THIRD STORY : It’s Hurt, Zaskia!

Masih dengan pekerjaan dan rutinitas yang sama, aku tetap melanjutkan kehidupanku. Sibad dan Gita jarang menghubungiku. Mungkin, karena kesibukannya. Tapi, tidak mengapa. Aku sendiri senang bisa berkenalan dengan mereka.
Dengan tidak adanya mereka, membuatku sedikit merindukan mereka. Tetapi, kontolku perlu istirahat. Aku menghabiskan waktu dengan fokus kerja dan berkumpul dengan temanku.
Selasa malam, aku bersama rekanku. Awan dan Musa melepaskan penat di downtown walk sumarrecon mal bekasi.
Kebetulan, malam ini live musicnya adalah musik Indonesia. Kami duduk di depan kedai kopi excelso.
“Gimana, kerjaanmu disana, Awan?” Tanyaku kepada Awan.
“Seperti biasa, urusan HRD ku agak lancar dibanding kemarin.”
“Grha, kau masih jadi Staff keuangan ‘kan?” Kata Musa.
“Masih. Jangan kau minta traktir kopi ini kepadaku. Aku tahu lubangmu lebih banyak daripada lubang wanita.”
“Kau ini memang pecinta wanita, Grha.” Tambah awan.
“Normal ‘kan? Tapi aku tidak seliar kalian yang menggoda perempuan sana – sini. Office Girl aja kalian embat.”
“Kalau secantik Zaskia Shinta mah bakal diembat abis – abisan.” Musa berkata.
“Zaskia Gotik mana mau jadi office girl kamu. Emang mau berapa lubang lagi kamu buka buat dia.”
Kami tertawa sejenak melepaskan penat yang mendera.
“Tetapi, Zaskia itu cantik loh. Kelewat seksi banget. Gak kebayang kalo goyang itiknya itu. Beuuhhh…..bisa jantungan…..”
“Inget umur, Musa. Tuh, anakmu manggilin kamu.”
“Ah, jangan bawa umur lah. Disini, Awan. Kita masih kalah muda dari Grha.”
“Ah, kalian bisa saja memujiku.”
“Ngomong – ngomong, kau tidak punya gebetan atau cemceman?” Tanya Musa.
“Bahasamu itu pake cemceman segala.” Sela Awan.
Untuk apa aku mencari pacar. Aku sudah menikmati tubuh Sibad dan Gita yang menjadi dambaan setiap lelaki. Aku bisa saja menikmati mereka setiap hari. Namun, urung aku lakukan.
“Musa, Grha. Kebetulan kantorku akan mengadakan Family Gathering. Bintang tamunya kebetulan Zaskia Gotik. Kalian berkenan datang.”
Awan menyerahkan 2 undangan Family Gathering di meja.
“Kami akan datang, Awan. Aku tidak sabar melihat Zaskia Gotik bergoyang.”
“Kau, Grha? Kau akan datang?”
“Aku akan mengambilnya. Jika tidak sibuk, aku akan datang.”
Aku beranjak dari Kursi dan meninggalkan selembar uang seratus ribuan dan Voucher.
“Aku ada hal yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Bye semuanya.”
Dengan tas di pikul di sisi kanan, aku meninggalkan mereka. Kulihat layar ponsel dan sebuah tulisan menyemangatiku.
“Aku berada di jalur evakuasi lantai 2. Aku kangen banget ma kamu. G.S.”
Aku membuka pintu darurat dan kulihat Gita dengan baju terusan rok pendek bermotif menyandarkan diri di pojok tembok. Kulemparkan tasku ke lantai dan memeluk mencumbunya ganas.
“Pelan – Pelan, Grha.” Katanya sembari membalas cumbuanku padanya.
Ia melepas kancing pakaianku.
“Aku kangen bau badan kamu.”
Aku remas pantatnya yang beberapa waktu tidak aku sentuh.
“Aaakkkhhhh…..nakal sukanya remesin pantat.”
Tangan Gita dengan cekatan membuka gesper sabuk dan restleting celanaku. Ia menggenggam kontolku yang setengah tegang dan mengocoknya.
“Punya kamu dimasukkin yah? Aku udah gak tahan.”
Ia melingkarkan tangannya di badanku. Aku naikkan roknya. Ia sudah tidak memakai CD.
“Buruan masukkin.”
Aku memasukkannya. Walau agak kering, kupaksakan agar basah sendirinya. Aku menciumnya agar tidak berisik. Dalam posisi berdiri, aku melakukan penetrasi ke memeknya. Aku memacunya seperti orang kesetanan. Tidak peduli dengan apapun, hanya mengejar kenikmatan yang sebentar lagi kurengkuh.
“Grha…aku mau keluar…”
“Aku juga, Git…barengan…”
Pinggulku naik turun dengan cepat dan, aku berhenti bergerak ketika nikmat itu telah kucapai.
“Eeeeeennnnggghhhhh…….Gita.”
“Oooooocccchhh……Grha.”
Kami orgasme bersamaan. Dunia berhenti bagi kami. Tubuh kami bersandar di tembok melepas lelah yang sangat.
Aku mencabut kontolku yang bermandikan pejuh dan cairan dari Gita. Memek Gita berlumuran lendir. Ia jongkok dan membersihkan kontolku.
Sesegera mungkin kami membereskan diri dan segera pergi dari tempat itu.
“Makasih ya udah muasin aku lagi, Gita.”
“Aku juga dipuasin sama kamu.”
“Kita pisah disini ‘kan?”
“Iya, seperti kata kamu infotainment itu jahat.”
“You became the meaning of my life.”
“Baby, you should paint my love.”
Aku berpisah dengan Gita. Malam ini, aku sangat bahagia bisa bertemu dengannya. Aku kembali ke teman – temanku.
“Kau pergi kemana? Kau sepertinya kelelahan.” Tanya Awan.
“Aku bertemu dengan temanku. Aku terburu – buru kembali disini karena kalian.”
“Teman? Kami tidak percaya?” Musa melihatku tajam.
“Terserah, kalian mau percaya atau tidak. Mbak, tolong menu.” Aku memanggil waitress memesan minuman dingin.
Aku melewatkan hari – hari seperti biasa. Walau terkadang, aku terbayang peristiwa yang kualami bersama Gita.
Hari libur telah tiba, aku mengistirahatkan diri di rumah. Teringat undangan yang diberikan Awan. Kulihat waktunya pada hari ini. Sedikit mengenal lingkungan luar kerja mengapa tidak?. Aku menuju ke tempat acara itu diadakan.
Sebuah taman bermain air di dekat kawasan industri gabungan. Ugh, aku sedikit tidak nyaman bila bertemu dengan air. Aku sedikit phobia dengan air. Tidak dengan wujudnya. Namun, aku mengalami trauma dengan sesuatu yang berhubungan dengan air yang tidak akan aku jelaskan. Aku mencari Awan disana. Syukurlah, aku bisa menemukannya.
“Hei, Grha. Kupikir kau tidak akan datang.”
“Awalnya, tapi di rumah juga tidak membunuh kebosananku.”
“Baiklah, silahkan nikmati acara ini.”
Tidak ada yang bisa menarik perhatianku. Pandanganku hanya melihat orang – orang yang gembira bermain air. Ada satu dua wajah yang menarik mataku untuk dipandang.
Sebuah panggung berdiri di tepi kolam. Sekumpulan orang bermain instrumen musik dan menyajikan live music di tempat ini memeriahkan suasana. Aku berada jauh di seberangnya menikmati makanan dan minuman.
“Hei, kau melamun saja?” Awan muncul entah dari mana.
“Dimana Musa? Aku tidak melihatnya.”
“Mungkin, ia terlambat atau ada urusan. Kau tahu kesibukan wirausahawan.”
“Hahaha….bisa saja itu terjadi.”
“Mau lihat Zaskia Gotik? Sebentar dia naik panggung. Mendekatlah bila perlu.”
“Kau tidak kesana?”
“Istriku seorang pencemburu berat.”
“Halah, orang sepertimu dicemburuin. Sia – sia istrimu itu.”
“Kau juga. Biar begini, aku ngehasilin anak. Lha kamu? Kebuang di kamar mandi.”
“Tak perlu membahas itu.”

Aku mengambil sebuah gelas berisi minuman dan mendekati panggung.
Sesosok perempuan naik panggung. Rambut hitam panjangnya tergelung terjuntai rapi. Dengan pakaian ala pantai, ia mengajak penonton untuk menyanyi bersamanya. Jadi, dia adalah rival dari Sibad. Seorang pedangdut yang memiliki goyang khas binatang yang diusungnya. Pantas saja, ia merasa tersaingi. Sempat terjadi kontak mata beberapa kali, dan salah tingkah terlihat di mataku. Lagu yang didendangkannya tidak terlalu aku ketahui. Hanya di lirik – lirik tertentu menjadi ciri khas lagu ini dibawakan olehnya.
Mataku terpuaskan oleh penampilannya saat itu. Tidak sia – sia aku berada disini. Walaupun, sebelumnya akan membosankan. Awan menghampiriku bersama istrinya.
“Pah, lajang satu ini bagaimana?”
“Mungkin dia lagi bayangin sesuatu.”
“Ah, Awan. Jangan mempermalukanku di depan keluargamu.”
“Yaudah, Pah. Aku kesana. Ajak ngobrol gih.”
Istri Awan meninggalkan kami.
“Kamu mau ke backstage? Aku temenin kamu.”
“Bilang aja kamu mau ketemu Zaskia.”
“Iya, kebetulan aku juga akan menyelesaikan administrasi dengannya.”
“Baiklah, aku akan menemanimu.”
“Siapa sekarang yang bersemangat?”
Kami menuju backstage. Awan dan Manager Zaskia pindah tempat untuk menyelesaikan administrasi. Sementara, aku ditinggalkan bersama Zaskia.
“Hai, Zaskia.” Kataku memulai obrolan.
“Iya. Hai.”
Aku bingung untuk memulai obrolan. Aku menatapnya dalam kebingungan yang tergambar di raut wajahku.
“Cuma itu aja?”
“Ah, maaf aku bukan seseorang yang pandai berbahasa di depan wanita.”
“Kalau begitu, bisa aku mengenalmu?”
“Oiya, namaku Grha.”
“Nama yang jarang dipakai. Tadi temanmu?”
“Iya. Aku temannya tapi beda perusahaan.”
“Oh begitu.”
“Iya. Ngomong – omong, penampilan kamu tadi bagus. Aku sampai melihatmu terus.”
“Iya makasih. Kamu juga tadi liatin aku sampai akunya salah tingkah.”
“Maaf kalo begitu.”
“Gak apa – apa koq.”
Kami berbincang singkat dan Awan telah menyelesaikan urusannya. Kami pergi dari backstage.
“Gimana tadi? Dapet nomornya?”
“Nomor apaan? Nomor sepatu?”
“Yahhh….gimana sih. Aku kan ngasih kesempatan ma kamu buat deketan ma dia.”
“Mungkin aku kurang pandai.”
“Kau menyia – nyiakan kesempatan emas.”
“Udah lewat juga ‘kan?”
“Nikmatin aja yang masih ada. Kan masih ada cewe lain disini.”
Aku kembali menikmati hiburan yang ada. Tidak lama, aku langsung meninggalkan tempat tersebut. Hari yang kurang baik bagiku.
Di rumah, pikiranku tidak lepas dari Zaskia. Pertemuan singkat itu berkesan mendalam. Sial, aku tidak mendapatkan kontaknya. Terpaksa, aku hanya dapat membayangkannya.
Beberapa hari berlalu seperti biasa. Tidak ada kontak dengan Sibad dan Gita. Tentu, aku lebih memilih Gita. She’s too cute. Walaupun dengan Sibad aku pun tidak menolaknya.
Bhumi menghubungiku lewat telepon.
“Hey, My Fuelman, whazzup!”
“Ah, Bhumi.”
“Not Bhumi. Ibum.”
“Yeah yeah Ibum.”
“Bagaimana lukamu kemarin?”
“Sudah sembuh. Sudah lama tidak mendengar kabarmu. Dimana kau berada?”
“Aku sudah beberapa lama di Bandung. Urusan keluarga besar tentang kekasihku.”
“Oh, maaf. Ada yang dapat kubantu?”
“Bawa mobilku ke ITC Cempaka Putih. Disana, akan ada yang menemuimu.”
“Sesimple itukah? Jangan kau menjebakku dengan transaksi obat terlarang.”
“Tidak. Tidak. Kau hanya tinggal melakukan pengantaran. Pembayaran telah kuterima sebelumnya.”
“Baiklah. Aku lepas resiko jika mobil ini tidak sampai pada orangnya.”
“Iya iya. Aku terima itu. Pergilah ke parkiran apartemen Centerpoint. Mobilku berada disana.”
“Aku akan mengantarnya besok.”
“Sebaiknya kau mengantarnya malam hari. Pembayaranmu bagaimana?”
“Itu nanti saja. Baiklah.”
Mengantar mobil? Semoga baik – baik saja nantinya.
Keesokan harinya, aku mengantarnya langsung ke tempat yang dituju. Sebuah pelataran sepi di samping ITC Cempaka Putih. Seseorang berdiri disana keluar dari mobil. Ia menghampiriku,
“Utusan Bhumi?” Tanya orang itu.
“Iya. Aku orangnya Bhumi.”
“Kalau begitu, ayo ikut denganku.”
Ia berjalan menuju mobilnya dan melaju. Aku mengikutinya hingga ke sebuah tempat. Tertulis Apartemen Casablanca. Orang itu keluar dan kembali menghampiriku.
“Mobilmu biarkan saja terparkir disini. Biar anak buahku yang mengurusnya.”
Aku meninggalkan mobil dan bersamanya menuju lantai 6. Kami berjalan menuju sebuah kamar.
“Kau bisa masuk ke dalam. Aku tidak akan menemani.”
Alangkah terkejutnya ketika aku melihat seseorang yang aku tahu. Manajer Zaskia dan Zaskia sendiri.
“Tunggu, bukankah engkau adalah teman Awan?” Tanya manajer Zaskia.
“Iya. Aku adalah teman Awan. Kebetulan Bhumi adalah temanku juga.”
“Dunia cukup sempit. Jadi, aku tidak perlu meragukanmu.”
“Terima kasih.”
Aku menyerahkan surat – surat dan kunci mobil kepadanya. Zaskia hanya terdiam dibelakangnya.
“Terima kasih telah mengantar pesanan mobil milik Zaskia.”
“Mobil Zaskia?”
“Maafkan aku sebelumnya melakukan pertemuan dengan cara seperti ini. Hal ini dilakukan karena Zaskia adalah Public Figure yang terkenal. Setiap tindakannya akan menjadi konsumsi media.”
“Tidak apa jika itu yang diperlukan.”
Zaskia berbisik kepada Manajernya.
“Anda ada kesibukan malam ini?”
“Aku langsung menuju ke rumah.”
“Bolehkah saya meminta sesuatu? Nona Zaskia ingin mencoba mobil yang anda kendarai tadi bersamanya. Anda bersedia?”
“Boleh saja hal itu dilakukan. Asal, aku tidak dibuntuti oleh anak buah anda.”
“Tentu tidak. Nona Zaskia meminta khusus agar kami tidak mengikutinya. Saya sudah pernah bertemu anda dan anda sepertinya orang baik.”

Zaskia beranjak dari tempatnya. Menggamit tanganku tanpa berkata. Kami berdua menuju lift.
“Aku tidak menyangka akhirnya kita dapat bertemu lagi. Sungguh suatu kebetulan yang menyenangkan.” Katanya setelah di dalam lift.
“Aku juga senang bertemu denganmu.”
“Denganmu? Panggil aku dengan Nona.” Katanya ia menggenggam kerah bajuku.
“Panggil aku nona. Kau mengerti?”
“Iya, mengerti, Nona.”
“Sebagai hukumannya, kau harus merasakan ini.”
Tangan kanannya meraba bagian depan celanaku dan diremasnya kontol dan zakarku dengan keras.
“Bagaimana? Sakit?”
“Iya, sakit. Ampun.”
Ia mengendurkannya dan melepaskannya. Sial, kasar sekali remasannya hingga membuat kontolku sakit. Dibalik keanggunannya, tersimpan sikap liar yang membahayakan lelaki.
Kami sampai di mobil dan memasukinya. Zaskia duduk di belakang tengah dengan gaya angkuhnya. Pakaiannya tidak mampu menyembunyikan paha mulus putihnya. Aku sekilas melihatnya.
“Kamu lihat apa?”
“Tidak, aku tidak melihat apa – apa.”
Ia mencekik leherku dengan melingkarkan tangannya dari belakang kursi.
“Ohk…ohok…ohok….ohk…”
“Kau lihat apa tadi.”
“Iya iya aku melihat pahamu tadi.”
Dilepasnya dan kembali ke sikap angkuhnya.
Aku membenarkan kaca belakang yang berada di kiri atasku. Terlihat tatapan mata Zaskia yang tajam, aku terburu – buru mengaturnya dan mengarah ke pahanya yang dibuka menampakkan CD pink yang dipakainya. Aku mengembalikannya lagi ke posisi semula.
“Tadi kamu liat apa lagi?” Nadanya kini terdengar menyeramkan.
Dipuntirnya puting dadaku hingga robek bajuku. Bekas merah terlihat jelas.
“Maaf aku tidak sengaja melihat belahan pahamu itu.”
Ia berpindah ke kursi depan.
“Aku ingin berjalan – jalan dengan mobil ini. Kuharap kau mengendarainya dengan nyaman.”
“Ba..Baiklah.”
Aku menyetir tanpa ada tujuan mengelilingi kota Jakarta. Sepanjang perjalanan, aku tidak berani melirik ke arah Zaskia. Walau, ia kadang bertindak seksi untuk memancingku melihatnya. Aku tidak tahan bila harus dianiayanya.
“Berhenti disana.”
Aku memberhentikan mobilku.
“Aku tanya sekali lagi, kau melihatku tadi?”
“Aku tidak melihatmu tadi.”
“Bohong, kau tidak melihatku tadi.”
Aku keluar dari mobil dan membuka pintu mobil Zaskia. Kutarik paksa tubuhnya keluar.
“Keluar!.”
“Kau mau kemana?”
Aku membuka pintu belakang dan merebahkannya di kursi belakang.
“Kau tahu aku siapa?”
“Ya. Aku tahu kau Zaskia Gotik. Terus kenapa?”
“Kau bisa kupolisikan dengan kasus penganiayaan.”
“Penganiayaan? Silahkan saja. Aku akan beritahu apa itu penganiayaan.”
Aku membuka gesper sabuk dan mengikatkan pada tangannya. Kurobek pakaianku dan kujadikannya tali untuk mulutnya.
“Kamu itu berisik banget. Aku sudah ingin mengantarmu mengelilingi kota. Namun, kamu menuduhku yang tidak – tidak.”
Aku dalam keadaan marah saat ini tidak dapat mengontrol emosiku. Tanganku menampar mukanya berulang – ulang hingga kemerahan. Riasan wajahnya kini luntur terkena air mata yang mengalir. Aku terpuaskan dengan kondisi seperti ini.
“Kau ingin aku antar kemana?”
Ia tidak menjawabnya. Hanya tangisan yang masih keluar darinya.
“Aku tanya sekali lagi. Kau mau aku antar kemana?”
Aku menamparnya lagi. Dia masih tidak menjawab. Inisiatifku membawanya menuju apartement centerpoint yang kini dititipkan Bhumi kepadaku.
Aku menutupnya dengan jaketku membawanya menuju kamar.
Aku jatuhkan dirinya di lantai. Aku melepas talinya dan gesperku. Sekarang, ia nampak bergidik ngeri melihatku. Ia hanya bisa ngesot (bahasa yang sulit kutemukan padanannya di KBBI) saat aku mendekatinya.
“Siapa yang kamu lihat sekarang, hah?”
Kataku menggertaknya. Ia mundur perlahan dan menggelengkan kepalanya. Aku mengulangi gertakanku hingga ia terpojok. Kuayunkan gesperku dan memecut udara disampingnya. Ia merinding ketakutan ketika aku membuka kaos dan bertelanjang dada. Ia tidak mampu melihatku walau sejenak.
“Sekarang siapa yang takut?”
Aku menjauh dan kembali memakai kaosku. Tidak lupa kusiapkan air di kamar mandi dan peralatan mandi.
Aku menolongnya untuk bangkit. Walau awalnya menolak, ia berhasil aku giring menuju bathtub. Teringat moment romantis bersama Gita di Bathtub tersebut.
“Kamu bisa mandi sendiri ‘kan?” Tanyaku langsung bergegas keluar kamar mandi. Ditariknya lenganku agar tidak pergi. Aku memenuhi Bathtub dengan sabun dan membusakannya agar tidak terlalu memperlihatkan tubuh telanjangnya. Setelah itu, kukeramasi rambutnya dan dibilas.
“Kau sudah melepaskan pakaianmu?”
Ia menggeleng dan menuntun tanganku masuk ke bathtub. Aku melepaskannya dan menaruhnya di luar bathtub.
“Kau bisa mandi sekarang. Kali ini, tidak ada bantuan dariku. Handuk ada di sana dan aku sedang mencari pakaian untukmu.”
Keluar kamar mandi, aku mencari pakaian yang bisa dipakai. Tak kutemukan apapun. Aku mengambil sebuah kemeja lengan panjang yang kebesaran untukku. Ia keluar dari kamar mandi dengan handuk
“Kau bisa memakai kemeja ini. Aku akan menyiapkan makanan.”
Kami berdua duduk di meja makan saling berhadapan.
“Silahkan makan. Kau belum berbicara sepatah kata apapun.”
“Aku takut kamu.”
“Takut? Tidak perlu kau takut. Yang kau takutkan adalah kau tidak makan. Lagipula, aku melakukan tadi kesal karena ulahmu. Bisakah kau bersikap lunak padaku? Kau tidak bisa sembarangan melecehkanku.”
“Pikiranku terhadapmu benar sejak awal.”
“Maksudmu?”
“Sejak pertemuan terakhir, kau menyimpan sesuatu hal yang tidak bisa kujelaskan. Begitu menarikku.”
“Berarti kau merencanakan ini semua?”
“Tidak. Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu. Jadi, aku tidak perlu repot – repot mencarimu.”
“Mengapa kau mencariku?”
“Kau bisa menjadi partner sex yang menarik.”
Ia berdiri dan mengajakku ke sofa. Ia berubah 180 derajat jadi seorang pemalu menjadi liar. Ia duduk disampingku menggodaku.
“Tatapan mata kamu seolah – olah ingin mengajakku bercinta ataupun membunuhku. Begitu kuat auramu.”
Ia bersimpuh dan membuka pahaku lebar.
“Aku tahu kau menikmati goyanganku saat itu. Aku akan memberimu sesuatu yang menggodamu.”
Ia mulai bergoyang yang menjadi ciri khasnya. Pantatnya yang tertutup kemeja bergerak di dekat bagian depan celanaku dan menyerempet kontolku yang masih terbungkus celana. Dan, ia menempelkannya di celanaku. Menggoyangnya dengan penuh gairah. Kemudian, ia memaksaku melepaskan celana hingga kontolku terlihat menegang di depannya. Digoyangnya lagi dengan pantatnya. Diangkat perlahan kemejanya hingga pantat tanpa CD itu terpampang jelas. Pantatnya meninju kontolku yang tegang. Ia berbalik dan menendang kontolku dengan kakinya.
“Aaauuuuwwwww……….sssss……apa yang kau lakukan?”
Ia mencengkram kontolku dengan kasar.
“Sedikit balas dendam tidak apa untukmu bukan? Ini akibatnya kau menganiayaku tadi.”
Ditampar, ditarik dan diremasnya zakarku. Kenikmatan macam apa ini? Sakit namun nikmatnya tidak dapat kugambarkan. Ia melakukan tindakan abusif dengan kontolku.
“Kontol apa ini? Jelek bentuknya. Bengkok lagi.”
Ia meluruskannya dengan paksa. Nyeri terasa di kepalaku.
“Warnanya gak banget lagi.”
Ditamparnya dan ditinjunya hingga aku bingung antara lemas dan tegang.
“Gak pantes nih ngacengnya. Masih ngacengan ulekan gue.”
Diurut – urutnya kontolku. Diludahinya dengan kasar.
“Barang gini diludahin aja. Gak bakal kepake.”
Dikocoknya beberapa saat. Dari pelan hingga cepat. Ke kanan ke kiri.
“Ah, kontol apaan nih. Gak bisa ngecrot yah? Dasar lemah syahwat.”
Ejekannya membuat telingaku panas. Aku terlalu lelah menghadapinya. Ia terus mengocokku. Pinggulku tertarik ke atas. Kontolku berkedut meletuskan pejuh ke atas.
“Siapa yang suruh ngecrot? Gue belum selesai udah ngecrot aja. Pejuh lu gak kepake jadinya. Mau gue isep tadinya.”
Ia kembali menganiaya kontolku. Puncaknya, kontolku digigitnya hingga aku hilang kesadaran.
Aku terbangun oleh sinar mentari. Tirai apartemen masih terbuka. Meski tidak terasa sakit lagi, pikiranku masih membayangkan sakitnya digigit di kontolku olehnya. Ia tidak berada disini. Huft…sial, dia mendapatkan kepuasan seksual dengan rasa sakit.
Gara – gara kejadian itu, aku kurang bergairah selama beberapa hari. Meski, Gita menggodaku dengan mengirim foto telanjangnya tetap saja tidak seperti biasanya.
Di kantor, pada hari kerja seperti biasanya. Sebuah panggilan di ponselku bertuliskan “private number”. Sangat malas apabila orang menghubungiku dengan nomor ini. Aku menjawabnya.
“Halo.”
“Halo, kau mengenal suaraku?” Suara wanita terdengar.
“Aku mengenal suaramu.”
“Bagaimana hari – harimu?”
“Cukup terganggu setelah kau lakukan itu. Bagaimana kau mendapatkan nomor ponselku?”
“Aku tidak perlu memberitahumu.”
Aku teringat jika ponselku tidak kuberi password.
“Baiklah. Sekarang apa maumu?”
“Mauku? Kau tahu kau telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan kepadaku. Seperti di awal, aku bisa melaporkan ke polisi.”
“Baiklah, baiklah, aku melakukannya karena aku kesal kepadamu.”
“Tidak ada alasan itu. Aku bisa melaporkanmu.”
“Jadi, ini adalah upaya untuk menjebakku?”
“Tidak. Aku tidak menjebakmu. Aku ingin mengajakmu mengikuti permainan yang kujalani.”
“Permainan apa yang kau lakukan?”
“Kau terlalu banyak bicara untuk seorang laki – laki. Ikuti apa kataku dan kita bisa berkompromi.”
“Sepertinya aku tidak punya pilihan lagi, Nona Zaskia.”
“Aku akan menghubungimu nanti.”
Panggilan terputus dengan keras. Aku berkenalan dengan artis yang berwatak keras. Tidak seperti artis perempuan biasanya. Semoga ia tidak menghubungiku pada hari kerja.
Hari kerja terus berlanjut ke hari libur. Jika ia tidak menghubungiku, berarti aku sudah tidak ada masalah dengannya.

Hari sabtu pagi, selesai membersihkan tubuh. Panggilan “private number” terulang.
“Halo.”
“Kita bertemu di Metropolitan Mall Bekasi malam ini. Cari mobil yang sama tempo hari.”
Hal yang aku inginkan tidak terjadi. Di Metmall, kulihat mobilnya di parkiran. Ia sendirian dengan penampilannya yang full make up dan sikap angkuhnya.
“Lama banget.” Singkatnya.
“Jalanan tidak bersahabat.”
“Kita tidak perlu membuang waktu disini. Ikut denganku sekarang. Aku yang akan menyetir.”
Aku duduk didepan. Ia memberiku sebuah kain dan penutup kepala.
“Pakai kain ini untuk tutup mata kamu. Dan, tutup kepala pada kepalamu.”
Apa yang akan dia lakukan kepadaku?. Aku menuruti perintahnya dan tidak tahu dibawa ke mana.
Dengan kepala tertutup, aku digiring menuju sebuah tempat yang tidak aku kenal. Ia melepaskan penutup kepala. Sebuah ruangan segi empat yang bernuansa kelam. Ada sebuah sofa, matras dan sebuah almari. Sebuah kursi kayu di tengah ruangan menempel tembok.
Zaskia duduk di sofa dengan santai.
“Lepas pakaianmu.”
Aku melepas pakaianku hingga telanjang bulat. Ia melihatku dengan tatapan yang siap menerkam.
“Bagus, kontolmu sudah ngaceng rupanya. Kamu pasti bernafsu kepadaku.”
Ditangannya, ia memegang sebuah alat yang tidak aku mengerti. Ia menyimpuh dan memasang alat itu ke kontol dan zakarku dan mengikatnya kencang hingga kontolku mendongak. Zakarku pun terikat hingga menegang.
“Duduk di kursi kayu.”
Kemudian, ia memakaikan masker yang terbuat dari latex yang hanya menyisakan ruang mata, mulut, dan lubang untuk hidung. Ia menggenggam sebuah tongkat kecil berumbai tali. Mungkin sebuah cambuk.
“Kamu panggil aku Nona Zas.”
“Baik, Nona.”
“Kamu harus menuruti perintahku.”
“Baik, Nona.”
Kontolku dipaksa menegang dengan alat tersebut. Tersiksa dengan keadaan seperti ini.
“Kamu itu sudah membuatku takut. Aku akan membuatmu patuh kepadaku.”
Dilayangkannya tongkat itu ke kontolku dengan tempo yang tidak beraturan. Rumbai tali itu mengenai kontolku dengan sakit.
“Rasakan ini.”
Aku hanya dapat menahan nyeri. Walaupun ada perasaan nikmat yang tidak aku mengerti. Setiap kali cambukan, aku mengaduh kesakitan, ia menikmatinya. Aku ingin berejakulasi. Namun, susah sekali kulakukan.
Ia mengikat sebuah tali di leherku. Dan memasangkan sebuah jepitan di putingku. Ia mempertontonkan payudaranya dari balik bajunya. Ia menggodaku dengan payudaranya yang seksi dengan aerola coklat melingkar di sekitar putingnya.
“Kamu tengkurap di sofa. Dan jangan melihat ke belakang. Aku akan mengikat kontolmu hingga berdarah jika kau tidak mematuhinya.”
Aku tengkurap. Tanpa aba – aba, ia memasukan benda asing di pantatku. Kulihat sejenak, ia memakai kontol buatan yang menancap di depannya.
Kini, ia menyodomiku dengan alatnya itu.
“Gimana rasanya? Aku tunjukkin gimana rasa takut itu bikin patuh.”
“I-iya Nona. Ampun. Sakit pantat saya.”
Ia mempercepat sodokannya. Perutku sakit setiap ia menyodoknya. Ia tidak memperdulikanku dan tetap menyodokku.
“Nona, aku tidak kuat lagi.”
Ia membalikkan badanku dan kulihat sosok yang berbeda dari Zaskia. Dengan masih menyodok pantatku, ia melepaskan alat di kontolku. Dipegangnya sambil dikocoknya pelan.
“Ssssshhh…….aaaaaaacccchhhhh……..ssssshhhhh…….aaaaaaaccccchhhhh….”
Perasaan nikmat ini tidak dapat aku mengerti. Nikmat yang tidak tergambarkan. Kepatuhan yang membuat sensasi berbeda. Hingga aku mulai mencapai titik lemahku.
“Nona, aku mau keluar….”
Ditambahnya ritme sodokan dan kocokan. Aku menggeram nikmat, kontolku memuntahkan isinya entah kemana. Hanya tersisa sedikit yang berada di badanku.
“Pejuhmu semburannya kaya peluru. Tidak keliatan, tapi sampai di tempat.”
Belum habis aku kelelahan, ia menarikku ke matras. Ia melepaskan kontol buatannya. Memek yang tertutup bulu yang tercukur rapi.
Ia berjongkok dan menutup mukaku dengan pantatnya.
“Jilatin bool punyaku.”
Dengan terpaksa, aku menjilatnya. Tidak ada rasa jijik sekalipun. Kurasakan lubang ini seperti memek pada umumnya. Entah karena ia membersihkannya atau aku sedang berada di dalam tekanan.
Lidahku membasahi setiap sisinya. Zaskia sendiri sampai mendorong pantatnya.
“Aaaaaaaahhhh…………….oooooooccccchhhhhh……………….hhhhhhhmmmmmmm…………sssssssshhhhhhhhh”
Ia mengangkatnya. Refleks, aku berusaha menggapainya dengan lidah.
“Siapa yang ketagihan sekarang? Sekarang isap lagi piaraanku.”
Ia memanggilku dengan piaraannya. Aku tidak peduli, hanya berusaha menikmati lubang pantat Zaskia. Ia mengerang dan mengangkat pantatnya.
“Ah, aku mau pipis……”
Ia mengarahkan memeknya ke mukaku. Dia benar – benar mengencingiku. Bau pesing urine mengucur dimukaku.
Puas mengencingiku, ia mengusapkan memeknya dimulutku.
“Bersihin buruan.” Katanya sambil menjambak rambutku.
Aku menjilat – jilat memeknya seperti anjing piaraan. Perasaan ini membuatku bergairah. Kupegangi pahanya dan terus melahap memeknya dengan rakus.
Zaskia melihat kontolku yang kembali menegang. Ia berdiri melihatku yang terlentang.
“Piaraanku udah ngaceng lagi.”
Dengan memakai jari kakinya, ia mengurut kontolku dengan malas meski ia lihai memainkan kakinya di kontolku. Mungkin ia harus tetap angkuh sambil menikmatinya.
Diinjaknya dan ditendangnya kontolku. Berbagai siksaan kontolku dilakukan dengan kakinya. Aku terkapar melihat aksinya. Aku sudah pasrah akan tubuhku. Terserah apa yang akan dilakukannya.
Ia mengulum dan mengisap kontolku tanpa basa – basi. Dikulumnya hingga memenuhi mulutnya dan dihisapnya hingga pipinya tirus.
Hisapannya membuatku menggelinjang menahannya. Seperti sari kehidupanku dihisapnya hingga habis. Dengan paha, aku menjepit kepalanya dan kukeluarkan pejuhku di dalam mulutnya. Ia mencoba menarik kepalanya, namun aku tidak melepaskannya. Batuk kecil terdengar dan pejuhku mengalir lewat hidungnya menetes di badanku.
Aku melemas dan kulepaskan dekapanku. Kembali terkulai dengan telanjang bulat. Zaskia berdiri dan meludah ke mukaku.
“Sialan lu, kepala gw gak dilepasin. Lu kira pejuh lu enak? Ampe gw keselek juga.”
Aku mengabaikan itu dan aku beristirahat memejamkan mata mengistirahatkan badanku. 2 kali aku menyemburkan pejuhku.
Terbangun, wajahku dihimpit oleh payudara Zaskia.
“Sayang, bangun dunk. Aku mau ada acara. Temenin gih. Nyusu dulu biar semangat.”
Ia mengarahkan putingnya ke mulutku dan aku menyusu Zaskia. Nikmat dunia aku bisa menyusunya seperti bayi.
“Sayang pasti kelaperan. Nih, yang kanan udah dikasih madu.”
Ia melumuri aerola payudara kanannya dengan madu. Aku berpindah, namun, masih kumainkan puting kirinya dengan jemariku. Kali ini lebih nikmat. Aku menyusunya dengan beringas. Kugigit mesra putingnya kemudian ku jilat – jilat.
“Ouch…sayang nyusunya pelan – pelan. Gak kemana – mana koq susunya.”
Aku puas menyusui payudara Zaskia. Kuhimpitkan payudaranya ke tengah dan mempertemukan kedua putingnya. Kurangsang dengan kuluman dan hisapan.
“Ooooohhhhh……..uuuuuuuuccccHhhhh…….tau banget sih, sayang. Enak banget ni.”
Setelah beberapa saat, kami berdua bangun dari matras karena Zaskia ada acara. Kami membersihkan diri. Aku melihatnya berdandan. Ia sungguh cantik. Kecantikannya membuatku memunculkan imajinasi liar dalam benakku.
“Hari ini kamu temenin aku ke Mall. Aku perlu belanja beberapa barang. Dan setelah itu, aku ada show off air. Kamu keberatan?” Tanyanya.
“Tidak, aku tidak keberatan.”
Ia bangkit dan menciumku. Sontak, aku membalasnya. Bibir kami saling berpagutan, aku memeluk pinggangnya. Sementara, ia sibuk melepaskan kancing dan restleting celana. Dikeluarkannya kontolku. Aku menurunkan leggingnya hingga kelihatan CDnya. Ia mengocok kontolku sambil berciuman.
“Bilang yah kalo mau keluar.”
“Iyah.”
Kami kembali berciuman dalam posisi berdiri. Aku melepaskan CD dan berniat melakukan penetrasi ke memeknya.
“Jangan dulu. Aku belum mau melakukan itu.”
Aku kembali menaikkan CDnya.
“Zas, bentar lagi….”
Ia menurunkan CDnya sebagian. Aku mengocok kontolku dekat dengan memeknya. Pejuhku mengalir membasahi CD dan memeknya.
“Berangkat yuk.”
“Tapi, CD kamu…”
“Gapapa, emang aku pengennya kaya gini.”

Berlanjut Di Bawah

Lanjutan Cerita diatas

Kami berangkat dengan mobilnya dan sepanjang hari aku menemani berbelanja barang. Ia tidak menarik uang dariku. Hanya, aku membawakan barang belanjaannya yang banyak. Kami berbelanja di sebuah Mall di bilangan Jakarta Selatan. Hingga masuk ke sebuah toko pakaian yang mewah. Baju dan meja merek ternama di gantung berjejer di rak. Zaskia langsung dilayani oleh pramuniaga toko yang seorang perempuan. Sepertinya dia sudah tahu selera Zaskia.
Kami menunggu dibalik rak yang menggantung baju setinggi dada orang dewasa. Ia berada di sampingku.
“Buka restleting kamu.”
“Maksud kamu?”
“Ah, kelamaan kamunya.” Gerutunya sambil tangannya memegang ujung restleting.
“Eh..Zas..kamu.”
“Diem aja kamu.”
Ia mengeluarkan kontolku. Diurutnya sambil melihat sekitar seolah tidak ada yang terjadi.
“Mbak Zaskia, saya sudah menyiapkan pakaiannya di ruang ganti. Mari saya antar.”
Pramuniaga itu kini berdiri di depanku. Kami hanya terhalang rak baju.
“Oh, baiklah nanti aku kesana.”
Pramuniaga itu melihatku yang gemetar menahan kocokan Zaskia.
“Masnya kenapa? Ada sesuatu?”
“Ah, tidak apa – apa Mbak.”
“Masnya kelihatan tegang.”
“Mungkin saya sedang sakit saja.”
Zaskia berpura – pura menjatuhkan tas tangannya.
“Aduh, jatuh tas saya. Bentar ya, aku beresin dulu.”
Ia berjongkok mengambil tasnya dan mengulum kontolku. Aku terkejut di depan pramuniaga tersebut.
“Masnya tidak apa – apa?”
“Bener koq. Tidak apa – apa. Saya tolongin dulu Zaskia ambilin isi tasnya.”
“Saya bantu aja.”
“Jangan mbak. Zaskia paling sensitif kalo barangnya diberesin orang lain. Biar saya aja yang bantuin. Mbaknya disitu aja.”
Aku sedikit menekuk badanku. Dan kupegangi kepalanya. Kuhantamkan kontolku dimulutnya berkali – kali. Tetapi, aku mencabutnya sesaat kemudian dan membereskan celanaku. Kontolku masih berdiri. Aku memasukkanya ke dalam celana. Dan bertindak seperti biasa.
“Maaf, agak lama. Barang saya berceceran.”
“Tidak apa – apa. Mari mbak saya antar.”
Zaskia berbisik kepadaku.
“Awas ya kamu. Tadi sudah bikin aku kewalahan emut kontol kamu.”
Aku pergi bersamanya ke ruang ganti.
“Kamu bawain pakaian ma celana yang aku ingin coba. Kamu tunggu di luar.”
Dengan beberapa gantung pakaian, aku menunggu di depan kamar gantinya. Kuamati sekitar ruang ganti. Tidak ada kamera atau CCTV yang terpasang. Mungkin untuk menambah kesan privat. Saat itu, cuma kami yang berada di sana. Pramuniaga tadi sudah pergi melayani pengunjung lain.
Zaskia memanggilku sambil mengintip dari balik pintu.
“Masuk buruan jangan ngebantah.”
Ajaib, aku menurutinya dan langsung masuk ke dalam ruang ganti. Sebuah bilik ganti cukup untuk 2 orang dengan suasana yang tertutup. Warna krem dan sebuah cermin yang menampakkan seluruh bagian tubuh.
Zaskia sendiri masih memakai pakaian dalam. Bra berenda beserta CD yang juga berenda berwarna serupa. Ia melihatku dari atas ke bawah.
“Buka gih pakaianmu.”
“Baik, Nona.”
Aku tidak dapat membantahnya. Aku tidak ingin mendapatkan penyiksaan kembali. Aku telanjang dihadapannya. Tanganku sendiri menutup kontolku.
“Apaan sih pake acara nutupin kontol segala. Gue udah tahu bentuknya juga.”
Tanganku disingkirkannya dan kontolku terbebas menyentuh pahanya yang mulus.
“Masih gak puas aku emutin tadi? “
Ia memandangku dengan tatapan yang bernafsu. Tangan halusnya kembali menggerayangi kontolku dengan tenaga.
“Nanti, dicukur yah bulunya. Ganggu tahu gak.” Katanya sambil mengelus kemudian mencabut bulu diatas kontolku.
“Auuwwwhh………..Sssssshhhh…………Sakit dicabut bulunya.”
Aku kembali tidak bergairah dengan peristiwa tersebut. Ia berjongkok dan menatap kontolku.
“Hey, kamu koq loyo lagi. Ayo dunk tegang lagi kayak tadi.”
Diciumnya dan dibelainya dengan wajahnya. Kulit wajahnya membuatku merinding bergetar mengalirkan kembali nafsu yang hilang. Sesekali bibirnya mencium dan lidahnya menyentuh kontolku yang kembali bersemangat. Harus kuakui, ia adalah seseorang yang mampu mengendalikan nafsu laki – laki sepertiku.
Kontolku kembali menegang. Ia membuka bibirnya dan menjulurkan lidahnya sebagai jalan untuk masuk kontolku di mulutnya. Lidahnya yang basah melumuri bagian bawah kontolku yang lancar masuk ke dalam mulutnya. Aku mendongak nikmat hangatnya mulut Zaskia yang mengoral kontolku.
Kepalanya maju mundur mencoba memuaskan hasratku. kontolku lancar mengikuti alur gerakan kepala Zaskia.
“eeeeeemmmmmhhhhh……..ssssssllllllluuuuurrrrrrppppppp………………….eeemmmmmmhhhh………….sssshhhhhhhh………..”
Aku mencabut kulumannya. Meski, ia tengah menikmatinya. Aku tidak akan tahan jika terus seperti ini. bibir Zaskia segera kucium dengan mesra. Kali ini, pikiranku tidak akan tahan dengan godaannya. Aku meremas – remas payudaranya. Aku tidak akan bosan untuk meremasnya. Aku memainkan putingnya diluar bra. Sial, Nonaku yang satu ini benar – benar seksi. Aku beruntung bisa menyentuh tubuhnya. Meski, sikapnya yang membuatku sebal.
“Gue sange tahu. Kalo mainin tetek sekalian dibuka.” Katanya kesal.
Ia merekatkan wajahku di payudaranya dan kumainkan kedua benda itu hingga ia meracau.
“aaaaaaaacccchhhhh…………..eeeeemmmmmmmmmmmmmmhhhhhhhhhhhhhhh……………..ooooooooooooooooocccccccccccchhhhhhhhhhh………………..sssssssssssssssshhhhhhhhhhhhhhh……………….ssssssssssssssssssssss………”
Tanganku bergerak aktif di CD nya yang basah. Kurangsang memeknya yang sangat kuinginkan. Perlahan, aku memasukkan tanganku dan aku berhasil memasukkan 2 jari ke dalam memeknya. Mengetahuinya, ia segera menangkisnya.
“Dasar gak tahu diri. Dikasih tetek minta memek.”
ia melepaskan diri dan kembali berbenah. Sial, aku mengacaukannya.
“Maaf Zas….eh Nona……tidak ada maksud seperti itu.”
“Kamu mau aku laporin ke polisi? Turutin Gue makanya.”
“Iya. Aku minta maaf.”
ia mengambil sikap dan menonjolkan pantatnya yang terkenal dengan goyangannya.
“Kali ini, gue maafin. Masukin gih kontol lu ke bool gue. Buruan sebelum gue berubah pikiran lagi.”
Aku membasahi lubang pantat dengan ludah dan kontolku juga kulumuri ludah. Aku memasukkannya perlahan. Tidak ada perlawanan, kontolku masuk dengan sedikit usaha. Tidak seperti punya Gita yang susah sekali dimasuki. Zaskia mulai mencengkram kontolku dan membiasakannya.
“Udah masuk. Kerjain bool gue sekarang. Orang – orang bisa curiga gue lama – lama disini.”
Teringat jika saat ini berada di kamar ganti. Aku segera menunaikan pekerjaan ini. kupegangi pinggulnya dan memacu pantatnya dengan liar. Zaskia menutup mulutnya dengan tangannya sementara tangan lainnya bersandar di cermin.
“mmmmhhhh…………mmmmmmmmhhhhhhhhhhhh…………..mmmmmmmmmmmmhhhhhhhhhh………..”
“uuuuhhhhhh………..aaaaaaaahhhhhhhhhhhhh……………..uuuuuuuuuuuuhhhhhhhhhhhh………aaaaaaahhhhhhhhhhhhhhh……..”
Terus memacunya hingga ia sendiri ikut menggerakkan pantatnya. Cengkeramannya dimainkan sesuai tempo yang membuatku berdebar. Tidak kubiarkan payudaranya menggantung sembarang. Kugenggam dengan penuh nafsu memeluh diseluruh badannya. Begitu pula denganku yang berkeringat. Kuciumi punggungnya yang berpeluh menggairahkan jiwa.
“Nona……Aku sudah gak tahan…….”
“Kocokin memek gue juga……..udah gak tahan.”
Kedua tanganku beringsut ke memeknya. Kumainkan memeknya dengan kedua tanganku. Kumasukkan jemariku ke sela memeknya yang sudah basah. Beberapa saat kemudian, aku mengejang tidak bergerak. Waktunya telah tiba, aku tidak dapat menahannya lagi.
“Mmmmmmiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiisssssssssss…………………..”
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaacccccccchhhhhhhhh…………”
Pejuhku menyembur didalam pantatnya. Ia menjepitku begitu keras dan orgasme hingga tanganku basah oleh cairan nikmatnya. Kontolku mengecil dengan sendirinya. Pantat Zaskia pun melepaskan cengkramannya. Pejuhku mengalir keluar dari lubang pantatnya.
“Ambilin Butt Plug di tas gue. Pejuh lu gak boleh bersisa disini.”
Aku mengambil tas dan mencari benda yang berbentuk segitiga yang berbahan cukup keras.
“Cepetan masukkin biar gak netes.”
Aku memasukkan butt plug ke pantatnya. Sedikit desahan terdengar. Namun, ia segera tersadar dan merapikan diri.
“Ngapain masih disini? Gue mau pake baju. Lu juga pake baju buruan dan keluar sebelum ada yang ngeliat lu masuk.”
Segera keluar dari kamar ganti. Untung, tidak ada yang melihatku keluar. Aku kembali berdiri. Keringatku belum kering sepenuhnya. Pramuniaga tadi kembali menghampiriku.
“Mohon maaf saya tidak dapat melayani Mbak Zaskia. Tadi ada pelanggan lain.”
“Tidak apa – apa. Aku sudah memegangi bajunya tadi.”
“Masnya mau saya gantiin? Sampai keringatan begitu.”
“Akh, tidak mbak. Mungkin saya Cuma sedikit kurang sehat aja karena berdiri disini. Tapi tidak apa – apa. Sebentar lagi juga selesai. Mbaknya layanin pelanggan lainnya saja.”
“Maaf mas saya permisi dulu.”

Singkat cerita, kami berdua keluar dari toko dan menuju tempat dimana Zaskia akan melakukan acara Off Air. Aku menunggunya di mobil sambil sesekali pergi ke kedai makanan. Zaskia menghubungiku mengatakan aku harus menemuinya. Ia bersama gengnya yang sekarang eksis di televisi. Kalau tidak salah, cecepy atau cewek cewek heppy jika tidak salah. Mereka duduk dalam satu meja.
“Kau memanggilku?”
“Oiya, kamu bawain ini gih. Masukkin di mobil takut lupa.” Katanya sambil menyerahkan sebuah tas dari karton.
“Baiklah.”
“Tunggu dulu. Oiya, kenalin nih namanya Grha.”
Zaskia mengenalkanku kepada temannya, yaitu Julia Perez dan Ayu Ting Ting.
“Jadi, nih asisten baru kamu? Lumayan juga. Mau dunk.” Kata Ayu.
“Enak aja. Nyari dunk makanya.”
“Betah – betahin ya sama eneng satu ini.” Julia menambahi.
“Emang gue apaan?”
Aku kembali ke mobil. Pikiran kotor terlintas di pikiranku. Aku membayangnya nikmatnya dioral Ayu Ting Ting dan menyusu payudara Julia yang membuatku pusing. Kuredakan pikiran itu dengan menyetel musik kencang.
Beberapa saat kemudian, aku bersama Zaskia sudah berada di mobil. Kali ini, ia mengajakku di sebuah hotel di dekat Tol Jakarta – Cikampek di bilangan bekasi. Aku melakukan proses check in dan menuju ke kamar.
“Gue mau mandi dulu. Tunggu di kasur aja.”
Aku menyiapkan kamar itu hingga terkesan romantis. Kunyalakan lilin aromaterapi dan kuredupkan lampu dan mengganti penerangannya hingga nyaman dipandang mata. Aku menaburi kasur dengan serpihan bunga segar. Setidaknya, aku tidak akan mendapat hukuman jika aku menyiapkan ini.
Zaskia keluar dari kamar mandi dan terkejut.
“Kamu apain kamar ini.”
“Aku menyiapkan agar Nona bisa istirahat dengan tenang. Nona sudah sangat capek dan mengizinkan saya untuk menyentuh Nona.”
Ia tidak berkata apa – apa. Ia hanya menyuruhku untuk mandi. Aku menyanggupinya. Aku membersihkan diri dan keluar setelah selesai. Aku mendapati Zaskia di kasur dengan pakaian dalam seperti kucing. Ia memakai bando dengan kuping pendek, sarung tangan dan sarung kaki berbentuk telapak kucing, semuanya berwarna abu – abu.
“Meow….meow….meow….”
Ia berjalan kepadaku layaknya kucing dan mengusapkan kepalanya di kakiku.
“Meow….meow….meow….”
Aku menuntunnya ke atas kasur. Aku mengambil pakaian untukku. Ditahannya aku, ia memelukku dari belakang.
“Meow…..meow……meow……meow…”
Kubelai wajahnya yang cantik. Ia mengeong memahami bahwa ia adalah kucing dan aku majikannya. Ia mencakar wajahku dengan mesra, dan kubalas dengan ciuman hangat.
“Mmmmhhhh……”
Aku menyisipkan tanganku di payudaranya. Jemariku memainkan putingnya yang sudah tegang. Dengan bra yang terangkat menampakkan putingnya, kami berganti posisi. Ia kini mulai menghisap kontolku. Dikulumnya dan diremas zakarku dengan keahliannnya. Sangat manis, ternyata seorang Zaskia bisa sangat submisif. Ia merangkak ke atas tubuhku dan membalikkan badanku di atas. Aku berdiri bertumpu dengan lututku.
“Meong…..meong…….meong……meong…..meong….”
Ia mengisyaratkan tangannya bergerak di memeknya dan melihat kontolku dengan penuh harap. Akhirnya, ia meminta penetrasi.
Kurangsang memeknya hingga basah. Kulepaskan CDnya yang menempel. Aku berancang – ancang mengarahkan kontolku ke memeknya. Kontolku sudah memasuki liang memeknya.
“Meooo…….sssssHhhh…..nggggg”
Dia masih saja bersikap seperti kucing. Lebih enak dari pantatnya. Mulai aku goyangkan pinggangku. Kontolku beradu dengan memeknya.
“Sssshhhh…..meeeee……ssssshhhh……ooooo…….ooooocccchhhhh……..aaaaaahhhh…….nnnnngggggg…….uuuuuhhhhh……..aaaaahhhhh…..meeeeooo,,,,,,,sssshhhh…..mmmmmhhhh….”
Wajahnya menikmati setiap gerakannya. Ia bersikap imut lucu seperti kucing. Aku mengangkatnya. Kulipat lututku dan kududukkan dia di depanku. Tidak lupa aku terus menggenjotnya sambil menyusu payudaranya.
“Ssssshhhhh……….oooooccccchhhhh……..hhhhhmmmmmmm………”
Tidak lagi terdengar ia mengeong. Hanya mendesah seperti wanita normal. Kami berganti gaya ke doggie dan aku melihat bongkahan pantat yang begitu seksi. Kutampar – tampar hingga kemerahan.
Kami kembali ke gaya awal dan kali ini aku menaruh kakinya di pundakku dan kugenjot tanpa henti. Ia hanya meracau dan mendesah tidak beraturan. Sebentar lagi akan keluar, aku menambah kekuatanku untuk menggenjotnya. Menyadari aku sebentar lagi keluar, ia malah menolakku. Aku tidak mengacuhkannya. Aku harus sampai pada ejakulasiku.
“Sssshhhhhh……jangan….buru….buru……aaaahhhh…….stop……jangan……di…..dalem…….oooocccchhhh….”
Tetap saja aku menggenjotnya. Kutampar mukanya hingga ia mengeluarkan air mata. Kini, ia pasrah. Wajahnya tidak menampakkan ekspresi apapun kecuali pasrah dan menikmati semua ini.
Tidak sadar, kontolku sudah memuntahkan pejuh ke dalam memeknya sembari aku sibuk menggenjotnya. Tetap kupaksa hingga aku tidak berdaya. Zaskia terdiam pasrah. Aku berbaring di sampingnya. Ia membalikkan badannya ke samping. Aku memeluknya dari belakang.
“Makasih, Nona.”
Aku terlelap memeluk tubuh Zaskia.

Keesokan paginya. Aku terbangun dengan kaki dan tangan terikat. Kulihat 2 orang berdiri di depanku. Ia adalah Julia dan Ayu. Sementara, Zaskia menangis di dekatnya.
“Lu apain sahabat gue. Dasar babi.” Umpat Julia.
“Numpang crot doank lu. Modal kontol doank.” Ayu menambahi.
“Zas, lu dientot ma cowok brengsek kaya gini.” Tanya Julia
Zaskia tidak menanggapi. Ia masih saja menangis.
“Kita berdua bakal ngehukum lu. Kita bakal ngentotin lu abis – abisan.” Kata Ayu.
“Jupe, lu mau yang mana di abisin duluan?”
“Gue bakal ngocokin dia pake tangan ma tetek gue ampe mampus.”
“Yaudah. Gue pake strap on. Gue bakal ngehajar bool dia ampe kagak bisa berak. Beraninya dia ngentotin Zaskia ampe crot di dalem.”
Oh Shit, muncul 2 Nona yang lebih parah dari Zaskia. Mereka melucuti pakaiannya. Tentu saja, mataku lebih fokus ke payudara Julia yang besar. Berbeda dengan Ayu yang lebih kecil. Kulit putihnya membuatku tertarik.
“Apa lu liat – liat tetek gue?” Julia menghampiriku dan memegang kontolku begitu keras. Tangannya bisa meremukkan kontolku kalau seperti ini. Tanpa membuang waktu, ia langsung mengocok kontolku. Pejuhku keluar dengan cepat karena kocokannya.
“Segitu aja udah crot. Gimana mau jadi lelaki.”
“Makanya itu, Jupe. Jangan kasih ampun ma ni orang. Abisin aja orang ini.”
Selanjutnya Ayu langsung memasukkan sebuah dildo yang terpasang di depan celana dan mulai menghujamkan benda itu ke dalam anus.
“Nnnggggghhhhh……”
“Rasain lu disodomi ma gue. Ilang harga diri lu sebagai cowok.” Umpat Ayu.
Sementara, Julia masih terus – terusan memaksakan kontolku agar ereksi dan ejakulasi berulang – ulang. Ia memakai tangan dan payudaranya untuk membuat kontolku memuntahkan pejuhnya hingga limit terakhir. Ayu masih sibuk menghujam anusku dengan keras.
Aku sudah tidak memperdulikan kenikmatan. Nafsuku sudah berganti menjadi kepasrahan. Aku tidak bernafsu melihat mereka mempermainkanku. Rasa sakit yang didera anusku telah aku abaikan. Entah sudah berapa kali aku memuntahkan pejuhku. Kini, aku melihat Zaskia terdiam disampingku dengan pandanganku yang semakin kabur.
Pandanganku masih gelap, aku tidak kuat membuka mata. Hanya kudengar suara sayup – sayup mereka berbicara.
“Udah ah. Pejuh dia udah gak bersisa. Percuma dikocok juga.” Kata Julia.
“Bool dia udah loss kali sampe gak berasa lagi. Lagian, sampe kotorannya ngotorin kasur.” Kata Ayu.
“Itu akibatnya kalo ngecrot di dalem memek gue.” Kata Zaskia.
Aku tidak peduli dengan mereka semua lagi. Aku hanya ingin lepas dari mereka.
Waktu berlalu. Aku mendapati diriku masih di tempat yang sama. Sudah tidak terikat lagi. Tidak ada siapa – siapa disana. Namun, bau kotoran melanda kamar ini. Segera aku melepaskan sprei dan selimut serta menaruhnya di keranjang cucian. Aku terbangun dengan sakit di anusku. Kontolku juga nyeri. Aku melangkahkan kakiku pelan – pelan menuju kamar mandi. Terasa perih ketika menyentuh air yang mengguyur deras di badan ini. Aku tidak tahu harus berkata apakah anugerah atau musibah mengenal Zaskia. Dengan langkah yang sama, aku mencoba duduk di samping kasur. Tidak nyaman sekali. Aku menelepon ke Front Desk.
“Halo, Front Desk. Kamar xxx ada yang bisa kami bantu.”
“Saya ingin menanyakan kapan saya harus check out.”
“Check out bapak sudah diperpanjang hingga 2 hari kedepan. Dilakukan oleh Ibu Zaskia.”
“Ibu Zaskia menitipkan pesan untukku?”
“Tidak ada pak.”
“Baik, terima kasih.”
Aku melangkahkan kaki ke pintu kamar. Terkunci. Sial, aku dikunci dari luar. Aku kembali menelepon Front Desk untuk mengambil kunci. Namun, urung dilaksanakan karena kebijakan hotel. Aku melihat sekitar. Ada sajian makanan yang sudah dingin. Aku memakannya untuk mengganjal perutku. Tidak ada yang dapat aku lakukan selain menunggunya kembali dan menyembuhkan diriku serta menghilangkan bau yang tidak enak ini.

Aku bersantai di dekat jendela. Jalan tol dilintasi lampu sorot yang terus berjalan cepat. Entah jam berapa ini. Mungkin sekitar dini hari. Pintuku dibuka, dan petugas hotel membopong ketiga wanita itu masuk ke dalam kamar.
“Maaf Pak Grha. Mereka kami temukan dalam keadaan mabuk di lobby. Kami mengantarnya kesini karena ini kamar Ibu Zaskia.”
“Terima kasih sebelumnya.”
Terbersit sebuah ide jahat. Aku akan membalas perbuatan mereka.
“Mas, namanya siapa?”
“Gardi, Pak.”
“Mas Gardi. Saya bisa minta tolong?”
Aku melihat ketiga orang ini dalam keadaan mabuk parah hingga tidak sadarkan diri.
“Mas, tahu itu siapa?”
“I – Itu artis mas.”
“Suka?”
“S. – suka, Pak.”
“Siapa yang paling disuka?”
“Ayu ting – ting, Mas.”
“Mas, misalnya saya minta tolong masnya buat ngentotin Ayu ting ting bisa?”
“Ah, Bapak ngaco. Saya gak mungkin ngelakuin itu.”
“Saya yang nyuruh. Tetapi, saya minta disediain handycam dan ajak temen mas satu lagi.”
“Baik, Pak. Saya akan sediakan.”
“Tapi, ingat. Jangan sampai bocor ke luar. Kalo sampe bocor, Masnya akan saya abisin.”
“I – Iya Pak, saya janji.”
Tergesa – gesa. Ia mencari handycam untukku. Tidak lama, ia datang dengan temannya yang bernama Narfi.
“Kalian pasang handycam itu dan rekam aksiku terhadap 3 wanita ini.”
“Baik, Pak.”
“Kalian boleh milih Julia atau Ayu. Tapi jangan dekati Zaskia. Dia milikku.”
Aku melihat 3 wanita yang menyiksaku tadi terkulai lemas. Aku melucuti pakaianku. Kontolku masih terasa nyeri. Aku menggapai Julia dan kulepaskan CDnya. Tanpa aba – aba, aku memasukkan kontolku ke memeknya. Ia hanya menggerakan kepalanya ke kanan ke kiri tanpa sadar. Aku semburkan pejuhku di dalam memeknya. Berganti dengan Ayu ting ting, aku melakukan hal yang sama. Saat ini aku hanya berniat memuntahkan pejuhku di dalamnya. Tidak ada nafsuku yang membara. Memek Ayu basah oleh pejuhku. Aku berpindah ke Zaskia. Dalam benakku, aku membenci wanita ini. Namun, gairahku mengatakan lain. Aku melakukan hal yang sama. Dan aku melihat kedua orang tadi telah melepaskan celananya dan mengocok kontolnya.
“Kalian ngapain ngocok? Entotin nih Ayu dan Julia. Zaskia biarin aja. Awas kalo sampe tangan kalian nyentuh tubuhnya.”
“Baik, Pak.”
Aku berdiri di belakang handycam. Aku merekam 2 tingkah petugas hotel yang mendapat durian runtuh bisa melakukan hubungan badan dengan artis. Aku sudah lelah untuk bernafsu. Saat ini, aku akan membalaskan dendam kalian. Tingkah mereka kadang sangat lugu. Aku tertawa melihatnya. Zaskia sengaja kutaruh di sofa agar ia dapat beristirahat.
Mereka menyelesaikan tugasnya dengan baik. Aku tetap memberi mereka peringatan jika hal ini bocor ke publik. Mereka pamit diri dan keluar dari kamar setelah membantuku membersihkan ke 3 wanita ini.
Aku terbangun siang hari. Mereka pun sama. Dengan tetap memakai gaun mereka, aku berpura – pura tidak tahu.
“Pagi, Cecepy.”
“Loh koq kita ada di sini?” Tanya Julia.
“Tadi malam petugas hotel mengantar kalian masuk ke kamar.”
“Sebentar sebentar.” Kata Ayu.
“Tenang, aku tidak melakukan apa – apa terhadap kalian. Kau tahu, Kontol dan Anusku masih sakit.”
“Kamu nungguin kita?” Ujar Zaskia.
“Iya. Bisa saja aku meninggalkan kalian saat mabuk dan mungkin petugas hotel mengambil kesempatan. Tetapi, tidak kubiarkan hal itu terjadi.”
Aku bangun dengan nyeri masih melanda. Mereka bangun dari kasur dan mengumpulkan energi.
“Nona Zaskia, makasih udah ngijinin aku crot di dalem memek kamu.”
Aku mengecup keningnya.
“Ih….pagi – pagi udah so sweet banget.” Kata Jupe.
“Jadi iri deh aku. Lain kali ma aku dunk.” Ujar Ayu.
“Enak aja. Dia milik gue.” Balas Zaskia.
“Pengen deh punya seseorang kayak kamu.” Kata Ayu.
“Gue udah bilang kan dia yang paling romantis. Kalian aja yang gak becus nyari.” Celoteh Zaskia.
“Eh, kalo bosen sama Zaskia. Nih tetek aku masih kebuka buat kamu.” Goda Julia.
“Untuk sekarang, Zaskia is the best.”
Kami saling berciuman di depan mereka.
Setelah itu, kami berpisah dan melanjutkan kehidupan kami. Aku masih memegang bukti video mereka. Mungkin akan berguna suatu hari nanti. Dan beberapa hari kemudian, aku bersama Gita menghabiskan waktu berdua.
“Sayang, masih sakit kontolnya.” Tanya Gita sambil mengelus pelan kontolku.
“Sedikit sih, Git.”
“Yaudah aku emut lagi.”
“Makasih Gita Sayang.”
Gita mengoral kontolku dikasur. Aku menghabiskan masa penyembuhanku bersama Gita. Lagu kenangan dari MLTR mengalun indah.
“Setelah gak sakit. Boleh dimasukkin ke memek gak?”
“Boleh dunk, Gita.”
“Kapan sembuhnya? Udah gak tahan. Masa diemut mulu.”
Ia menjilatinya seperti kucing. Hah, kucing. Aku sedikit teringat tentang dia. Tapi, aku ingin menikmati waktuku bersama Gita. Toh, sebenarnya kontolku sudah tidak nyeri. Hanya alasan yang kubuat agar Gita bisa bersamaku.
“Kamu udah siapin memek kamu?”
“Udah gak sakit lagi.”
“Kita coba yuk.”
Aku merangkul tubuh Gita dan merebahkannya ke kasur. Kami melakukan hubungan badan yang mesra.

Sekian untuk Cerita kami. Jika ada Kesalahan saya menyalahi Aturan Forum harap PM.
Terima Kasih