku. Mereka meminta maaf atas kejadian yang menimpaku dan menawarkan kembali posisi yang pernah kutempati. Aku menerima permintaan maaf. Aku masih belum bisa menerima kembali ke pekerjaanku karena reputasi yang masih melekat kepadaku. Beberapa hari kemudian, rekanku menawarkan pekerjaan di sebuah perusahaan Plumbing (pemipaan) sanitasi dan rumah tangga sebagai Field Supervisor. Meski tidak senyaman pekerjaanku dahulu, aku menerimanya sebagai tantangan dan memulai membersihkan namaku.
Singkatnya, kehidupanku berangsur normal. Dan, kali ini aku bersama Kara menikmati makan malam.
“Gimana kerjaan kamu yang baru?”
“Ya begitulah, Ra. Makanya, aku sampe bisa ngajak kamu dinner.”
“Sering – sering aja loh begini.”
“Bisa tekor akunya.”
“Hahahaha…..lain kali aku juga yang bayar.”
“Terus pemipaan kamu gimana? Lancar?”
“Lancar koq. Pemipaan di beberapa lokasi udah dikerjain.”
“Terus pemipaan punya kamu?”
“Maksudnya?”
Ia memberi kode dengan kakinya di bawah meja.
“Pemipaan punya kamu, Grha.”
“Belum aku apa – apain. Masih belum dikerjain.”
“Boleh aku kerjain biar lancar keluarnya?”
“Emang gak bosen di tempat yang sama?”
“Enggak ah. Abis ini kita sewa hotel buat malam ini. Aku juga butuh pemipaan nih biar enak.”
Kami tersenyum dan malam ini akan berakhir saat sarapan pagi.

Sekian cerita saya dan Mohon Maaf apabila menyalahi aturan forum harap PM.

Terima Kasih